NovelToon NovelToon
Barryneald

Barryneald

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis / Patahhati / Badboy / Tamat
Popularitas:104.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: Kei68

Semenjak mama dan kakek meninggal, hidup Ryuna seperti kereta api tanpa rel. Memiliki papa, namun dia tak pernah mencintai mamanya dan menginginkan dirinya. Bagi papanya, hidup dengan mamanya itu hanya sebuah kecelakaan dan paksaan.

Memiliki kepribadian introvert dan pendiam. Ryuna sering kali di-bully dan dipandang remeh oleh teman-teman satu sekolahnya.

Hidup Ryuna terasa komplit.

Ya, komplit untuk semua luka dan derita.

Tapi, sikap lembut Barry padanya membuat Ryuna sering kali marah dan tak membutuhkan belas kasihannya.

Barry menegaskan bahwa dia benar-benar mencintainya. Tapi, semua lelaki di mata Ryuna sama saja. Mereka hanya sosok pria kasar yang berhati dingin.

Apakah Barry juga bersikap dingin seperti papanya suatu hari nanti? Apakah mungkin cinta yang dilontarkan Barry itu tidak semata-mata hanya untuk menjebak lalu mempermalukannya di depan semua orang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kei68, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30. Sakit

Tak ada yang menyenangkan jika tidak berkumpul dengan teman dekat. Begitu yang dipikirkan Rissa. Usia yang tak lagi muda membuatnya ingin selalu berhubungan dengan orang yang disayanginya.

Seperti Elfinarea, dia adalah sahabat terdekatnya di masa SMA yang kini telah menikah dengan Deas, teman lamanya dan kini sudah memiliki 3 orang anak yang memiliki paras yang tidak bisa diragukan lagi. Tapi, mereka tetap bisa bertemu di kantor.

Rissa sudah bersiap-siap, diraihnya tas kecilnya juga kunci mobil. Setelah itu segera berjalan menuju kamar anaknya yang mungkin kini sedang berdandan.

Tok tok!

Pintu diketuk Rissa karena tertutup, hanya ada suara bergumam di dalam sana. Suaranya lemah? Kenapa?

“Ryuna, kamu kenapa, Nak? Boleh Mama masuk?” tanya Rissa yang kini sedang dilanda kekhawatiran.

“Masuk aja, Ma. Nggak dikunci kok.” ujarnya dari dalam kamar dengan nada tak bersemangat.

Ceklek!

Rissa membuka pintu itu dengan pelan, pandangannya langsung tertuju pada ranjang yang di atasnya sudah ada Ryuna yang terbaring lemah dengan selimut yang terbalut di seluruh tubuhnya. Matanya sedikit melek.

Rissa mendekati anaknya itu dengan cemas, “Ryuna, kamu kenapa?” Diceknya suhu tubuh gadis itu, lalu meletakkan tangannya ke kening Ryuna. Panas.

“Badan kamu panas, Nak. Kenapa bisa begini?” tanya Rissa. Dia melirik jam dinding, sudah jam 7.15. Sudah waktunya untuk berangkat ke rumah keluarga Deas.

“Mungkin karena tadi aku naik roller coaster, Ma, tadi Barry ngajak berjalan-jalan di mal. Karena itu aku pusing,” Jelasnya. Suaranya lemah.

Rissa dapat mengerti, Ryuna memang jarang sekali pergi jalan-jalan dan menghibur diri di suatu tempat. Ini juga salah dirinya, karena tidak pernah lagi membawa anak semata wayangnya itu jalan-jalan. Dalam pikirannya, laki-laki itu adalah anak yang baik.

“Mama akan tetap di rumah jaga kamu Ryuna, Mama akan memberitahu Deas kalau kita nggak bisa datang karena kamu lagi sakit.” Rissa merogoh tas selempangnya untuk mencari ponselnya.

“Nggak usah, Ma. Mama pergi aja, aku bisa jaga diri,” kata Ryuna. “Jangan kecewakan mereka, Ma, mereka pasti menunggu Mama.” Berharap Rissa mau datang tanpa dirinya.

Rissa menatapnya teduh, “Ya udah, tapi kamu harus ditemani Viona di sini. Untuk yang satu ini kamu nggak boleh menolak.”

Ryuna tersenyum. “Oke, Ma.”

Diusapnya kening anaknya itu dengan sayang. “Kalau gitu, Mama akan menjemputnya. Kamu sekarang harus istirahat.”

Ryuna mengangguk lemah, ia hanya menatap kepergian Rissa. Perlahan-lahan pintu pun tertutup rapat. Ditidurkannya tubuhnya kembali saat yang tadinya dengan posisi duduk.

Untuk peristiwa ini, bukan salah Barry. Dia hanya ingin membuatnya senang dan menikmati suasana luar yang sebenarnya jarang dinikmati Ryuna.

“Aku ingin berterima kasih kepadanya, karena aku menikmati hari ini,” Katanya lirih. Bukan maksud apa-apa, ia hanya menyukai kepedulian Barry. Dia sangat baik.

Mengenai roller coaster itu, Ryuna hanya sedikit tidak terbiasa sebab susah lama ia tidak menaikinya setelah beberapa tahun yang lalu. Ketika itu Rissa mengajaknya berlibur di suatu kota untuk mengunjungi kerabat kakek.

Ryuna mencoba memejamkan matanya untuk memasuki alam mimpi. Melupakan sejenak kegiatan di hari ini, kini waktunya istirahat. Hanya Allah yang tahu, saat ini di bayangannya hanya ada Barry yang mampu membuatnya nyaman. Tapi, hanya sekilas, setelah itu melupakan kembali perihal itu.

Getaran ponsel menyadarkan lamunannya, tapi karena tubuhnya terasa hilang energi dia membiarkan saja ponselnya yang kembali bergetar.

Tak lama setelah itu, terdengar sebuah ketukan pintu yang membuat kelopak matanya kembali terbuka.

Tok tok!

“Ryuna? Gue boleh masuk,” tanyanya. Itu suara Viona.

“Masuk aja, pintunya nggak dikunci.” jawab Ryuna.

Perlahan pintu pun terbuka, Viona menyembulkan kepalanya dan tersenyum. Langkahnya berjalan mendekati tempat tidur gadis itu yang begitu luas, bisa bermuatan untuk tiga orang.

“Ryuna, lo kenapa? Lo sakit?” tanya Viona kaget. Karena tadi siang terakhir dia melihat gadis ini, dia baik-baik saja.

“Gue manusia, bisa sakit. Bisa juga mati,” Katanya datar.

“Hei, kenapa lo malah emosi?”

“Gak.”

Getaran ponsel Ryuna menyadarkan suasana nyenyat. Viona menilik ponsel yang ada di atas nakas tempat tidur.

Di malam hari begini, laki-laki itu masih saja berusaha menghubungi Ryuna.

“Barry yang SMS, gak mau baca?” tanya Viona. Dia melihat nama si pengirim SMS itu di layar ponselnya, muncul di notifikasinya.

“Gak usah, biarin aja,” Jawabnya.

Ia tak ingin terburu-buru menjawab pesan dari cowok itu. Viona mengangguk kecil lalu menghela napas. Sembari merebahkan diri di atas kasur yang empuk.

“Ryuna, lo mau ngelakuin apa?” tanya Viona. Ryuna paham, temannya itu menjadi bosan dengan suasana. Terlebih lagi jam masih menunjukkan pukul 19.30.

“Kalau mau menonton televisi, silakan aja Viona. Ambil camilan di lemari es, mama gue tadi habis dari supermarket,” Ujarnya.

“Serius?” Viona terlihat senang, tapi dengan singkat kembali melunturkan senyum itu dan berkata:

“Ah, gak usah. Gue nonton tv aja,” ujarnya lagi, merasa tidak enak jika harus bersikap sembarangan di rumah orang.

Ryuna mengernyitkan dahinya, “Kenapa? Ambil aja Viona.”

“Gak apa-apa, gak enak, ini rumah lo. Masa gue bersikap sembarangan?”

“Sembarangan gimana? Gue yang nyuruh lo. Kita makan sama-sama, dan kita bakal nonton tv sama-sama.” Ryuna meyakinkan Viona agar dia tak berpikir jika makanan itu hanya akan dihabiskan Viona saja.

Senyuman itu kembali melebar, “Ya udah. Tunggu ya, aku ambil.” Viona beranjak dari tempat tidur lalu berlari kecil menuju lantai bawah.

Ryuna hanya tersenyum kecil, lalu dia duduk bersandar di penyandar tempat tidur. Ia meraih remote dan menyalakan televisi lebar di kamarnya.

Matanya teralih ke nakas tempat tidur, karena ponselnya kembali bergetar. Kali ini ia benar-benar mengeceknya, ada apa pria itu mengirim SMS lebih dari 3 kali.

Barryneald Haris

Makasih untuk hari ini. Kamu senang?

Ryuna?

Hai.

Kenapa gak mau jawab? Marah?

Maaf, tapi aku bingung. Salahku apa?

Ryuna, sorry.

Jika di sana Barry merasa gelisah dan bingung kenapa Ryuna tak menjawab justru gadis itu sedang tersenyum kecil.

Laki-laki baik memang begitu. Suka minta maaf. Jadi, sudah diajak berantem, nanti kerjaannya malah meminta maaf. Tapi, yang enaknya, dia mau tanggung jawab atas kesalahannya, meskipun tak ada salah. Tetap juga minta maaf.

Biar apa? Menjaga hubungan bersama manusia itu penting, biar tak ada musuh. Benarkan?

Ryuna menyimpan ponsel di nakas tempat tidur tanpa ada niat untuk membalasnya, hal itu disebabkan datangnya Viona. Gadis itu membawa sedikit snack dan botol minuman kaleng dan sekotak kue kering juga donat di dalamnya.

“Banyak? Mau begadang?”

Viona mengangguk kecil lalu tersenyum kecil, Ryuna ikut tersenyum.

“Iya.”

...***...

Cleirissa alumni dari SMA Klaria 1, sekolah khusus perempuan yang dididik dengan sangat baik. Sekolah yang dibangun bak istana, murid-murid pun sopan dan disegani. Almarhum Pak Gleyrand selalu menempatkan pendidikan anaknya yang terbaik untuk masa depannya, sebab hal itu adalah yang utama karena untuk masa depannya.

Sahabat baiknya Elfinarea juga berada di SMA yang sama. Mereka selalu tampak bersama sebab tinggal rumah yang tidak terlalu jauh, hanya dilewati beberapa rumah saja.

Semenjana SMA Risoson adalah khusus cowok. Kenapa bisa Elfinarea bisa bertemu Deas? Itu kenangan. Saat itu tanpa sengaja kedua perempuan cantik tiba-tiba berada di tembok pembatas sekolah antara SMA Klaria 1 dan SMA Risoson.

Semacam pohon cemara didekat tembok pembatas sekolah yang kini pohon itu sudah ditebang oleh pekebun penjaga sekolah. Entah bagaimana caranya sepatu Elfinarea bisa terlempar ke dahan pohon, saat itu mereka sama-sama bingung. Bagaimana cara mengambil sepatu milik Elfi? Jika dipanjat akan timbul masalah baru, tidak sopan jika seorang perempuan memanjat pohon. Bukankah terlihat seperti monyet?

Saat keduanya sama-sama bingung, seperti tak ada cara lain hingga Elfinarea memutuskan untuk memanjat pohon. Rissa harus melihat sekelilingnya, jika ada yang melihat maka mereka pura-pura tidak melihat satu sama lain dan Rissa harus pura-pura pergi dari tempat itu.

“Wow..., SMA Risoson sungguh berbeda dengan kita, suasananya seperti berada di angkasa saja,” ucap Elfinarea. Dia sedang mendeskripsikan bagaimana lingkungan sekolah khusus laki-laki, tapi Rissa tidak akan bisa membayangkannya seperti apa.

“Elfi, cepat ambil sepatunya!” Teriak Rissa mendongak.

“Iya.”

Elfinarea masih berhati-hati meraih sepatunya, yap! Berhasil. Dipasangkannya sepatu itu ke kaki kirinya dan melihat ke bawah. Rissa masih berada di tempatnya, segera dia mencari jalan untuk turun.

Namun, tak semulus dan se-glowing wajah bu Tamara, guru fisika mereka. Salah satu seorang murid melewati koridor sekolah dengan anggunnya. Elfi tetap bertahan di pohon dan berlindung di dedaunan yang lebat.

Rissa menyadari hal itu berpura-pura berjalan dari barat dan masuk ke koridor sekolah dengan biasa saja. Mata Rissa bertemu dengan kedua pasang mata sipit dari gadis itu yang dibalas sama.

Gadis itu telah pergi dan Rissa kembali melihat ke pohon, tidak ada tanda-tanda Elfi ada di sana lalu di mana dia? Menatap ke langit putih, tidak mungkin dia terbang bukan? Ke rerumputan itu saja tidak ada jejaknya lalu ke mana sebenarnya dia pergi?

Rissa kembali ke pohon itu dan mencari-cari keberadaannya, tidak ada. Saat hendak memanggil. Ada suara berat yang sedang berbicara dengan seorang cewek di balik tembok pembatas sekolah. Dia penasaran lalu didekatkannya telinganya ke tembok. Untuk mendengar lebih jelas, tapi terlambat. Ketika melakukan itu, Elfi malah muncul di atas tembok dan turun dengan hati-hati.

“Bagaimana kau bisa berada di sebelah itu?” tanya Rissa. Elfinarea sedang membersihkan roknya yang terkena debu.

“Terima kasih sudah membantuku.” kata Elfinarea dengan suara pelan, namun tetap bisa didengar oleh lawan bicaranya itu, karena dia mendekatkan wajahnya ke tembok pembatas.

“Oke. Senang bertemu denganmu. Aku pergi dulu,” ujarnya. Setelah itu, tidak ada suara lagi di antara mereka.

Mereka berjalan masuk ke koridor sekolah yang nyenyat. Di sanalah Elfinarea mulai bercerita tentang cowok yang baru ditemuinya, dia bernama Ryan Deas Zison.

Menurut yang dideskripsikan Elfinarea, laki-laki itu berucap dingin, namun baik. Tanpa senyum lebar tapi lembut, rambutnya pirang dan rapi, dia tampan. Berwibawa dan tegas bahunya.

Sifat Deas inilah yang kemudian turun ketiga anak-anaknya. Mereka dingin dan memiliki pemikiran yang intelektual, sopan dan disegani. Tak ada kata main-main dalam prinsip mereka, 90% sifat dari Deas.

Sisanya dari Elfinarea yang feminim dan ceria juga cerewet yang dimiliki oleh anak perempuannya saja. Sedangkan kedua anak laki-lakinya persis seperti ayahnya.

“Aku tadi hampir jatuh, untungnya laki-laki itu menyambutku dan selamat. Aku nggak jadi duduk di rerumputan SMA Risoson. Aku masih belum percaya, aku baru aja menginjak sekolah khusus laki-laki,” ucapnya. Dia merasa bangga. Saat itu dia menjelaskan cowok itu yang begitu seperti pangeran baginya.

Di sanalah kisah benar-benar di mulai. Setelah pulang sekolah, Deas entah sengaja atau tidak dengan sikap dinginnya dia melewati gerbang sekolah Klaria. Lebih tepatnya menyamakan langkah dua orang cewek yang tadinya asyik bercerita.

Elfinarea terkejut mendapati cowok itu di sampingnya. Rissa hanya bersikap seperti biasa dan tersenyum kecil saat dia menyapa dan mulai melakukan interaksi pertama.

Mengingat cerita lama, Rissa tersenyum. Mereka dijodohkan Tuhan dengan perasaan yang mendominasi rasa cinta sampai di karuniai tiga buah hati dan mereka sangat bahagia. Beda dingin dirinya yang hanya bisa bahagia dengan anak tanpa ayah.

Tidak ingin mengulang kisah lama yang sedih, Rissa buru-buru turun dari mobilnya dan segera memasuki pekarangan rumah besar sahabatnya itu.

Seperti istana indah itu, penghuninya pun cukup harmonis. Seharmonis orang-orang di dalamnya.

1
ᴍ֟፝ᴀʜ ᴇ •
kasian ryuna, korban broken home
ᴍ֟፝ᴀʜ ᴇ •
semangat
Kam1la
selamat kak, karya kk sudah taman and happy ending. saya suka
Keii68: makasih kak :')
total 1 replies
Ai_syida
semangat up nya thor 🤗
Keii68: mksih kak :))
total 1 replies
Rian Cappuchino
kak mampir yuk ke Novel ku.Judulnya "Ray Stardust".Kutunggu kedatangan kalian.

Terima kasih
Om Rudi
Yuk tertawa bersama di Petualangan Tina Ayu
Om Rudi
lanjut
TAUFIQ H.
Kalau ada waktu boleh mampir ke "RANSA - Rasa dan Rahasia" kak. Saya akan selalu menantikan jejak kakak
Wynstelle
Good thor
chonurv
semangat
Mia Mlnd
like kaka 🤗😍
semangat dan sukses selalu ya
jgn lupa mmapir ya 🤗😍
Driva Ratnasari
semangat ya nulisnya... ceritanya seru... boomlike deh buat karya kamu ini...
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
Driva Ratnasari
semangat ya nulisnya... ceritanya seru... boomlike deh buat karya kamu ini...
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
Nureti
hai kak 👋
sukses iya kak untuk karyanya

jangan lupa mampir di karya pertamaku yang menceritakan tentang cowok letoy yang selalu ditolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.

Terimakasih 🙏
zoo
next up kakak zheyang semangat
Ftl03
Bom Like dari LITTLE RAINBOW 😆😆 semangat Thor.. jangan lupa mampir...
Flora
yaaah kok dihapus
Keii68: Itu pun kalau ada yang ngedukung :')
total 2 replies
ͼӈªȋϩȧ
semangat up kk
salam damai dari keturunan raja
🍬🧀Kara
Semangatt update ya kak 🤗💪
dionyzeus
semangat kak jgn lupa mampir lagi ke THE COLD CEO
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!