Selma, seorang perempuan yang baru saja lulus SMA, harus mengubur impiannya untuk kuliah dengan beasiswa. Pacaran yang terlampau batas, membuatnya harus menanggung kehamilan bayi kembar di usia dini.
Sementara orang tua Radit, pacar yang juga teman sekolah Selma, hanya ingin bertanggung jawab dengan memberikan sejumlah uang, bukan dengan menikahkan anak mereka karena Radit harus kuliah di luar negri demi masa depannya. Hubungan mereka harus kandas begitu saja tanpa saling mengetahui kabar masing-masing.
Hingga 8 tahun kemudian, Radit yang sudah menikah, bertemu kembali dengan anak kembarnya tanpa disengaja dan tanpa ia tahu.
Apakah mereka akan kembali bersatu, atau kembali menjalankan kehidupan masing-masing?
Ikuti kisah selengkapnya di sini ya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa sih, Ma?
Semenjak bertemu Radit, kembar memang lebih manja dan agak tak menurut pada mamanya. Sekarang, omanya justru ikut memanjakan mereka. Namun, Selma tak bisa berbuat apa-apa selama masih dalam batas yang wajar.
Selesai makan malam, Radit mengajak kembar sikat gigi dan mengantarnya ke kamar, karena Raya hanya mau ditemani tidur oleh papanya.
Selma kemudian meminta mertuanya untuk beristirahat di kamar yang biasa ditinggali oleh mama Radit saat menginap, namun beliau masih belum mau beranjak pergi.
“Mama baru tahu kalau Radit beli mobil untuk antar jemput kembar. Ya tak apa-apa kalau untuk cucu Mama, asal tidak beli lagi saja untuk kamu pribadi. Keenakan kamu, orang kamu juga kerja kok. Kemarin-kemarin saja cukup ‘kan gaji kamu untuk hidup kamu dan kembar. Apalagi sekarang kembar sudah menjadi tanggungan Radit, kamu juga masih dapat jatah bulanan darinya. Takutnya, kamu makin melunjak. Karena logikanya, kenapa kamu masih mau dinikahi Radit, padahal dia sudah meninggalkan kamu saat hamil? Apalagi kalau bukan karena ingin uangnya,” ujar mama Radit pelan namun menyakitkan.
Selma hanya diam menunduk lalu tersenyum.
“Bagaimana pun, kembar itu darah daging Radit, tapi kamu hanya orang lain yang dipinang, karena kamu mamanya kembar,” lanjut mama Radit semakin menghujam jantung Selma.
Selma menghela nafas panjangnya. “Mama tenang saja, Selma bukan tipe perempuan matre kok. Selma tidak pernah meminta macam-macam sama Radit, apalagi sampai mau minta dibelikan mobil. Selma mau menikah dengan Radit demi kembar, bukan demi ego Selma sendiri, apalagi hanya demi materi. Selma juga berat, Ma, memaafkan dan menerima Radit tapi Selma lupakan itu semua, demi kembar bisa mendapatkan kasih sayang dari ayahnya yang masih ada.”
Mama Radit kemudian berlalu pergi meninggalkan Selma yang masih duduk termenung di meja makan.
Tak lama, Radit menuruni tangga dan mendekati istrinya.
Melihat Selma yang melamun, Radit mencium pipinya dengan tiba-tiba. “Kok melamun?”
Selma menggeleng dan sedikit merekahkan senyumnya, lalu mengajak Radit ke kamar. Namun Radit menahan tangannya. “Mama bicara apa sama kamu?”
Selma kembali menggeleng. Bukannya berbohong, Selma justru jujur akan apa yang dibicarakan mertuanya. “Mama cuma mengingatkan aku untuk tidak meminta dibelikan ini dan itu, karena aku juga bekerja, dan sudah dapat jatah bulanan dari kamu. Lagi pula, kamu menikahi aku hanya karena kembar. Memang aku pernah meminta dibelikan sesuatu sama kamu selama ini? Tidak ‘kan, Dit? Mama kamu takut aku mau menikah denganmu hanya karena uang.”
Radit pun meminta agar Selma tak mendengarkan ucapan mamanya. Selma berhak meminta apa pun pada Radit. Justru, Radit senang dan merasa dibutuhkan jika Selma bisa bergantung padanya. Radit kemudian meminta maaf pada istrinya, atas ucapan sang mama yang menyakiti hati.
“Apa kembar sudah tidur?” Selma ingin sedikit berbicara pada mereka jika kembar belum memejamkan matanya.
Radit menggeleng. Selma pun meminta suaminya menunggu di kamar karena ia akan menemui kembar terlebih dahulu. Sementara Radit menemui mamanya, tanpa sepengetahuan Selma.
“Mamaaa,” teriak Raya yang langsung loncat dari tidurnya saat melihat mamanya membuka pintu kamar.
Selma kemudian mendekati anak-anaknya dan memasang wajah memelas. “Anak-anak Mama sepertinya sudah tidak sayang Mama lagi ya? Sudah tidak pernah nurut apa kata Mama, sekarang kalau mau tidur juga maunya sama Papa.”
Rayi mengusap lembut pipi mamanya. “Rayi selalu sayang sama Mama, tenang saja, Ma.” Begitu pun dengan Raya yang juga menimpali pernyataan yang sama.
Selma kembali meminta agar kembar tak melawan perintahnya. Lagi pula, makan coklat sebelum makan itu sudah menjadi aturannya dari dulu. Selma juga mengatakan bahwa dirinya sedih jika kembar tak menurut pada mamanya. “Anak-anak Mama dulu tak begini sama mamanya. Uh, Mama rindu sekali dengan Raya dan Rayi yang dulu.”
Kembar lalu memeluk Selma dan meminta maaf atas perbuatan mereka, lalu berjanji tidak akan membuat mamanya bersedih.
Sementara itu, di kamar tamu yang biasa mama Radit pakai, Radit menemui mamanya untuk menegurnya. Ia kecewa dengan sikap mamanya yang masih tak menerima Selma sebagai menantu. Ia juga menegaskan bahwa dirinya begitu mencintai Selma, lebih dari perasaannya pada Gita dulu. Jadi, Radit menikahi Selma bukan semata-mata karena kembar, tapi karena hanya Selma lah yang menempati ruang dalam hatinya. Hak Selma juga untuk mendapat kebahagiaan dari Radit sebagai suaminya.
Bu Yuri itu pun dengan kesal menuduh Selma tukang mengadu.
“Selma tidak bicara apa-apa pada Radit, tapi Radit merasa Mama pasti sudah bicara yang tidak-tidak padanya. Kalau Mama masih begini, lebih baik tak usah menjenguk Radit, juga kembar!"
###
Hari ini Mama Radit akan pulang nanti sore setelah Radit pulang kantor, setelah semalam menginap di rumah anaknya. Hal ini seakan membuat Selma tak nyaman karena ia sedang izin tak masuk kerja. Entah mengapa dari semalam, ia merasa tak enak badan dan seperti sedang masuk angin hingga pagi ini.
Meski begitu, Selma berusaha baik pada mertuanya itu, seperti ucapan Radit saat itu bahwa mamanya hanya membutuhkan waktu untuk menerimanya.
Setelah Radit berpamitan dan meminta Selma agar mengabarinya bila mamanya berani menyakitinya lagi, Selma berniat ingin istirahat di kamar. Namun, baru juga menaiki tangga, mama Radit kembali berulah. Selma dengan sabar meladeni mama mertuanya yang cerewet itu.
“Kalau sakit kenapa tidak ke dokter saja? Muka kamu juga tidak pucat. Kalau memang sudah tidak kuat harusnya ke dokter atau rumah sakit. Kalau masih kuat kenapa tak masuk kerja? Apa maunya jadi nyonya besar yang tak perlu bekerja karena uang bulanan dari suami sudah cukup banyak? Apa itu cita-citamu?” tanya Bu Yuri mengejek menantunya itu.
“Ma, Selma memang tidak kuat untuk kerja hari ini karena perut Selma tidak enak, kalau pun dipaksakan kerja takutnya tidak fokus. Jadi mau istirahat saja di kamar, bukannya mau santai-santai. Mungkin kalau beberapa hari tetap begini, Selma periksakan ke dokter,” ucap Selma pelan.
“Ma, apa Selma boleh tanya? Apa Mama tidak mau menerima Selma jadi istrinya Radit? Apa Mama hanya mau kembar tanpa Selma? Mama tidak suka sama Selma karena latar belakang keluarga Selma yang tidak sepadan dengan keluarga Mama?" lanjut Selma ingin berbicara serius pada mertuanya.
Bu Yuri hanya melenggang pergi dan tak menjawab pertanyaan menantunya itu.
Selma lalu ingin kembali ke kamar untuk beristirahat, namun sebelumnya, ia meminta tolong salah seorang asisten rumah tangga untuk membuatkan teh lemon hangat kesukaannya, untuk diantarkan ke kamarnya.
Di kamar, Selma tiba-tiba merasakan mual yang tak biasa. Ia seakan pernah merasakan rasa tak nyaman di perutnya seperti saat ini. Seketika, ia mengingat kala pertama kali hamil si kembar.
Tak lama, seseorang mengetuk pintu kamar dan izin masuk ke dalam. “Permisi, Mbak Selma, ini minumannya.”
Selma mengangguk, belum sempat mengucapkan terima kasih, ia berlalu pergi ke kamar mandi karena ingin muntah.
Mendengar majikannya yang terdengar muntah-muntah, ART tersebut menghampiri Selma di kamar mandi yang tak ditutup pintunya. Ia kemudian berinisitif menawarkan untuk membelikan testpack di apotek yang hanya berjarak 200m dari rumah.
“Sepertinya Mbak Selma sedang hamil adiknya kembar,” goda ART tersebut.
Selma mengiyakan penawarannya karena ia juga ingin tahu apakah ia hamil atau tidak.
Beberapa menit kemudian, ART tersebut tampak telah sampai rumah dari apotek.
“Dari mana?” sapa mama Radit pada salah seorang ART yang baru saja dari apotek.
“Membelikan ini untuk Mbak Selma, Bu, sepertinya sedang hamil karena muntah-muntah,” jawabnya polos lalu berpamitan menuju kamar Selma.
Bu Yuri langsung menyahut kantong kresek yang dibawa ART tersebut. “Biar saya saja yang mengantarkannya ke atas.”
Tok..tok..
Selma mempersilakan masuk seseorang di luar kamarnya yang dikira ART tadi.
“Mama,” ucapnya lirih.
...****************...