NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Romantis
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kantor Penuh Drama

Kantor Rangga siang itu, penuh manusia. Sebagian besar di antara mereka wanita. Semua berkumpul di Lobby kantor. Suasana lobi siang itu nampak penuh dan pengap oleh atmosfer canggung. Di atas sofa-sofa kulit mewah, belasan karyawati dan sekretaris junior nampak sedang duduk berkerumun. Dandanan mereka seksi, menor, dan tatapan mata mereka nampak gelisah bercampur emosi. Ada beberapa wanita mengangkat spanduk bertuliskan “Keadilan untuk Karyawan Red Desmont Yang Dipecat Tanpa Alasan”. Mereka sedang beradu pikiran, bersiap menuntut apa yang mereka sebut sebagai 'keadilan' mengenai deskripsi pekerjaan dan perlakuan sepihak bagi kelima rekan mereka yang diskorsing.

Kini, Arumi melangkah sendirian melewati pintu kaca otomatis lobi utama Red-Desmont Investment.

Melihat tulisan di spanduk itu, ia membatin, mungkinkah manajemen sengaja menyembunyikan alasan yang sebenarnya untuk melindungi privacy si tersangka? Karena yang sudah kita tahu, di jaman sekarang semua bisa dikenai pasal. Dan mengumbar-umbar permasalahan pelik semacam ini selain di pengadilan, masuk ke kategori perbuatan tidak menyenangkan. Jadi Rangga dan yang lain berusaha meredam emosi massa.

Tapi yang namanya provokator, terus saja meng-gas melalui kata-kata manipulatif mereka. Walau pun si provokator tahu hal itu tidak benar. Mungkin tujuan provokator adalah berusaha mengalihkan penyelidikan terhadap dirinya dengan berbuat kericuhan.

"Halah, digoda doang kok lebay sih perlakuannya? Jangan-jangan Pak Rangga itu gay? Masa dicolek dikit langsung main lapor?" celetuk salah satu karyawati yang bertindak sebagai buzzer provokasi dengan bacotnya yang lantang, memicu dengusan setuju dari teman-temannya. Mereka berisik mendemo tanpa pernah tahu inti masalah kriminal apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik pintu ruang direksi.

Dan kurang ajarnya si Rangga...

Arumi yang diminta untuk tampil.

Iya, Rangga mengubah plot mereka secara mendadak di dalam mobil tadi. Alih-alih turun bersama di lobi utama seperti rencana awal, Rangga memilih turun lebih dulu bersama Tony di parkiran basement sunyi untuk langsung naik ke lantai atas via lift privat. Alasan Rangga lempeng saja: biar lebih seru, sekaligus membiarkan Arumi menguji medan tempur pertamanya sendirian. Lagipula, Rangga memang malas bertemu kerumunan orang banyak jika lewat lobi depan.

Sementara itu, Tony yang biasanya selalu lewat lobi utama karena harus memeriksa kinerja operator dan sekuriti demi pengamanan bosnya, sudah memberikan akses penuh. Tony dengan lugas berkata : “Ibu kan sama-sama wanita, dan mulut ibu lebih pedas. Kalau kami laki-laki yang maju untuk melawan wanita, kami dihadapkan dengan konflik batin bu. Salah-salah, kami malah yang dipidana dengan tuduhan kekerasan verbal.”

Lah, gimana.

Namun percaya tak percaya, ide Rangga ini malah efektif.

Wanita cenderung memiliki jiwa kompetitif terhadap wanita lain. Yang lebih cantik, dadanya lebih besar, barangnya lebih bagus, pasti akan menarik perhatian wanita lain.

Dan rasa iri mereka lebih besar terhadap sesamanya, karena mereka selalu bermain dengan emosi.

Kumpulan wanita menor dengan parfum berbagai wangi, gaya minim seakan mereka lahir dari ibu yang sama, dengan mulut culas nan asbun, langsung terdiam saat Arumi Sang Aprodite masuk ke dalam gedung.

Arumi mengabaikan kerumunan itu. Dengan gaun sutra hitam tiga perempat yang membungkus tubuh sintalnya secara elegan, ia berjalan tenang melewati mereka langsung menuju meja operator.

Spontan, para karyawati dan operator di sana langsung menghentikan obrolan. Mata mereka menatap Arumi dari atas ke bawah dengan tatapan penuh selidik dan nyinyir. Dalam sekejab, orasi berhenti dan gedung sunyi.

Bisik-bisik mulai terjadi.

"Sosialita dari mana lagi nih? Investor baru kali ya?"

"Lihat tuh berlian di jarinya, kinclong amat. Lakinya pasti spek old money."

"Halah, jangan salah. Ani-ani zaman sekarang juga eksklusif semua gayanya, bahkan melebihi bini pertama!"

Bisik-bisik julid itu berdesir di udara lobi, mencoba menguliti penampilan mewah Arumi. Saat Arumi sampai di depan meja, sang petugas operator berdehem, mencoba bersikap profesional meskipun matanya masih menatap kalung di leher Arumi. "Selamat siang. Ada yang bisa dibantu? Mau bertemu dengan siapa ya, Bu?"

"Rangga Adiwilaga," jawab Arumi pendek, suaranya jernih tanpa beban.

DEG.

Suasana lobi mendadak kaku seketika. Nama sang penguasa tertinggi disebut tanpa embel-embel jabatan membuat para wanita di sofa langsung menoleh serempak. Seorang sekretaris junior dengan suara cempreng langsung berteriak dari arah sofa, mencoba menjatuhkan mental Arumi.

"Bos Rangga nggak suka menerima tamu perempuan, Bu! Pulang aja sana, mending cari investor lain. Nanti kalau diusir dari lantai atas malah nangis!" serunya, diiringi oleh kikikan renyah dari rekan-rekan di sebelahnya.

Arumi tidak meledak marah. Sebagai seorang dengan kepribadian bersahaja, hasil perlatihannya hidup bertahun-tahun bersama seorang pria yang tenang dan kalem (Mas Ary,maksudnya), ia justru menghentikan langkahnya perlahan, membalikkan tubuhnya dengan sangat anggun, lalu menatap kerumunan wanita itu dengan pandangan sedingin es.

"Ya, pantas saja dia mengusir kalian," suara Arumi terdengar sangat kalem, namun getaran intonasinya membuat kikikan di lobi mendadak senyap. "Karyawan kok kelakuannya kayak preman pasar begini. Bos mana yang tidak akan kesal melihat stafnya tidak tahu tata krama?"

Seorang karyawati senior dari divisi operasional langsung berdiri, tidak terima disindir. "Heh, santai aja kali ngadepin Bos zaman sekarang! Dia sama kita itu sama-sama manusia, apa hebatnya? Pecat aja kalau dia nggak suka sama ucapan kami yang real ini. Rezeki kami nggak bakalan ketukar kok! Nggak dapet kerja di sini juga masih bisa dapat di tempat lain, dibanding harus kerja di bawah pimpinan Bos yang nggak ada alasan apa-apa langsung main skorsing aja!”

Arumi menggelengkan kepalanya lalu menarik mic di meja operator. “Ucapan kalian kok nggak sinkron ya, kalian beneran karyawan di Red Desmont? Kok terdengar bodoh?” suaranya membahana di sepanjang lobby. “Kan Rangga memang sesuai sama yang barusan kalian bilang  ‘Pecat aja kalau dia nggak suka sama ucapan kami yang real ini’ dan itulah yang dia lakukan. Kenapa kalian malah demo? Nggak suka? Ya terima saja.”

“Kurang aja, lu ini siapa sih hah?! Buzzeernya Rangga lu ya?!”

“Ya tentu saja! Saya digaji beliau masa saya nggak dukung. Dia beli tenaga saya, terus saya harus mengejeknya? Saya akan ejek nanti kalau saya sudah pindah ke perusahaan lain lah! Otak kalian dimana? Apakah kalian digaji Rangga untuk me-roasting-nya? Ya kalau iya, wajar kalian begini.””

“Dulu waktu perusahaan ini masih dipegang Pak Agung, nggak gini-gini amat kerja kami! Semua sejahtera!"

Arumi tersenyum tipis, sebuah senyuman formal yang sangat tipis dan mematikan. "Oh ya? Kalau begitu... bagaimana kalau take-home pay dan seluruh skema tunjangan kalian disamakan persis seperti waktu kalian bekerja dengan Pak Agung dulu? Kan kesannya beliau baik sekali di mata kalian?"

Arumi menjeda, menatap satu per satu wajah pias di depannya dengan ketenangan yang luar biasa masif. "Biar sisa bonus melimpah di zaman kepemimpinan Bos Rangga yang tidak kalian hargai ini, dialahkan saja sepenuhnya ke divisi karyawan lain yang jauh lebih tahu cara menghormati perusahaan. Bagaimana? Adil, kan?"

1
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
aku jadi Arumi mending cuma tau duit nya ajalah🤣🤣🤣
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
kok bisa ya bintang kayak gitu, trauma apa yg membentuk dia seperti itu
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
bintang gak selamanya jadi bintang kan..
Lempongsari Samsung
makasih upnya maddam❤❤❤❤❤❤
HilVi Tanurahardja💋
tonyyyy, no no no no ya☝🏻
HilVi Tanurahardja💋
😆😆😆😆
HilVi Tanurahardja💋
betul, guru jg begitu
HilVi Tanurahardja💋
semoga GK ketemu 2 lagi ya rum, ngeri banget ih
mamaqe
mamaq mumet tau duit ajalah😅🤣🤣
Atala Putri
hadir madam💪 tak tunggu up mu
Naftali Hanania
26thn dah melesat kayak komet 😍👍
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖
Miss F
Rangga pelukable loh rum,,MW rasain g??🤣🤣
Leni Pur indah sari
sudah tergoda belum mba arumi??🤭🤭
𝕭𝖚𝖊 𝕭𝖎𝖒𝖆 💱
weew ... selalu emejing tulisan madam 🤩🤩🤩🤩
Reni
Gimana Rum, Rangga emang se mempesona itu, gk heran banyak demit ganjen berkeliaran di kantor kan? tuh, biang demitnya si Bintang baru aja di amankan🤭
Siti Rohmah
mantap
Eni Istiarsi
kalo mau cari bacaan yang all in ya disini. ini udah kayak ruang publik yang one stop service.dapet hiburan, dapet ilmu, dapet realita hidup
Eni Istiarsi
mulai bergeser penilaian Arumi ke Rangga🤭
Dede Maesaroh
lanjut madam😍
virdarizki / ig vindy yuliana1
recomend banget semua novel kamu ka beda dari yg lain, ga bosen² baca nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!