Sudah beberapa kali ini Nara melihat bayangan orang berpakaian serba hitam, yang membawa benda mirip keranda mayat, berjalan di sawah depan rumahnya menuju hutan.
Setiap kali rombongan ini datang, esok harinya ada warga desa yang menghilang. Hal ini tentu mengusik kedamaian warga desa.
Hingga tibalah saatnya, Nara melihat alasan dari semua kejadian ganjil di desanya. Mampukah Nara memecahkan misteri yang menimpa desanya? Ikuti kisah Nara di cerita Lewat Tengah Malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ERiyy Alma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Suara penjual bakso terdengar dari depan rumah, Nara yang kebetulan baru saja selesai mengaji selepas sholat maghrib, tiba-tiba mengidamkan makanan satu itu. Bergegas keluar dan melihat Asih yang tengah bermain dengan si kembar di depan televisi.
“Mbak Asih, di depan ada bakso mau nggak?” tanya Nara. Asih tampak malu-malu dan mengangguk, tangan Nara reflek mengulurkan selembar uang lima puluh ribuan pada wanita di depannya itu.
“Mbak Asih yang beli, beli aja tiga bungkus. Biar anak-anak aku jaga dulu,” jawab Nara kemudian. Penuh semangat Asih berlari keluar rumah untuk membeli bakso, Nara tersenyum geli melihatnya.
“Lihatlah sayang, hanya karena bakso aja mbak Asih bisa sebahagia itu. Sungguh sangat sederhana dia, aku suka mbak Asih sayang. Dia baik juga rajin, dan yang terpenting dia sayang sama anak-anak,” ucap Nara saat suaminya menyusul keluar kamar.
“Syukurlah sayang kalau cocok sama Asih, dia pekerja baru di rumah ibu, tapi karena kecakapan dan keramahannya, ibu merekomendasikannya untuk kita.” Albi memilih duduk disamping putra kembarnya, dan mulai mengajak bermain jagoan mereka.
Tak lama kemudian, Asih datang membawa kantong plastik hitam berisi bakso mereka, dia tersenyum bahagia. “Buk, mau makan sekarang? biar Asih ambilkan mangkuk di belakang.” Asih menawarkan bantuan.
“Iya dong Asih, bakso itu enaknya dimakan kala panas,” jawab Albi mewakili istrinya, Nara tersenyum memandang sang suami. Asih meletakkan bakso diatas meja makan, lantas berjalan menuju arah dapur.
.
Kini mereka tengah asyik menikmati bakso bersama, Nara dan Albi memang tak pernah menganggap Asih sebagai pembantu atau pengasuh kembar, mereka berdua menganggap Asih sebagai keluarga. Sehingga tak jarang Asih akan makan dalam satu meja seperti sekarang. Hanya saja Asih sering tahu diri, dan kadang menolak ajakan makan dengan alasan gantian menjaga kembar.
“Sayang, ini bakso rasanya lumayan. Penjual baru ya?” Albi memberikan jempolnya untuk bakso yang tengah mereka nikmati. Sesekali ia tampak kepedasan karena sambal Nara juga ikut di lahapnya. Wanita itu menganut paham pantang makan pedas selama memberi Asi untuk anaknya.
“Emang iya mbak Asih?” tanya Nara.
“Masih sama kok Pak, itu bakso yang biasanya memang mangkal disitu selepas maghrib. Cuma memang beberapa hari ini dia nggak datang, katanya lagi sakit. Asih juga tunggu-tunggu sebenarnya.” Asih tertawa pelan, bakso dalam mangkuknya telah lebih dulu habis.
“Sudah habis Pak, Buk? sini biar sekalian tak bawa ke belakang mangkok kotornya,” pinta Asih. Nara membantu mengumpulkan mangkok dan menyerahkannya pada wanita di depannya.
“Terimakasih ya mbak,” ucapnya. Asih mengangguk dan segera berjalan menuju dapur. Beberapa saat berlalu, Asih tak kunjung kembali, mungkin ia tengah mencuci piring bekas makan mereka. Nara membantu Zefri untuk belajar berjalan, meski kerap sekali jatuh tapi balita itu tetap tak putus asa.
Sedangkan Defri masih asyik bermain pesawat dengan sang ayah. Anak lelaki bermata bening itu bahkan tertawa-tawa saat dengan sengaja Albi menjatuhkan pesawat dari atas, meski berulang-ulang tetap saja Defri tertawa bahagia, seakan itu adalah hal terlucu didunia.
Aaaaahhhh!
“Sayang, itu suara mbak Asih?” Nara menatap suaminya, wajahnya terlihat panik. Albi segera berlari ke dapur, disana ia melihat Asih yang sedang duduk di depan jendela besar yang menampilkan pemandangan ke halaman belakang.
“Ada apa Asih?” tanya Albi.
“A-anu pak, itu, saya melihat seseorang berdiri di samping tanaman cabe ibuk, wajah dan kepalanya berdarah-darah pak.”
Albi segera membuka pintu mencoba melihat keluar rumah. Sepi, tak ada satu orang pun di halaman belakang rumah mereka. “Mana sih? nggak ada loh Asih. Kamu salah lihat mungkin,” jawabnya.
“Ada apa sayang?” Nara menggendong dua putranya sekaligus, sangat penasaran hingga tak mampu mereka kembali. Melihat hal itu, Asih segera berdiri dan meminta Defri dari gendongan Nara.
“Ini loh sayang, masa Asih melihat seseorang dengan kepala berdarah berdiri di kebun sayur kamu, ngaco deh kamu Asih. Selama kita tinggal disini nggak pernah ada setan seperti itu Asih,” ledek Albi yang masih terus tersenyum.
“Siapa tau itu memang orang pak?”
Nara bisa melihat kaki Asih bergetar hebat, ia tahu wanita di sampingnya ini memang sangat penakut.
“Mbak Asih yakin lihat jelas?”
“Sumpah deh buk, itu matanya melotot dan kepalanya penuh darah.” Asih bergidik ngeri saat mengingat kembali apa yang dilihatnya beberapa saat lalu.
“Sayang, lebih baik kamu cek aja deh.”
Albi mengikuti keinginan istrinya, mengambil senter yang kebetulan terletak di samping kulkas. Lelaki itu berjalan menuju halaman belakang, dari ujung kanan ke ujung kiri tak ditemukannya satupun hal yang mencurigakan. Bahkan pintu gudang juga masih terkunci sempurna, pintu samping rumah juga.
“Nggak ada apa-apa Asih, semuanya aman.” Albi yang baru datang memberikan informasi.
“Ya sudah, kita tutup saja pintu dan gordennya. Kamu istirahat saja sama anak-anak Asih,” perintah Nara. Wanita itu pun mengangguk, bersama Nara, ia berjalan menuju kamar si kembar. Zefri yang telah tertidur dalam gendongan Nara pun diletakkannya di atas ranjang.
“Tidurlah mbak, nanti kalau mau sholat isya ke kamar mandi sini saja, itu ada mukenaku di dalam lemari. Kalau mbak Asih takut mau ke kamar mbak,” ucap Nara penuh perhatian.
“Makasih buk, semoga saja memang yang kulihat tadi nggak nyata,” jawabnya. Nara tersenyum, kemudian memilih keluar dari kamar dan menutup pintu.
***
Kicau burung terdengar dari pucuk-pucuk dahan mangga yang tumbuh di depan rumah Nara, suaranya merdu menentramkan jiwa. Asih bersenandung riang saat menyapu halaman rumah, dan tersenyum ketika Hendri datang.
“Happy banget mbak,” sapa lelaki itu.
“Hus, kamu ndak tahu, semalam aku lihat penampakan di belakang rumah.” Cerita Asih serius, alis Hendri tertekuk mendengar cerita wanita di depannya.
“Ah, kamu nggak ngerti, sudahlah Hen. Masuk saja sana kamu.” Asih kembali melanjutkan aktivitasnya. Belum juga Hendri melangkah saat gerbang rumah diketuk dari arah luar.
“Permisi,” ucap seorang wanita bersama lelaki yang kemungkinan adalah suaminya.
“Iya, cari siapa ya mbak?” tanya Asih, meletakkan sapu di bawah pohon mangga dan berjalan mendekati gerbang.
Wanita itu tersenyum sungkan, lantas kembali berkata, “maaf mbak, apa benar ini rumahnya Nara?”
“Iya, benar. Mbak ini siapa ya?”
“Saya tetangga Nara dulu di desa. Boleh saya bertemu Nara mbak?” tanya wanita itu.
“Hen, kamu panggil ibuk sama bapak cepat.” Asih memerintah lelaki muda yang tetap berdiri di belakangnya. Hendri mengangguk dan segera berjalan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Asih memilih membuka gerbang, dan mempersilahkan tamunya untuk masuk.
Tak lama kemudian, Nara datang menggendong Defri, melihat wanita di depannya ia sempat terkejut, matanya membola dan tangannya reflek menutup bibir. “Ya Allah, ini mbak Dara?”
Dara mengangguk cepat, tak terasa air mata meleleh dari pipinya. Begitupun Qomar dibelakangnya, melihat sang istri memeluk Nara membuatnya terharu, pertemuan kembali setelah dua tahun mereka terpisah, tanpa kabar satu sama lain.
Nara jg knp lsg berpikir arwah yg datang padahal tahu ada adik Ilyas yg hilang di hutan. knp gk mikir adiknya yg meneror dia
cerita novel kebanyakan spt itu, sdh tahu mau cerai tidak amankan diri