NovelToon NovelToon
FOR NOW & FOREVER

FOR NOW & FOREVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:67.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Yuniar Frida

Indra dan Tiwi, dua anak manusia itu bersatu karena perjodohan.

Keduanya sama-sama memiliki jawaban, kenapa mereka menerima perjodohan tersebut.

Awal pertemuan yang buruk dan tidak adanya rasa satu sama lain menjadi masalah besar dalam rumah tangga mereka.

Lantas, saat keduanya benar-benar jatuh cinta, masa lalu dari masing-masing pihak kembali muncul dan mampu meretakkan pondasi pernikahan mereka.

Lalu apakah yang akan Indra dan Tiwi lakukan agar pernikahan sekali dalam seumur hidup seperti yang mereka impikan itu bisa bertahan selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Yuniar Frida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paket

Siang menjelang sore di minggu ini. Sepasang suami istri itu sedang berada di kamar, menonton film action di televisi. Lalu tiba-tiba Indra tertawa keras padahal aksi di layar televisi menampilkan ketegangan, saling beradu jotos, sama sekali tidak ada lucunya. Tiwi menoleh, sedetik kemudian maklum karena Indra ternyata sedang sibuk dengan ponsel sang istri. Tapi Tiwi penasaran, apa sebenarnya yang membuat Indra tertawa keras begitu.

Tiwi pun mulai berpikir keras, jangan-jangan di ponselnya terdapat foto aibnya yang tanpa sengaja tercekrek sendiri.

“Liatin apa sih sampai ngakak gitu?” Tanya Tiwi, ia hampir ikut tertawa karena ketawa Indra itu menular. Tapi berusaha menahan, siapa tahu menertawai diri sendiri. Kan tidak lucu nantinya.

Masih diderai tawanya, Indra mendekat ke Tiwi, memperlihatkan tampilan ponsel itu. Tiwi bingung, lucu dari tampilan yang Indra perlihatkan mana? Pasalnya dalam ponsel itu hanya menunjukkan foto pernikahan. Ada komedian bernama Sule yang baru resmi menikah dengan perempuan cantik bernama Nathalie, beserta keempat anak Sule.

“Kenapa dengan itu?” Unjuk Tiwi dengan dagunya.

Indra berdehem, meredakan tawanya. Dan ponsel yang terus menghadap ke Tiwi. “Kamu liat kan? Ini itu gambar hasil tangkapan layar.”

Tiwi mengangguk mengiyakan.

“Nah, liat! Ada yang komentarin postingan tersebut. Baca!” Perintah Indra.

Tiwi menurut, mulai membaca dalam hati.

“Pake suara!” Sanggah Indra.

“Hm, Kang Sule keren banget nikahannya ngundang Rizky Febian,” kata Tiwi persis dengan isi komentar netizen tersebut. Sedetik kemudian tersadar. “Lah?” Ia bingung lalu menatap Indra yang sudah kembali ingin menyemburkan tawanya.

“Dia nggak tau atau gimana?” Tanya Tiwi.

Indra mengendikkan bahu. “Ya mungkin tau tapi cuman pengen lucu-lucuan. Sampai direpost oleh Rizkynya lagi.”

Tiwi mengangguk, kemudian tertawa kecil. “Ya nggak perlu diundang, anak sendiri kok itu.”

“Hahaha.. Iya.”

Keduanya kembali terdiam karena tidak lama ponsel tersebut berdering, menampilkan nama Kak Yuna.

“Siapa?” Tanya Tiwi.

“Kak Yuna,” ujar Indra memberitahu, setelahnya menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut dan menyimpan di telinganya tanpa ia pegang, sebab tangan itu sudah melipir, melingkar di perut Tiwi.

“Halo,” Yuna bersuara duluan.

“Mm, halo. Kenapa?” Tanya Indra.

“Loh? Kok lo yang jawab, Tiwi mana?”

“Mau Tiwi mau gue sama aja, kenapa? Ganggu orang lagi ekhem-ekhem aja lo.” Indra bertanya kembali.

Tiwi melotot, memukuli lengan Indra yang melingkar di perutnya. Indra terkekeh, hanya mengisyaratkan agar diam.

Indra bisa mendengar suarah decihan di seberang sana.

“Dih, najis, mainnya siang-siang, nggak elite.”

Indra tertawa. “Ya, nggak usah lo komentarin juga, Mbak.”

“Tiwi lagi di bawah lo kan sekarang? Kasih dulu HPnya, gue mau ngomong sesuatu penting.”

“Ngomong apaan?”

“Kepo banget, ini tuh masalah perempuan.”

“Ok!” Indra menyerahkan ponsel. “Tuh, Sayang, pengen ngomong sesuatu katanya, penting!” Setelah kedudukan ponsel berpindah, Indra mengeratkan pelukan dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Tiwi. Aroma cherry blossom kembali menguar.

“Halo, Kak,” sapa Tiwi.

“Kamu beneran lagi ekhem-ekhem siang-siang gini?”

Tiwi memutar bola mata. “Ya Allah, bohong itu. Mau aja Kakak percaya.”

Indra mendongak, menyadari pembicaraan Tiwi dan Yuna. “Mana ada bohong, orang beneran lagi begituan.” Celetuknya dan dengan nakalnya menggigit pelan leher Tiwi sampai suara desahan terdengar.

“Akh, Indraa.. kenapa digigit sih?”

“Astaghfirullah, beneran ekhem-ekhem ternyata.”

Tiwi gelagapan, hampir melupakan bahwa panggilannya masih terhubung. “Astaghfirullah, nggak Kak. Enggak.”

Yuna berdehem di seberang telepon. “Kalau nggak, kamu turun sekarang deh.”

“Emang di bawah lagi kenapa?”

“Ada paket kamu datang ini, harganya lumayan, Wi, aku nggak ada uang cash, andai ada, aku bayarin duluan. Ini kurirnya masih ada di sini, kasian, turun cepat ya..”

“Aku nggak ada pesan online akhir-akhir ini loh, Kak.” Bantah Tiwi.

“Masa sih? Inget-inget dulu deh..”

“Beneran, Kak, nggak ada.”

Suara grasak-grusuk terdengar. “Bentar dulu, Mas.” Izin Yuna pada kurir tersebut, merasa tidak enak hati soalnya si kurir sudah menunggu lama. Mana paketnya besar banget, diangkatin dari depan pagar sampai pintu rumah yang jaraknya tidak main-main.

“Halo, Wi, kamu tanya Indra, mana tau dia ada pesan online gitu,”

“Ok, Kak, tunggu.” Tiwi mencolek Indra membuat lelaki itu mendongak dan menaikkan alis. “Kamu ada pesan barang secara online, soalnya di bawah ada paket?”

Indra berpikir sejenak. Lantas menggeleng. “Nggak ada tuh.”

Tiwi mengangguk, lantas kembali fokus pada panggilan. “Halo, Kak, kata Indra nggak ada juga.”

Yuna mengeluh. “Oh gitu, tapi turun aja, Wi, aku udah cek nama pemesan tadi, namanya Pratiwi Khansa Aurellia. Nama kamu kan?”

“Iya, nama aku, Kak.”

“Ya udah, turun. Aku tungguin di sini. Jangan lupa bawa uang cashnya, delapan ratus ribu.”

“Ok, Kak, aku turun sekarang.” Sambungan telepon pun terputus.

Tiwi menepuk dua kali lengan Indra. “Bangun dulu, aku mau turun.” Dengan perasaan tidak rela, Indra menggeser tubuhnya.

Tiwi bangkit, turun dari ranjang, mengambil ponsel serta dompet, dan keluar dari kamar.

***

“Tanda tangan di sini, Mbak,” kurir tersebut menunjuk kertas sebagai bukti tanda penyerahan.

“Ok, udah. Ini uangnya.” Tiwi menyerahkan delapan lembar uang merah kepada kurir.

“Tunggu bentar, Mbak, saya ambilkan kembaliannya.” Ujar kurir itu lalu merogoh saku bajunya.

“Nggak usah, sisa tiga lima kan? Ambil aja.” Ujar Tiwi.

Kegiatan merogoh si kurir berhenti. Tidak mau menolak rezeki. “Ok, makasih, Mbak. Kalau gitu saya permisi.” Tiwi dan Yuna mengangguk.

“Paket itu isinya apa sih, besar banget. Televisi kalah-kalah nih.” Ujar Yuna. Ia penasaran.

Tiwi pun sama, ia mendekat ke paket yang dudukkan di atas meja. Setelahnya membuka bungkusan paket. Sampai dosnya kelihatan.

“Bingkai foto?” Cicit Yuna.

“Iya, Kak.” Ujar Tiwi.

“Liat isinya, Wi, fotonya pasti udah nempel itu,” titah Yuna.

Setelah bungkusan luar terbuka, Tiwi beralih membuka dos di bagian atas. Lantas menarik bingkai tersebut sampai setengah keluar.

“Loh?” Tiwi dan Yuna kompak membeo saat menatap dua sosok yang ada dalam foto tersebut.

“Your wedding photo, Wi.” Ujar Yuna tersenyum.

Tiwi mengangguk. “Aku nggak ada suruh orang untuk giniin. Ini ada yang kirimin atau gimana ya, kok nggak dibayar,” lirihnya pada kalimat akhir, membuat Yuna reflek terkekeh.

“Pajang di kamar kamu, Wi,” ujar Yuna.

“Kayaknya nggak ada space lagi deh, Kak. Bentar aku suruh Indra ngatur.” Gumam Tiwi.

Yuna mengangguk. “Cantik ya, pantas mahal. Wong bening dan jernih gini hasilnya.”

Tiwi memandang lekat foto berukuran jumbo di hadapannya. Di rumah tiga lantai ini, foto pernikahannya dengan ukuran jumbo sudah terpajang, namun itu bersama keluarga besar. Sedang di dalam kamar sendiri, ada dua foto bersama sang suami, masing-masing berukuran 3R. Diletakkan di nakas, satu foto prewedding dan satunya lagi foto pas akad. Terakhir, foto berukuran jumbo dirinya dengan Indra yang baru saja datang itu adalah foto yang diambil pas resepsi. Hm, cocok.

***

Malam harinya.

“Bagus kan?” Tanya Indra, memandang foto berukuran jumbo yang sudah selesai terpajang di dalam kamar. Sore tadi, Indra langsung memanggil tukang untuk membantu memajang foto tersebut.

Tiwi melepas mukena yang ia pakai. Mereka baru saja selesai melaksanakan sholat isya. Ia menghela napas memandang Indra yang duduk di depannya dan foto tersebut bergantian. Usut punya usut, rupanya Indra lah yang merequest pembuatan foto tersebut. Kesal sedikit, namun bahagianya lebih banyak. Selain karena foto pernikahan tersebut, uang delapan ratus ribu itu tergantikan dengan dua buah blackcard.

“Iya, bagus. Itu foto kamu pesan kapan sih, Sayang?”

Kikuk. Setiap kali Tiwi memanggilnya sayang selalu saja jantungnya berdebar hebat. Rasanya ingin segera menerkam wanita itu.

“Dua minggu yang lalu.” Tiwi mengangguk.

Indra membalikkan badan. Menatap Tiwi yang sedang melipat mukena dan sajadah. “Sayang?”

Menoleh tentu saja. “Hm?”

“Kamu udah selesai haid kan?”

Eh? “I-iyalah, kan udah sholat ini.”

•••

tbc

1
nanaarmd🌻
kok gak ada ya?
Nanay Dachliawati
ko saya cari ninayaa ga ada
Nanay Dachliawati
ko blm up
Anik Rohman
kapan up lagi kak
Zhulayykha Anniza
lnjuut...
Rere~
seneng deh kakak otor kalok up cerita ni
Fitriyah Azsahrah
buat dong kisah tiffany dan ferrel...atau tiffany ama stefen...😁
ninayaa: Soon..
total 1 replies
Rere~
aku suka somay, Yura
so may i marry u?
kalimat yg bikin aku cekikikan😂
next kak
semangats
semoga bisa up tiap hari hehehe
Rere~
semoga besok bisa up lagi
Rere~
next kak semamgats
Rere~
Maklumin aja lah bang Aldo, Indra kan baru jatuh cinta tuh jadi ya gitu hahaha😂
Rere~
next kak
Zhulayykha Anniza
lanjuuutt.....
Zhulayykha Anniza
lanjuut...
Rere~
next thor
Rere~
akhirnya up juga😚
Anik Rohman
kapan up lagi kak..
Rere~
next thor semangats, awal baca part ini dag dig dug, pas diakhir seneng deh baca keuwuan mereka😂
Rere~
next kak
Mini Sarbini
akhirnya...lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!