Ketika Cindy berusia 10 tahun, ia diperkenalkan oleh kedua orang tuanya dengan remaja muda berusia 16 tahun. Ayah dan Ibu memperkenalkannya sebagai Paman Angkat.
Singkat cerita, Paman Angkat bernama David hendak menikah dengan seorang wanita yang sudah dipacari nya lebih dari 3 tahun. Namun pernikahan itu batal, karena pihak dari pengantin wanita tidak hadir dan menikah dengan pria lain.
karena sudah menyebar undangan dan tidak ingin keluarga menjadi malu, orang tua Cindy tiba-tiba saja menikahkan dirinya dengan David, Sang Paman Angkat.
Bagaimana Kisah Mereka? Mari Disimak Sekarang Juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 30
“Mbak yang bekerja jadi sopir Paman, 'kan?” tanya Cindy memastikan.
“Pak David meminta aku untuk mengantarkan bekal makanan ini,” terang Shakira seraya memberikan bekal makan tersebut untuk Cindy dan mau tak mau Cindy pun menerimanya.
Setelah bekal makan itu sampai ke tangan Cindy, Shakira langsung pamit karena David sudah menunggu didalam mobil.
Cindy menoleh ke arah sekitar dan untungnya tidak ada yang memperhatikan dirinya.
“Sikapnya mudah sekali berubah,” gumam Cindy.
Cindy memang belum makan apapun, kalau saja David tidak membuatnya menangis, tentu saja Cindy akan sarapan di rumah. Namun, karena kejadian semalam membuat Cindy terpaksa berangkat lebih awal dari biasanya.
“Permisi! Apakah ada kebaya berwarna hijau stabilo?” tanya seorang wanita paruh baya pada Cindy yang hendak menyimpan bekal makannya di locker.
“Ada Bu,” jawab Cindy.
Cindy meletakkan bekal makan miliknya dibawah meja kasir, kemudian berlari kecil mengambil kebaya yang dimaksud oleh wanita paruh baya itu.
Saat hendak memberikan kebaya tersebut kepada pelanggan, Kasih tiba-tiba datang dan mengambil alih.
“Biarkan aku yang melayani Ibu itu,” ucap Kasih dan mengambil kebaya tersebut dengan kasar.
Cindy hanya bisa mengelus dada dengan sikap Kasih yang semena-mena itu tanpa mengatakan sepatah katapun.
Jam istirahat tiba, para pegawai bergantian untuk beristirahat. Mereka diberi waktu 1 jam untuk bergantian beristirahat, Cindy yang sudah lapar bergegas menyantap makanannya yang terlihat sangat lezat serta bergizi.
“Cindy, Cindy. Pegawai biasa aja bekal makannya enak-enak. Kalau tidak punya uang, tidak usahlah bergaya seperti orang yang mampu,” ucap Kasih yang nampak tak suka dengan makanan serba enak milik Cindy.
“Mbak Kasih mau?” tanya Cindy menawarkan bekal makannya kepada Kasih.
Kasih tersenyum lebar dan mengambil lobster ukuran besar tanpa rasa canggung sedikitpun.
Mawar serta beberapa pegawai yang lain hanya bisa melongo melihat Kasih mengambil lobster ukuran besar milik Cindy dengan sangat santai.
“Enak ya,” ucap Kasih sambil mengunyah lobster milik Cindy.
Beberapa jam kemudian.
Cindy memutuskan untuk tidak buru-buru pulang ke rumah keluarga Wijaya. Gadis cantik itu memilih untuk pergi ke rumah salah satu teman SMPnya dulu untuk sekedar menyapa.
“Pak, antar saya ke jalan Himalaya ya,” ucap Cindy pada tukang ojek pengkolan.
Sekitar 20 menit perjalanan menuju rumah kawan lama, akhirnya Cindy sampai dan ternyata Siska tengah berada di teras depan rumahnya seraya menggendong bayi mungil menggemaskan.
“Cindy?” tanya Siska memastikan.
“Siska! Kamu apa kabar? Akhirnya kita bisa berjumpa lain setelah sekian lama tidak saling bertegur sapa,” ucap Cindy yang sangat antusias menemui Siska.
“Kamu kok tahu kalau aku tinggal disini?” tanya Siska penasaran sekaligus senang karena disambangi kawan lawan semasa putih biru.
“Tentu saja aku tahu. Oya ini ada hadiah sedikit untuk bayimu, selamat ya Siska kamu sudah berhasil menjadi Ibu. Aku tidak menyangka, teman SMP ku dulu sudah menjadi Ibu anak satu.”
“Thank's Cindy, seharusnya kamu tidak perlu repot-repot membawakan bayiku hadiah. Dengan kamu datang kemari saja aku sudah senang. Oya hampir lupa, mari masuk!” Siska mempersilakan Cindy untuk masuk ke dalam sambil mengobrol santai.
“Maaf ya Siska. Bukannya menolak, tapi aku harus pulang. Takutnya orang rumah mencariku. Lain kali aku akan mampir kesini dengan durasi yang lebih panjang,” pungkas Cindy.
Dengan berat hati Siska mengiyakan dan akan menunggu kedatangan Cindy selanjutnya.
***
Rumah Keluarga Wijaya.
David sudah lebih dulu kembali ke rumah dan tak melihat batang hidung istrinya. Karena penasaran, David pun mencoba menghubungi Cindy dan ternyata nomor telepon Cindy tidak bisa dihubungi.
Saat David hendak menyusul Cindy ke tempatnya bekerja, rupanya Cindy telah sampai rumah dan baru saja memasuki kamar.
“Darimana saja jam segini baru pulang?” tanya David penasaran.
“Dari rumah teman,” jawab Cindy apa adanya.
“Lain kali kalau mau pergi kemanapun jangan lupa beritahu orang rumah, terlebih lagi aku,” tegas David.
“Iya,” jawab Cindy singkat.
Cindy yang lelah hanya bisa diam karena ia sudah tak bertenaga jika kembali berdebat dengan David. Yang ada dirinyalah yang rugi karena sampai kapanpun David tidak akan pernah mau mengalah.
David menarik tangan Cindy untuk mengajak Cindy duduk berduaan dengannya di sofa.
“Maaf soal semalam,” ucap David penuh sesal.
“Jangan bahas masalah semalam lagi ya Paman, bagi Cindy yang semalam itu hanyalah mimpi buruk yang lebih baik dilupakan,” pungkas Cindy.
“Sebanyak apa mimpi buruk yang sudah kamu terima?” tanya David penasaran.
“Paman tidak perlu tahu dan Cindy juga tidak akan memberitahunya.”
Cindy yang saat itu sangat lapar, memutuskan untuk pergi ke ruang makan dan karena tidak ingin makan sendirian, gadis cantik itu pun terpaksa mengajak Paman angkatnya untuk makan bersama.
“Cindy lapar, Paman mau makan apa tidak?” tanya Cindy.
“Ngomong-ngomong soal makan. Apakah kamu menghabiskan bekal makanmu?” tanya David penasaran.
“Pertama-tama, Cindy ucapkan terima kasih atas perhatian Paman. Kedua, Cindy memang memakannya dan Lobster yang paling besar tidak sempat Cindy makan. Dikarenakan ada kucing besar yang mengambilnya,” jawab Cindy.
Cindy tentu saja tidak akan memberitahu kejadian yang sebenarnya. Hanya saja ia terlalu sebal dengan sikap Kasih dan menyebutnya sebagai kucing besar.
“Bagaimana bisa di dalam butik itu ada kucing? Setahuku mereka tidak menyukai kucing,” tutur David mengarah pada pemilik butik yang memang alergi bulu kucing.
Bingung. Cindy bingung harus menjawab apa dan karena perutnya sudah sangat lapar, Cindy reflek menarik tangan David untuk segera pergi ke ruang makan.
“Paman tidak perlu banyak tanya. Intinya saat ini Cindy lapar dan Cindy ingin makan banyak,” ucap Cindy.
Untungnya di ruang makan tidak ada Mama Ratih, sehingga Cindy bisa memakan hidangan tersebut dengan puas.
“Mama kemana?” tanya David pada salah satu pelayan.
“Nyonya Besar sedang tidak ada dirumah, Tuan David.”
David mengangguk kecil tanpa ingin tahu kemana tujuan Mama Ratih pergi.
“Lobster yang ini lebih kecil dari yang Paman bawakan,” ucap Cindy lirih.
“Mau lobster yang lebih besar lagi?” tanya David.
Cindy dengan sangat antusias mengiyakan dan menagih lobster ukuran besar tersebut kepada David.
“Adakah lobster yang lebih besar lagi?” tanya David kepada pelayan.
Tak butuh waktu lama lobster dengan ukuran jumbo datang tepat dihadapan Cindy.
“Wah, lobster jumbo saus padang kesukaan Cindy!” seru Cindy.
“Memangnya kamu pernah makan lobster sebesar ini? Apalagi dengan saus padang,” ucap David sengaja mengejek Cindy.
“Belum pernah,” balas Cindy dan ia pun tertawa ngakak.
Cindy tentu saja menertawakan dirinya sendiri karena terlihat sangat konyol ketika membahas mengenai lobster berukuran jumbo tersebut.