Ni Komang Ratri, yang akrab disapa Komang itu begitu terpuruk saat penginapannya hampir bangkrut, bahkan nyaris ia kehilangan penginapan yang juga tempat tinggalnya itu.
Namun tanpa diduga Edgar Marvelo yang saat itu menjadi tamu tak terduga di penginapannya itu tertarik pada kecantikan Komang, taipan bisnis kaya raya itu bahkan berjanji akan melunasi semua hutangnya, jika ia mau menjadi wanita pendamping bagi Edgar selama sebulan di Yach.
Akankah Komang mampu menghindar dari pesona Edgar yang dikenal sebagai Casanova itu??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dita feryza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30 Komang Sakit
Edgar masih tak beranjak dari balkon, hingga cahaya matahari benar-benar sudah membuat matanya silau. Semalaman ia tak dapat tidur. Edgar hanya masih tak bisa mengerti. Apa yang ia anggap wajar rupanya itu adalah sesuatu hal yang begitu berarti bagi sebagian wanita termasuk Komang.
Edgar tahu betul, Komang juga merasakan gejolak luar biasa semalam namun ia mampu mengendalikan semua itu hanya demi sebuah kesucian. Hal itu membuat Edgar menyadari bahwa ia belum memiliki Komang seutuhnya, dan itu membuat Edgar frustasi.
Edgar bahkan mulai merasa khawatir, khawatir jika Komang diam-diam mencintai orang lain dan dia tak lagi bisa bersama Komang. Membayangkan Komang bersama pria lain, bermesraan bahkan menghabiskan malam bersama. Sungguh membayangkan semua itu membuat Edgar merasa mual.
Edgar mengepulkan asap nikotinnya. Entah sudah berapa batang yang ia habiskan hingga pagi ini. Edgar seperti sudah tak peduli dengan tujuan utamanya ia datang ke Indonesia. Bahkan ia mulai berpikir, jika terlalu gila pada bisnis maka ia takkan pernah menemukan cinta sejati.
Itu yang Louis Antonie katakan tempo hari. Dan Edgar menyadari Louis saat ini adalah pria lajang yang mungkin sedang mencari pasangan. Jika Louis tahu bahwa setelah ini Komang bukan lagi wanita Pendampingnya, bisa jadi Louis akan menjadikan Komang kekasih dan mereka akan bahagia. Ini sungguh tak bisa dibiarkan.
Masih ada waktu sepuluh hari, tapi Edgar tidak yakin jika dalam waktu yang singkat itu ia bisa memiliki hati Komang seutuhnya. Ataukah dia harus memperpanjang kontrak Komang? Edgar mulai gelisah dan semakin takut kehilangan Komang.
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu membuat Edgar terperanjat. Edgar melihat jam dindingnya, sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dari larut hingga pagi ini rupanya yang Edgar pikirkan hanyalah tentang Komang. Edgar pun beranjak membuka pintu kamarnya.
Roger berdiri sambil menatap wajah Edgar yang terlihat kacau. Lingkaran hitam di bawah mata Edgar membuat Roger tahu bahwa semalaman tuannya itu tidak tidur.
"Kapal sudah bersandar di Marina Raja Ampat Papua." ujar Roger dengan tatapan menyelidik. "Ada apa dengan Tuan? Apakah tuan sedang tidak enak badan?"
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku akan segera bersiap dan tolong beritahu salah satu staf wanita untuk membantu Komang bersiap juga." perintah Edgar yang kemudian Roger tanggapi dengan anggukan kepala.
Edgar segera bersiap, karena ia akan beberapa kolega dan akan melakukan sebuah peresmian sebuah resort mewah miliknya. Edgar berencana setelah acara peresmian ia akan mengajak Komang jalan-jalan dan berbelanja sepuasnya.
Energi Edgar seakan kembali pulih, dan begitu bersemangat karena ia membayangkan kan menghabiskan waktu bersama Komang nanti di Raja Ampat. Apapun nanti yang Komang inginkan ia akan menurutinya agar Komang bahagia.
Edgar sudah selesai mandi, tak lupa ia sudah mencukur rapi jenggotnya yang mulai lebat. Sebelum memakai kemejanya ia menyemprotkan cologne ke seluruh tubuhnya. Wanginya begitu segar dan sangat maskulin.
Edgar sudah siap dengan jasnya, ia tatap kembali pantulan dirinya di depan cermin. Tak ada kata lain untuk menggambarkan dirinya, selain sebuah kata 'Sempurna' selama ini tak ada wanita yang bisa menolak kharismanya.
Edgar sudah bersiap dan keluar dari suite nya bersama Roger, mereka menuju ke sebuah concierge Lounge (Ruang makan VIP). Karena sebelum turun dari kapal Edgar akan sarapan terlebih dahulu.
"Apakah kau sudah mengirim staf wanita untuk membantu Komang bersiap?" tanya Edgar.
"Sudah Tuan,"
Handphone Roger tiba-tiba berdering, ada sebuah panggilan masuk. Saat Roger mengangkat telponnya seketika raut wajah Roger sedikit menegang. Ada hal yang sangat mendesak.
"Tuan sepertinya anda harus pergi ke suite pribadi nyonya." ujar Roger setelah menutup panggilan teleponnya.
Edgar menatap Roger dengan tatapan penuh tanya, dan melihat wajah Roger sepertinya dia sedikit panik.
"Ada apa?" tanya Edgar.
"Nyonya sedang demam tinggi."
❤️
❤️
❤️
Tubuh Komang menggigil hebat, badannya juga panas tinggi hingga empat puluh derajat Celcius, tak hanya itu, seluruh badannya juga terasa sakit. Seorang dokter sedang memeriksa keadaan Komang.
Sebuah langkah kaki terdengar begitu tergesa-gesa lalu memasuki kamar Komang. Edgar sangat khawatir mendengar Komang yang saat ini sedang sakit.
"Komang, bagaimana keadaanmu?" ucap Edgar sambil mendekat pada Komang. Tak ada jawaban, yang ada hanya suara lenguhan Komang yang sedang menggigil.
"Nyonya sepertinya sedang dehidrasi dan telat makan." ucap dokter sambil memberikan tindakan infus pada Komang. "Nyonya harus banyak istirahat dulu dan perbanyak minum air putih."
"Kenapa dia masih menggigil seperti ini?" Edgar sedikit mengeraskan suaranya pada dokter yang memeriksa keadaan Komang.
"Sebentar lagi nyonya pasti akan membaik," ucap dokter muda itu dengan santun.
Setelah dokter itu pergi, Edgar masih tetap setia menemani Komang yang saat ini masih enggan membuka matanya, badan Komang sudah tidak menggigil lagi. Nampak sekali Edgar begitu cemas melihat keadaan Komang.
"Tuan, acara peresmian akan segera dimulai, sebaiknya kita harus cepat bergegas." ucap Komang memperingatkan Edgar.
"Aku mencemaskan Komang, bagaimana mungkin aku meninggalkan dia sendirian dalam keadaan seperti ini?!" ucap Edgar.
"Kita memiliki banyak staf wanita, kita bisa menyuruh salah satu dari mereka atau kalau perlu dua sampai tiga orang staf menemani nyonya." usul Roger. "Bagaimana pun, anda harus profesional Tuan, kita akan mengadakan peresmian yang selama ini anda tunggu-tunggu."
"Baiklah, pastikan mereka menjaga Komang dengan baik, jika sampai terjadi apa-apa pada Komang, kau tahu...kau akan membayar mahal untuk semuanya." tegas Edgar.
Roger hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia memahami bahwa sang Tuan kini sedang dimabuk cinta. Roger berharap tuannya itu tak melupakan tujuannya.
Edgar keluar dari kamar Komang setelah lima staf wanita menemani Komang didalam kamar, kini ia bisa lebih tenang meninggalkan Komang.
✨
✨
✨
Komang menggeliat dan membuka matanya, ia merasakan badannya sangat remuk dan ngilu. Saat Komang mencoba ingin bangkit ada sesuatu yang seperti ketarik oleh tangannya.
"Awww..." pekik Komang saat slang infus itu ketarik oleh Komang, darah segar mengalir dari tangannya. Ia lupa bahwa tangannya saat ini terhubung oleh kantong infus.
"Astaga, nyonya... Pekik salah satu staf yang berada disitu, membuat keempat staf lain langsung mendekat dan wajah mereka nampak pias dan pucat. Antara panik dan takut menjadi satu, mereka takut Tuan besar akan marah karena keteledoran mereka yang membuat sang nyonya pendarahan ditangannya.
Salah satu dari mereka bergegas mengambil kotak tissue, mengelap darah yang mengalir dari tangan Komang, beruntung pendarahan bisa dihentikan.
"Jika nyonya butuh sesuatu, katakan saja pada kami," ujar salah satu staf wanita itu.
"Kenapa kalian berada dikamar saya?" tanya Komang heran.
"Ini atas perintah dari Tuan besar, nyonya."
"Baiklah, aku akan kembali tidur, jika kalian lelah, kalian bisa istirahat juga," ucap Komang yang kemudian kembali menutup matanya.
Bersambung......
karna berkarya tidak mudh
yg mana edgar sllu merasa temen nya konyol dgn 1 wanita tp skrg dia mlh bucin akut
begitualha pengantin baru
tp dlm hati bilang mau2
wkwkwkkk
dan cinta kan tumbuh dgn sndriny