IG : @amy_myamymy
Tak perduli siapa namaku yang jelas akulah yang mengucap ijab qabul atasmu pada ayahmu.
Kehadiranmu di hidupku bukan hanya menghadirkan cinta baru tapi juga merubah alur hidupku.
Entah takdir apa yang ada di masa depan, untuk sekarang aku fokuskan hatiku untukmu,dan memendam dalam perasaan lain yang pernah ada.
(Raffa Putra Pradipta)
Aku selalu mencintaimu begitupun dirimu, aku tahu kamu masih mencintaiku,tapi kenapa sulit sekali untukmu jujur tentang perasaanmu sendiri?
Biarlah ku menunggu, menantimu kembali di saat ada cinta yang lain hadir di antara kita. seperti apa takdir cinta ini akan berakhir.
(Siena Putri Darmawan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon myAmymy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 30
Siena masih terdiam duduk di depan papi Adam. Jujur ia belum bisa mengambil keputusan saat ini. Dia tidak mencintai Dimas.Cintanya hanya untuk Raffa,meski pria itu sudah membuat hatinya terluka.
"Papi tanya Siena! "
"Siena minta waktu untuk bicara dulu dengan bang Raffa dan Dimas pi." Jawab Siena pada akhirnya.
Adam menggeleng,"Bicaralah dengan Dimas tidak dengan Raffa. "
Siena menggelengkan kepalanya,
"Tidak papi Siena butuh bicara sekali dengan bang Raffa, jika tidak Siena tidak mau menikah dengan Dimas atau siapapun. "
"Apa yang masih kamu harapkan dari Raffa?Siena ingatlah dia sudah menikah dan memiliki anak, jangan kamu masuk ke dalam rumah tangganya."
"Pokoknya Siena mau bicara dengan bang Raffa titik. " Siena lantas berdiri dan keluar ruang kerja papinya.
.
.
Di sini lah sekarang Siena berdiri di depan kantor Raffa. Berdasarkan info dari Lucas,Raffa sudah berangkat ke kantor dan Siena harus menemuinya.
Melangkahkan kakinya masuk ke dalam semua mata tertuju pada dirinya.Semua karyawan di SJcorp sudah mengenali dirinya yang memang terlalu sering datang ke kantor ini untuk menemui bos mereka. Terlebih latar belakang gadis itu yang adalah putri seorang Adam Darmawan.
"Nona.. " Stevi berdiri di depan Siena saat gadis itu hendak membuka pintu ruangan CFO.
"Minggir.."
"Maaf nona, saat ini Tuan Raffa sedang ada tamu. " Cegah Stevi sekretaris Raffa.
Siena menatap malas pada stevi lalu ia menarik Stevi agar minggir darinya. Setelahnya Siena segera membuka pintu ruangan milik Raffa.
Raffa yang sedang berbicara dengan 2 kliennya pun lantas menoleh ke arah pintu di mana Siena berdiri.
"Siena.. "Lirih Raffa sesaat sebelum kembali fokus ke 2 kliennya.
"Jadi seperti itu, kita akan melanjutkannya jika kalian sudah siap dengan dokumennya." Sungguh Raffa tak bisa lagi berkosentrasi lagi. Matanya melirik ke arah Siena yang berjalan ke arah sofa dan duduk menunggu di sana.
"Baiklah tuan Raffa kita sepakati saja seperti tadi. Kita bisa membahas mengenai pendanaan pada pertemuan berikutnya." Ujar salah satu klien yang mengerti situasi.
"Baiklah,silahkan atur jadwal dengan sekretaris saya di depan untuk pertemuan berikutnya." Raffa berdiri lantas menjabat tangan kedua kliennya dan mengantar hingga ke pintu.
Raffa berdiri menghadap pintu yang baru ia tutup,lalu menarik nafasnya dalam dan menghembuskan perlahan.
Berbalik menghadap Siena lantas menghampiri gadis itu ah tidak lagi sekarang, tapi wanita itu.
Mengancingkan kembali jasnya Raffa duduk di sofa single di depan Siena.
"Ada apa? " Tanya Raffa to the point. Ingatkan Raffa apapun yang terjadi jangan sampai memberi harapan pada Siena. Ingatkan Raffa jika dia sekarang hanya mencintai istrinya.
"Bang... " Lirih Siena
Raffa menautkan kedua alisnya menunggu kalimat berikutnya yang akan Siena ucapkan
"Bang, Siena tidak mau menikah dengan Dimas. " Ujar Siena dengan nada memohon.
Siena duduk mendekati Raffa lalu mencegkram lengan Raffa, "Siena mohon bang!"
"Apa yang harus abang lakukan Siena,kamu sudah dewasa kamu harusnya bisa mengambil keputusan saat ini."
Siena menggeleng," Tidak bang, Siena tidak mau menikah dengan Dimas. Siena tidak mencintai Dimas. Siena hanya mencintai abang. "
Raffa melepaskan tangan Siena di lengannya," Siena dengarkan abang, abang sudah menikah dan memiliki anak. Abang mencintai mereka."
Siena menangis dan itu membuat sudut hati Raffa terasa nyeri, "Siena.. "
"Nikahi Siena bang, Siena mau kok jadi istri kedua abang.. Ya bang, Siena tidak mau menikah dengan Dimas, Siena tidak mau hidup dengan pria yang tidak Siena cinta. "
"Astaga ya Tuhan Siena. Bagaimana caranya membuatmu mengerti." Raffa memijat pelipisnya.
"Siena dengarkan abang kali ini. Abang sekarang hanya mencintai Ayuna istri abang. Soal perasaan abang dulu sudah berubah,cinta yang pernah ada dulu sudah tidak lagi abang rasakan,selain rasa sayang pada adiknya sama halnya ke Difa. Tak ada bedanya. Paham? "
Siena menggelengkan kepalanya,
"Apa bang? Apa yang membuat abang mundur. Selama ini Siena bertanya-tanya kenapa abang berubah. Apa salah siena? "
Raffa memejamkan matanya. Ia tak mungkin memberitahukan alasan sebenarnya kenapa dirinya terus menyangkal perasaanya. Tidak mungkin ia menceritakannya.
"Sudah pernah abang bilang kita saudara. "
Lagi Siena menggeleng tidak percaya.
"Tidak bang,abang cinta sama Siena, Siena bisa merasakan itu,Siena.."
Belum selesai Siena mengatakan sesuatu, suara ponsel Raffa menginterupsinya. Segera Raffa berdiri dan menghampiri meja kerjanya di mana ponselnya berada.
Raffa tersenyum saat melihat siapa yang menelponnya lalu segera menggeser icon hijau di layar ponselnya.
"Hallo sayang.. "
" Hallo mas, tolong mas, Yuna bingung.. "
"Ada apa sayang, tenanglah.. "
"Farel demam tinggi Siena takut. "
"Tenang sayang, mas akan segera pulang. " Raffa segera memutuskan panggilan lalu segera menelpon Lucas agar menunggu di bawah dan siapkan mobilnya. Raffa memang belum menyiapkan pengawal untuk anak dan istrinya karena tak mau Ayuna merasa tak nyaman.
Siena melihat semua, bagaimana Raffa tersenyum, senyum yang sama yang selalu ia lihat dulu, kepanikan yang sama yang selalu ia lihat dulu saat dirinya kenapa-kenapa.Bahkan Siena melihat bagaimana Raffa keluar tanpa mengingat lagi jika ada dirinya di ruangannya. Raffa lupa jika tadi dia sedang berbicara dengannya.
Air mata Siena jatuh. Abang Raffa bukan lagi miliknya. Siena terduduk lemas di sofa memandang sepatu kets yang ia pakai,sepatu yang di belikan Raffa sebagai hadiah dia mendapatkan nilai A+ tahun lalu.
Siena tertawa miris, dia harusnya sadar jika Raffa telah berubah,dia masih saja menganggap sepatu itu special di mana ia juga melihat Difa memiliki sepatu yang sama pada hari yang sama dia mendapatkannya.
"Benarkan aku dan Difa sama di hatimu bang.. "
.................
Raffa berlari ke dalam rumahnya,naik ke lantai atas di mana kamar putranya berada di samping kamarnya. Tadi pagi setelah sarapan Raffa membawa pulang anak istrinya kembali ke rumah mereka. Meski ayah dan bunda ingin mereka tinggal bersama di sana tapi Raffa menolaknya. Selain ia tidak ingin privasi mereka terganggu, Raffa juga menghindari agar Ayuna tak terus menganggap jika keluarganya adalah majikannya.
"Sayang.. "
"Mas, Farel mas.. "
Raffa memeluk Ayuna,membelai rambutnya lembut lalu mengecup puncak kepalanya. Matanya menolah di mana Farel tengah terbaring.
"Bagaimana?"
"Panasnya tinggi mas, 39.5°C. Yuna takut dia belum pernah demam setinggi ini. "
"Tenang sayang, ada mas di sini. Sekarang kita bawa Farel ke rumah sakit ya! "
Ayuna langsung mengangguk,segera ia menyiapkan kebutuhan Farel seperti baju ganti apa bila di perlukan nanti. Sudah menjadi kebiasaan Ayuna selalu membawa baju ganti jika ia akan membawa putranya itu pergi.
"Sudah siap? "
" Iya mas.. "
Raffa mengangkat tubuh kecil putranya dan menggendongnya ke bawah sedang Ayuna mengikuti di belakangnya.
"Lucas kita ke rumah sakit.. "
"Siap bos.. "
Lucas membukakan pintu mobil untuk Raffa dan Ayuna kemudian melajukannya ke rumah sakit.
...............
Siena menatap pintu bercat putih di depannya,ragu-ragu ia ingin mengetuk pintu. Menghela nafasnya pasrah akhirnya Siena masuk tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.
Di lihatnya Dimas sedang duduk dan makan tapi bukan itu yang membuat Siena sampai menautkan kedua alisnya. Melainkan perempuan yang tengah duduk di depan Dimas dan menyuapinya.
"Kamu.. " Ujar Siena kaget tak percaya.
"Si..Siena, itu tadi aku.. " Jawab perempuan itu gugup lalu melirik ke arah Dimas yang hanya menampilkan senyum canggungnya.
Siena menatap kesal pada Dimas. Kemudian beralih pada perempuan yang menunduk di depannya.
"Siena.. " Panggil Dimas menyadarkan Siena dari segala pemikirannya.
Siena langsung menatap tajam Dimas,
"Kalian pacaran? " Tanya Siena to the point.
.
.
Siapa nih yang kepergok lagi nyuapin Dimas 🤔
⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️
@myAmymy
di bab berapa ya pembahasannya?
Lalu si pak adam cinta sama bu sifa, adik kandungnya sendiri?
Incess ya??
Soalnya yg ada raffanya pasti aku skip
Apa jangan3 siena bukan anak kandungnya pak adam?