NovelToon NovelToon
KULDESAK

KULDESAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Konflik etika / Aliansi Pernikahan / Pernikahan Kilat / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa
Popularitas:104.3k
Nilai: 5
Nama Author: NL choi

Demonstrasi sejuta buruh dan mahasiswa yang mengepung istana negara menjadi perubahan konstelasi kehidupan seorang mahasiswi akhir bernama Nawa Putri. Agenda pertemuannya dengan dosen pembimbing skripsinya berjalan tidak sesuai rencana. Ia justru terjebak dalam malapetaka. Bahkan ia tak menyadari pasca-kejadian tersebut, Na—sapaan Nawa—telah masuk lebih dalam di kehidupan Saba yang rumit dan penuh intrik. Idealisme tidak lagi seia sekata dengan kerinduan yang mengharu biru. Tak jelas lagi ke mana arah yang dituju.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NL choi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Seni Semiotik

...28. Seni Semiotik...

Nawa tak menyangka Leo mengiriminya begitu banyak makan siang. Bahkan setelah ia, ibunya dan Yani menyantap makanan tersebut masih menyisakan banyak. Ia meminta Yani untuk membawa sisanya agar diberikan pada keluarganya.

Usai makan siang ia memindahkan bunga-bunga pemberian Saba ke tempat teduh. Kali ini keseluruhan bunga berbentuk hampir sama. Seperti hati. Hanya satu dengan lainnya punya corak dan ukuran berbeda-beda. Ia tidak tahu nama dari bunga-bunga tersebut.

Ia menjatuhkan pilihannya pada bunga yang punya daun mungil dengan corak bernuansa perak, hijau dan merah muda. Daunnya berbeda sendiri karena terdiri dari untaian-untaian seperti kalung. Ia membawanya ke kamar dan meletakkannya di atas rak buku dekat jendela.

Sementara Tiyuh pergi ke acara pertemuan rutin ibu-ibu kompleks. Ia memilih menata ulang bunga-bunga koleksi ibunya.

Hari berikutnya masih sama. Ia kembali melanjutkan menata ulang bunga-bunga di teras depan dan samping rumah. Mengganti pot bunga yang usang dengan yang baru dibelinya kemarin lewat toko online. Tak lupa mengganti media tanah yang padat dan miskin hara dengan media baru. Juga menambahkan pupuk organik.

Ternyata kegiatan tersebut mengasyikkan. Ia selama ini tidak menyadarinya. Pantas Saba suka dengan tanaman. Begitu pula dengan sang ibu.

Bunga yang ia pilih untuk disimpan di kamar kini ia ganti potnya dengan pot unik dari batang kayu utuh yang dilubangi dan dibentuk menjadi sebuah karakter mirip seekor burung.

Ia puas memandangi bunga yang sekarang dibiarkannya menjuntai. Selain unik sekarang bunga pemberian Saba itu tampak eksentrik. Bibirnya menipis lalu tertarik membentuk senyuman.

“Ceropogia woodii,” sebut Tiyuh yang datang menghampirinya membawa sepiring pisang goreng. Meletakkan di atas meja. Kemudian menghampiri bunga anggrek favoritnya. “Masuk tanaman sekulen itu, Na,” tambahnya.

“Ceropogia woodii,” ucapnya ulang. Ia tidak pernah mendengar nama tanaman ini sebelumnya.

“Ibu tahu tanaman ini?” tanyanya. Ia melepas kaos tangan sintetis. Mencuci tangan di keran air yang menempel dinding.

“Tanaman ini gak boleh kena matahari langsung, Na. Tapi harus cukup cahaya. Maksudnya simpan di tempat teduh yang cukup terang,” tukas Tiyuh.

Ia manggut-manggut. Sesuai dengan pesan Saba. “Tanamannya unik. Na, suka. Tapi kayaknya rapuh ya, Bu. Pasti butuh perhatian ekstra.”

Tiyuh menggeleng. “Perkiraanmu salah. Kelihatannya saja rapuh dan rawan mati. Tapi dia justru tanaman yang kuat dan toleran. Kecil-kecil cabai rawit,” papar Tiyuh. “Yang penting cukup cahaya, cukup air jangan berlebihan, kalau sudah banyak, repoting,” pesannya.

Ia mengambil satu potong pisang goreng. Menyantapnya.

“Itu bunga dari temanmu?” tunjuk Tiyuh pada pot dengan tanaman-tanaman baru. Ia masih ingat benar bunga apa saja yang menjadi koleksinya dan bunga apa saja yang tampak baru.

Ia mengangguk.

“Terus yang itu, kamu beli?” tunjuk Tiyuh pada bunga yang ada di atas meja. Di depannya saat ini.

“Dikasih.”

“Temanmu … yang pernah kesini kemarin itu?” Tiyuh hanya mendengar cerita dari Yani saja, bahwa Nawa mendapat kiriman tanaman. Lalu ia ingat, “Saba?” Teman Nawa yang pernah datang memberinya juga bunga. “Dia suka tanaman. Tahu banyak tentang jenis tanaman. Dan mampu menjelaskan habitat dan cara mengembangbiakkannya.”

Ia mengangguk. Saba memang pencinta tanaman. Ia kemudian mengelap satu per satu daun Ceropogia woodii yang mungil dan cantik itu penuh hati-hati.

“Na, tanaman yang sedang kamu lap itu juga sering disebut string of hearts,” tukas Tiyuh.

...***...

Mobil abah yang dikendarainya berhenti di dekat rumah berpagar kayu. Sudah lima menit berlalu. Namun ia tak kunjung keluar dari mobil.

Ini sudah di hari selanjutnya. Di mana ia baru saja bertemu dengan asisten Prof Gunadi menyerahkan revisi draf skripsi bab terakhir. Prof Gunadi sangat sibuk, sehingga tidak sempat bertemu apalagi membahas draf bab terakhir secara tatap muka langsung. Namun kabar baiknya, Prof Gunadi memberikan pesan bahwa sidang skripsinya bisa dimulai kapan saja. Ia harus bersiap dan tentu Prof Gunadi yang mengatur jadwalnya.

Pintu pagar berkayu itu terlihat tertutup. Tak ada pesan apapun di ponselnya dari pemilik pagar berkayu tersebut.

Lima menit kedua keadaannya masih sama. Ia termenung dengan keraguan untuk turun.

Hingga memasuki lima menit ketiga, ponselnya berdering kencang. Ia sengaja menambah tiga step volume dering agar terdengar nyaring.

Senyum kecil terbit namun di detik berikutnya ia merasa bimbang. Dengan perlahan ia menggeser tombol menerima panggilan.

“Kenapa gak masuk?”

Ia tiba-tiba merasa diawasi. Kenapa Saba tahu keberadaannya, padahal ia tidak memberitahukan kedatangannya. “Mm, aku—“

“Aku melihatmu di cctv. Cepatlah turun, aku butuh bantuanmu.”

...***...

Suara nyanyian anak-anak terdengar riuh rendah pada saat ia menapak kaki menuruni anak tangga. Dari sini ia bisa melihat Saba tengah mengambil gambar dari anak-anak yang menurut perkiraannya berusia setara PAUD hingga TK.

Saba menoleh kepadanya ketika ia berdiri tak jauh dari mereka. Nyanyian anak-anak kini berganti dengan celotehan. Berebut menunjuk tanaman. Menyebutkan namanya. Kemudian menebak-nebak usianya.

“Kemarilah,” ucap Saba.

Ia melempar senyum pada anak-anak yang melihatnya. Lalu mendekati Saba.

“Tolong bantu aku menjadi guru mereka sebentar. Gurunya sedang sakit,” pinta Saba.

“Aku, aku ngapain?” tanyanya masih bingung. Sebab inilah kali pertama ia berhadapan untuk mengajar anak usia dini. Meski dulu ia sempat KKN mengajar di sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Jelas sangat berbeda dengan saat ini.

“Jadi guru mereka,” tangkas Saba.

“Aku—“

Saba meminta topi yang dipegangnya. Lalu memakaikan di kepalanya. Saba meminta dirinya untuk berpose bersama anak-anak untuk diambil foto. Anak-anak terlihat riang gembira. Sebelum meninggalkannya, Saba memperkenalkannya dengan anak-anak yang berjumlah 13 orang tersebut.

“Aku tinggal sebentar,” bisik Saba. Tersenyum. Lantas pergi.

Menit di awal-awal ia terlihat kaku dan bingung. Pelajaran apa yang harus diajarkan? Tema apa yang pas buat mereka? Gaya seperti apa yang harus dipakainya? Hingga anak-anak itu selesai satu per satu memperkenalkan diri mereka, barulah ia mendapatkan ide untuk membawa anak-anak duduk di pendopo.

Sementara Saba beberapa kali mengarahkan kamera ponsel ke pendopo dari jendela ruang perpustakaan. Mengamati Nawa yang mulai bisa menyesuaikan diri.

Saba mengambil buku dari rak yang menempel pintu. Membawanya ke rumah utama. Ia mengeluarkan semua bahan-bahan kue yang dibelinya beberapa hari lalu dari kabinet dapur.

Ia membuka buku yang dibawanya. Membacanya sebentar. Tangan Saba mulai bekerja. Menyiapkan adonan untuk membuat kue kering. Kue kering atau cookies yang dulu sering dibuat oleh ibunya.

Semua bahan telah dicampurkan dalam satu wadah. Saba mulai mengaduk-aduknya menggunakan tangan. Tak perlu waktu lama, adonan itu telah tercampur rata. Lalu ia membungkus adonan ke dalam plastik dengan cara wrapping. Menyimpannya ke dalam kulkas.

Saba kembali melihat Nawa yang masih di pendopo bersama anak-anak. Entah permainan apa yang diajarkan oleh Nawa sehingga anak-anak terlihat antusias dan senang. Kemudian ia kembali ke perpustakaan. Memilih duduk dekat jendela sambil membaca buku.

Setengah jam telah berlalu. Saba kembali ke rumah utama. Mengeluarkan adonan dari kulkas. Mencetaknya.

“Bang Saba buat apa?”

Saba melihatnya sekilas lantas menjawab, “Speculaas. Biasa juga orang menyebut cookies rempah.”

“Abang pintar buat kue?”

“Biasa saja.”

Ia melihat tangan Saba yang menata adonan di atas loyang.

“Boleh tahu resepnya?”

Saba menabur tipis tepung di atas loyang lainnya. Kemudian menyodorkan kepadanya. “Kamu bisa buat seperti yang aku buat?”

“Sepertinya mudah.” Ia mencuci tangan terlebih dahulu. Lalu memperhatikan Saba memotong adonan.

“Bahannya mirip seperti cookies lainnya. Butter, terigu, telur, baking powder, gula merah tabur. Yang membedakan hanya bahan rempah yang ditambahkan,” tukas Saba.

“Pantas aromanya harum. Rempahnya ini semua?” Ia melihat botol-botol kemasan pelastik yang berjejer. Lalu ia mengambilnya satu per satu untuk dibaca, “Jahe, kayu manis, pala, cengkeh, kapulaga.”

“Harusnya masih ada lagi. Tapi berhubung gak ada di sini. Ini saja sudah cukup,” timpal Saba. Ia memasukkan loyang yang telah berisi kue siap panggang ke dalam oven.

“Aku cuma bisa bikin nastar. Itupun bikinnya pas mau lebaran aja,” cetusnya.

“Hampir sama, kan?”

“Beda sih.”

“Sama saja.”

“Beda Bang. Bentuknya beda, aromanya beda, warnanya beda, pasti rasanya beda.”

Saba yang kembali menaburkan tepung tipis ke atas loyang lain merasa gemas dengan jawaban Nawa. Lantas mencolek wajah Nawa dengan jari telunjuknya yang berlumur tepung. Satu titik di dahi. Satu titik di pipi. Satu titik di hidung.

“Abanggg …!” decit Nawa.

1
Dinda Gusti
bang saba temannya mas panca kah?
Dinda Gusti
😍
Dinda Gusti
aq ank ke 8 dr 10 bersaudara/Chuckle/
Dinda Gusti
sedihnya...jd ingat ibuq😔
anamsyahla qory
Sentul ini
anamsyahla qory
Karya othor neil selalu berkesan nggak pernah bisa di tebak ada rasa greget2 manis
anamsyahla qory
Othor Enel aku hadir Mpok Poernama
Vie ardila
Luar biasa
Syumie Susanty
kaka kemana yaaaaa ,aku kangeeen banget sama cerita yg kaka buat, sebelum aku punya bayi ,dan sekarang bayi aku udah 1t ,belum ada kelanjutannya 😭😭😭 ,semua nungguin kaka dan kelanjutan cerita ka nawa dan bang saba
yayah: iya, SDH lama sekali
total 1 replies
Norainah Hani
semoga segera lanjut ceritanya
Fauzi Nizam
ya Allah Thor.. sekian purnama nggak lagi up Thor.. udah 2025 nih... nggak di lanjutkan lagi nih.. padahal kangen sama bang saba nawa
Yay.
Hampir setahun ga dilanjutkan 😩
Elita Lestari
aku sampai agak lupa sama jalan crt nya, saking lama othornya nggak nulis lanjutan nya
Fauzi Nizam
ya Allah kak.. beneran AQ kangen Ama nawa dan bang saba..
tolong lanjutkan lagi lah nih novel...
please,,.
Syumie Susanty
masih belum ada tanda2 kelanjutannya ya, di pantau terus dari bulan manaaa mh, kmna kah kau author, 🤔
Atala Putri
bagus semua buku mu tak baca ini aplikasi dah kehapus cari" lagi ketemu semangat author tamattin ya bukunya
Fauzi Nizam
nawa cemburu bang,,
ah bang saba kurang peka
Fauzi Nizam
kapan novel ini dilanjutkan lagi Thor?? ah padahal seru loh ini .
mungkin ada banyak kosakata baru yg saya mengerti..
karena saya tidak pernah kuliah,
Khusnul Khotimah
dimanakah kak author nya?
Fauzi Nizam
novel ini kereen banget,, tapi sayang belum dilanjutkan lagi sampai end..
dan masih banyak teka-teki yg belum ke jawab
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!