"Kamu tahu, terkadang waktu yang singkat memiliki kenangan yang hebat."
Gadis cantik dengan bulu mata lentik itu tersenyum kecut tanpa menatap lawan bicaranya. Ia sudah lelah menggantungkan harapan pada pria yang selalu mengumbar kata sayang, namun sikap dan usahanya tak menunjukkan hal demikian.
"Maafkan aku, kutahu ini sakit bagimu. Tapi ini juga sulit untukku," lirih Joe sungguh-sungguh.
Bagaimana bisa pria itu menahan seseorang, ketika ia masih mengharapkan cinta dari yang lainnya. Dia tak ingin melepas salah satunya. Dan Shena tau itu. Tapi bodohnya, Shena tak kuasa untuk mundur sebab rasa cintanya sudah terlanjur dalam.
"Bersamamu aku sakit, tapi jika tidak denganmu aku hancur."
Ini kisah Shena Morghia yang jatuh cinta pada sahabatnya sendiri, Joe Mafarulls. Seorang pria dewasa dengan kisah hidupnya yang rumit. Trauma akibat ditinggalkan kekasihnya di masa lalu, membuat Joe kesusahan membuka diri pada orang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Bukan Waktu Yang Tepat
"Zoe lagi deketin perempuan, Na. Kali ini gesit banget soalnya tuh perempuan cuek banget."
Ucapan polos yang keluar dari mulut Kriss menjadi jawaban yang tidak diharapkan oleh gadis itu.
Lagi-lagi sepertinya ia salah mengambil keputusan, salah karena masih menpercayai pada ucapan pria badjingan itu, salah karena masih saja yakin bahwa pria itu telah mengubah pikirannya mengenai hubungan mereka.
Bukankah semua sudah jelas, Zoe hanyalah seorang pria yang masih menganggap sebuah komitmen adalah kemustahilan yang tak mudah diubahnya begitu saja. Bagi Zoe, semua hanya mainan, tidak lebih.
Lalu kenapa Shena kembali berani menaruh percaya dan harapan saat dua hari yang lalu Zoe menghubunginya menggunakan nomor baru. Shena sudah lelah, ia telah berupaya sebaik mungkin untuk menjauh. Tetapi playboy cap kadal itu rupanya belum puas mempermainkan perasaannya.
Hanya karena ucapan manis Zoe, Shena sampai rela kembali ke apartemennya sendiri dan memutuskan untuk menemui pria itu di kantornya lebih dulu.
Shena sudah bersusah payah menata hatinya yang berantakan. Namun, Zoe begitu mudahnya menemukan perempuan lain tanpa memikirkan perasaannya. Seharusnya Shena sudah tahu karena itu terjadi berulang kali, tapi anehnya ia selalu dikejutkan dengan apa pun yang dilakukan oleh Zoe.
"Aku mohon kamu jangan begini, kenapa gak ngabarin aku?" tanya Zoe malam itu melalui telepon.
"Buat apa? Bukankah semua di antara kita udah clear, ya? Apa lagi?" sahut Shena dengan suaranya yang serak dan pelan. Menangis semalaman membuatnya kehabisan energi dan tenggorokannya terasa sakit juga perih.
"Apa lagi?" ucap Zoe mengulang pertanyaan Shena. "Kamu lupa? Aku bilang mari kita coba, apa kamu udah gak mau? Aku udah kangen banget sama kamu."
Begitulah si badjingan berucap. Shena yang keadaannya masih rapuh, seakan mendapatkan secercah harapan saat merasa hidupnya berada di ujung kehancuran.
"Jadi, sekarang dia gak ada di kantor?" tanya Shena pelan. Kriss pun mengiyakan.
"Emangnya sebelum ke sini kamu gak ngabarin dia dulu gitu?" Kriss balik bertanya.
"Enggak. Mungkin emang akunya datang di hari yang gak tepat." Ujar Shena pelan disertai senyum samar.
Kriss menggaruk kepalanya, bingung harus melakukan apa.
Shena berjalan mendekati meja kerja Zoe, ia meletakkan bingkisan berupa buah tangan yang dimaksudkan untuk Zoe.
"Aku bawa kue, kalau kamu mau silakan makan. Kalau nggak mau, buang aja!"
"Eh, masa dibuang. Kamu bawa ini niatnya buat Zoe 'kan?" Kriss mengibas-ngibaskan tangannya, merasa tidak enak sekaligus kaget dengan perkataan Shena.
"Mau apa enggak?" tawar Shena sekali lagi. Mukanya mulai datar, hampir tak bersahabat. Gadis itu sudah tak tahan ingin segera pergi meninggalkan ruangan ini.
Dalam lubuk hati Kriss yang paling dalam jelas ia mau, karena sepertinya kue yang dibelikan Shena enak dan kebetulan memang Kriss sedang lapar.
"Makasih banyak ya, Na," ujar Kriss mengembangkan senyumnya.
"Aku balik dulu, lagi banyak kerjaan. Sampai ketemu lagi." Shena melambaikan tangannya kepada Kriss sebelum gadis itu pergi dari lobi kantor Mafarulls Group.
"Dadah Shena cantik." Kriss membalas lambaian tangan Shena seraya tersenyum lebar. Saat punggung gadis itu mulai menjauh Kriss menghela napas berat, ia melihat bingkisan yang diberikan Shena dengan raut sedih.
...*...
...*...
"Kamu ngapain di sini?" Ghea Mafarulls memasuki ruangan bermaksud untuk menemui Zoe, namun ia malah menemukan Kriss di sini seorang diri.
"Itu ... tadi ada Shena, sahabatnya si Zoe. Awalnya dia pengen ketemu Zoe tapi tuh anak lagi pergi deketin perempuan, makanya aku deh yang nemuin dia," ujar Kriss menjelaskan.
Ghea mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ooh, calon isteri si Zoe," gumamnya.
"Ca-calon isteri?" tanya Kriss bingung.
Ghea meangangkat bahunya acuh. "Di keluarga kami itu udah jadi rahasia umum lagi, Kriss. Mamanya Zoe udah targetin Shena buat jadi menantu keluarga Mafarulls. Kalau udah orang tua yang ngomong sih aku rasa udah fix sih. Meskipun aku ragu sama Zoe, kita tahu tuh anak gak pernah benar-benar mau berkomitmen. Apalagi pernikahan," kata Ghea.
Kriss mendesaah. "Wah, kacau sih kalau udah menyangkut keluarga. Kita gak bakal bisa milih yang lain lagi kalau semuanya udah pada setuju. Emang sih, meskipun latar belakang keluarag Shena beda dari keluarga Mafarulls, tapi Shena perempuan baik-baik. Selain cantik, dia juga pinter. Pemikirannya juga setahuku nyambung banget sama Mama Zoe dan keluarga lainnya. Kalaupun sampai Zoe berhasil nikahin pilihannya sendiri, aku yakin tuh perempuan bakal dapat banyak tekanan yang luar biasa."
Selama Ghea dan Kriss berghibah ria. Zoe tengah berbahagia lantaran kali ini dapat sambutan yang jauh lebih baik dari Franda. Tidak seperti sebelumnya yang selalu ketus, gadis itu mengembangkan senyum saat pertama kali melihat kehadiran Zoe, bahkan ia menawarkan untuk mentraktir Zoe kopi di lain waktu.
Zoe datang dengan membawakan satu kotak kue kesukaannya. Entah kenapa saat di perjalanan ia teringat pada Franda dan segera membeli kue tersebut untuk gadis incarannya itu.
Laki-laki itu sendiri benar-benar tidak tahu kenapa ia seringkali memikirkan Franda akhir-akhir ini. Entahlah, sampai saat ini saja senyum Zoe masih belum juga surut.
Zoe segera kembali ke kantornya dengan perasaan yang ringan, dunianya terlihat lebih meneyenangkan dan lebih bersemangat. Selain karena memang kerjaannya belum selesai, ia juga harus pamer pada Kriss, ini sebuh kemajuan juga pembuktian bahwa pesonanya masih cukup kuat untuk menaklukan hati wanita, tak terkecuali Franda.
Zoe memasuki ruangan dan mengerutkan dahi saat melihat Kriss juga Ghea sedang makan kue dari brand yang dikenalnya.
"Eh, ini 'kan kue kesukaan aku. Tadi aku juga beli." Kata Zoe sambil menunjuk kotak kue tersebut.
Kriss dan Ghea mengangkat kepalanya ke atas untuk melihat kedatangan Zoe. "Udah beres urusannya," gumam Kriss dengan mulut yang penuh. Zoe mengangguk singkat dan duduk di sebelah Kriss.
"Mau?" tawar Ghea.
"Tumben baik." Balas Zoe seraya mencomot kue.
"Ya iyalah, orang tadinya ini juga punya kamu, Zoe!" seru Ghea terus terang yang langsung membuat Kriss tersedak. Ia mengambil air minum di atas meja dan meneguknya perlahan.
"Punyaku? Maksudnya gimana?" tanya Zoe tak paham.
"Ini mulutmu bocor bener dah!" Gerutu Kriss kesal. Bisa-bisanya Ghea malah membocorkan informasi yang sebetulnya ingin ia sembunyikan.
Ghea tak menghiraukan Kriss, ia lebih fokus pada Zoe yang menunggu jawaban. "Shena tadi ke sini, dia yang bawa kue ini. Pengen ketemu sama kamu tapi kamunya malah nggak ada, untung ada Kriss. Jadi kuenya dikasih buat Kriss deh."
"Shena ke sini??? Kok dia gak bilang sama aku ya??" pekik Zoe kaget.
"Mau ngasih kejutan mungkin, kamunya malah gak ada," timpal Kriss.
Zoe mendesaah berat, ia merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Ia langsung mengirim pesan pada Shena untuk menanyakan posisi gadis itu saat ini. Mungkin saja Zoe masih sempat mengejarnya.
"Arghh, sial! Kenapa timing-nya gak pas sih. Seharusnya kalau hari ini ketemu kita pasti langsung baikan." Zoe menendang kursi di hadapannya, ia begitu kesal dengan keadaan.
"Mukanya Shena juga langsung berubah tegang pas aku bilang kamu pergi karena lagi deketin perempuan baru," ujar Kriss yang membuat air muka Zoe seketika memucat.
"Kamu bilang begitu ke dia, Kriss????" teriak Zoe tidak percaya.
Ya Tuhan Kriss. Lagi-lagi pria itu selalu sukses memancing emosi Zoe ke permukaan.
Kriss brhengsek! Shena pasti semakin kecewa dan berpikir ribuan kali untuk mau menemuinya lagi.
saking dalamnya dia menoreh kan luka di hatimu /Grievance/
makanya jangan nyepelein wanita klo lagi cemburu 🤣🤣🤣🤣
keren nih cowok kere 🤣🤣🤣
weh orang mah bawa ke hotel ini di mobil 🤣🤣🤣🤣
kamu lupa klo shena yg skrg bukan Shena yg dlu lagi yg bisa kamu permainkan, ya wlopun perasaan kamu ke Shena skrg emg sungguhan.tapi buat Shena susah buat percaya lagi sama kamu zoe.dan kita liat sejauh mana perjuangan kamu buat dapetin lagi hati Shena.
hadeuh ko tamat sih teh 🙄
lanjut ke part 2 ya🙄🤔
kuy lah mrapat ke part 2 nya 🤣🏃🏃🏃
it's too late Zoe!!
eh bner teu sih bhsa inggris na🙄 sieun salahan ke gagal keren atuh 🤭🤣🤣🤣🤣
maklum sarapan na sampeu teh Anna lain roti lapis kotak"..🤣🤣🤣
Harry klo Shena ga maw sama kamu ,yuk maen sini yuk ke krawang aku ikhlas ry jadi tempat mu bersandar apalagi jdi tmen bobo kamu ry,ikhlas bgt aku 😳😳😳🤭🤭🤣🤣🤣🤣🏃🏃🏃
paksu ga baca novel ini kan 👀👀
🤣🤣🤣🏃🏃🏃