Juara 2 Lomba Novel Horor 2023.
Season 1 Desa rawa belatung.
Season 2 Penelusuran gaib rania.
Season 3 Tumbal panti jompo.
Berawal dari ditemukannya buku catatan di sebuah kamar kost. Kamar yang dulunya di tempati oleh seorang gadis lugu. Ia merantau dari desa untuk bekerja di pabrik garment. Sejak ia ditemukan tewas di bangunan kosong yang tak jauh dari kostnya, banyak kejadian misterius yang terjadi di kost itu. Satu persatu teman-teman satu kost nya mendapatkan pesan misterius, yang berisi peringatan atau semacam ancaman. Pesan yang berupa selembar surat ataupun pesan singkat melalui ponsel, tiba-tiba dikirimkan untuk mereka.
Jika mereka tak melakukan apa yang dituliskan di pesan tersebut, maka mereka akan celaka dalam waktu yang sudah ditentukan di pesan tersebut. Sebuah pesan kematian yang akan mengantar mereka yang mendapatkannya bertemu dengan malaikat maut.
Tak ada yang tau siapa pengirim pesan kematian tersebut. Mungkinkah roh gadis itu gentayangan untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi putri ang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 PENAMPAKAN BARU?
"Oalah kau salah satu pegawai di Pabrik toh. Pantas saja kau mau mengantarkan Putri. Terima kasih ya bantuannya. Selama tinggal disini, Putri adalah tanggung jawab saya sebagai ibu kost nya. Mari silahkan di nikmati hidangan ala kadarnya. Tadi Mbak Ijah yang ngasih tau kalau ada tamu di kamar Putri." Ucap Melati tersenyum ramah.
"Wah terima kasih bu, saya jadi gak enak ngerepotin." Kata Nur nampak sungkan.
"Harus enak dong... Kan udah disiapin tinggal makan aja. Ayo di minum dulu es sirupnya, buat ngilangin dahaga. Kalau buat Putri teh hangat saja ya, itu dimakan dulu rotinya. Lalu diminum obatnya." Imbuh Melati seraya memberikan obat dan vitamin.
Setelah memastikan Putri memakan dan meminun obatnya, Melati dan Mbak Ijah berpamitan. Nur kembali menutup pintu setelah keduanya pergi.
"Itu istri si bos baik banget ya Put. Kau baru beberapa hari tinggal disini udah diperlakukan seperti keluarga sendiri. Gimana sama yang udah lama disini coba! Tapi kok gue jadi mikir ya, mengenai tumbal di Pabrik itu. Apa mungkin kalau pemiliknya melakukan perjanjian untuk menumbalkan para pekerja nya. Sedangkan gue lihat sendiri, bagaimana kondisi tempat tinggal Pak Bos Harto. Rumahnya yang di gedung sebelah itu kan Put? Bukannya terlalu sederhana buat seorang Bos besar. Mungkin rumor yang beredar di Pabrik itu gak bener deh, hanya kebetulan aja kalau ada pegawai yang kecelakaan lalu meninggal." Pungkas Nur dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Entahlah Mbak, aku belum terlalu mengenal semua orang yang ada disini. Satu-satunya teman yang aku punya langsung pergi setelah menginap disini satu malam." Putri menghembuskan nafas panjang.
"Eh tunggu deh! Tadi Mbak Nur ngebahas tumbal yang ada di Pabrik. Mungkin gak sih itu yang dimaksud roh nya Mira sewaktu merasuki ku tadi?" Putri menggaruk kepala yang tak gatal.
"Hussd jangan sembarangan kalau ngomong! Kau lihat sendiri bagaimana gaya hidup pemilik kost ini. Mereka hidup glamor dan foya-foya gak? Biasanya orang yang melakukan pesugihan kan sangat royal, dan gaya hidupnya mewah!"
"Sejauh ini belum lihat sih Mbak. Tapi setahuku mereka jarang bepergian. Dan perkakas yang ada di rumah nya cenderung kuno semua. Hanya ada beberapa barang elektronik model baru."
"Ya sudahlah gak usah dibahas lagi, kalau gak bener jatuhnya malah fitnah! Aku pamit pulang ya. Mumpung bisa balik cepet, mau ngenakin badan di kasur. Kau tenang aja, rahasiamu aman padaku. Cepat istirahat biar besok bisa kerja lagi."
Setelah Nur meninggalkan kamar itu. Putri hanya termenung sendiri. Tiba-tiba terdengar dering ponsel yang mengejutkannya. Terlihat panggilan telepon dari ibunya, sudah yang ke tiga puluh kalinya. Entah sejak kapan ibunya terus mencoba meneleponnya, dan begitu ia menerima panggilan telepon itu. Hanya terdengar suara tangis ibunya.
"Ayah nduk... Tadi ibu menemukan ayah mengapung di dalam tandon air. Padahal ayah kesulitan berjalan, entah bagaimana caranya dia bisa tenggelam di dalam sana. Untung ada Mawar di depan rumah, jadi kami buru-buru membawa ayah mu ke Rumah Sakit. Tapi ada yang lebih aneh lagi nduk. Di bawah tempat duduk yang biasa ayah tempati ada sesajen, dan ada foto ayah yang dimasukan ke dalam plastik klip. Plastik itu mengapung di dalam cawan yang berisi air. Gak mungkin to kalau ayah yang meletakkan semuanya. Kau tau sendiri, untuk berjalan saja ayah kesulitan. Apalagi untuk menyiapkan semua itu. Tapi kan gak ada orang lain lagi yang keluar masuk rumah kita." Ucap sang ibu di seberang telepon sana.
"Bukannya Mas Mawar yang biasa datang ke rumah. Tapi apa mungkin dia bu?" Putri mengaitkan kedua alis mata curiga.
"Kau jangan asal bicara nduk. Mawardi itu sudah seperti kakakmu sendiri. Dari kecil dia dan Mbak mu tumbuh bersama. Mawar juga yang lebih sering menjaga ayahmu sejak pertama dia sakit. Meski dia sebatang kara di desa ini, hanya keluarga kita saja yang membantu menopang semua kebutuhannya. Mawardi gak mungkin berbuat hal yang buruk semacam itu!"
"Aah maafkan Putri bu. Selama tinggal disini, Putri jadi gak bisa percaya dengan orang lain lagi. Putri jadi gak enak sama Mas Mawar. Dimana dia saat ini bu?"
"Mawar pergi ke kota nduk, mengantar hasil perkebunan yang dipesan tengkulak besar. Ibu sudah memintanya untuk mengunjungi mu sekalian. Ibu sudah buatkan rendang yang tahan lama, dan bisa kau hangatkan sewaktu-waktu. Kau kirimkan saja alamat kostmu padanya, biar Mawar gak bingung mencari alamatmu. Oh iya nduk, jam segini kau sudah pulang kerja to?"
"Hmm... I-iya bu. Apa Putri bisa bicara sama ayah?" Putri mengalihkan pembicaraan, karena ia tak ingin berbohong ataupun mengakui apa yang sebenarnya terjadi di Pabrik.
"Ayah masih dalam perawatan Dokter. Nanti kalau sudah dipindah ke ruangan lain, ibu telepon lagi ya. Jaga kesehatan dan jangan lupa ibadahmu yo nduk, ojo kelalen seng temen ibadahe. (Jangan lupa yang rajin ibadahnya)." Ucap ibunya sebelum mengakhiri panggilan telepon.
Putri meraih handuk yang tergantung di samping jendela, lalu berjalan keluar menyusuri lorong. Ia berpas-pasan dengan Kara, yang berjalan dengan menundukkan kepala.
"Karaa... Kenapa hari ini gak berangkat kerja? Kalau masih gak enak badan kan bisa minta ijin, biar aku yang sampaikan ke HRD." Ucapan Putri sama sekali tak digubris oleh Kara. Meski sempat menghentikan langkah, namun ia sangat acuh. Menatap wajah Putri saja tidak, apalagi mengatakan sesuatu.
"Dih malah cuek gak ada respon. Terserah kau sajalah. Aki hanya berniat baik padamu." Batin Putri di dalam hatinya.
Begitu membalikkan badan, justru Putri dikejutkan oleh Mbak Ijah yang sudah tersenyum miring menatapnya dengan sorot mata tajam.
"Astaga... Mbak Ijah ngagetin aja sih!" Putri menyentuh dadanya yang berdetak tak karuan.
"Saya heran saja, kenapa Mbak Putri berbicara sendiri disini. Takutnya ada apa-apa lagi. Saya sudah mendengar kejadian di Pabrik siang tadi. Apa yang disampaikan sosok yang merasuki tubuh Mbak Putri?" Tanya Mbak Ijah dengan melipat kedua tangan di atas perut.
"Hmm... Saya tadi bicara sama Kara. Dan mengenai kejadian di Pabrik tadi saya gak inget apa-apa Mbak. Memangnya Mbak Ijah tau dari siapa kalau saya kerasukan?"
Mbak Ijah menyunggingkan senyumnya, namun bukan senyum ramah seperti Melati. Namun senyuman yang terasa menyudutkan, dan membuat Putri terintimidasi.
"Saya bisa merasakannya Mbak... Pasti ada yang disampaikan sosok yang telah merasuki mu. Sebagai pembelajaran saja, jangan mudah percaya dengan makhluk gaib seperti mereka. Tujuan mereka hanya untuk menyesatkan manusia. Bukankah di agama Mbak Putri dijelaskan hal yang sama? Dan mengenai Mbak Kara, dari pagi dia sudah pergi ke Dokter. Sepertinya ada yang mengganggu penglihatannya, makanya Mbak Kara mau periksa."
"Tapi barusan udah balik kok Mbak!"
"Saya dari tadi bersihin ruang tamu, dan gak ada orang yang keluar ataupun masuk Mbak! Sudahlah kalau begitu saya permisi dulu mau membersihkan ruangan yang lain. Permisi..." Ucap Mbak Ijah menundukkan kepala seraya berjalan pergi.
Putri menggaruk kepala yang tak gatal. Mbak Ijah tak mungkin berbohong, tapi ia yakin jika tadi bertemu dengan Kara. Akhirnya karena penasaran Putri mengintip dari lubang kunci. Di dalam kamar Kara terlihat sepi seperti tak ada orang sama sekali. Ia menghirup aroma anyir yang sangat pekat, dan tiba-tiba dari arah dalam ada sosok dengan rambut berantakan melesat mendekat ke lubang kunci, menunjukkan sebelah matanya yang kosong tanpa bola mata, dan darah segar yang membasahi sebagian wajahnya.
tapi tetep keren dan bagus kok ceritanya /Smile/ /Good/
ku tunggu novel baru.ny tentang wati..