"Usir dia dari rumahku! Aku tidak ingin melihatnya ada di sini!"
"Tidak, jangan usir aku, aku mohon!"
Agatha menangis saat tangannya ditarik keras oleh dua orang bodyguard yang bekerja pada Louis Fernando, seorang pengusaha kaya yang berpengaruh di kotanya.
Agatha difitnah oleh mertuanya telah berselingkuh dengan pria lain yang tak lain teman dari Louis sendiri.
Setelah keluar dari kediaman suaminya, Agatha hidup terlunta-lunta di luar dengan keadaannya yang tengah berbadan dua. Hidupnya sangat miris tanpa ada keluarga yang mempedulikannya, pada dasarnya Agatha memang dibesarkan di panti asuhan, dia tidak pernah mengetahui siapa orang tua kandungnya.
Lima tahun kemudian, Agatha kembali dengan keadaan yang berbeda, dia memiliki dua anak kembar yang sangat pintar dan sangat menyayanginya.
Mungkinkah Agatha akan menyembunyikan identitas si kembar dari suaminya?
Atau mungkin dia akan kembali setelah si kembar mengetahui bahwa Louis adalah Ayah kandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Louis Jatuh Sakit
Louis menggenggam erat kertas putih hasil tes DNA si kembar. Seketika wajah pucat dengan berjalan gontai.
Hasil tes DNA menjelaskannya bahwa dirinya memiliki kesamaan 99% dan itu artinya, bayi yang dilahirkan oleh Agatha adalah anak kandungnya.
"Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan? Aku sudah membuat kesalahan besar. Istri dan anak-anakku hidup terlantar karena kebodohanku. Jadi mereka itu anakku, dan yang Agatha lahirkan itu darah dagingku sendiri. Begitu hinanya aku. Kenapa Mama tega membodohiku?"
Pria itu menghela nafas yang menyesakkan dada. Entah bagaimana caranya meminta maaf pada Agatha atas apa yang sudah dilakukannya.
Ia yakin tak mudah bagi Agatha memaafkannya. Sudah cukup lama juga ia membiarkannya hidup menderita tanpa memberinya nafkah lahir dan batin. Tapi ia tak mau menyerah, ia akan berjuang apapun caranya.
"Aku harus mendapatkan maaf dari Agatha, apapun caranya. Aku nggak mau bodoh untuk yang kedua kalinya. Agatha milikku, aku harus mempertahankannya."
Sepulang dari rumah sakit, Louis tak pergi ke kantor. Kini badannya langsung demam. Dia syok saat tahu hasil dari kedua pemeriksaan yang berbeda dengan pemeriksaan sebelumnya.
***
Di kantor, Agatha mondar-mandir menunggu kedatangan Louis yang hampir seharian tak ada kabar. Biar bagaimanapun juga, ia tetap khawatir. Bahkan Louis tidak bisa dihubungi oleh siapapun.
"Ya Tuhan, ke mana itu orang, kok nggak ada kabarnya? Nggak biasanya dia kayak gini. Bahkan dia yang harusnya memimpin rapat, harus diwakilkan. Aku yakin ini ada yang nggak beres. Atau mungkin dia lagi enak-enakan bersama wanita itu?"
Agatha teringat pada Soraya, wanita yang pernah datang ke kantor suaminya, dan di situ ia bisa melihat kedekatan Louis dengan Soraya.
Agatha menatap pergelangan tangannya melihat jam yang mengarah pada pukul empat kurang tiga menit.
Ia tak sabar ingin segera keluar dari kantor dan mencaritahu di mana Louis berada.
"Aku harus bersiap-siap dulu. Awas kalau sampai kau main-main sama perempuan lain, aku pastikan akan memasak balado terong bakar."
Sudah dibuat susah bertahun-tahun, ia tak mau lagi mengalah. Siapapun akan dilawan jika berani menyakitinya, apalagi keluarga Louis yang bertindak keterlaluan padanya.
Tepat pukul empat, semua karyawan berhamburan keluar. Agatha langsung keluar dari ruangan CEO dan mengunci pintunya.
"Nyonya Agatha."
Tiba-tiba saja asisten pribadi Louis memanggilnya. Dia ditugaskan untuk menemui Agatha saat jam pulang kantor.
"Iya, ada apa Tuan Willy?" tanya Agatha.
Perasaan Agatha tak enak. Willy datang sendiri tanpa Louis. Biasanya pria itu tak pernah lepas dari Louis.
"Anu nyonya, Tuan lagi sakit, bisakah nyonya menemuinya?"
Agatha melebarkan tatapannya mendengar kabar suaminya sedang sakit. Bahkan sehari sebelumnya Louis nampak begitu sehat, dia juga sempat bercanda bersama si kembar.
"Hah, sakit? Kok nggak bilang-bilang kalau lagi sakit. Bahkan tadi aku hubungi nggak diangkat. Sekarang dia ada di mana?" tanya Agatha khawatir.
"Sekarang Tuan ada di rumah. Saya diminta untuk menjemput nyonya untuk datang menemuinya. Katanya ada hal penting yang akan disampaikan pada nyonya."
Agatha bingung, hari sudah sore, bahkan anak-anaknya pasti sudah menunggu di depan pintu.
Memang dia ada rencana untuk mencari tahu keberadaan Louis, tapi sebelumnya ia ingin pulang untuk menemui anak-anaknya terlebih dulu.
"Harus sekarang Tuan Willy? Saya kan masih ingin pulang melihat anak-anak di rumah. Jam segini mereka pasti sudah menunggu kedatangan saya. Apa nggak bisa ditunda sampai besok saja?"
Agatha masih belum bisa kembali ke rumah di mana ia pernah tinggal dan hidup bersama dengan suaminya. Jika ia kembali memasuki rumah itu, ingatannya akan kejadian lima tahun yang lalu akan kembali membuatnya sakit hati.
"Kayaknya nggak bisa nyonya. Tadi Tuan meminta saya untuk menjemput nyonya. Kalau saya pulang tanpa membawa nyonya, tentunya saya akan dimarahi oleh Tuan."
Agatha sangat paham seperti apa Louis, selalu menyudutkan orang lain walaupun jelas-jelas dirinya yang sudah bersalah.
Tak ingin Willy menjadi sasaran amukannya, ia pun terpaksa mengalah dan ikut bersama Willy.
"Yasudah Tuan Willy, saya ikut dengan anda. Tapi jujur saya kepikiran sama anak-anak saya. Mereka pasti sudah menunggu saya di teras. Pasti mereka sedih kalau saya nggak kunjung pulang."
"Kalau soal itu gampang nyonya, saya nanti akan usahakan bicara sama Tuan untuk menjemput si kembar."
Willy sudah cukup hafal dengan si kembar. Bahkan untuk pertama kalinya berjumpa dengan si kembar, ia memiliki sedikit masalah dan menuduh si kembar melempar kaca mobilnya dengan bola.
***
Sepuluh menit kemudian, Agatha dan Willy tiba di sebuah rumah mewah berlantai tiga. Rumah yang sangat familiar baginya, tak ada perubahan sama sekali, padahal sudah lima tahun ia meninggalkannya.
"Mari nyonya, silahkan masuk."
Willy belum tahu tentang hubungan majikannya dengan Agatha. Dia masih sekitar empat tahunan bekerja sama dengan Louis.
Agatha mengikuti langkah Willy memasuki rumah. Seketika sekujur tubuh menghangat mengingat saat ia dimaki-maki oleh suami dan juga mertuanya di ruang tamu. Di tempat itu ia diusir tanpa rasa hormat.
"Nyonya, ayo saya antarkan ke kamar Tuan. Tuan sudah menunggu nyonya."
"Saya tau di mana kamar Tuan. Saya rasa Tuan Willy tak perlu mengantar saya. Saya hanya minta tolong untuk mengantarkan anak-anak saya ke sini. Saya tidak tega meninggalkan mereka di sore hari. Sedih Tuan Willy, anak kecil harus ditinggalkan orang tuanya apalagi hari menjelang gelap."
Willy nurut, ia sudah berhasil membujuk Agatha agar mau menemui Louis, dan sekarang tanpa sepengetahuan Louis, ia akan menjemput si kembar untuk dipertemukan dengan ibunya.
"Baik Nyonya, kalau begitu saya pamit untuk menjemput si kembar."
Setelah kepergian Willy, Agatha langsung bergegas menuju kamar Louis, yang dulu pernah dihuni olehnya juga.
"Apakah aku boleh masuk?"
Sebelum memutuskan untuk masuk, Agatha mengetuk pintunya. Biarpun ia masih sah menjadi istri Louis, sangat tak sopan jika harus nyelonong masuk tanpa permisi.
Mendengar suara Agatha, Louis yang semula memangku laptop di sofa, buru-buru mematikannya dan berlari ke atas tempat tidur. Ia menarik selimut dan menutup bagian tubuhnya.
"Apa nggak ada orang di dalam? Aku langsung ya?"
Tak mendapatkan jawaban, Agatha memutuskan untuk membuka pintu kamar Louis.
Perlahan ia masuk dan menutupnya perlahan. Tatapannya tertuju pada ranjang, di situ ia mendapati selimut yang tergelar, dan ia melangkahkan kakinya menuju ranjang.
"Ternyata dia beneran sakit. Perasaan kemarin dia baik-baik saja, kok tiba-tiba mendadak sakit. Apa jangan-jangan dia salah makan?"
Agatha tau di dalam selimut tengah ada seseorang yang meringkuk. Perlahan ia tarik selimutnya dan nampaklah Louis yang tengah menggigil kedinginan.
Agatha sigap dan langsung menempelkan tangannya di pipi pria menyebalkan itu.
"Agatha, peluk aku. Aku sakit, dingin."
Tangan kekar pria itu langsung menarik tangannya hingga membuatnya terjatuh kepelukannya.
Hanya orang bodoh dan dungu sajalah yang bisa di bohongi.
karena orang yang tidak dungu akan menggunakan akal dan pikirannya