- Cinta Yang Menyembuhkan Trauma-
Damarlangit hanya salah satu dari orang yang memiliki trauma dalam hidupnya. Bahkan trauma itu dirasakan sejak usia Damar 10 tahun hingga saat ini, dan sampai dia berhasil menjadi super model, trauma itu masih Damar rasakan.
Hingga pada suatu hari, seorang wanita penghibur datang untuk menyembuhkan lukanya, namanya, Arundaya. Dipertemukan dengan tidak sengaja, membuat mereka mengenal satu sama lain, hingga kedekatan mereka jauh dari hubungan hanya seorang teman. Hingga hubungan gelap mereka jalin karena Ibu Damar tidak menginginkan Damar dekat dengan wanita seperti Arundaya yang dia pikir akan merusak karir Damar.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Dapatkah mereka menjalin hubungan saat Ibu Damar melarangnya, dan apakah trauma Damar akan sembuh saat bertemu dengan Arundaya yang ingin membantu Damar untuk sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noeryanthi Kusnadii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
"Kau datang juga, Nak," tutur Sarita dengan lemah lembut saat melihat Damar baru keluar dari mobilnya. Kalau ada maunya dia pasti memanggil Damar dengan panggilan Nak, seperti yang sudah dia lakukan tidak pernah membuat Damar terluka.
Sarita tanpa rasa berdosa mencium pipi Damar yang hanya diam dengan perlakuan ibunya. Dia tidak bisa melawan apa yang ibunya mau, itu yang ada dalam pikirannya.
"Apa kabar, Tuan Brata," sapa Sarita. Senyumnya mengembang, dia merasa jika Damar akan melakukan kemauannya kali ini.
"Maaf mengganggu waktu sibuk Papa. Aku juga hanya sebentar, aku ada pekerjaan setelah ini." Tanpa peduli sapaan Sarita pada Brata, Damar memotong ucapan ibunya.
"Tidak apa-apa, Nak, masuklah," jawab Brata.
Damar kemudian duduk di ruang kerja Brata di sampingnya ada Sarita yang sudah siap dengan kontrak yang harus Damar tanda tangani.
"Ibumi sudah menceritakan, jika kamu menerima kontrak film ini. Apa benar itu?" tanya Brata pada Damar yang hanya diam, dia ingin segera menyelesaikan urusannya sekarang.
Dadanya sudah terasa sesak sejak bertemu dengan ibunya, tapi dia berusaha untuk tenang. Apalagi ada Brata di hadapannya, dia akan sangat khawatir saat tau Damar sedang tidak baik-baik saja.
"Berikan kontrak itu, aku akan menandatanginya di sini, tapi tentang syarat yang aku ucapkan Ibu harus menurutinya," jelas Damar.
"Tapi jika hubunganmu diketahui media, aku tidak akan tinggal diam," jawab Sarita.
"Kalau begitu aku tidak ingin menandatanganu kontrak ini." Damar meletakkan alat tulis yang sudah dia pegang.
"Baiklah, aku akan menurutimu. Cepat tanda tangani ini, Ibu akan sangat senang saat kau menuruti kemauan Ibu." Sarita mengambil alat tulis itu dan memberikannya pada Damar.
Damar tanpa berpikir lagi, dia menandatangani surat kontrak itu di hadapan Brata yang masih diam dengan apa yang putranya lakukan. Walau sebelumnya Damar dengan jelas menolak tawaran film, kali ini dia tidak bisa menolak tawaran ibunya, dia tidak mau Sarita terus meneror Rio ataupun mengganggu Arundaya.
"Aku sudah melakukan permintaan Ibu, tapi asal Ibu tau, upah yang aku terima, mulai saat ini Papa yang akan terima, jika Ibu berharap lebih dari jatah yang aku berikan, itu tidak mungkin, karena Ibu selalu meminta pada Papa saat aku sudah memberikan kewajibanku pada Ibu," jelas Damar setelah dia menandatangani surat kontrak itu.
"Kau--"
"Aku sudah selesai, sekarang giliran Papa yang menjelaskan apa yang aku katakan pada Ibu, dan aku berharap, Ibu tidak akan melakukan ini lagi," ujar Damar memotong ucapan Sarita yang senyumnya tampak luntur setelah mendengarkan perkataan Damar.
"Kalau begitu maumu, jangan salahkan Ibu untuk mengusik wanita yang bersamamu." Sarita coba mengancam dengan apa yang Damar katakan, karena tujuannya memang tentang upah yang begitu besar dari syuting film.
"Anda tidak bisa berlaku seperti itu, karena aku tidak akan membiark uang dari Damar masuk ke kantong Anda," sahut Brata.
"Coba saja kalau dia bisa, dia tidak akan bisa melakukan itu, benar begitu?" Sarita memegang lengan Damar dan menatap tajam ke arah putranya.
"Hutang budi akan kau pikul sampai mati, kau tidak bisa membiarkanku mati sendiri, bukan begitu, Nak?" Sorot mata yang selalu membuat Damar tertunduk saat melihatnya.
"Aku tetap akan melakukan kewajibanku, tapi saat Ibu meminta lebih, itu tidak akan bisa, karena Papa tidak akan memberikan Ibu. Terserah Ibu mau bersikap apa, jika Ibu tetap keras kepala, bukankah lebih baik aku konfirmasikan hubunganku dengan wanita itu." Dengan keberanian yang dia punya, Damar coba menatap ibunya yang menuntutkan putranya untuk melakukan apa yang dia mau.
Damar memajamkan mata saat rasa sesak sudah mulai menguasai dirinya. Melihat hal itu, Brata segera berdiri dan menghampiri Damar yang dicegah untuk pergi oleh ibunya.
"Pergilah, bukankah kau ada pekerjaan setelah ini." Brata melepaskan dengan paksa tangan Sarita dari lengan Damar.
"Aku sedang bicara pada putraku. Jangan lancang kau!" Teriak Sarita pada Brata.
"Jika Damar membolehkannya, aku sudah melaporkan perlakuanmu padanya, sayangnya putramu ini terlalu peduli pada ibunya, yang hanya menjadikan dirinya bonekanya saja." Brata sudah cukup muak, tapi Damar tidak mau melihat ibunya mendekam di penjara karena sikapnya pada Damar.
"Coba laporkan saja. Aku tidak takut, tapi jangan salahkan diriku jika tidak akan bertemu dengannya, masih untung aku ingat padanya, saat dia tidak pernah berbakti padaku," jawab Sarita banyak bicara.
Brata tersenyum tipis mendengar itu keluar dari mulut Sarita tentang berbakti, lalu selama ini apa yang Damar lakukan bukan baktinya pada sang Ibu. "Aku merasa lucu saat kau mengatakan itu sekarang, aku pikir kau sudah tidak waras karena kau terobesi dengan kekayaan, melupakan jika semua yang kau nikmati sekarang ini dari jerih keras putramu," gertak Brata.
"Papa, sudahlah, aku pergi," sahut Damar. Dia memilih pergi daripada tumbang di hadapan ibunya sekarang.
"Minta Bibi untuk mengambilkan oksigen, jangan pergi saat kau kurang sehat," jelas Brata. Dengan sangat jelas, Damar sedang tidak baik-baik saja, tapi Sarita tidak peduli akan hal itu.
Damar hanya tersenyum dan berjalan keluar sambil memegangi perutnya. Dia langsung masuk mobil, tanpa bertanya oksigen pada asisten rumah Brata. Dia hanya ingin segera pergi. "Mas, bisa kita pergi sekarang?" tanya Damar yang sudah bersandar di bangku penumpang. Cahyo yang menjadi sopirnya kali ini.
"Ada apa? Apa terasa sakit?" tanya Rio yang mengikuti Damar masuk mobil.
Tanpa menjawab, Damar mencari ponsel dengan tangan yang bergetar. Nafasnya terasa berat, namun dia tidak mengurungkan niatnya untuk menghubungi seseorang.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Damar dengan menahan rasa tidak nyaman.
"Aku baru akan pulang, ada apa, Sayang?" tanya seorang wanita yang tak lain Arundaya.
"Tunggu aku, jangan pulang dulu. Aku akan ke tempatmu setelah ini, aku sedang di jalan ... aku ...," ucapan Damar terhenti saat dia coba untuk mengambil nafas panjang.
"Apa kau membawa obatmu?" Suara Rio terdengar jelas saat sambungan telepon itu masih terhubung.
"Apa kamu sedang kambuh? Sayang?" Arundaya coba memanggil Damar yang tidak menjawabnya. Dia hanya dengar suara Rio yang sedang bicara.
Damar sendiri hanya terdiam sambil bersandar. Merasakan serangan panik itu datang karena ibunya.
"Damar ... kau bisa mendengarku? Damar?" Terdengar kepanikan saat Damar tidak menyaut panggilan Rio bahkan Arundaya yang masih di sambungan telepon, Damar belum sempat mematikan sambungan teleponya.
"Ke mana obatmu? ****!!" gerutu Rio saat tidak menemukan obat yang dia cari.
"Aku ... tidak apa-apa." Setelahnya sambungan teleponya Damar matikan. Di seberang sambungannya, Arundaya menjadi panik mendengar kondisi Damar mengalami serangan panik.