Menjadi anak yang dibedakan oleh ayah kandung sendiri memang sangat menyakitkan. Itulah yang terjadi pada Anisa, gadis cantik dan baik hati yang dibedakan dengan adiknya hanya karena pepatah kuno. Tak hanya itu, adiknya yang bernama Salsa sangat membencinya karena selalu dipuji tetangga karena rajin dan ramah.
Anisa yang selalu mendapatkan perlakuan berbeda pun hanya diam dan menerima apapun keputusan sang ayah. Hingga akhirnya, ketika seorang pengusaha kaya ingin melamarnya, lagi-lagi dia harus mengalah pada adiknya yang menyukai pria itu. Dia menggunakan cara berbeda agar pria itu mau menerima adiknya, yaitu menikahi pria sopir angkot yang menyukainya selama ini.
Namun, bagaimana jadinya jika ternyata sopir angkot itu adalah seorang CEO yang sedang menyamar? Dan apa yang terjadi saat Anisa melihat bahwa suami adiknya malah melakukan KDRT dan menjadikan Salsa pembantu di rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Adit menarik wanita separuh baya itu jauh dari kerumunan. Setelah menemukan tempat yang cocok untuk berbicara, dia pun melepaskan tangan wanita itu dengan wajah kesal.
"Mami ngapain sih pakai datang kemari? Terus ngapain juga Mami nemuin keluarga Anisa?" ucapnya sambil menghembuskan nafas kesal. Rupanya wanita separuh baya itu adalah ibunya Adit. Namanya adalah Livia, sedangkan ayahnya bernama Adam Wijaya.
"Maafin Mami, Dit, Mami cuma kepengen ketemu sama menantu Mami." Wanita itu menatap penuh harap. Terlihat mata yang sudah berkaca-kaca seakan menyiratkan kerinduan yang begitu dalam.
"Mami tahu dari mana kalau aku udah nikah?" Adit terkejut mengetahui hal ini. Apakah ini perbuatan sang nenek?
"Dari nenek, Dit. Mami kemarin ke rumah nenek dan dia udah cerita semuanya ke Mami. Jadi, alasan kamu menolak perjodohan itu karena Anisa? Waktu kamu pulang kerja, kamu nggak sengaja ngeliat dia nolongin nenek-nenek nyebrang jalan, kan? Kamu jatuh cinta sama dia sejak pandangan pertama dan nggak mau bilang sama kami?"
"Ya gimana Adit mau bilang kalau Mami menginginkan menantu yang selevel dengan keluarga kita. Mami mau menantu yang kaya dan juga berpendidikan tinggi. Tapi Mami lupa bahwa wanita sholehah bahkan lebih baik dari wanita kaya dan berpendidikan tinggi." Adit menatap ibunya dengan serius. Dia memang sangat kecewa dengan ibunya yang selalu menuntut pasangan yang selevel dan juga berpendidikan tinggi.
"Maafin Mami, Dit, Mami tau apa yang Mami lakukan sama kamu salah. Tapi, sekarang Mami sudah sadar dan akan merestui kalian. Pulang, Dit, Mami dan Papi minta maaf karena dulu pernah mengusir kamu. Ternyata, Sofia itu bukan wanita baik-baik. Dia hanya menginginkan harta kita saja. Untung saja Mami nggak sengaja ngedenger dia ngobrol sama temannya. Dia bilang kalau dia ingin menikah dengan kamu agar bisa menguasai harta kita. Jadi, sekarang, siapapun yang menjadi istri kamu, Mami akan mendukungnya, Dit. Mami janji." Livia memegang tangan Adit dan menatapnya dengan sungguh-sungguh. Terlihat jelas penyesalan dari sorot matanya.
"Ya udah, Mam, Adit maafin. Tapi, Adit belum bisa bawa Anisa sekarang. Adit harus menjelaskan padanya pelan-pelan. Adit cuma nggak mau Anisa menganggap Adit pembohong. Dia itu nggak pernah mementingkan harta."
"Iya, Sayang, Mami ngerti. Yang penting, setelah kamu menjelaskan semua sama dia, datanglah ke rumah dan kita akan membuat resepsi pernikahan mewah untuk kalian. Papi nggak bisa datang karena dia sedang ada pekerjaan di luar negeri."
"Iya, Ma, Adit ngerti. Sekarang, Adit harus menjauh dari Mami. Karena kalau sampai ada yang tahu, bisa gawat."
"Iya, Nak, pergilah."
Adit pun pergi meninggalkan Livia yang menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca. Dia pun menyeka sudut matanya dan kembali bergabung bersama istri rekan bisnis suaminya.
"Abang darimana? Ibu tadi siapa?" tanya Anisa begitu melihat kedatangan suaminya.
"Oh, dia itu pemilik usaha angkutan umum yang Abang tarik. Tadi cuma ngebahas hal penting," dusta Adit. Memang itulah alasan yang tepat agar mereka mempercayai mengapa dia mengenal wanita kaya itu.
"Oh, kirain penumpang langganan kamu. Soalnya kan nggak pantas wanita kaya kayak gitu naik angkot kamu.'
"Iya, Yah, bener. Oh ya, sebaiknya kita makan dulu yuk, soalnya tadi Anisa belum makan," ajak Adit. Memang, tadi Anisa tidak sempat makan karena terburu-buru. Dia hanya tidak ingin Anisa sakit gara-gara telat makan.
marai sutris 😵😵😵
astoge 🤧
malah nggak dapat , itung-itung an lah 🤭🤣
karya sungguh baik dan bisa memberikan pelajaran..
teruslah berkarya dan sehat selalu 😘😘