Seorang gadis cantik bernama Jovanka, harus menjalani kepahitan hidup semenjak orang tuanya meninggal dalam sebuah insiden tragis, penderitaan dan juga siksaan harus ia hadapi selama bertahun-tahun. Hingga pada suatu ketika, ada seseorang yang diam-diam membantunya tanpa sepengetahuan Jovanka. Dan orang yang membantunya itu ternyata bukanlah orang sembarangan, ia adalah putra dari pemilik perusahaan besar di negara itu.
Pria itu bukan hanya membantu dan menolong Jovanka, ia juga menghukum semua orang yang telah menyiksa gadis itu, hingga Jovanka pun mengetahui semua kejadian yang secara tiba-tiba itu adalah ulah dari James Walker.
Hingga Jovanka diajak tinggal di Mansion megahnya bersama keluarganya, dan tidak hanya itu, tujuannya mengajak Jovanka tinggal di Mansion, adalah untuk mempersuntingnya. Hingga saat pernikahan itu di gelar, lagi-lagi Jovanka harus mengalami hal tragis, akankah penderitaannya berakhir?
Ikuti terus kisah dari " Jovanka "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sri tresna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan Cia
Dua puluh menit Aleta dan Cia menunggu Jovanka, begitu pun dengan James yang belum melihat Jovanka kembali.
" Aleta, kenapa kaka lama sekali, kaka pergi kmana?" Tanya Cia.
" Mungkin dia pergi ke toilet." Jawab Aleta.
" Tapi ini sudah lama sekali, aku akan menyusulnya, tunggu sebentar." Kata Cia.
" Baiklah."
Dan Cia pun pergi meninggalkan Aleta dan mencari Jovanka ke toilet.
Cia mengetuk pintu toilet, namun tidak ada sahutan sama sekali, dan dia mencoba lagi.
" Tok tok tok... Ka, Ka Jovanka, kaka di dalam?."
" Aku coba masuk saja." Gumam Cia, lalu memutar knop pintu toilet.
Ceklek..
" Tidak ada siapa-siapa, apa mungkin kakak di ruangan khusus? aku akan mencarinya disana saja."
Cia lalu pergi ke ruangan Khusus, yang ada di lantai tiga, ruangan yang memang di sediakan oleh pihak pemilik gedung untuk tamu istimewanya.
Cia membuka pintu ruangan itu, namun ruangan itu tampak kosong, kepanikan mulai menyerangnya.
" Ka Jovanka dimana? aku harus segera memberitau Ka James."
Cia berlari kecil kembali ke lantai dua untuk menemui James.
" Kak, aku ingin bicara sebentar." Kata Cia sambil sedikit menarik tangan kakaknya itu.
" Silahkan nikmati pestanya, aku permisi dulu." Kata James pamit kepada rekan-rekan bisnisnya yang sedang berbincang dengannya.
Rayen yang melihat kapanikan di wajah Cia, langsung mengikuti mereka berdua.
" Ada apa Cia? " Tanya James.
" Cia, kenapa kau terlihat panik, apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Rayen yang tiba-tiba datang.
" Kalian tolong cari ka Jovanka, tadi ka Jovanka pergi karna aku dan Aleta menggodanya, aku dan Aleta sudah menunggunya selama dua puluh menit, tapi dia belum kembali, lalu aku mencarinya ke toilet dan ke ruangan khusus, tapi aku juga tidak menemukannya. " Cia menjelaskan dengan nada paniknya.
" Rayen, bantu aku mencari istriku." Kata James dengan wajah seriusnya.
Rayen hanya membalas dengan anggukkan.
" Cia, jangan beritau Momy dan Dady, aku dan Rayen akan menemukan kaka iparmua." Kata James.
" Baik ka."
Lalu James dan Rayen pergi mencari Jovanka.
Sedangkan Cia kembali menemui Aleta.
" Kau dari mana saja, kenapa lama sekali, dimana Jovanka, apa kau sudah menemukannya?" Tanya Aleta.
Cia menggeleng, dan membuat Aleta panik.
" Kau tidak menemukan Jovanka? lalu dimana dan kemana dia, aku yakin, Jovanka tidak mungkin meninggalkan gedung."
" Aku juga tidak tau, ka James dan Ka Rayen sedang mencari kakak." Kata Cia lemas.
" Semoga Jovanka hanya tersesat di gedung ini." Kata Aleta yang mencoba menutupi kepanikannya.
Aleta mengambil ponselnya dari dalam tas, dan menghubungi Rayen.
" Halo ka, bagaiman, apa kalian sudah menemukan Jovanka?" Tanya Aleta pada Rayen di sebrang telpon.
" Belum, kami sudah mencarinya ke sekitar gedung, tapi kami belum menemukannya."
" Apa aku dan Cia boleh ikut membantu mencari Jovanka?" Tanya Aleta.
" Tidak perlu, kalian harus tetap berada disana, jika nanti Paman dan Bibi menanyakan James dan Jovanka, kau bilang saja mereka sedang ke hotel."
" Baiklah, tapi kalo ayah mencari kaka aku harus menjawab apa?"
" Bilang, aku ada urusan sebentar, kau hubungi paman Yohan untuk menjemput kalian."
" Baiklah kak, aku tutup telponnya."
Aleta segera mengakhiri panggilannya.
" Bagaimana Aleta, apa mereka sudah menemukan kaka ipar?" Tanya Cia.
Aleta menggeleng pelan.
" Kalo begitu tunggu apa lagi, ayo kita juga mencari kaka." Kata Cia sambil menarik tangan Aleta.
" Tidak Cia, kaka melarang kita untuk ikut mencari kaka ipar, kita harus tetap disini dan bersandiwara di depan Momy dan Dadymu."
" Apa?, kenapa kita harus bersandiwara, bukankah mereka harus tau kalo kaka ipar hilang?" Tanya Cia dengan suara yang agak tinggi.
" Ssssstt pelankan suaramu, nanti orang-orang mendengarnya."Kata Aleta sambil menempelken telunjuknya di bibirnya.
" Kita akan memberitau Momy dan Dadymu, twpi tidak sekarang, kau lihat kan masih banyak para tamu."
" Baiklah." Kata Cia pasrah.
" Lalu sekarang apa yang akan kita lakukan." Tanya Cia.
" Tidak ada, kita hanya harus duduk tenang, menunggu kabar selanjutnya." Jawab Aleta.
" Duduk tenang? bagaimana bisa kita duduk tenqng, sementara kaka ipar belum di temukan, dan sebenarnya kemana ka Jovanka pergi, apa mungkin dia di culik?"
Cia dan Aleta saling menatap.
" Tapi siapa yang menculik Jovanka, tidak mungkin ada hubungannya dengan Uncle Alex, karna kata kaka, Tuan James sudah mengurus mereka."
" Cia, apa tuan James mempunyai musuh?" Tanya Aleta.
" Aku tidak tau Aleta, tapi ada seseorang yang pasti tidak senang dengan pernikahan ka James dan ka Jovanka."
" Siapa dia?" Tanya Aleta.
" Rosalie, wanita gila itu selalu mengejar-ngejar kakak ku, walaupun kakak ku sudah menolaknya, tapi dia tidak pernah berhenti untuk terus mendapatkan cinta kakak, aku curiga dengan wanita itu." Jawab Cia dengan sedikit emosi.
" Kalo begitu, kau harus segera hubungi kakakmu sebelum terlambat, mungkin saja kecurigaanmu itu benar, karna dari ceritamu, wanita itu sangat terobsesi untuk memiliki tuan James, kau tau, wanita seperti itu akan melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginannya."
Cia cepat-cepat mengambil ponselnya dari dalam tas kecilnya, lalu menghubungi James.
Tuuutt... tuuutttt.. tuuuttt...
" Ayolah kak, angkat telponnya." Kata Cia dengan sangat panik.
" Bagaimana Cia?" Tanya Aleta.
" Kaka tidak mengangkatnya."
" Cia, dimana James dan Jovanka? Mony dan Dady tidak melihat mereka dari tadi?" Tanya Momy Anne yang tiba-tiba menghampiri Cia dan Aleta.
" Emm, mereka.. ehm.." Cia tampak tak bisa menjawab pertanyaan Momy Anne.
" Mereka berdua ke hotel, tadi Jovanka sedikit kelelahan, jadi tuan James mengajak Jovanka ke hotel untuk beristirahat." Kata Aleta.
" Oh, yasudah kalian lanjutkan ngobrolnya, Momy mau memberitau Dady dulu." Kata Momy Anne, dan beranjak pergi.
Aleta dan Cia bisa bernafas lega setelah Momy Anne pergi.
" Syukurlah Aleta, kau bisa memberikan jawaban yang meyakinkan pada Momy." Ucap Cia.
" Cia, coba hubungi kakak mu lagi."
" Oh iya, aku sampai lupa."
Cia segera menghubungi nomor James.
"Tuuuutt.. tuuuuttt..Hallo Cia."
" Halo kak, bagaimana apakah Kaka sudah menemukan Kaka ipar?"
" Belum."
" Kak, aku curiga Rosalie ada hubungannya dengan hilangnya kaka ipar."
" Kenapa kau curiga padanya?"
" Kaka ini bagaimana, jelas-jelas wanita itu sangat terobsesi pada kaka, jelas dia tidak senang kaka menikahi wanita lain."
" Kau benar Cia, kaka akan ke tempat Rosalie sekarang juga."
" Baiklah, hati-hati ka James, cepat kabari aku jika kaka sudah menemukan kaka ipar."
" Ia, nanti kaka akan mengabarimu, dan ingat, kau jangan beritau Momy dan Dady tentang masalah ini, nanti kaka yang akan memberitau mereka."
" Baiklah ka, aku tutup dulu telponnya."
Tut.
" Kaka sedang menuju ke tempat perempuan itu, jika benar wanita itu yang menculik kaka ipar, aku akan membuat perhitungan dengannya."
" Aleta, ayo kita pulang, dimana Kakak mu?" Tanya Alison yang tiba-tiba datang.
" Tadi kakak bilang ada urusan sebentar dengan temannya."
" Kau sudah menghubungi Yohan?"
" Sudah Pah, Paman Yohan sudah menunggu di depan."
" Baiklah, Cia, Paman dan Aleta pulang dulu."
" Ia Paman, hati-hati."
" Jangan lupa kabari aku." Aleta berbisik di telinga Cia.
" Bye Cia." Kata Aleta sambil melambaikan tangannya.
" Bye.." Balas Cia melambaikan tangannya, sebagai pengantar kepergian Alison dan Aleta.