Pernikahan di depan mata batal begitu saja saat mempelai pria malah melarikan diri karena dia memutuskan untuk menikah dengan wanita lain. Hal itu membuat Deviana Dewi menaruh dendam pada mantan calon suaminya itu.
Deviana Dewi tidak menyangka bahwa laki-laki yang ia jadikan penebus dosa mantannya malah membuat dia jatuh hati. Syafiq Mahadewa dengan ikhlas menggantikan posisi saudaranya untuk menikah dengan Deviana. Dengan sabar ia menghadapi kelakuan calon mantan kakak iparnya yang sekarang menjadi istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komandan Naga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh
"Dijaga dengan benar, jangan sampai terjadi sesuatu sama kandungan kamu." Ujar Putri memperingati Luna.
Dalam hatinya ia merasa senang karena tidak akan lama lagi ada suara bayi di dalam rumah mereka. Walaupun begitu ia juga berharap adanya bayi hasil dari pernikahan putra keduanya.
"Iya, Umi. Luna akan hati-hati melakukan sesuatu." Ucap wanita itu.
"Berarti kita tinggal menunggu cucu dari Syafiq." Sambung Andro.
"Ayah mau memiliki cucu dari pernikahan mereka?" tanya Syemir.
"Memangnya kenapa? Kamu masih belum puas dengan tuduhan mu itu?"
"Ya ampun, Ayah ... Emir sama sekali nggak nuduh apapun. Memang kenyataannya Ana itu udah nggak—"
"Mas." Lirih Luna.
Syemir menghentikan ucapannya dan memandang satu persatu orangtuanya. Dia pun meneguk segelas air putih dan kembali melanjutkan makannya.
Keempat orang itu sedang makan malam. Hampir setiap hari pembahasan hanya tentang Syafiq, terutama pada Syemir yang tidak mau saudaranya itu terluka.
"Kamu harus kasih tau Syafiq tentang kabar ini. Supaya hatinya tergerak untuk memberikan kami cucu juga."
"Emir nggak setuju dengan saran, Ayah. Gimanapun pun juga Syafiq harusnya nggak dapat wanita seperti Ana."
"Emir, diam! Jangan ngomong seperti itu di depan Umi."
"Umi—"
"Emir! Sekalipun Ana udah nggak suci, dia akan tetap menjadi menantu di rumah ini ... Selagi Syafiq tidak mempermasalahkan itu."
"Umi gimana sih? Harusnya Umi tegas. Ana nggak pantas masuk ke dalam keluarga kita. Dia udah berzina dengan laki-laki sebelum menikah."
"Jangan pernah ucapkan itu di depan Syafiq. Umi takut kalau kalian akan bertengkar."
"Emir sayang sama Syafiq. Emir selalu membuat Syafiq dalam masalah. Dan sekarang Syafiq malah menikah dengan wanita nggak baik."
"Mas nggak boleh ngomong gitu. Ini semuanya takdir."
"Hargai keputusan Syafiq. Kalau dia mempermasalahkan itu, udah dari kemarin dia menceraikan Ana."
"Emir yakin Ma, Pa. Ana pasti memberikan ancaman sama Syafiq. Makanya Syafiq nggak mau mundur."
"Syafiq itu nggak kayak kamu. Dia bertanggungjawab! Bahkan calon istrimu sekarang malah jadi istrinya."
Syemir langsung terdiam dengan ocehan Andro. Bukannya tidak mau membantah ucapan ayahnya. Hanya saja ia tidak ingin memperpanjang obrolan itu.
[] [] []
"Abang!"
Tok! Tok! Tok!
"Bang, Syafiq."
Pintu kamar terbuka sedikit, Deviana memperhatikan penampilan Agung dari atas sampai bawah.
"Kamu mau ke mana malam-malam gini?"
"Futsal."
"Terus ngapain panggil suami Kakak?"
"Cieee ... Suami." Goda Agung.
"Masih belum cukup di meja makan tadi? Atau mau Kakak cubit?"
"Iya, iya! Orang bercanda juga ... Bang Syafiq mana?" tanyanya.
Syafiq membuka pintu kamar, penampilannya pun juga sama dengan Agung. "Ayo!"
"Eh, bentar. Kamu mau ikut futsal?"
"Iyalah."
"Enggak boleh." Larang Deviana.
Syafiq dan Agung keheranan saat wanita itu tiba-tiba saja melarang suaminya.
"Kok nggak boleh?" tanya Syafiq. "Aku di rumah juga nggak ngapa-ngapain, mending ikut Agung olahraga sama temen-temennya."
"Kamu baru sembuh. Nanti kalau demam lagi gimana? Aku nggak mau direpotkan. Ngurusin kamu makan aja susah banget." Ucap Deviana diakhiri dengan hembusan napas kesal.
"Sebentar aja, nggak lama kok. Iya 'kan, Gung."
Agung menganggukkan kepalanya. "Lagian Kakak aneh, kalau Abang sakit emang tugas Kakak ngurusin Abang."
"Enggak! Pokoknya nggak boleh pergi." Deviana mengambil tas olahraga Syafiq yang berisi sepatu futsal dan peralatan lainnya.
"Lho, kok diambil?"
"Kamu masuk kamar! Ganti pakaian mu."
"Kakak takut ya Abang digodain sama perempuan diluar sana?"
"Kakak sama sekali nggak takut. Sekalipun dia nikah sama orang lain, Kakak nggak takut. Permasalahannya sekarang Kakak nggak mau direpotkan kalau dia sakit."
Syafiq kembali mengambil barang-barangnya dari genggaman Deviana. "Aku mau futsal."
Deviana berdecak kesal. "Aku nggak izinkan."
"Ayo, Gung. Jangan dengerin Kakak kamu."
"Oh, mau bertengkar malam-malam gini?" tanya Deviana.
"Nanti aja kalau aku udah pulang futsal." Jawab pria itu terkekeh geli.
"Syafiq! Aku nggak bercanda ya."
Syafiq dan Agung terdiam, mereka hanya memandangi Deviana.
"Aku udah janjian tadi sama Agung. Itu syarat dari Agung supaya dia mau menyuruh kamu untuk masak. Kalau enggak, mungkin aku kelaparan sampai sekarang."
Deviana pun masuk ke dalam kamar, hanya beberapa detik saja ia kembali menghampiri kedua lelaki itu.
"Aku ikut." Ucapnya yang kini sudah memakai tas kecil.
Agun dan Syafiq saling memandang.
"Kok diam?"
"Ya udah, ayo." Ajak Syafiq.
Akhirnya Deviana ikut bersama mereka. Lagian dia tidak berani tinggal sendiri di rumah pada malam hari.
[] [] []
Setelah memakan waktu puluhan menit, ketiganya telah sampai di sebuah pusat tempat olahraga. Deviana dengan langkah kaki berat harus mengikuti kedua pria itu dari arah belakang.
"Kamu jangan nakal ya." Ucap Syafiq mengusap-usap kepala istrinya.
Deviana secara kasar menepis tangan lelaki itu. "Apaan sih."
"Jangan kasar gitu, Kak ... Setidaknya hargai Bang Syafiq sebagai suami Kakak kalau di tempat umum gini."
"Kakak nggak peduli, salah sendiri pegang-pegang Kakak."
"Kakak kamu emang gitu. Di depan orang nggak mau di pegang, kalau lagi berduaan. Dia maunya—"
"Argh!!! Lepas, lepas ..." Syafiq kesakitan saat lengannya di cubit oleh wanita itu. "Ampun sayang."
"Bang Syafiq." Sapa teman sepermainan Agung. "Mesra banget, Bang."
"Perih." Ucap Syafiq setelah Deviana melepaskan cubitan itu.
"Akrab banget sama temen-temen Agung. Sering keluar sama mereka ya?"
"Sering, Kak. Bang Syafiq godain cewek mulu." Ucap salah satu teman Agung.
"Oh, sering godain cewek hm?"
"Hahaha, bercanda, Kak. Cemburuan banget." Timpal salah satunya.
Deviana pun duduk di luar lapangan futsal. Hanya berbatasan dengan jaring, wanita itu senyum-senyum sendiri melihat Syafiq yang begitu aktif.
"Apa sebahagia itu dia saat bersama Maura?"
"Aku yakin pernikahan kami ini membuatnya terluka." Ucap wanita itu.
"Kasian kamu, Syafiq. Aku pun nggak tau sampai kapan dendam ku padam. Setiap melihat mu aku benci semuanya."
Jam istirahat tiba, Syafiq serta yang lainnya duduk bersantai. Lelaki itu berduaan dengan istrinya, sementara Agung berkumpul dengan teman-temannya.
Syafiq yang sedang minum air putih terdiam sesaat ketika Deviana mengusap keringat yang menetes dari kening hingga lehernya membuat keduanya saling memandang satu sama lain.
"Kamu keringatan." Lirih Deviana.
"Kamu cinta sama aku?"
Deviana terdiam dan memalingkan wajahnya. "Jangan cari ribut. Kita lagi di luar."
"Kamu tau ... Kamu adalah wanita pertama yang menemani aku olahraga. Lain kali kamu harus ikut ya."
"Aku nggak ngikut kamu. Aku jagain adik ku."
Syafiq menyentuh bibir Deviana. "Tapi senyum ini jelas-jelas tertuju sama ku."
"Sya-Syafiq, kamu jangan aneh-aneh. Ki-kita lagi diluar." Ucap Deviana merasa gugup ketika Syafiq mendekatkan wajahnya.
"Bang Syafiq!" Panggil Agung.
Lelaki itu segera memberikan jarak antara dia dan istrinya dan memandang ke sekeliling mereka.
"Kamu jangan buat malu di sini." Bisik Deviana.
"Maaf, sayang. Aku kelepasan."