DILARANG PROMOSI DI KOLOM KOMENTAR!!
Ana, gadis yang baru berusia 18 tahun harus tinggal bersama pria asing yang telah menggelontorkan banyak uang demi biaya operasi sang adik yang terluka cukup parah karena penyerangan sedang kedua orang tuanya telah tiada.
Judul lama "Penjara Cinta"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadis_Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Maaf
Mereka cukup lama hening sampai Joana datang dengan pandangan heran pada mereka berdua. "Apa yang terjadi di sini?" Suara Joana menginterupsi Samuel dan Ana yang langsung memandang pada Joana.
Ana pun mundur dari dekapan Samuel lalu berdiri. Tak lama kemudian, Samuel bersama Joana sudah duduk di ruang tengah sementara Ana berada di kamar bersama Diva.
"Apa?! Kau memperkosa Ana?! Kau gila!" hardik Joana keras.
"Pakai alasan cemburu lagi, kau terlalu posesif tahu!" lanjutnya masih dengan nada yang sama.
"Yah aku harus bagaimana lagi Joana! Aku tak sanggup memikirkan Ana disentuh oleh pria lain dan ketika itu terlihat jelas otakku tak bekerja lalu melakukannya."
"Tapi tak sampai juga memperkosanya bodoh! Dia trauma berat karena kau. Beruntung kau bisa menahannya untuk bunuh diri jika kau terlambat sedikit mungkin sekarang yang bisa kita lihat adalah mayatnya." Samuel mencebik.
"Jangan mengatakan hal yang buruk pada Ana!"
"Hei kau yang melakukan hal yang buruk padanya!" sahut Joana menyolot.
"Jadi bagaimana dengan Ana? Apa dia akan sembuh?" Joana membuang napas kasar lalu berpikir keras.
"Ya, dia akan sembuh tapi butuh beberapa waktu."
"Beberapa waktu? Sampai kapan?"
"Aku tak tahu."
"Ish tak boleh dibiarkan." Samuel lalu bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke lantai dua. Dia hendak menemui Ana namun Joana mencegatnya dengan cepat.
Lengan gadis itu menjangkau lengan Samuel lalu menarik Samuel untuk menjauh dari pintu kamarnya Ana. "Apaan sih?!" marah Samuel pada Joana yang menyorotnya dengan mendelik.
"Aku tak akan membiarkanmu masuk dan bertemu dengan Ana. Kau adalah orang yang membuatnya trauma, apa saat kau masuk dia menerimamu dengan senang hati? Tidak Samuel!"
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Yah bikin kesibukanlah. Biar aku yang mengurus Ana dan jika kau mau gadismu itu sembuh maka menjauhlah darinya kau mengerti?!"
"Tapi Joana--"
"Jangan membantah, pergi dari sini." Samuel mengembuskan napas kemudian bergerak menjauh dari kamar Ana. Joana lalu masuk dan mendapati Ana terduduk di ranjang dengan pikiran melayang.
Joana mendekat dan menepuk pundak Ana pelan. Hanya itu saja Ana terkejut luar biasa, dia memandang pada Joana dengan raut wajah ketakutan. "Tak apa-apa ini aku."
Ana memperhatikan wajah Joana baik-baik kemudian mengembuskan napas lega. "Di mana Samuel?"
"Aku sudah usir dia. Jangan khawatir, untuk sementara kau tak akan bertemu dengan dia."
"Baguslah."
"Aku turut menyesal atas kejadian yang menimpamu," suara Joana nenyadarkan Ana dari lamunan. Wanita itu tersenyum getir.
"Terima kasih. Aku tak apa-apa sekarang."
"Tapi aku harus terus memantaumu. Aku tak mau kau seperti itu lagi. Aku tahu ini sangat berat untukmu namun hidup terus berlanjut. Jangan patah semangat ya." Ana tersenyum lalu memeluk Joana yang sudah seperti kakaknya sendiri.
Jam menunjukkan pukul 01.00. Ana menggeliat tak nyaman di atas ranjangnya sendiri. Dia lalu melihat pada Joana yang tertidur pulas di sampingnya. Sebenarnya dia ingin tidur sendiri tapi permintaan Joana dengan alasan ingin menjaga Ana membuat Ana tak bisa menolak saat Joana ingin tidur dengannya.
Ana bangun perlahan, memperbaiki selimut Joana dan berjalan keluar dari balkon melihat indahnya langit malam. Dalam suasana menikmati kesendirian, Ana terkejut tiba-tiba saja sesuatu melesat ke arahnya dari bawah.
Ana langsung mundur dan ketika dilihat itu seperti benda dengan cabang banyak. Benda tersebut tertahan di pagar balkon. Talinya pun tegang dan tak lama setelah itu muncullah Samuel yang ternyata memanjat menuju balkon kamar milik Ana.
Samuel mendekat pada Ana yang masih tak percaya dengan tindakan Samuel. "Kenapa kau memanjat sampai ke sini?"
"Aku merindukanmu." ujarnya seraya memeluk tubuh Ana namun Ana dengan cepat menahan tubuh Samuel.
"Apa kau gila? Bagaimana jika Joana mendapati kita?!"
"Aku tak peduli, toh kita akan menikah." Samuel langsung menarik tubuh Ana untuk masuk ke dalam pelukan. Seketika itu juga Ana teringat akan kejadian pemerkosaan.
Segera saja Ana mendorong kasar Samuel, memeluk tubuhnya sendiri yang bergetar dan melangkah mundur hingga punggungnya terbentur. "Ana apa kau tak--"
"Jangan mendekat." potong Ana. Dia lalu menurunkan tubuhnya. Air mata kembali menetes. Tak diketahui, Samuel merendahkan tubuhnya dan memberikan pelukan lagi pada Ana.
"Maafkan aku. Aku yang salah karena melakukan hal itu padamu." kata Samuel tulus. Ana yang awalnya menatap kosong berbalik menatap pada Samuel.
"Kau jahat."
"Aku tahu. Tolong maafkan aku, tapi tolong berikan aku kesempatan. Aku janji setelah ini aku tak akan mengecewakanmu lagi ...."
"Kenapa kau tega melakukannya padaku?"
"Karena aku suka padamu Ana." Kendati air mata membasahi pipinya tapi tak menyembunyikan wajahnya yang terkejut. Samuel lalu menyatukan dahinya dengan dahi Ana.
"Sejak pertama kali bertemu denganmu ... aku merasa sesuatu sama seperti saat aku jatuh cinta pada Martha. Pada mulanya aku merasa egois dan mencoba melupakanmu tapi ketika kau berada di hadapanku, aku kembali jatuh cinta di saat aku terpuruk memikirkan masalah Martha. Aku tak mau kau pergi atau berkhianat lagi sama seperti Martha jadi aku melakukannya agar kau terus bersamaku."
"Tapi kau salah Samuel, aku tak akan meninggalkanmu dan selamanya tak akan pernah karena aku juga ... jatuh cinta padamu. Ingat saat kau melamarku, aku ingin mengatakan ya. Aku mau bersamamu." tutur Ana kemudian diakhiri dengan lirih. Pipinya memerah karena mengaku langsung.
Samuel terkejut namun beberapa waktu kemudian dia tersenyum. "Tapi ketika kau ... Phmphh--" Sebuah ciuman mendarat di bibir Ana. Tak ada lumatan hanyalah ciuman murni dari Samuel.
Ciuman dilepaskan. Keduanya menatap lekat tanpa bersuara lalu Samuel membuat posisinya duduk di dekat Ana. Dirangkulnya tubuh Ana yang langsung menaruh kepalanya di dada Samuel.
"I love you."
"I love you too, Samuel."