Misteri kasus orang hilang sejak tahun 1986 hingga 2017 membuat semua orang menjadi takut, bahkan pihak berwajib pun tidak bisa melakukan banyak hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HousingAmoeba45, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30: Penambang
Raezha terbaring di kursi mobil, masih terbayang sosok penambang beraura hitam dan merah di area tambang. Tubuhnya masih merinding membayang bagaimana jika ia tidak sigap menghindar dari ayunan serangan makhluk bungkuk dengan beliung di tangannya.
Perasaan overthinking meliputi Raezha, ia dibuat bingung, heran, juga penasaran apakah sakit kepalanya itu diakibatkan oleh anomali atau sesuatu yang lain? Semua pertanyaan itu menekan otak di kepala Raezha, padahal pikirannya sekarang butuh istirahat tenang sejenak.
Dari luar Herlambang sedang mengamati lingkungan sekitar sambil sesekali meneguk air putih dari botol air mineral. Sedangkan Nita duduk santai menyantap makanan hasil masakannya sendiri. Raezha beranjak duduk, meraih cokelat batangan dari tas kecil di punggungnya. Tas kecil itu benar-benar serbaguna.
Jari-jemarinya membuka bungkus cokelat batangan, cokelat tersebut disantap masuk ke dalam mulutnya sembari menonton hutan-hutan lebat beserta tambang melalui jendela mobil. Hijaunya hutan tampak kontras antara lingkungan terjaga dan tak tersentuh manusia, dibandingkan lingkungan pertambangan rusak akibat kemarukan pejabat elit.
Suara kicauan burung-burung seolah bernyanyi namun, kicauan merdu tersebut tidak benar-benar bisa dinikmati Raezha melalui dalam mobil. Sementara Nita bisa menikmati makanannya dengan santai sambil ditemani suara kicauan merdu burung bagaikan musik menenangkan dari hutan lebat, meskipun jauh dari lokasi mereka berdiri.
Gigitan demi gigitan perlahan menghabiskan cokelat di tangan Raezha, tanpa sadar ia malah menggigit jarinya sendiri. “Lah udah habis?”
Raezha mengibaskan tangannya, membersihkan bekas liur di jarinya. Ia membuka pintu mobil, melangkah keluar lalu menutup kembali pintu mobil secara keras sampai mengejutkan Raezha sendiri.
Herlambang berjalan menghampiri Raezha karena barusan mendengar suara pintu mobil tertutup cukup keras.“Udah lebih baik?” Tanya Herlambang, botol air putih masih ia pegang di tangan kanannya.
“Udah nggak pusing lagi, aku siap buat melayangkan peluru lagi.” Ungkap Raezha dengan gaya sok hebat. Raezha mengambil botol teh dari tas kecilnya, membuka botol tersebut lalu menghabiskan semua sisa teh di dalam botol plastik itu. Tangannya menyimpan kembali botol kosong melompong tersebut ke dalam tas kecilnya. Dia bukan orang bebal yang selalu buang sampah sembarang.
Kepala Herlambang mengangguk sedikit, senang karena Raezha tidak mengalami luka terlalu parah. Hanya goresan kecil dan sedikit shock. “Syukurlah kalau kamu nggak apa-apa, aku sudah menghubungi Pusat Komando dan mereka bilang kita masih harus menginvestigasi tambang buat memastikan apa masih ada anomali lain di tambang ini.” Ujar Herlambang.
Kalimat barusan mengingatkan Raezha dengan tangan-tangan beraura gelap yang sempat menarik dan menyeret tubuhnya. “Soal anomali lain, aku belum yakin pasti tapi, tadi pas di tambang akukan sempat diseret oleh empat tangan beraura gelap dan ada sedikit campuran warna ungu.” Tutur Raezha. “Itu juga jadi alasan kenapa punggung bajuku jadi kotor.” Sambungnya, punggung Raezha tidak kotor lagi meski, walau masih ada secuil debu melekat di beberapa titik. Bukan masalah besar tetapi, baru jadi masalah kalau bajunya sampai robek. Seragam mereka juga lebih dominan hitam dengan campuran warna biru gelap, kotor sedikit tidak akan terlalu berpengaruh.
Mendapati informasi baru dari penjelasan Raezha, datang spekulasi mengenai area tambang itu. “Oh, benarkah? Well, mungkin memang ada lebih dari satu anomali atau mungkin bisa saja itu salah satu kemampuan dari Red Miner. Tapi, apapun itu kita nggak bisa bikin kesimpulan sekarang, kita perlu lebih berhati-hati dan mengobservasi anomali itu.” Balas Herlambang, melipat kedua tangannya. Kalimatnya serius namun, dibalut dengan kesan santai dari gaya bicaranya sehingga situasi mereka tidak benar-benar seperti film horror, walau kejadian seretan kaki Raezha tadi memang sedikit membuat Raezha panik dan menegangkan. “Nanti kita jangan berpencar, tetap jalan bersama dan ada kemungkinan anomali itu menarget mangsa yang bergerak sendirian.” Tambahnya.
“Aku sih iya aja.” Tanggap Raezha.
Dari balik mobil, Nita muncul berjalan menghampiri mereka berdua. Sepertinya Nita sudah menyelesaikan makan siangnya. “Raezha? Kamu udah nggak apa-apa?” Sahut Nita dari belakang Raezha.
Raezha menoleh ke belakang, menyaksikan Nita stop di sampingnya. “Sudah nggak apa-apa, kami lagi bahas rencana kita buat investigasi ke dalam tambang lagi.” Jawab Raezha, ditambah paparan rencana Herlambang barusan.
Muka dan mata Nita terarah ke Herlambang usai mendengar jawaban Raezha. “Oh, ya? Rencananya kayak gimana?” Tanya Nita ke Herlambang karena rasa penasaran.
“Rencananya lumayan simple, kita bakal ke sana lagi tapi jangan berpencar atau pisah.” Ujar Herlambang. “Dan kita perlu tau apakah anomali Red Miner itu cuma menarget mangsa individual atau bisa saja menarget kelompok, tadi juga Raezha bilang kalau dia sempat diseret oleh tangan-tangan misterius dari bawah tanah.” Sambungnya, wajah Herlambang malah menoleh dan menatap Raezha.
Raezha merasa aneh ditatap Herlambang, padahal yang dia jawab adalah pertanyaan Nita. Tetapi, dia malah menatap Raezha. “Kenapa? Ada apa dengan aku?” Tanya Raezha memandangi Herlambang keheranan.
Mata Herlambang berhadapan dengan Nita lagi. “Dan kalau Red Miner memang ada benarnya cuma menarget individual, aku akan menjadi umpan untuk memancingnya ke arah kalian Jadi kalian langsung bisa menyerang dia sebelum kita diserang.” Ungkap Herlambang memberitahu detail rencana mereka.
...***...
Rencana segera mereka eksekusi, mereka melangkah memasuki area tambang sekali lagi. Untuk kali ini mereka tidak akan terpisah-pisah, mereka membuat formasi seperti huruf v. Herlambang memimpin jalan, sementara Raezha mengikuti dari kiri belakang dan Nita dari kanan belakang Herlambang.
Herlambang, Raezha, dan Nita mengarahkan senapan mereka ke depan. Sesekali Raezha melirik ke belakang, memerika dan memastikan tidak ada yang mendadak menyerang mereka dari belakang.
Langit sore seakan berupaya membenamkan matahari namun, jelas belum saatnya untuk terbenam dan tergantikan oleh bulan serta bintang-bintang.
Mereka bertiga sudah melangkah cukup lama dan jauh tetapi, belum menemukan tanda-tanda Red Miner di area tambang. Herlambang curiga kalau anomali tersebut hanya menarget individu dan bukan kelompok, jadi dia berhenti berjalan dan melirik ke belakang sebentar. Diikuti oleh Raezha dan Nita berhenti setelah Herlambang. Ia menyampaikan rencana mereka sebelum maju meninggalkan mereka. “Sesuai rencana, aku bakal maju terus balik ke kalian.”
Herlambang berjalan maju sendirian, siluetnya dari belakang seperti seorang prajurit pasukan khusus sambil menenteng senjata api di kedua tangannya. Raezha menoleh ke Nita lalu bertanya. “Ini rencana pertama dia atau dia udah pernah melakukan rencana yang sama kayak gini? Soalnya rencana kayak gini agak berisiko, nggak sih?” Tanya Raezha penasaran dengan Herlambang.
Nita menatap Raezha lalu menjawabnya. “Udah pernah beberapa kali sih, dan dia yang bakal jadi umpan." Jawabnya berkontak langsung ke mata Raezha.
Raezha seperti mau terkejut tetapi tidak begitu terkejut juga. “Oh, jadi dia udah lumaya sering pakai rencana ini? Aku jadi penasaran apa alasannya.” Ungkap Raezha, ia melirik sebentar ke arah perginya Herlambang.
“Kurang tau kalau soal itu, toh aku juga nggak pernah nanya langsung.” Balas Nita tetapi, kalimatnya belum selesai. “Aku nggak tau isi kepala orang itu, tapi menurutku dia mungkin nggak mau rekan-rekannya terluka duluan akibat anomali. Kayak kamu tadi.” Tambahnya, Nita pun ikut melirik sekejap ke arah perginya Herlambang.
Sulit untuk bertanya lebih dalam kalau Nita saja tidak betul-betul tau tentang Herlambang. “Jadi gitu….” Kalimatnya terhenti perlahan, mengetahui ia tidak akan mendapatkan jawaban lebih banyak.
Mereka menunggu selama beberapa menit namun, Herlambang belum kunjung kembali. Kemudian terdengar tiga dentuman senjata api dari arah Herlambang. “Apa itu?! Ayo periksa!” Seru Raezha, tetapi langkahnya terhenti setelah mendengar suara langkah kaki cepat menuju mereka.
“Bersiap!” Nita menodongkan senapannya ke arah suara langkah kaki tersebut, yakni berasal dari arah Herlambang pergi.
Raezha berdiri di sisi Nita, ikut menodongkan senjatanya, bersiap untuk menantikan sesuatu yang datang.
Langkah kaki tersebut semakin terdengar jelas, bersamaan dengan suara dari sesuatu yang terayun. Dari balik mobil truk tambang super besar, Herlambang berlari cepat dari kejaran Red Miner. “Tembak sekarang!” Perintah Herlambang masih berlari menghindari setiap serangan dari Red Miner.
Herlambang meluncur di depan mereka, Raezha dan Nita tanpa keraguan menekan pelatuk senjata dan mulai menembaki anomali Red Miner. Full auto.
Untungnya Herlambang meluncur di tanah, sehingga dia tidak terkena satupun peluru dari tembakan mereka. Herlambang bangun berdiri dan memperhatikan Red Miner di depan mereka.
Gerak Si Penambang langsung terhenti begitu terkena serangan beruntun langsung dari jarak cukup dekat. Butiran selongsong peluru keluar dari chamber senapan, asap dan percikan api keluar dari laras senapan ketika peluru-peluru melesat cepat mengenai anomali.
Bekas-bekas peluru terbentuk pada tubuh anomali Red Miner, beberapa bahkan membolongi perut, tangan, dan kepalanya. Hal ini justru membuatnya semakin lebih mengerikan, ditambah Red Miner tidak ingin menyerah begitu saja dan berusaha terus maju meski perlahan-lahan.
Tembakan mereka terhenti saat semua peluru di dalam magasin senapan mereka habis tak bersisa, Raezha dan Nita cekatan melepas magasin kosong dan menggantinya dengan magasin baru penuh peluru di dalamnya. Namun, Herlambang mencegah mereka untuk menembak lagi. Dia ingin mengamati kondisi anomali tersebut. “Tunggu! Jangan tembak dulu!” Perintah Herlambang tegas dengan tangan kirinya menghadang mereka berdua.
Red Miner masih berusaha bergerak namun, langkahnya menjadi sangat-sangat lambat karena kakinya terkena tembakan bahkan ada yang bolong. Herlambang berjalan perlahan mendekati Red Miner secara berhati-hati dan tetap dengan laras senjatanya terarah ke anomali tersebut.
Herlambang mengangkat tangan kirinya dan mengepalkannya, sebagai tanda bagi Raezha dan Nita untuk jangan menembak. Herlambang terus berjalan perlahan-lahan namun, ia merasakan ada sesuatu yang bergerak di bawah kakinya.
Refleks saja Herlambang melompat mundur, tiba-tiba empat tangan beraura hitam dan biru gelap keluar dari bawah tanah seolah ingin menerkam Herlambang. Tangan-tangan itu memanjang ketika ia melompat mundur menjauhi ancaman di hadapannya.
Raezha gerak cepat menembaki tangan-tangan tersebut sebelum bisa menggapai Herlambang. Tetapi, secara tak terduga Red Miner sudah berada di belakang Raezha, bersiap untuk menyerang Raezha dengan ayunan beliung di tangannya.
Tangan kiri Nita meraih kerah baju Raezha, menariknya kuat dan paksa. Ayunan beliung Red Miner meleset, sama sekali tidak menyentuh Raezha sedikitpun. Beberapa tembakan Raezha melayang ke angkasa karena tubuh Raezha ditarik Nita tetapi, beruntung tidak ada satupun dari mereka terluka. Dan Herlambang juga tidak kena peluru nyasarnya Si Raezha.
Situasi semakin memburuk, mereka semua berjalan mundur pelan-pelan sembari mewaspadai serangan berikutnya dari Red Miner dan empat tangan beraura gelap.
Di saat-saat buruk seperti ini, kepala Raezha malah sakit lagi dan kali ini seperti ada bisikan yang menyuruh Raezha untuk maju menyerang balik anomali tersebut. “Aarrgghh!!!” Teriak Raezha kesakitan, tangannya memegangi kepalanya.
Seakan tanpa keraguan, Raezha membuat langkah besar berlari maju menyerang Red Miner seorang diri. “Lentera, lentera, lentera.” Suara-suara aneh muncul di dalam kepala Raezha, dirinya terus berlari maju, kemudian menembakan beberapa peluru ke lentera bercahaya merah di tangan kiri Red Miner.
”Raezha! Berhenti!” Seru Herlambang, memerintahkan Raezha untuk berhenti berlari.
Mata dan pandangan hanya terfokus ke lentera yang di pegang Red Miner, ia berjuang untuk menghancurkan lentera tersebut dan pada akhirnya empat butir peluru berhasil mengenai lentera Red Miner. Kaca lentera tersebut pecah namun, cahaya di dalamnya masih terang-benderang berwarna merah.
Tubuh bungkuk anomali tersebut mencoba untuk mengayunkan beliungnya ke Raezha tetapi, Raezha sukses menghindari serangan tersebut dengan cara meluncur tepat di bawah ayunan beliung Red Miner.
Herlambang melihat kesempatan emas, ia menembakkan beberapa peluru ke lentera tersebut. Cahaya merah merona dari lentera tersebut meredup sedikit demi sedikit namun, empat tangan beraura gelap kebiruan kembali menyerang dari bawah tanah. Tangan-tangan tersebut menyerang Raezha yang masih terfokus pada Red Miner.
Nita sigap melancarkan tembakan, langsung melumpuhkan empat tangan jelek itu sekaligus sebelum bisa menyentuh Raezha.
Raezha menaruh membuang senjatanya, tangannya meraih lentera dan merebut paksa lentera merah tersebut dari Red Miner. Red Miner menjadi sangat agresif sesaat Raezha menyentuh lentera merah di tangan anomali itu, ia mengayunkan beliungnya lagi berupaya menghabisi Raezha hanya dengan satu serangan telak.
Tangan lincah Raezha mampu merebut paksa lentera merah dari tangan Red Miner, ia berguling sambil memeluk lentera merah, berusaha menghindari ayunan agresif makhluk tersebut.
Raezha cepat-cepat berdiri, berlari kembali ke Herlambang dan Nita. Empat tangan tadi muncul lagi dari tanah, memanjang mencoba menggapai kaki Raezha. Sayangnya usaha empat tangan tersebut harus terhenti lagi karena kali ini Nita benar-benar sangat kesal dan menginjak-injak tangan-tangan itu hingga mereka harus kembali masuk ke dalam tanah.
Namun, Nita tidak ingin membiarkan makhluk-makhluk itu pergi begitu saja. Tangan Nita menangkap salah satu dari empat tangan tersebut, Nita menariknya sekuat tenaga sampai-sampai tangan yang ditarik Nita kelihatan hampir mau putus. “Haha! Jackpot!”
Yap, yang ditarik Nita benar-benar putus. Terpisah dari tiga tangan lainnya yang sudah masuk ke dalam tanah lagi. Meski hanya dapat satu, tangan tersebut bisa menjadi sampel penelitian untuk BARUNO nantinya. Tangan yang ditangkap Nita menggeliat brutal dan agresif tetapi, karena terpisah dari kawanannya tangan tersebut perlahan berhenti bergerak dan pada akhirnya menjadi kaku. Bahkan, aura gelapnya juga meredup. Meninggalkan sebatang tangan, Nita malah jadi seperti psikopat yang memotong tangan korbannya. Mana dia juga nggak merasa jijik atau takut pula.
Kembali ke Red Miner. Tubuh anomali penambang menjadi sangat rapuh bahkan, terlihat akan runtuh seperti kertas dibakar menjadi abu. Meski sudah sangat lemah, Red Miner masih membuat langkah menyerang mereka bertiga.
Herlambang memukul kepala Red Miner menggunakan popor senjatanya, seketika menghancurkan tubuh rapuh Si Penambang. Hancur menjadi tumpukan abu, lentera merah di tangan Raezha menyerap sisa-sisa energi dari Red Miner.
Kaki Herlambang menendang bekas abu tubuh Red Miner. “Anomali ini tidak sebrutal Trisula dan anomali lain yang pernah aku lawan.” Kata Herlambang, meremehkan Si Penambang. Tetapi, memang Si Herlambang sudah berpengalaman, jadi sangat jelas dia sudah pernah berhadapan dengan anomali yang lebih berbahaya dibandingkan Si Penambang bungkuk itu. Herlambang menoleh pelan melihat Raezha. “Kenapa kamu tiba-tiba maju nyerang dia? Kepalamu sakit lagi?” Tanya Herlambang sangat tegas dan tajam.
“Iya tapi, kayak ada yang maksa aku buat langsung nyerang dia.” Raezha meragukan jawabannya sendiri.
Herlambang mengambil napas panjang. “Aku memang kepikiran buat nyerang lenteranya tapi, kamu malah nyerang duluan tanpa perintah.” Balasnya usai menghela napas panjang dari batang hidungnya.
Di sisi lain Nita sibuk mengemasi hasil tangkapannya ke dalam kantong sampel. Nita menghampiri Raezha dan Herlambang. “Ya sudah sih, kan anomalinya juga udah nggak ada.” Sahut Nita santai sambil memegangi kantong sampel berisi potongan tangan di dalamnya. “Tapi memang masih ada sisa anomali tangan yang aku aja nggak tau namanya.” Ucap Nita, memandangi tanah tempat tangan-tangan tersebut masuk.
“Terus lentera ini mau di simpan di mana?” Tanya Raezha mengangkat lentera di tangannya.
“Simpan aja dulu, nanti divisi peneliti bakal datang buat mengambilnya.” Jawab Herlambang, jarinya menggeser safety pin senjatanya agar tidak tiba-tiba menembak.
Raezha baru ingat kalau ia sempat melempar senjatanya entah ke mana karena berusaha merebut lentera tadinya. “Oh iya, senjataku ke mana ya? Pegang dulu.” Raezha menyerahkan lentera ke Herlambang, ia berjalan ke tempat dirinya melemparkan senjatanya.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan senjatanya kembali. Senjatanya Raezha terkubur di antara semak-semak belukar tinggi nan lebat, untung ia tidak melemparnya jauh-jauh. “Untung ketemu.” Ucap Raezha usai menemukan senjatanya kembali.
Langit kian menggelap, pemandangan sore perlahan tergantikan oleh gelapnya malam. Raezha, Herlambang dan Nita berjalan ke mobil mereka menunggu kedatangan divisi peneliti sebelum bisa pulang ke fasilitas dan beristirahat.