Nusantara Alam Lestari, seorang wanita yang tak percaya cinta sejati. Suatu ketika, ia tak sengaja bertemu dengan seorang pria bernama Langit di Kala Sore di sebuah pinggir pantai di pulau Dewata.
Mereka berkenalan dan terlibat obrolan seru. Namun siapa sangka alkohol yang menemani obrolan mereka, membuat mereka hilang kendali dan membuat mereka terlibat cinta satu malam.
Keesokan paginya mereka terbangun oleh ketukan kencang di kaca mobil Kala, para nelayan setempat memergoki mereka berduaan di mobil tanpa busana. Di tengah kepanikan karena penggerbegan itu, Tari berhasil melarikan diri dari amukan para nelayan. Ia bisa kembali ke hotelnya dengan selamat dan terbang ke Jakarta meninggalkan Kala yang harus menghadapi amukan masa seorang diri.
Selang lima tahun kemudian Kala bertemu dengan dua anak kembar yang begitu mirip dengan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Chiffon cake yang terakhir Kala angkat dari panggangan pukul 03.00 dini hari, ia menyerahkan cake tersebut pada Tari untuk di beri topping dan di kemas. "Done..." ucap Kala bernapas lega, kemudian pria itu duduk di samping Tari dan ambruk di meja.
Tari tersenyum simpul melihat Kala memejamkan matanya, ia memberikan kesempatan padanya untuk beristirahat sejenak sembari menunggunya berkemas. Setelah selesai berkemas, Tari termenung memandangi wajah Kala, wajah itu mirip sekali dengan dua putra kembarnya, bahkan gayanya ketika tidur dengan mulut menganga lebar.
Ia tak kuasa menahan tawanya, Tari terkikik pelan. Jemarinya perlahan menyusuri wajah Kala dengan lembut, ia mengikuti garis tegas wajah Kala. Ia merasakan kedamaian berlama-lama memandangi wajah Kala, hingga Tari tersentak oleh suara pintu dapur yang terbuka.
Beberapa orang pegawainya yang bekerja di bagian dapur telah datang, Tari langsung menaruh jari telunjuk di bibirnya agar mereka tidak berhati-hati dan tidak berisik sebab Kala masih tertidur.
Wajah mereka terlihat terkejut dan sedikit heran melihat keberadaan Kala, karena sebelumnya tidak pernah ada pria asing yang masuk dapur, dam mereka pun tak pernah melihat Tari dekat seorang pria.
Namun mereka menuruti perintah Tari, mereka semua membuat kue dengan tenang. Hanya sesekali, salah seorang dari mereka ada yang berbisik-bisik. "Kayanya gue pernah liat bapak itu deh, tapi di mana ya?"
Tak lama kemudian ia membekap mulut dengan kedua tangannya. "Oohh... Bapak yang dulu nyariin Bu Tari."
Tari yang mendengar percakapan mereka langsung berdeham. "Ohh jadi kamu yang udah ngasih tau informasi tentang aku," ucap Tari seraya melirik kesal ke arah pegawainya, baru saja ia ingin mengomeli pegawainya namun Kala sudah terbangun dari tidurnya.
Pria itu meregangkan tubuhnya. "Maaf, aku ketiduran," ucapnya seraya melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 05.00 pagi.
"Tidak apa-apa. Kau mau kopi?" Tari menyodorkan kopi panas yang tadi ia buat ketika Kala tidur.
Kopi panas, aroma roti yang baru saja keluar dari panggangan, dan senyum manis yang menghiasi bibir Tari. Menjadi pagi yang indah bagi Kala. "Bagaimana semua pesanannya?"
"Sudah semua, nanti pegawaiku yang akan mengantarnya," jawab Tari, ia melirik ke arah jam dinding. "Aku harus pulang, sebentar lagi anak-anak berangkat sekolah. Aku tidak ingin mereka mencemaskanku."
"Aku antar, aku juga ingin bertemu mereka." Kala menghabiskan kopinya kemudian membopong Tari keluar dari toko, tentu saja hal itu membuat para pegawai riuh, mereka bahagia melihat Tari dengan seorang pria.
"Kau ini bikin aku malu saja," protes Tari ketika mereka sudah berada di dalam mobil. "Aku yakin saat ini kita jadi bahan gosip para pegawaiku."
Kala tersenyum sembari mengemudikan kendaraannya. "Bukankah tadi kamu bilang sebentar lagi anak-anak berangkat sekolah? Kalau tidak buru-buru nanti kita terjebak macet dan tidak bisa bertemu dengan anak-anak."
"Iya tapi tidak perlu menggendongku."
"Kaki kananmu masih belum bisa di pakai jalan, Sayang. Kamu butuh istirahat beberapa hari untuk memulihkannya," ucap Kala dengan lembut.
"Kau yakin akan sembuh dalam beberapa hari dan tidak perlu ke dokter?"
Kala menggeleng. "Tidak perlu, percayalah padaku."
Sejak malam tadi sebetulnya Tari sedikit terkejut melihat Kala mengobati lukanya dengan cekatan. "Apa dulu kau anggota PMR?"
Kala tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Tari. "Dulu aku pernah kuliah di kedokteran karena paksaan dari Papa, tapi pada akhirnya Papa juga yang membuat aku tidak bisa melanjutkan kuliahku karena aku harus merawatnya di rumah sakit di Singapore akibat serangan jantung yang menimpanya. Ketika kembali ke Indonesia, aku memutuskan keluar dari FK dan masuk jurusan yang aku sukai, yaitu arsitek."
Tari terkejut mengingat kedua putranya memiliki minat yang sama dengan Kala. "Mengapa semua bagian anak-anak ada padamu? Tak ada satupun yang menurun dariku," ucap Tari bersedih.
Kala tersenyum, ia bahagia setiap kali Tari mengakui bahwa Lingga dan Lintang adalah putranya. "Ada di sini bagianmu," Tangan kiri Kala menunjuk pada dada Tari. "Mereka tumbuh menjadi anak-anak baik dan tangguh, itu semua karena menurun dari ibunya."
Bukannya tersentuh dengan kalimat yang di lontarkan Kala, Tari justru mengibaskan tangan Kala dengan kasar. "Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan!"
Kala hanya tertawa kecil melihat Tari yang begitu menggemaskan ketika marah. "Maaf, aku tidak bermaksud kurang ajar. Tapi kau benar-benar memiliki hati yang luar biasa, itulah yang menurun ke anak-anak kita." Ia meraih tangan Tari dan menggenggamnya erat, ia bahkan tidak melepaskannya hingga sampai di kediaman Tari.
Seluruh penghuni rumah panik, saat melihat Tari pulang dalam keadaan kaki yang di balut perban. Lingga dan Lintang bahkan menangis dan tak ingin ke sekolah, mereka ingin menemani ibunya.
"Mommy tidak apa-apa, Nak," Tari membelai lembut wajah kedua putranya. "Semalam Daddy sudah mengobati Mommy dan Daddy bilang Mommy hanya perlu istirahat beberapa hari maka kaki Mommy akan sembuh." Tatapan Tari berpindah pada Kala. "Benarkan?"
Kala mengangguk. "Benar, kaki Mommy hanya perlu istirahat saja beberapa hari setelah itu Mommy akan berjalan normal lagi." Ia menatap kedua putranya lekat-lekat, sembari mengusap air mata mereka. "Mommy dan Daddy akan sedih dan kecewa kalau kalian tidak sekolah. Daddy janji, nanti malam Daddy akan kemari untuk memeriksa kaki Mommy dan menemani kalian belajar. Bagaimana?"
Seketika wajah Lingga dan Lintang kembali ceria. "Setelah belajar, temani kita main lego ya Dad..." punta Lintang.
"Lego yang Daddy kasih belum sempat kita susun, kita susun sama-sama ya nanti malam,"sahut Lintang menambahkan.
Kala mengangguk. "Kalau begitu, ayo pamit dengan Mommy dan Eyang. Kita berangkat ke sekolah sekarang."
Lingga dan Lintang berpamitan pada Eyang dan Mommynya, kemudian mereka berlari menuju mobil Kala, seperti biasanya mereka berebut untuk duduk di sebelah Kala. Sementara Kala sendiri masih berpamitan pada Elok dan Tari. "Terima kasih banyak ya untuk malam ini," ucap Tari sembari tersenyum manis.
Kala memasang wajah kesal. "Enggak ah kalau cuma ucapan terima kasih, aku mau yang lain."
"Memangnya kamu apa?" tanya Tari bingung.
Kala menunduk dan mendekatkan wajahnya seraya memberi kode kepada Tari agar mencium pipinya, sontak saja wajah Tari memerah. "Kau ini enggak tahu malu sekali, itu di lihat Ibu." Tari memberikan cubitan di pinggang Kala.
"Iya deh, Ibu pergi. Ibu mau beres-beres dapur dulu," Elok beranjak dari ruang tamu meninggalkan Tari dan Kala, namun ia tidak benar-benar pergi, ia justru mengintip dari balik tirai yang memisahkan ruang tamu dengan ruang keluarga.
"Ibu jangan...!" cegah Tari, namun Elok tetap pergi.
Kala kembali menunduk, medekatkan wajahnya. "Ayo... Cepat jangan malu-malu."
"Kala..."
"Ayo cepat sayang, nanti anak-anak terlambat."
Tak ada pilihan lain, Tari menghembuskan napas beratnya kemudian memberikan kecupan ringan di pipi Kala. Pria itu terlihat kegirangan, ia meraih wajah Tari dan mengecup keningnya. "Aku pergi dulu ya sayang," ia berlari menyusul kedua buah hatinya.
Kala pergi dengan hati yang berbunga-bunga, tapi ia tidak lupa menghubungi asisten rumah tangganya untuk membawakan baju ke kantor karena stok baju di mobilnya sudah habis.
Sepanjang jalan menuju sekolah, hingga kantor Kala tak hentinya tersenyum dan bernyanyi. Sampai-sampai para staf yang di laluinya merasa heran, mereka heran bukan hanya dengan sikapnya namun pakaiannya yang di kenakannya terlihat kotor, biasanya Kala selalu tampil sempurna.
"Kalian ngapain pada ngegosip disini? Bukannya kerja!" Amber yang baru saja datang melihat kerumunan staf, langsung menegur mereka. "Sana-sana masuk!" ia mengusir dan membubarkan kerumunan.
Langkah Amber terhenti ketika melihat asisten rumah tangga Kala keluar dari gedung, wanita itu bergegas menghampirinya. "Bibik ngapain ke sini?" tanya penasaran.
"Itu Non, Bibi habis antar pakaian Pak Kala."
Amber semakin penasaran. "Baju? Memangnya Kala semalam tidak pulang?"
Sang asisten menggeleng. "Tidak, sudah dua malam ini Pak Kala tidak pulang. Eh..." ia langsung menutup mulutnya. "Maaf Non, Bibik salah ngomong. Bibik permisi dulu." ia buru-buru meninggalkan kantor.
Amber merotasikan bola matanya, seraya berpikir kemana Kala menginap? "Apa jangan-jangan?" gumamnya, ia bergegas menghampiri Kala di ruang kerjanya.
Happy ending...😍😍
rumput cari kuda.