"Akan aku perjuangkan cintaku, sampai aku bisa memilikimu."
~Abimanyu Ardianta~
"Akibat sebuah pengkhianatan, membuatku enggan menjalin hubungan dengan seorang pria."
~Feriska Nandhita~
Simak kisah selengkapnya »
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Erlangga masih setia menemani sang ibu yang terbaring lemah. Yang saat ini dia butuhkan adalah sebuah sandaran, di mana dia ingin meluapkan segala beban yang ditanggungnya. Namun, semua itu hanyalah angan semata sebab tak ada lagi yang dia miliki selain sang ibu.
Sebuah gerakan kecil pada jari sang ibu, membuat Erlangga seketika menggenggam tangan beliau.
"Ibu, ini Erlangga," ucap Erlangga dengan lirih.
"Kenapa ibu bisa ada di sini?" tanya ibu Erlangga dengan suara yang sedikit terbata-bata.
"Kondisi ibu tiba-tiba drop, makanya Erlangga bawa ke sini," tutur Erlangga.
Untuk sejenak suasana tampak hening, hingga ucapan sang ibu membuat Erlangga terpaku. "Ibu ingin bertemu Riska, Ngga. Ibu ingin berada di dekat Riska untuk terakhir kalinya.
"Ibu bicara apa? Ibu pasti sembuh, kita akan berkumpul bersama lagi dan ibu bisa bertemu Riska kapan pun," ujar Erlangga.
"Manusia hanya bisa berencana, selebihnya Tuhan yang menentukan. Selagi ibu masih hidup, ibu ingin bertemu dengan Riska," terang ibu Erlangga.
Ibu Erlangga menggenggam tangan sang putra, berharap permintaannya dikabulkan. Sementara Erlangga menatap ibunya dengan tatapan sendu, bukan tak ingin menuruti permintaan sang ibu. Namun, dia tahu jika saat ini Feriska telah memiliki pengganti dirinya. Dan dia tak ingin ada salah paham.
"Nanti Erlangga coba menghubungi Riska, semoga saja dia tidak sibuk." Hanya itu yang bisa Erlangga katakan pada sang ibu.
**
Erlangga keluar dari ruangan ibunya dirawat, dia berjalan dengan langkah gontai. Tak tahu apa yang harus dia lakukan, tapi di sisi lain dia sangat mengkhawatirkan kondisi sang ibu.
Dia berjalan menuju sebuah kafe yang tak jauh dari rumah sakit, saat ini yang dia butuhkan hanya menenangkan pikiran yang sedang kalut.
Setelah pikirannya kembali tenang, Erlangga memutuskan untuk menemui Feriska secara langsung. Semata dia lakukan demi kebaikan ibunya.
Erlangga kembali ke rumah sakit setelah membayar minumannya. Dia tak bisa berlama-lama meninggalkan sang ibu sendirian di ruang perawatan.
Dengan pelan dia membuka pintu ruangan, agar tak mengganggu istirahat sang ibu. Lantas dia menarik kursi yang ada di samping brankar. Menatap dalam wajah pucat ibunya, kemudian menggenggam tangannya.
"Maafin aku, Bu. Aku belum bisa berbakti pada ibu, belum bisa menjadi anak kebanggaan untuk ibu. Aku malah banyak menyusahkan sampai kondisi ibu seperti ini," ucap Erlangga dengan pelan.
......................
Sementara di tempat lain, yakni sebuah bakery. Feriska sedang makan siang bersama Clarissa, setelah beberapa waktu tak bertemu.
"Jadi, gimana jawaban kamu, Ris?" tanya Clarissa.
"Jawaban apa?" Bukannya menjawab, Feriska justru balik bertanya.
Clarissa menepuk keningnya melihat sang sahabat yang tiba-tiba menjadi lemot. Ini pertama kalinya dia melihat Feriska tak paham arah pembicaraan.
"Ya jawaban kamu soal lamaran Abimanyu, dong," jelas Clarissa.
Feriska langsung tersedak setelah mendengar penjelasan Clarissa. Dia segera meminum air putih yang ada di dekatnya.
"Aku belum tahu, Sa. Jujur saja, aku takut salah dalam melangkah. Aku nggak mau kalau kejadian dulu terulang lagi," ungkap Feriska.
Clarissa menyentuh tangan Feriska dan berkata, "Sekarang aku tanya sama kamu. Selama ini apa yang kamu rasakan saat bersama Abimanyu? Dan juga bagaimana sikap Abimanyu selama kamu kenal dia?"
Feriska terdiam sejenak mencerna setiap pertanyaan sang sahabat. Ya, selama dekat dengan Abimanyu, dia merasakan kenyamanan. Dan selama itu pula, dia belum pernah mendapati sikap tak baik dari seorang Abimanyu.
"Pikirkan baik-baik, Ris! Jangan sampai, saat Abimanyu telah menyerah karena perjuangannya yang tak membuahkan hasil, kamu justru baru menyadari ketika dia sudah pergi dari kehidupanmu," imbuh Clarissa.
***
Sepulang dari bakery, ucapan sang sahabat kembali tergiang di telinga Feriska. Mungkin sudah saatnya dia membuka lembaran baru dengan orang baru yang bisa menghargainya.
Akhirnya, Feriska memutuskan untuk mengajak Abimanyu bertemu. Dia akan memberi jawaban sebelum sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Biarlah cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu, yang dia harapkan saat ini untuk ke depannya, bisa hidup bahagia dengan pasangan yang tepat.
Abi, aku ingin bertemu besok siang. Apa kamu bisa? Isi pesan yang dikirim Feriska pada Abimanyu.
Ting!
Bisa, jam berapa? Balasan dari Abimanyu.
Jam 3, aku tunggu di tempat biasa.
Setelah mengirim balasan pesan Abimanyu, Feriska bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri karena waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.
udh mmpir nih....
d tnggu up'ny y....smngttt....