Siapakah gadis kampung bernama Lily ini, sehingga Eko Barata memberikan syarat kepada tiga puteranya? Untuk mendapatkan hak waris kekayaan Barata, salah satu dari mereka harus berhasil menikahi Lily.
"Ingat! Papa tidak akan memberikan kalian warisan jika salah satu dari kalian tidak bisa menikahi Lily, camkan itu!" kata Eko Barata tegas.
Syarat yang diberikan Eko Barata terdengar konyol bagi banyak orang. Mereka menganggap Lily tidak pantas menjadi menantu keluarga Barata. Namun, ketika satu per satu kemampuan hebat Lily terungkap, dia berhasil membungkam semua mulut yang menyepelekannya.
Siapa sebenarnya Lily, dan apa rahasia di balik kehebatannya? Temukan jawabannya dalam "Lily: Rahasia Gadis Kampung".
Selamat membaca ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuhume, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
“Apakah kau tidak ke kantor hari ini?” tanya Sera dengan nada menuntut, wajahnya tampak penuh perhatian.
“Aku...” Agam ragu, merasa bersalah karena meninggalkan ibunya.
“Lebih baik kau kembali ke kantor. Aku yang akan menjaga Bibi, serahkan semuanya padaku. Jangan khawatir, aku sangat peduli padanya,” Sera berkata dengan tegas, menatap wajah Helsi dengan penuh kasih sayang yang tampak sangat meyakinkan.
Agam mengangguk, walaupun masih terlihat ragu. “Baiklah, aku akan segera kembali dan mencoba mengosongkan jadwal Daren jika aku tidak bisa kembali dalam waktu dekat.”
“Jangan! Kasihan karier Daren jika kau membatalkan seluruh kegiatannya hari ini. Biarkan aku yang menjaga Bibi. Aku sangat menyayanginya dan tidak akan mengecewakanmu,” Sera berkata dengan penuh penekanan, tangannya menggenggam erat jemari Helsi seolah ingin menunjukkan betapa tulusnya dia.
Agam akhirnya mengangguk dan mulai meninggalkan ruangan. “Baiklah, aku pergi sekarang.”
Sera membalas dengan anggukan pelan, tatapannya sayu, seolah menunggu saat yang tepat untuk melakukan rencananya.
CCCEEKKREEKK
Saat pintu tertutup, Sera menghembuskan napas berat. Kesempatan itu hampir meluncur dari genggamannya. Dengan langkah cepat, dia mendekati Helsi, wajahnya penuh dengan niat jahat yang tersembunyi di balik senyum sinis.
Sera menjelaskan kepada Helsi dengan nada dingin, sambil merencanakan bagaimana dia mengorbankan uang dan tubuhnya kepada petugas keamanan CCTV rumah sakit untuk mematikan rekaman CCTV di ruangan Helsi. Dia mendekati seorang pria paruh baya yang berjaga di bagian keamanan dan menawarkan sejumlah uang dengan nada menggoda. Namun, pria itu menolak, mengaku tidak memiliki keberanian untuk melakukan tindakan tersebut.
Namun, begitu Sera menurunkan celananya dan memperlihatkan bokongnya, pria itu seolah kehilangan akal sehatnya. Dengan rakus, dia mengonsumsi apa yang ditawarkan Sera. Kenangan itu membuat Sera merasa jijik dan kesal.
“Dasar pria tua bangka sialan! Setelah ini, aku akan menghabisimu!” gumam Sera, kebencian dan kemarahan mendalam menghiasi kata-katanya.
Sera sudah terbiasa dengan hubungan intim dengan berbagai pria, baik dalam maupun luar negeri, namun kali ini, berhubungan dengan pria tua tersebut terasa sangat menjijikkan.
Dia cepat-cepat menarik alat pernapasan Helsi, membuat layar monitor berkedip dan tubuh Helsi kejang tanpa bantuan alat pernapasan. Sera tertawa dengan penuh kemenangan, berpikir tidak akan lama lagi sebelum Helsi kehilangan nafasnya.
BBIIPP
BBIIPP
Namun, tiba-tiba, pintu terbuka dengan keras. Sera segera menutupi wajah Helsi dengan tubuhnya, dan cepat-cepat memasang kembali alat bantuan pernapasan itu dengan panik. Dia menangis dengan wajah yang tampak ketakutan.
“Suster! Cepat, apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini? Tolong, lakukan sesuatu!” Sera bersandiwara, berusaha membuat kesan bahwa dia benar-benar cemas.
Perawat segera menekan tombol darurat dan meminta Sera untuk menjauh sedikit, karena mereka harus melakukan penanganan. Beberapa dokter berlari memasuki ruangan, dan Sera tampak sangat khawatir.
“Nona, silakan keluar sebentar. Kami perlu melakukan pemeriksaan,” ucap dokter dengan nada tegas.
“Tapi dok, Bibi saya baik-baik saja, kan?” tanya Sera dengan nada penuh harap.
“Kami belum bisa memastikan, Nona. Kami perlu memeriksanya terlebih dahulu,” jawab dokter, fokus pada pekerjaan mereka.
“Dokter, mohon lakukan yang terbaik,” Sera memohon dengan air mata yang mengalir, mencoba mendapatkan simpatik dari para dokter.
“Pasti, Nona.”
Pintu tertutup kembali, dan Sera berubah wajah dengan kemarahan. Keberhasilannya hampir di depan mata, tetapi kehadiran perawat tiba-tiba menghancurkan rencananya. Dia menggenggam erat tangan dengan geram, merasakan kemarahan yang mendalam.
Setelah pemeriksaan, Sera kembali menjalankan misinya, tetapi hasilnya tetap gagal karena dokter dan perawat bergantian berjaga di dalam kamar. Sera merasa dia sedang diawasi dengan ketat, tetapi tidak mencurigai apapun.
“Sialan! Aku harus berhasil besok. Waktu tinggal dua hari lagi, aku tidak ingin semuanya terlambat dan Bibi Helsi membongkar semuanya,” gumam Sera dengan kemarahan yang membara.
----------------
Keesokan harinya.
Seperti biasa, Agam dan Sera sedang berbincang di ruangan Helsi. Tiba-tiba, mereka terkejut dengan kedatangan Lily, yang membawa sebuah map sambil tersenyum penuh ancaman ke arah mereka.
Sera terlihat panik dan gugup, wajahnya pucat.
“Lily?” seru Sera dengan nada terkejut.
“Kenapa kau terlihat panik? Apakah ada kejahatan yang kau sembunyikan?” tanya Lily, bersikap sinis dengan tatapan tajam.
Langkah Lily penuh percaya diri, aura dingin dan kekuasaan terpancar jelas. Karakternya yang kuat dan tegas membuat Sera merasa tertekan hanya dengan tatapan Lily.
“Lily, berhentilah menggangguku. Aku tidak merasa memiliki masalah denganmu. Aku sudah mengalah dan menyerahkan Agam untukmu. Tapi kenapa kau masih saja menindasku?” Sera bersuara lemah, mencoba menarik simpati Agam dengan mata berkaca-kaca.
Lily tertawa sinis, tidak percaya pada sandiwara Sera. “Semua orang tahu siapa pelaku kejahatan di sini. Kenapa masih menuduhku tanpa bukti? Bibi sangat baik kepadaku dan menganggapku anaknya. Aku belum sempat membalas kebaikannya, dan…”
“Banyak bicara!” potong Lily, memotong kata-kata Sera dengan tegas.
Lily menegaskan bahwa banyak bicara hanya akan menghasilkan banyak kebohongan. Sera mencoba membalas, tetapi Lily melemparkan amplop dengan sedikit keras ke arah Sera.
“Karena kau sudah membahasnya terlebih dulu, mari kita berbicara berdasarkan bukti. Bagaimana?”
“Apa maksudmu?” tanya Sera dengan nada mulai panik, matanya melirik amplop yang tergeletak di depannya dengan penuh kekhawatiran.
BENAR BENAR HP AJAIB,,MERK APA YA KIRA KIRA HPNYA THORRR?????
ngak bertele2
sangat memuaskan BG yg baca 🩵👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻🙏🏻