Setelah menjadi Yatim Piatu, aku disingkirkan dari Rumah Nenekku yang awalnya tempat tinggal saya dan ibu, 5 bulan RS, Ibuku meninggal.
Adik ibuku mengambil alih rumah itu tanpa bisa ku bantah, setelah acara 40 hari ibuku, bibi mengusirku, padahal umurku baru 14 tahun.
Aku ingat, kalau kami masih punya kebun, dan ada Gubuk disana, jaraknya 4 km dari kampung, yang aku takutkan nanti ada yang memperkosa ku.
Dengan berbekal parang dan cangkul aku berangkat, karena ultimatum bibi 3 hari batasnya.
Selama 3 hari aku bolak balik ke kebun itu, hingga hari ini adalah yang terakhir, besok pagi aku harus mulai tinggal disana.
Beruntung uang sumbangan kematian ibuku, diberikan langsung oleh Pengurus Desa,
Dan di sinilah aku tinggal dan takdir ku di mulai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jhon Dhoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30. Mengampuni
Paman dan Bibi Selina terdiam, mereka bingung mau membalas kata-kata Selina.
"Saya tidak memaksa kalian untuk berubah, tapi aku akan tetap membantu kalian, buat bagaimanapun bibi Maya adalah adiknya ibuku.
Tetapi jika kalian tidak mau aku bantu, itu terserah kalian, dan tidak ada kesempatan kedua bagi kalian untuk bantuanku.
Ambil ini, buat tambahan modal toko, dan perbaiki rumah, serta biaya sehari-hari kalian, termasuk belilah mobil Baru, cek 25 milyar itu cukup buat kalian, dan 1 cek ini, khusus buat deposito, 50 milyar cukup untuk masa tua kalian
Untuk kakak berdua, aku berikan masing-masing 5 milyar, gunakan dengan baik, beli mobil dan biaya kuliah hingga lulus, ucap Selina dan ia langsung beranjak untuk pergi .
"Selina, maafkan Bibi", ucap Maya lirih dengan airmata bercucuran.
"Sebelum saya kesini, kalian semua sudah ku maafkan, saya hanya ingin berdamai dengan dendamku, karena kalian tetap keluarga ku, balas Selina.
"Terimalah Selina, bibi berjanji tidak lagi membencimu, berikan bibi kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik lagi, ucap Maya.
" Silahkan bibi renungkan apa kesalahan saya dan ibu, jika kami berdua salah, silahkan marah dan lakukan seperti biasa", jawab Selina.
"Dek, maafkan kakak berdua, kakak berjanji akan kuliah dengan rajin dan tidak akan menggunakan uang pemberianmu dengan hak tidak berguna", ucap Mathew dan di setujui Mentari.
"Baguslah, semua terserah kalian, yang terpenting, uang kuliah dan biaya sehari-hari di kampus, sudah saya berikan, jika uang tersebut habis dan kuliah kalian tidak beres, itu urusan kalian, yang jelas aku tidak akan membantu kalian lagi.
Untuk Paman dan Bibi, jika uang yang saya berikan, tidak kalian olah dengan baik, dan habis dengan sia-sia, percayalah aku tidak akan pernah membantu kalian lagi", ucap Selina dan meninggalkan rumah Bibi Maya.
Keempat orang itu terdiam sambil melihat cek pemberian Selina.
Maya terisak tangis, meyebut nama kakaknya, hingga tertidur di pelukan Andris suaminya.
Sebenarnya Maya adalah orang baik, dia ingin merantau ke kota, tapi di larang Ibunya Selina karena Andris akan menikahi Maya.
Sejak saat itu, Maya jadi membenci ibunya Selina, dan keserakahan ikut hadir dalam kehidupannya, jadilah wanita jutek dan judes.
Selina tiba dirumahnya dan disambut Aurora, dengan senyum manisnya.
Selina akan bahagia saat melihat adiknya itu tersenyum kepadanya.
"Kakak, sapa Selina.
"Ada apa adikku sayang, apa masih lapar ?", tanya Selina.
"Hehehehe, Aurora masih kenyang, tapi boleh tidak kita jalan-jalan, hari Minggu?", ucap Aurora balik bertanya.
"Boleh sayang, oh ya besok kita jakarta dan selama liburan sekolah, Aurora temani kakak di Jakarta, ucap Selina.
"Oke kak, tapi bolehkah Aurora pergi ke Taman Safari Indonesia?", tanya Aurora.
" Tentu saja boleh, jelas Selina.
Kedua kakak beradik terus berbicara hingga akhirnya Selina tertidur.
Pagi hari nya, Selina membangunkan Aurora untuk sarapan, karena dia juga mau pergi ke ibukota Provinsi.
Selina di jemput Ferni, untuk sarapan bersama, makanan untuk acara syukuran masih tersisa banyak.
Selesai mandi, kedua kakak beradik itu berangkat ke rumah Paman Besar.
"Halo Nona cantik, pagi-pagi begini, sudah cantik, mau kemana?", tanya tetangga yang selalu menyapa Aurora.
"Mau kerumah paman besar, semalam Aurora tidur di rumah kakak Selina, jawab Aurora sambil mencium tangan tetangga itu
"Anak baik, selamat ya, kaya ibumu, Aurora dapat nilai tertinggi di kelas,ucap tetangga itu.
" Terimakasih Tante, tapi kok gak jualan?", tanya Aurora.
"Tante istirahat sebentar, jadi beberapa kedepan belum bisa jualan, ucap tetangga itu berbohong.
Tetangga itu, sebenarnya kehabisan modal, karena gagal panen, ada orang yang sengaja menghancurkan saluran air, sehingga sawah mereka kering dan padi nya rusak.
"Tante, ambil ini dan cairkan sekarang, di pasar ada 1 unit Ruko kosong, beli saja dan berjualan disana, kan anak-anak ibu sekolah disana, jadi bisa sekalian menunggu mereka pulang.
Itu cukup buat Tante dan Om beli Ruko dan modal usaha, Serta beli kendaraan, sisanya tabung buat sekolah anak-anak Tante, ucap Selina sambil memberikan cek senilai 25 milyar.
"Selina, ini sangat banyak, Tante tidak pantas menerimanya, ucap Tetangga itu.
"Tante pantas mendapatkannya, tapi jangan bicarakan ke siapapun jumlahnya, ucap Selina dan langsung meninggalkan tetangga itu, agar tidak banyak bicara.
"Selina, Aurora, ayo sarapan, panggil ibunya Selina.
"Ia Bunda, jawab Aurora singkat dan langsung ke meja makan.
Pagi ini mereka sarapan bersama, mereka bersuka cita atas segala perubahan hidup mereka.
Saat lagi asik sarapan, datang Maya dan keluarganya, mereka tertunduk malu, di tatap keluarga Selina dari sebelah ayahnya.
"Hahahaha, kebetulan kami sedang sarapan, ayo Maya, Andris, Mathew dan Mentari, mari duduk dan kita sarapan sama-sama", ajak Paman Besar.
San jadilah 2 keluarga besar itu menikmati sarapannya dengan sukacita cita.
Selesai sarapan, Selina pamit pada keluarganya bahwa dia akan ke kota, Aurora tidak ikut, karena Selina mau cari sesuatu.
Setibanya di Kota Provinsi, dia berkeliling, ternyata dia mencari sebuah rumah peninggalan masa lalu, dia mengetahuinya saat dia ke Goa tempat orangtua angkatnya di kubur.
Selina tiba, di pinggiran kota, dan hanya terlihat sebuah rumah tua yang sudah tidak terurus, di tengah lapangan yang cukup luas
"Dek, mau cari apa?", tanya seseorang seorang.
"Tanah ini milik siapa pak? Tanya Selina.
"Tanah ini, milik keluarga yang telah pindah ke kota, dan di jaga oleh keluarga Pak Daud, itu rumah mereka, coba tanya ke mereka saja.
Rumah itu, sejak bapak kecil, sudah seperti itu, kata Pak Daud, rumah itu milik majikan kakeknya, dan mereka tmdi tugaskan untuk menjaga tanah dan rumah itu?", ucap bapak-bapak itu.
" Terimakasih, saya akan temui keluarga yang menjaga tanah ini, ucap Selina.
Rumah itu, sebenarnya bekas, tempat peristirahatan Orangtua angkatnya di masa lalu, dan sebelum kepergian mereka, rumah tersebut di amanahkan ke keluarga pak Daud.
Para leluhur Pak Daud, di berikan harta yang banyak, hingga saat ini mereka termasuk Keluarga Kaya di kota Provinsi.
Kedua orangtua angkat Selina, memberikan Segel pelayan, dan di suruh menjaga tanah itu, ada kejadian dimana, ada keluarga mereka yang mencoba tidak mematuhi aturan yang sudah di berikan, dan keluarga itu, langsung menghilang.
Mereka tidak menghilang, melainkan mati jadi abu, yang tahu itu, hanya para leluhur pak Daud.
Keluarga Pak Daud di perintahkan menunggu pewaris dari tanah itu, luasnya tidak terlalu besar, ada 15 Hektar.
Banyak yang sudah menawar, karena tempatnya yang sangat strategis, walaupun berada di pinggiran kota, akan tetapi, daerah itu adalah akses utama untuk jalan Utama menuju ke Jakarta atau Provinsi lain.
Tanah itu tersambung dengan jalan utama itu, jadi jika di bangun Mall dan hotel, atau SPBU sangat menjanjikan untuk nilai ekonomi nya.
"