Geofanny Guwencia Gabriel, seorang sosialita sekaligus putri sulung seorang taipan bisnis, merasa dunianya dijungkirbalikkan. Kebebasannya yang ia agung-agungkan direnggut paksa setelah serangkaian ancaman serius ditujukan kepadanya. Sang ayah pun menyewa seorang pengawal pribadi untuk melindunginya setiap saat.
Masuklah Eric Abram. Seorang pria yang lebih mirip patung Yunani daripada manusia: tinggi, tegap, dengan wajah dingin dan tatapan setajam elang. Bagi Geofanny, Eric adalah pengganggu nomor satu, seorang "babysitter berotot" yang mengikuti setiap geraknya dan merusak semua rencananya. Geofanny bertekad untuk membuat pria itu tidak betah dan berhenti dari pekerjaannya.
Namun, semua usahanya sia-sia. Eric adalah seorang profesional sejati yang tak tergoyahkan. Di balik sikapnya yang kaku, Geofanny tanpa sengaja melihat kilasan kerapuhan dan masa lalu kelam yang membentuk pria itu menjadi pelindung yang tangguh.
Ketika ancaman itu bukan lagi sekadar gertakan dan sebuah serangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GrendysS_08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 | Kabar duka
...~Happy Reading~...
Fany di sibukkan dengan pekerjaan kantor yang begitu menumpuk, hari itu Nana asistennya mondar-mandir keluar masuk ruang kerjanya, hari itu Fany di sibukkan dengan sebuah proyek besar perusahaan.
"Sibuk sekali sepertinya? " Eric berdiri tepat di samping meja kerja Fany, ia yang sedari tadi menerima banyaknya orang yang menemui Fany, membuatnya berinisiatif untuk semakin memperketat penjagaannya.
"Hmm." Fany tersenyum membalas ucapan Eric
"Butuh bantuan ku? " Eric melirik dokumen berkas yang banyak sekali di meja Nana dan juga meja kerja Fany, membuatnya bersimpati untuk membantu mereka.
"Baiklah, bisa bantu aku menuliskan hasil rapat dari tim productions house, dan mereka pnya lalu mengirimkannya ke email Nana dalam bentuk laporan proyek." Fany tersenyum, dan menyerahkan tabletnya ke Eric. Di tablet itu sudah terputar sebuah vidio rapat. dengan senang Eric segera mengerjakan tugas yang di berikan Fany. ia memanfaatkan kemampuannya selama bersekolah dulu.
Fany melirik Eric yang serius dengan tablet di tangannya, ia menyunggingkan senyum manis melihat raut serius pria itu. dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sesaat setelah Fany, Nana dan Eric menyelesaikan semua berkas-berkas yang menumpuk di meja kerja, Tiba-tiba ponsel Fany yang terletak di atas meja kerja, berbunyi, dan tertulis, Bunda is calling. "Halo Bun" ucap Fany. Namun mendadak matanya membulat, setelah mendengar ucapan dari seberang telfon.
Eric dan Nana dibuat terkejut, sebab tiba-tiba Fany terduduk lemas di kursi mejanya, dengan air mata yang mengalir deras, membasahi pipi cantiknya.
"Ada apa? " Eric dan Nana berjalan gontai, mendekati Fany. Eric mengambil ponsel sang kekasih, dan melihat riwayat panggilan keluar, dan langsung menelfon Guen. namun hasilnya nihil, panggilannya tak mendapatkan jawaban.
Antar aku pulang." ucap Fany, masih dengan air mata yang terus terjatuh. Eric dan Nana mengantarkan Fany pulang. Eric mengemudikan mobil, dan Nana berusaha untuk menenangkan Fany.
"Ada apa sebenarnya Fany? " Nana berbisik di telinga Fany, tangannya bergerak mengusap air mata Fany yang masih terus berderai.
"Giorgio, pendekar ku. Meninggal! " Fany semakin mengencangkan isak tangisnya, Nana terkaget mendengar ucapan Fany. ia kini merasakan apa yang di rasakan oleh Fany, ia menyandarkan kepala Fany di bahunya.
Eric memarkirkan mobil di seberang kediaman Gabriel. Eric tak langsung membukakan dor lock mobil, ia melihat suasana kediaman Gabriel yang begitu ramai.
"Buka Ric, tunggu apa lagi! " Eric membukakan pintu Fany, perempuan itu langsung berlari nenerjang orang-orang ramai di depan rumah itu, Eric menyusul Fany, dengan berlari sangat cepat. Ia khawatir jika saat seperti ini, dapat di gunakan oleh musuh yang selama ini meneror Fany. Sedangkan Nana, perempuan itu mengabarkan kematian Giorgio, pada Anggi, untuk membantu menenangkan Fany.
Fany berlari mendekati seorang perempuan berusia seperti Giorgio adiknya, yang sedang duduk di sebelah peti mati, dan terlihat perempuan itu juga, sedang menangis tersedu-sedu.
"Grace" Fany memeluk perempuan yang tak lain adalah Graceva adik iparnya, yang artinya istri dari Giorgio.
...Kamu kenal dengan Giorgio dan Graceva? jika belum, kamu bisa baca dulu novel Takdir Cinta Graceva. Kalau nggak baca juga nggak papa. 😁...
"Ini Giorgio? " Fany menatap peti mati di depannya. ia menghapus kasar air matanya. ia membuka peti mati itu, mata Fany terbelalak melihat isi dari peti mati tersebut. Fany kembali menangis melihat keadaan mayat di dalam peti mati itu. Eric pun terkejut. Mayat itu gosong, wajahnya sudah tak berbentuk lagi, dan sudah tak dapat di kenali.
"Ya ampun, kasihan sekali." Eric menatap prihatin mayat itu. ia usap lembut bahu Fany. untuk menguatkannya.
Hari itu juga, pemakaman Giorgio di laksanakan, mayat itu makamkan di pemakaman umum tak jauh dari rumah. Keluarga besar Gabriel berkumpul di pemakaman Giorgio. Nana dan Anggi berupaya untuk menenangkan Fany, yang nampak begitu sedih. Bahkan lebih sedih dari keluarga Gabriel lainnya.
...~To be continue......