Erik Wira Pranata adalah seorang CEO berusia 27 tahun dengan satu anak. Anehnya ia memiliki anak dengan statusnya yang masih perjaka alias belum pernah menikah.
Kemudian, sang anak meminta sosok Ibu kepada Daddy nya. Erik pun bingung harus bagaimana, di satu sisi ia begitu trauma akan penghianatan di masa lalunya.
Bagaimanakah kelanjutannya ?
Mari baca kisahnya di sini.. :)
Jangan lupa follow IG : maeputrisarmi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberangkatan
Pagi hari telah tiba, sang surya dari ufuk timur mulai beranjak dari tempat bersemayamnya untuk lekas memberikan sinarnya pada sang bumi. Kicauan burung gereja saling bersahutan. Rerumputan masih basah terasa jika terinjak oleh kaki, sisa embun semalam masih lekat di sekitarnya.
Pukul 07.00, tersisa Erik, Cio, dan Bu Ratna di ruang tamu, sedangkan Pak Doni sudah berangkat ke kantor dan Mbok Inem yang masih melakukan tugasnya di belakang sana.
Erik baru saja selesai mengusung kopernya ke ruang tamu agar nanti memudahkan dirinya saat jemputan tiba. Namun, Cio malah merengek kepada Daddy nya agar sang Daddy membatalkan niatnya untuk pergi ke luar kota.
Erik sedang duduk di sofa, duduk lah Cio di pangkuannya, mereka berdua saling berhadapan, sedangkan Mama duduk bersebelahan dengan Erik di sofa yang sama.
"Daddy gak boleh pergi.." Ucap Cio sesegukan karena sudah dari tadi dia menangis.
"Daddy kan pergi untuk kerja, bukan untuk jalan-jalan, sayang.." Ujar Bu Ratna pada cucunya.
"Pokoknya gak boleh pergi !" Jerit Cio yang tetep kekeh di sela-sela tangisannya.
"Nanti kalo Daddy gak kerja terus gimana ? Emang Cio siap untuk enggak main di Timezone, beli ice cream, atau jalan-jalan ?" Tanya Erik pada Cio.
Cio menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan sang Daddy.
"Ya udah, berarti Cio harus izinin Daddy untuk berangkat kerja.." Erik berusaha memberi pengertian untuk anaknya.
"Eh.. sebentar lagi kan ulang tahun Cio. Nah.. Daddy pergi cari uang biar bisa bikinin pesta yang meriah buat Cio. Setuju, Boy ?" Lanjutnya.
Cio menganggukkan kepalanya pertanda bahwa ia menyetujui rencana Daddy nya.
"Tapi Daddy cepet pulang ya.." Cio memberi syarat untuk Daddy nya. Tangisannya sudah reda, tersisa sesegukan hasil dari tangisannya sejak tadi.
"Promise !" Ucap Erik seraya mengacungkan jari kelingkingnya tanda akad perjanjian. Cio pun menautkan jari kelingkingnya pula sebagai tanda ia memegang janji Daddy nya.
"Oh iya, Daddy hampir lupa. Sebenarnya Daddy dan Cio dapet undangan untuk datang ke pesta, karena Daddy nya kerja jadi Cio sama Oma aja ya yang berangkat !. Undangan dan kado nya ada di dalam paper bag di nakas kamar Daddy, nanti kamu ambil ya, Boy !" Ujar Erik seraya tersenyum.
Cio menganggukkan kepalanya, sedangkan Bu Ratna mengernyitkan dahinya guna menerka-nerka undangan apa yang di maksud Erik.
Setelah sekian lama menunggu, terdengarlah suara klakson sebuah mobil. Ya, siapa lagi jika bukan mobil Tian yang di kemudikan oleh Alvaro karena memang ia yang akan mengantarkan Tian dan Erik menuju ke bandara.
Keduanya turun dari mobil dan mengucapkan salam serta sapa untuk para pemilik kediaman.
"Kok matanya sembab, Boy ?" Tanya Tian yang telah mensejajarkan tubuhnya dengan Cio.
"Minta Mommy ya ?" Timpal Alvaro dengan setengah berteriak karena ia sedang sibuk mengangkat koper Erik untuk di masukkan ke dalam bagasi mobil.
"Pala Lu !" Sergah Erik membelalakkan matanya menatap Alvaro.
"Slowly, Uncle will help your Daddy to get a Mommy for you" Ujar Tian menatap Cio. Tangan kanannya mengusap kepala Cio, sedangkan Cio hanya termenung mendengar percakapan konyol ketiga bujangan tersebut.
"Paan sih, Lo !" Tegur Erik kesal.
"I feel that's not bad idea" Cio menganggapi perkataan Tian dengan polosnya.
"Semoga disegerakan, Aamiin.." Ucap Bu Ratna terkekeh meledek Erik.
"See ?!" Tian berdiri seperti semula, menekuk sikunya dan menengadahkan kedua telapak tangannya, di masing-masing sisi lengan atasnya.
"Udah ah ayo berangkat !" Erik mengalihkan pembicaraan.
Setelah semuanya siap, Erik, Tian, dan Alvaro pun berangkat menuju bandara.
Bersambung...
Terimakasih readers yang sudah setia kepada karya author yang satu ini 🙏
Dengan kalian komentar minta kelanjutan nya aja udah bikin author bahagia tiada tara, terimakasih ❤️
katanya bahagia dg suami y??
nanti sakit sendiri.
menghapus kontak seseorang di hp suami percuma saja klo akhirnya terus berhubungan.
blokir aja sekalian kontak gak penting tuh
klo lg penat krn problem,obatnya adalah yang enak2 wkwk...
dasar bucin akut
jebol euy,gara2 cemburu wkwk
tisha ngasih no hp suaminya???