Bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan mendapati dirimu memiliki dua kehidupan yang sepenuhnya berbeda?
Selama ini, hidup 'Bara' adalah sebuah komedi pahit. Bertubuh gemuk, pendek, dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri, ia menjadi sosok tak kasat mata yang selalu diremehkan di lingkungan sosialnya. "Aku ini siapa?" menjadi pertanyaan retoris yang terus menghantui hari-harinya di kamar yang berantakan.
Namun, takdir memainkan lelucon yang teramat gila.
Tanpa ada penjelasan ilmiah maupun magis, Bara mendadak terbangun dengan dua tubuh yang terhubung pada satu jiwa yang sama.
Saat tubuh aslinya tertidur, kesadarannya berpindah ke tubuh seorang pria lain: sosok yang sempurna, tinggi, tampan, atletis, dan berbalut setelan jas mewah dengan latar belakang gemerlap kota metropolitan. Di satu sisi, ia adalah pria malang yang terpinggirkan; di sisi lain, ia adalah pangeran sempurna yang dipuja semua orang.
"ketika takdir memberikan mu dua tubuh, mana yg akan kamu pilih?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gudang yang Tak Pernah Tidur
Malam turun perlahan menyelimuti Kota Surabaya. Jarum jam menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit ketika sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan sebuah gudang tua di kawasan pergudangan pinggir kota.
Dari balik bayangan kontainer, dua sosok memperhatikan setiap pergerakan di sekitar gudang. Bara dan Galang.
"Kau yakin tempat ini?" bisik Bara.
Galang mengangguk pelan. "Sudah tiga malam aku mengawasi."
"Yang masuk?"
"Mobil boks."
"Yang keluar?"
"Mobil boks juga."
"Barang?"
Galang menggeleng. "Tidak pernah terlihat."
Bara mengerutkan dahi. "Berarti semua dipindahkan di dalam."
Galang tersenyum tipis. "Itulah alasan aku mengajakmu."
Mereka kembali mengamati. Sekilas gudang itu tampak biasa. Cat dinding kusam. Pintu besi berkarat. Tidak ada papan nama. Namun satu hal yang menarik perhatian Bara adalah jumlah penjaganya.
"Terlalu sedikit."
Galang mengangguk. "Harusnya begitu."
"Maksudmu?"
"Kalau tempat ini memang menyimpan barang ilegal, jumlah penjaganya terlalu sedikit."
Bara mulai memahami. "Berarti mereka yakin..."
"...tidak ada yang tahu isi gudang ini."
"Tepat."
Mereka menunggu hampir dua puluh menit. Sampai akhirnya sebuah mobil boks keluar meninggalkan area gudang.
Galang menepuk pelan bahu Bara.
"Sekarang."
Keduanya bergerak cepat menyelinap melalui pagar samping yang sebagian kawatnya sudah putus. Begitu berhasil masuk mereka langsung berlindung di balik tumpukan peti kayu.
"Aman." bisik Galang.
Bara mengangguk. Mereka terus bergerak perlahan. Semakin mendekati bangunan utama. Tiba-tiba Bara menghentikan langkahnya.
"Dengar." ucap Bara singkat
Galang ikut diam. Dari dalam gudang terdengar suara samar. Bukan suara mesin. Bukan suara kendaraan melainkan suara orang berbicara.
"Selamat malam semuanya..."
"Kakak cantik hari ini..."
"Terima kasih gift-nya..."
Bara dan Galang saling berpandangan. "Itu..."
"Suara live streaming."
Galang mengangguk. "Persis."
Mereka akhirnya menemukan sebuah jendela kecil yang retak. Bara mengintip perlahan dan untuk pertama kalinya ekspresi wajahnya berubah.
"Astaga..."
Gudang itu sama sekali tidak berisi kardus atau barang dagangan melainkan. Puluhan bilik kecil berukuran sekitar dua kali dua meter. Setiap bilik dilengkapi lampu sorot. Tripod, kamera, mikrofon, serta kursi.
Di dalam setiap bilik. Ada seseorang yang sedang melakukan siaran langsung. Ada perempuan yang terus tersenyum meski matanya terlihat lelah.
Ada laki-laki yang sengaja berteriak-teriak ke kamera, ada streamer yang menangis, ada yang pura-pura tertawa, ada pula yang hanya duduk diam menatap layar.
Persis seperti yang pernah Bara lihat di Paprika TV.
"Jadi..." gumam Bara.
"Semua ini disengaja."
Galang menatap ke arah ruangan itu. "Kontennya bukan muncul secara alami."
"Mereka diarahkan."
Bara memperhatikan lebih jauh. Di belakang setiap bilik terdapat seseorang yang membawa clipboard. Sesekali mereka memberi aba-aba.
"Tersenyum."
"Marah."
"Diam."
"Tatap kamera."
Streamer itu langsung menurut. Seolah mereka hanyalah boneka.
Galang menunjuk sebuah ruangan kaca di lantai dua. "Itu ruang pengawas."
Bara mengikuti arah telunjuknya. Di dalam ruangan itu terlihat beberapa monitor besar.
Setiap monitor menampilkan puluhan siaran langsung sekaligus. Seseorang berbaju rapi sedang memberikan instruksi menggunakan headset.
"Naikkan emosi streamer nomor delapan."
"Kurangi pencahayaan ruang dua belas."
"Targetkan akun donor merah."
Bara mengepalkan tangannya. "Ini bukan media sosial."
Galang mengangguk. "Ini pabrik."
"Pabrik perhatian."
Kalimat itu membuat Bara terdiam. Semua mulai masuk akal. Algoritma yang aneh. Gift yang terus mengalir. Konten yang dibuat sengaja. Streamer yang dipaksa mengikuti arahan. Paprika TV bukan tempat orang berkarya. Melainkan tempat emosi manusia diproduksi dan dijual.
"Ada yang aneh." ucap Bara pelan.
Galang menoleh. "Apa?"
"Lihat streamer pojok sana."
Seorang gadis tampak memaksakan senyum. Namun tangan kirinya gemetar hebat. Di sela-sela meja terlihat bekas luka lebam.
Bara mengepalkan tangan. "Dia dipukul."
Galang ikut memperhatikan. "Lihat matanya."
Tatapan gadis itu kosong. Sama seperti orang yang sudah kehilangan harapan.
Bara menarik napas panjang. "Kita bawa dia keluar."
Galang langsung menoleh. "Serius?"
"Kalau kita pulang sekarang..." ucap Bara namun beberapa saat ia terdiam kemudian melanjutkan perkataannya
"...besok mungkin dia sudah tidak ada."
Galang terdiam beberapa detik lalu mengangguk.
"Oke."
Mereka menyelinap melalui pintu belakang gudang. Untungnya sebagian besar petugas sedang sibuk memperhatikan monitor. Galang lebih dulu membuka jalur. Bara mengikuti di belakang. Mereka berhasil mencapai lorong bilik. Semakin dekat. Semakin jelas suara para streamer.
"Terima kasih Kak..."
"Ayo kirim gift lagi..."
"Hahaha..."
Sebagian tawa terdengar begitu dipaksakan. Bara akhirnya berhenti di depan bilik gadis tadi. Perlahan ia mengetuk pintu.
*Tok.*
Gadis itu menoleh. Matanya membesar.
"Jangan takut." bisik Bara.
"Kami mau membantumu."
Gadis itu tampak kebingungan.
"Ayo keluar"
Ia justru menggeleng. "Tidak bisa."
"Kenapa?" tanya bara
"Mereka akan tahu."jawab cepat gadis itu
Galang membuka kunci pintu menggunakan kawat kecil.
Klik. Pintu terbuka.
"Ayo." bisik Galang
Gadis itu mundur. "Tidak..."
"Mereka membunuh keluargaku kalau aku kabur."
Kalimat itu membuat Bara membeku. "Keluargamu?"
Belum sempat ia bertanya lagi. Terdengar suara langkah kaki mendekat.
"Sembunyi." bisik Galang.
Seorang pengawas lewat. Untungnya tidak menyadari keberadaan mereka. Setelah langkah kaki itu menjauh. Bara kembali menatap gadis tersebut.
"Siapa yang mengancammu?" tanya bara
Air mata gadis itu mulai jatuh. "Aku..."
"...tidak boleh bicara."
Tiba-tiba...
*BIP!*
Suara elektronik nyaring menggema. Lampu gudang berubah merah. Galang langsung menoleh ke langit-langit.
"Sial."
"Alarm."
Bara ikut terkejut. "Bagaimana bisa?"
Galang langsung melihat ke arah sudut ruangan. Sebuah kamera kecil mengarah tepat ke posisi mereka.
"Kena."
Dalam hitungan detik. Suara sirene memenuhi seluruh gudang. Streamer yang sedang siaran tampak panik. Sebagian pengawas langsung berlari. Pintu-pintu otomatis mulai menutup satu per satu.
"Keluar!" teriak Galang.
Mereka bertiga langsung berlari menuju lorong belakang. Namun pintu besi terakhir perlahan mulai turun.
"Cepat!" Bara berlari sekencang mungkin.
Beberapa petugas keamanan mulai mengejar dari belakang.
"Berhenti!"
"Jangan biarkan mereka lolos!"
Galang menendang salah satu petugas hingga terjatuh. Bara menarik tangan gadis itu.
"Ayo!"
Mereka hampir mencapai pintu keluar. Tinggal beberapa meter lagi. Namun pintu besar itu justru berhenti menutup. Perlahan kembali terbuka. Bara sempat merasa lega sampai akhirnya ia melihat seseorang berdiri di balik cahaya lampu luar.
Seorang pria bertubuh tegap. Mengenakan jaket hitam dengan tatapan mata yang begitu dikenalnya.
Johan.
Suasana mendadak hening. Petugas keamanan langsung berhenti mengejar. Mereka memberi jalan, Johan melangkah masuk perlahan tatapannya tidak tertuju kepada Bara melainkan kepada Galang.
"Jadi..." ucap Johan pelan.
"Selama ini..."
"...pengkhianat itu ternyata kamu."
Galang tidak menjawab. Wajahnya tetap tenang meski keringat mulai membasahi pelipisnya.
Bara melangkah maju satu langkah. "Dia tidak mengkhianati siapa pun."
Johan akhirnya mengalihkan pandangannya kepada Bara. "Kau lagi."
Nada suaranya tetap dingin namun kali ini berbeda tatapannya tidak lagi dipenuhi amarah melainkan kekecewaan.
"Kenapa selalu kamu yang muncul di setiap masalah?"
Bara tidak bergeming. "Karena masalahmu mulai melibatkan orang yang tidak bersalah."
Johan mengepalkan tangan sementara di belakangnya puluhan petugas keamanan mulai mengepung lorong. Atidak ada lagi jalan keluar.
Di lantai dua, seseorang yang sejak tadi mengamati melalui dinding kaca akhirnya tersenyum tipis ia mengambil sebuah telepon.
"Pak." katanya singkat.
"Mereka sudah masuk perangkap."
Di ujung sambungan, suara berat itu hanya menjawab satu kalimat.
"Jangan sentuh mereka dulu."
"Biarkan mereka melihat..."
"...sedikit dari dunia yang selama ini kita bangun."
Dan tanpa disadari Bara, sejak pertama kali ia melangkahkan kaki ke gudang itu malam ini, setiap gerakannya bukan lagi sebuah penyelidikan.
Melainkan bagian dari permainan yang memang telah disiapkan untuknya.