Juara 🥉 Event Air Mata Pernikahan S3
Ainsley dan Charlie adalah sepasang suami istri yang juga anggota FBI. Mereka bertugas menggagalkan penyelundupan narkotika di pelabuhan New York yang dilakukan oleh mafia bernama John Wilson.
Tapi rencana mereka di ketahui oleh musuh sehingga terjadi baku tembak antara kedua kubu.
John Wilson berhasil kabur, tapi Charlie tidak membiarkannya begitu saja. Dia mengejar John hingga terjadi kecelakaan tragis yang menewaskan Charlie.
Ainsley terpuruk dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari FBI. Dia terus mencari keberadaan suaminya karena dia tidak percaya suaminya meninggal jika belum melihat jasadnya. Bahkan dia berencana untuk balas dendam.
Tapi beberapa bulan kemudian saat dia berlibur, dia bertemu dengan pria yang mirip dengan suaminya. Tapi sayangnya, pria itu bernama Michael dan mempunyai tunangan.
Siapakah Michael sebenarnya? Dan apakah Ainsley bisa membalaskan dendam kematian suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Siapa Aku?
Daisy yang baru saja pulang, terlihat geram karena tidak mendapati Michael di rumah. Dia yakin jika Ainsley yang mengajak Michael pergi entah ke mana. Hal itu membuat dia semakin membenci Ainsley. Dia takut wanita itu akan mempengaruhi pikiran Michael yang akan membuat pria itu berpaling darinya
"Kau benar-benar hebat, bitc*. Kau berpura-pura kecopetan agar bisa bekerja di rumahku untuk mendekati Michael. Kau bahkan menyewa preman untuk membunuh kami dan kau datang seolah seperti pahlawan agar kami bergantung padamu. Cih... Tidak akan aku biarkan kau merebut Michael dariku." geram Daisy. Dia berjalan kesana-kemari, menunggu kedatangan Michael dan Ainsley. Rasanya dia ingin berteriak, mengumpat wanita jalan9 itu. Dia ingin membuat perhitungan dan mengajak Michael untuk pergi dari sana.
Cukup lama Daisy menunggu, hingga tiba-tiba terdengar suara mobil yang terparkir di halaman rumah. Daisy menggeram kesal. Dia menghampiri Ainsley yang baru saja masuk ke rumah dan menghadiahi tamparan keras di pipi wanita itu.
PLAK
Michael melebarkan kedua matanya, terkejut dengan apa yang Daisy lakukan. "Apa yang kau lakukan, Daisy?" sentak Michael
"Apa? Kau mau membelanya?" teriak Daisy. Nafasnya memburu dan menatap tajam Ainsley yang masih terdiam dengan wajah yang menoleh kesamping. Pipinya berdenyut sakit dan darah keluar dari sudut bibirnya. Namun Ainsley hanya diam tanpa mengaduh. Dia menatap tajam Daisy yang berkacak pinggang di depannya.
"Apa? Kau mau membalas ku, hah?" bentak Daisy. "Kau pantas mendapatkannya bitc*. Demi mendapatkan apa yang kau inginkan, kau melakukan apapun dengan akting yang sangat bagus. Kau berpura-pura kecopetan, memalsukan identitasmu, dan kau mengirim orang-orang jahat itu untuk membunuh kami dan kau datang layaknya seorang pahlawan agar kami merasa berhutang Budi padamu. Cih... Menjijikkan."
Ainsley mengepalkan kedua tangannya. Namun dia memilih untuk diam. Ingin menjelaskan seperti apapun, wanita itu tidak akan mengerti. Jadi dia lebih memilih pergi ke kamarnya, karena dia sangat lelah.
"HEI.. MAU KEMANA KAU? AKU BELUM SELESAI BICARA!!" teriak Daisy. Dia mendengus kesal dan menatap Michael yang hanya diam saja.
"Michael, kita harus pergi dari sini. Aku tidak mau wanita itu meracuni pikiranmu. Dia bisa membawa pengaruh buruk. Kau lihat sendiri, kan? Sebelum dia hadir di tengah-tengah kita, hidup kita baik-baik saja. Tapi lihat sekarang? Hidup kita kacau. Kita harus bersembunyi dan tidak bisa pergi kemanapun. Jika kita terus berada di dekatnya, hidup kita akan terus terancam." seru Daisy meyakinkan Michael. Namun pria itu hanya terdiam.
"Mich!!!" panggil Daisy
"Maaf Daisy , kita bicarakan ini nanti." Michael melewati wanita itu begitu saja dan masuk ke dalam kamarnya. Hal itu membuat Daisy mendengus kesal. Bahkan sekarang Michael berani mengabaikannya. Dia semakin yakin untuk membawa Michael pergi dari sana. Jika tidak ada Ainsley di dekat mereka, pasti hidup mereka akan aman.
Michael duduk terdiam di tepi tempat tidur. Ucapan Ainsley masih terngiang-ngiang di kepalanya. "Tidak mungkin!! Tidak mungkin Daisy membohongiku. Tidak mungkin aku adalah Charlie." gumam Michael
Ya, saat dalam perjalanan pulang, Michael bertanya pada Ainsley tentang dirinya dan Charlie. Namun, jawaban yang Ainsley berikan membuatnya terkejut. Dia masih tidak percaya jika selama ini yang membohongi dirinya adalah Daisy. Dia yang sebenarnya adalah Charlie yang sedang hilang ingatan.
Daisy menemukannya yang terluka parah di tepi sungai dan membawanya ke rumah sakit. Namun dirinya dinyatakan hilang ingatan dan Daisy berikan identitas tunangannya yang sudah meninggal padanya.
Ainsley terus meyakinkan Michael jika dia tidak berbohong. Bahkan ia sudah menyelidikinya sebelumya. Daisy mempunyai tunangan bernama Michael. Tapi saat melakukan perjalanan bisnis, Michael mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Daisy sempat terpuruk, bahkan dia seperti orang gila. Namun setelah dia menemukan Charlie di pinggir sungai dalam keadaan terluka parah, Daisy seolah menemukan kembali cintanya. Dia memberikan nama Michael pada Charlie dan mengatakan jika dia adalah tunangannya.
"Tidak mungkin. Daisy... Kenapa Daisy melakukan hal itu?" Michael menjambak rambutnya frustasi. "Semua ini membuat aku gila. Siapa aku sebenarnya? Siapa yang sudah membohongiku? Kenapa kalian tega melakukan hal ini padaku? kenapa?" teriak Michael
"ARRGHHH...!!!!"
Teriakkan Michael terdengar sampai di kamar Ainsley. Dia hanya bisa menunduk dengan wajah sendunya. Dia tidak ingin membuat Michael bingung. Tapi dia hanya mencoba untuk berkata jujur. Jika Michael tidak percaya, maka dia akan menerima konsekuensinya. Tapi dia akan tetap melindungi Michael
Biarlah dia tidak bisa bersama dengan cintanya asalkan dia bisa melihatnya tertawa bahagia.
...----------------...
Sementara itu di markas FBI, Henry baru saja kembali dari rumah John. Dia melihat kesana kemari, mencari Clara. Dia akan mencoba mengorek informasi dari wanita itu, di mana Ainsley sekarang tinggal?
"Apa yang kau lakukan?" tanya Henry
Clara hanya melirik sekilas. "Seperti yang kau lihat." jawab Clara singkat. Dia saat ini tengah memeriksa beberapa kasus tentang pengedar narkoba yang tertangkap akhir-akhir ini
"Sudah memasuki jam makan siang. Bagaimana jika kita makan bersama. Aku yang traktir." ajak Henry
Clara terdiam. Entah mengapa dia merasa ada yang aneh. Tidak biasanya Henry mengajaknya makan bersama. Atau jangan-jangan pria ini ingin mengorek informasi keberadaan Ainsley darinya?
"Mungkin bermain-main sebentar, tidak masalah." batin Clara
"Wah... Tidak biasanya kau mau mentraktirku. Sepertinya kau punya banyak uang ya." ujar Clara
"Ya, begitulah."
"Baiklah. Ayo kita makan!!" Clara merangkul pundak Henry dan mengajaknya ke kantin. Mereka mencari tempat duduk yang kosong dan memesan makanan.
"Kau yakin mau mentraktirku?" tanya Clara memastikan
"Tentu saja." jawab Henry
"Oke kalau begitu. Aku tidak akan segan." Clara memanggil penjaga kantin dan mulai memesan banyak makanan. Hal itu membuat Henry melotot tidak percaya. Wanita semungil Clara ternyata mempunyai nafsu makan yang besar.
Sambil menunggu makanan siap, Henry memulai pembicaraan. "Rasanya sudah lama kita tidak makan bersama. Kalau tidak salah terakhir itu saat Charlie masih hidup. Kita berempat makan bersama di kantin." seru Henry
"Yeah.. Kau benar. Aku merindukan masa-masa itu. Sayang sekali Mr. Walker harus mengalami hal tragis dan Ainsley juga mengundurkan diri. Jika mereka masih ada, aku yakin kita bisa menangkap John dan antek-anteknya dengan mudah. Tapi semua itu tergantung, apakah ada pengkhianat atau tidak." seru Clara
"Pe-pengkhianat? Apa maksudmu?" tanya Henry terbata
"Tidak ada." jawab Clara singkat
Henry terdiam sejenak. Kemudian dia mulai menanyakan tentang keberadaan Ainsley. "ngomong-ngomong untuk kasus penyerangan di Manhattan, bukankah seharusnya Ainsley datang ke markas untuk di mintai keterangan?"
"Iya, kau benar. Aku sudah menghubunginya tapi dia bilang, dia masih sibuk bersenang-senang."
"Hah.. Bersenang-senang? Kenapa dia bisa sesantai itu sementara kita pusing memikirkan kasus yang dia alami. Jika dia tidak bisa kemari, kita datangi saja dia." seru Henry
Clara tersenyum sinis. Sesuai dugaan, ternyata Henry hanya ingin mencari informasi keberadaan Ainsley darinya.
"Ya, kau benar. Tapi sayangnya aku tidak tahu sekarang dia ada dimana. Dia hanya bilang jika dia sibuk bersenang-senang." ujar Clara
Tidak membutuhkan waktu yang lama, pesanan Clara sudah tersaji di depannya. "Kau yakin bisa menghabiskan semua ini?" tanya Henry
"Tidak perlu khawatir. Aku ahli dalam menghabiskan makanan." Clara mulai memasukkan makanan kedalam mulutnya tanpa ragu. Dia melirik Henry sekilas dan bertanya, "Kau tidak pesan?"
"A-aku sudah kenyang." Henry mengeluarkan dompet dan melihat isinya. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan kembali menyimpan dompetnya
Clara terkikik dalam hati. Rasanya sangat menyenangkan bisa mengerjainya. Namun hal ini tidak sebanding dengan apa yang sudah pria itu lakukan. Setelah ini, dia akan mengatakan semuanya pada kapten Aaron agar Henry mendapatkan hukuman yang setimpal.
kerennnnn