Rumah tangga bahagia yang semua orang inginkan, tapi tidak untuk rumah tangga Safira dan Rayan suaminya..sekian tahun mengarungi bahtera rumah tangga tak membuat hati Rayan mencintainya hingga Safira memberikan kesempatan kedua untuk suaminya, tapi lagi-lagi ia di patahkan oleh kenyataan yang membuat Safira sakit hati dan juga kenyataan masa lalu suaminya yang belum usai, apakah Safira akan terus bertahan, atau melepaskan. ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilaimuet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Rayan sudah berada di kantor ia langsung melakukan. pekerjaan untuk mengusir rasa kesal di hatinya, bahkan ia juga akan melakukan apapun agar Safira kembali ke ke pelukannya..
"Maaf tuan anda ada pertemuan dengan klien dari Bali, sekitar jam 10 nanti pertemuannya di tempat biasa.." ucap Leo yang masuk membacakan Agendanya..
"Baik.. Atur semuanya.. Oh ya leo bagaimana apa kamu sudah menemukan di mana istri saya berada.." Rayan yang bertanya..
"Belum pak. Tapi akan kami usahakan sebisa mungkin.." ucap Leo, karena orangnya belum menemukan dimana Safira berada..
"Baiklah terimakasih.." Rayan langsung melakukan pekerjanya..
seperti sedia kala Rayan selalu terbayang akan wajah Safira, entah lah ia begitu rindu akan kehadiran Safira dari makanan dan juga semuanya yang di miliki oleh Safira semuanya ia rindu,, bahkan senyumannya yang membuat ia mabuk kepayang..
"Kamu dimana..dek mas kangen kapan pulang maafkan mas ya yang udah bikin sakit hati kamu, mas janji akan mencarimu dan meminta maaf kepadamu.." ucap Rayan yang memandang foto Safira di meja kerjanya..
Sedangkan di luar pulau Safira begitu menikmati kehidupannya sekarang kandungnya Safira sudah memasuki tujuh bulan sekarang Safira juga tidak rawan lagi kandungan lemah, perut Safira yang lebih besar Membuat ia sulit untuk bergerak, ia menikmati kehamilannya kali ini apalagi hamil anak kembar, setelah USG usia 4 bulan dulu ia baru tahu jika mengandung bayi kembar, dan ada Dewi ibu Lastri dan juga Zain yang siap siaga menjaga Safira di kehamilan yang memasuki trimester Akhir..
"Mbak jalan-jalan yuk ke komplek sini aja.." ajak Dewi yang memang hari libur..
"Kemana wi,, kayaknya mbak malas deh.." ucap Safira..
"Jangan mager ah MBK. Kata dokter kan jalan-jalan pagi baik untuk kesehatan.." ucap Dewi..
"Tapi..."
"Ayolah mbak, sekali ini saja katanya mbak ingin lahiran normal siapa tahu kan dengan jalan-jalan siapa tahu twin langsung brojol aja.." ucap Dewi.
dengan pertimbangan Safira mau walaupun ia juga malu sama tetangga Kanan kiri. apalagi ia banyak di gunjing oleh tetangga..
"ayo mbak, jangan pikirkan apa kata tetangga slow saja nanti malah drop lagi aku gak mau ya mbak terjadi sesuatu dengan ponakan aku.." Dewi yang kekeh.
Mereka berjalan pagi Safira juga menikmati udara segar yang memang bagus untuk ibu hamil apalagi ia juga sangat bersyukur di kehamilannya yang sudah tua anak-anak nya tidak rewel hanya malam saja ia susah untuk tidur,, Bakan sampai pagi hari ia baru memejamkan matanya..di perjalanan ia melihat seorang ibu seperti dirinya hamil tapi di dampingi. dengan suaminya.. Ada iri dalam Hati Safira ia juga ingin di perlakukan seperti itu tapi ini Jalan yang ia mau, jalan yang ia inginkan,
"Mbak.. Mbak capek apa mau istirahat sebentar..'" ucap Dewi yang melihat Safira terdiam
"Hah.. Gak ayo.." Safira berjalan hingga satu jam lamanya.
Serasa di rasa cukup ia pun langsung mengajak Dewi untuk pulang mungkin sekarang bu Lastri sudah ke rumahnya membawakan makanan yang ia mau..
Safira juga akan mengistirahatkan tubuhnya yang letih walaupun berjalan tak jauh karena ia juga tak sendiri.
"Mbak capek.." tanya Dewi..
"Iya wi capek banget, oh ya gimana hubungan kamu dengan kak Zain.." tanya Safira lagi..
"Apasih mbak, biasa aja seperti atasan dan bawahan gitu.." dewi menjawab dengan acuh..
"Kayak mbak lihat kamu seperti dekat dengan kak zain wi, kayak seperti pedekate gitu.."
"Gak mbak kami biasa aja. Kami Deket juga karena mbak menjaga mbak tak lebih.."
Safira merasa janggal dengan ucapan Dewi, padahal ia tahu akan dari tatapan Zain Safira melihat jika kak zain mengangumi dewi hanya saja Dewi seperti tutup mata. Safira pun gak ambil pusing dengan mereka yang di pikirkan Safira hanya anak-anak saja..
Di kota Rayan begitu marah saat anak buahnya tidak ada yang becus mencari Safira bahkan sudah berbulan-bulan,
Brak..
"Bagiamana bisa kalian tidak tahu dimana istri saya berada bahkan semua tidak ada yang becus mencari satu orang saja.. apa kalian hanya memakan gaji huta selama ini.." Rayan menggebrak meja..
"Maaf tuan saya belum bisa mencari dimana nyonya, tapi saya janji saya akan berusaha sebisa mungkin." ucap orang suruhan Rayan.
"Tpi maaf bos mungkin ada yang melindungi nyonya, barangkali karena dari penerbangan hingga kereta ataupun angkutan lainya tidak ada nama nyonya sekalipun.." salah satu suruhan Rayan yang berkata.
"Mungkin bisa jadi tapi apa kamu tahu siapa orangnya.." tanya Rayan..
"Maaf nie bos tapi saya mencurigai kakak anda, karena gerak geriknya mencurigakan bahkan saya juga pernah melihat kakak anda membeli sebuah baju hamil dan juga susu hamil di pusat kota.." ucap salah satu..
"Apa iya Safira istriku hamil toska mungkin kan, bagiamana jika kak Zain sudah punya wanita yang ia hamil di luar nikah, tapi aku juga perlu tahu selama ini kak Zain. sangat tertutup bahkan bahkan aku juga pernah curhat denganya tapi tak direspon.. Aneh bukan.." Rayan yang menimang-nimang keanehan kakaknya..
"Baiklah kamu ikuti saja kakak ku sampai ke luar pulau sekalipun jika ada yang mencurigakan segera kabari.." ucap Rayan.
"Baik tuan kalo begitu kami undur diri dulu.."
"Ya.."
setelah undur diri Rayan memikirkan kakanya apa ia kakanya yang sudah menyembunyikan istrinya, tapi apa alasannya.. Jika Safira yang mau apa yang harus ia kata.. bahkan mungkin Safira yang menginginkan agar Rayan sendiri kebingungan mencarinya..
"Apa ia Safira hamil.. jika ia betapa berdosanya aku mengucapakan talak kepada Safira.. yaallah bodohnya diriku ini yang sudah menyia-nyiakan istri dan buah hatiku. Aku harus mencari Safira apapun itu. Aku akan berjuang untuk meluluhkan hati istriku.." guman Rayan yang begitu bahagia jika memang Safira istri ya sedang mengandung..
Rayan juga berjanji akan menjadikan ayah yang baik dan juga suami siaga..
"Ya Allah jika memang istri hamba hamil makan pertemukan saya denganya sebelum ia melahirkan ya Allah, hamba mohon.." hanya itu doa Rayan setiap kali ingat akan istrinya..