Aaliyah, takdir mempertemukannya dengan Hadi, disaat Hadi telah memiliki Clarissa dan sudah siap untuk menikahi Clarissa.
Namun kekuatan takdir telah mengubah arah hati Hadi, pada akhirnya ia memilih Aaliyah menjadi istrinya.
Tetapi Clarissa, perempuan yang memiliki pengaruh yang kuat, perempuan yang membuat percaya diri Aaliyah jatuh pada titik nol, selalu membayangi kisah cinta mereka.
Kisah mereka diuji dengan kesetiaan, kesabaran, dan perjuangan cinta. Akankah mereka lulus dari ujian itu?
Clarissakah yang menjadi ujian cinta Hadi dan Aaliyah?
atau Aaliyah yang menjadi ujian cinta Hadi dan Clarissa?
Jawabannya adalah siapa yang terakhir hidup bersama Hadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina As, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Tidak Dapat Meninggalkannya
Flashback on
"Rissa, kamu ingat yang namanya Aaliyah," tanyaku pada Clarissa. Saat itu kami sedang duduk di sofa apartemen Clarissa.
"Aaliyah? yang mana ya?" ujar Clarissa mencoba mengingat. "Ada apa dengan Aaliyah?."
"Kamu ingat gadis yang datang bersama Fitri membesukku kemarin di kamar sewaktu habis terbawa arus sungai?"
"Oh itu, aku ingat. Yang rambutnya agak gelombang itu ya?" tanya Clarissa.
"Iya. Dia anak Pak Sutoyo, sahabat Ayah yang meninggal 12 tahun lalu karena melindungi Ayah. Kamu masih ingatkan, saya pernah ceritakan itu?"
"Iya ingatlah, waktu kalian di Kalimantan kan?. Lantas ada apa dengan Aaliyah?" Clarissa kembali bertanya.
Aku menatap Clarissa dan menarik nafas panjang. "Kami akan bertunangan."
"Apa?" pekik Clarissa.
"Iya, aku dan Aaliyah akan segera bertunangan."
"Maksud kamu apa Hadi, jangan becanda seperti ini, ini nggak lucu." Clarissa mulai pindah ke dekatku dan mengguncang lenganku. Ia masih belum percaya dengan apa yang aku katakan.
Aku merangkul bahunya dan memegang satu tangannya, "Maafkan aku Rissa, aku tidak becanda. Sebelum meninggal Ayah berjanji pada Pak Sutoyo untuk menikahkan Aaliyah dengan Angga, tapi karena Angga sudah menikah, Ayah ingin aku menikah dengan Aaliyah."
"Kamu bukan anak kecil Hadi, kamu bisa menolak itu," kata Clarissa sambil menarik bajuku dengan geramnya.
"Clarissa, aku sudah menolaknya. Tapi Ayah malah ingin meninggalkan kota ini dan pulang ke Jember bersama ibu," Aku coba menjelaskan pada Clarissa berharap pengertiannya.
Clarissa mulai histeris dan berdiri di depanku. Suaranya meninggi. "Tidak, aku tidak bisa terima ini. Kamu sudah dewasa Hadi, jangan jadi anak kecil yang bisa diatur oleh Ayahmu. Kamu lihat aku, Ayahku tidak ingin kita berdua berhubungan, tapi aku tidak memenuhi keinginan Ayahku demi cinta kita. Sekarang kamu tiba-tiba ingin bertunangan dengan pilihan Ayah kamu. Itu nggak adil Hadi. Kamu nggak adil. Aku nggak bisa terima itu."
"Maafkan aku Rissa, jalan yang kita lalui tidaklah mudah. Kalau kita teruskan hubungan kita, Orang Tuamu akan tersakiti. Kalau aku tidak turuti kehendak Ayahku, Orang Tuaku yang tersakiti. Memang ini tidaklah mudah, tapi kita dibesarkan oleh mereka."
Clarissa histeris dan menangis. Suaranya semakin meninggi. "Tidak Hadi, tidak. Kamu tidak boleh menikah dengan perempuan lain. Aku sudah menuruti semua keinginanmu. Aku menetap di Kota B ini, tidak kembali ke Jakarta ke keluargaku karena kamu. Aku mengabaikan larangan orang tuaku karena kamu. Aku menuruti keinginanmu untuk tidak buka praktik. Aku bahkan jarang ngumpul dengan teman-temanku karena kamu. Berkali-kali kamu selingkuh aku maafkan. Dan jangan lupa Hadi, kamu menggauli aku layaknya istrimu. Kapanpun kamu minta aku tidak pernah menolak. Aku tidak pernah melakukannya dengan laki-laki lain. Hanya kamu. Kurang apalagi aku Hadi, kau berkali-kali mengkhianatiku?" tangis Clarissa pun tumpah.
"Rissa, masalahnya buka disitu" kataku pelan.
"Hadi, kamu sudah menyakitiku berkali-kali. Kalau kamu ingin menyakiti aku lagi lebih baik kamu bunuh aku" Clarissa tiba-tiba berlari ke arah dapur dan kembali membawa pisau dapur dan menyerahkannya kepadaku.
"Bunuh aku Hadi, kalau tidak aku yang bunuh kamu" ancamnya padaku.
"Kamu gila ya Rissa?" sahutku sambil mengambil pisau itu dari tangannya kemudian mengamankan pisau itu. Ia kemudian memukul dadaku berkali-kali.
"Brengsek kamu Hadi, kamu brengsek." Clarissa menangis meraung-raung.
Hatiku sedih melihat Clarissa seperti itu. Akupun membawa ia kedalam dekapanku.
"Maafkan aku Rissa" aku mencoba untuk menenangkannya. Kubawa ia duduk di sofa, pelukan aku tak lepaskan, sesekali kucium keningnya dan kuelus rambutnya.
Satu jam berlalu dengan posisi yang tetap sama akhirnya ia bisa tenang. Ia lalu membuka suara.
"Kapan kamu akan bertunangan dengannya?" tanyanya dengan suara yang pelan dan serak.
"Minggu depan. Maafkan aku Rissa, prosesnya sudah terlanjur berjalan, aku tak dapat menghentikannya lagi. Undangan sudah dibagi, semua keluarga sudah dikabari, tempat sudah dipesan."
"Kamu akan meninggalkanku?"
"Apa yang kamu inginkan Rissa?" aku bertanya kembali.
"Kalau prosesnya kamu tidak bisa hentikan, dan pada akhirnya kamu harus menikah dengan Aaliyah, aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku akan membuktikan, hanya aku tempatmu kembali," sambil terisak Clarissa mengatakannya.
Aku sangat iba dengan kata-katanya. Aku tidak tahu apa yang salah pada diriku, begitu mudahnya aku jatuh cita dengan wanita lain, sementara aku sudah memiliki Clarissa yang cantik, pintar dan setia. Aku berbohong pada Clarissa bahwa pertunanganku dengan Aaliyah atas keinginan orang tuaku, padahal prosesnya berjalan atas keinginanku sendiri meskipun harus didahului keinginan orang tua. Kalau kalian tanya aku lebih mencintai siapa, aku akan jawab, aku mencintai dan menyayangi Clarissa, tapi hatiku menginginkan Aaliyah menjadi istriku.
"Kenapa kamu ingin bertahan dengan lelaki brengsek seperti aku Rissa? Kamu memiliki segalanya, cantik, pintar, kaya, aku yakin banyak lelaki yang ingin jadi suamimu."
Aku tidak habis pikir, apa yang menarik pada diriku sehingga seorang Clarissa yang nyaris sempurna memilih aku dan tetap bertahan meskipun berkali-kali aku menyakitinya.
"Cinta Hadi, karena cinta. Aku terlanjur mencintaimu. Jangan kamu tanya kenapa. Aku juga benci perasaan ini. Seandainya waktu bisa diputar kembali, maka aku berharap tidak mengenalmu agar aku tak sakit karenamu"
"Maafkan aku sayang. Kalau aku jadi menikah dengan Aaliyah, apa kamu sanggup bertahan?"
"Aku akan lebih kuat seperti itu daripada aku harus ditinggalkan kamu. Kita sudah terlanjur jauh berjalan. Aku tidak ingin mundur. Kalau memang proses yang harus kita lalui seperti itu, aku percaya suatu saat nanti kamu hanya untukku dan aku hanya untukmu" kata Clarissa mengubur keinginanku untuk meninggalkannya.
"Aku sayang kamu Rissa."
"Aku jauh lebih sayang kamu Hadi."
Kupeluk Clarissa semakin erat.
Ya, malam ini rencanaku untuk bertunangan dengan Aaliyah tidak berubah, namun niatku untuk menyelesaikan hubunganku dengan Clarissa sudah hilang. Aku tidak dapat meninggalkan Clarissa. Malah rasa sayangku semakin bertambah pada Clarissa.
Flashback Off
*******
Tentu saja aku tidak bisa menceritakan itu semua pada Bunda Rini. Hanya sebagian yang aku ceritakan. Aku hanya bilang pada Bunda Rini ketika aku menyampaikan pada Clarissa aku akan bertunangan dengan Aaliyah, ia mengancamku dengan pisau, ia meminta aku membunuhnya atau ia akan membunuhku sehingga hubunganku terus berlanjut sampai sekarang.
"Maafkan aku Bunda, berikan aku kesempatan untuk menyelesaikan hubunganku dengan Clarissa." pintaku pada Bunda Rini.
Bunda Rini menghapus air matanya, kemudian berkata:
"Kamu sudah dewasa Hadi, selesaikanlah sendiri masalahmu. Bunda akan menerima apapun yang terjadi, entah itu kamu akan terus bersama Aaliyah, ataupun kamu akan kembali kepada Clarissa. Waktu pernikahan kalian semakin dekat, maka putuskanlah baik-baik."
******
Hi readers yang tersayang, mohon dibantu vote, like and comment ya. Thanks U 😘
tnngung jwb ktnya mlh kaya gini setan emng hadi🤣🤣
jadi clarisa juga sakit, apa lgi nanti yg jg nanti di poligami si akiya dan brengseknya lgi punya ank pula sakit g berdarah nembus sampai yg baca sakit bnget