NovelToon NovelToon
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Misteri / Dunia Lain / Penyeberangan Dunia Lain / Barat / Tamat
Popularitas:923.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: R.D. Villam

Abad ke-24 Sebelum Masehi. Kerajaan Akkadia menguasai tanah Mesopotamia, dan untuk menahan serangan mereka seorang penyihir bangsa Elam dari tanah Persia menciptakan dinding ajaib di sepanjang Sungai Tigris.

Ramir, seorang pemuda yatim piatu berusia 15 tahun yang mampu masuk ke dalam mimpi orang lain, menyelamatkan seorang gadis berambut perak yang pingsan di tepi sungai. Peristiwa itu membuat Ramir terseret dalam peperangan yang tengah berlangsung di Akkadia, sekaligus membawanya memulai perjalanan untuk mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.D. Villam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 ~ Elang Gunung

Akkadia: Gerbang Sungai Tigris

Bab 29 ~ Elang Gunung

Karya R.D. Villam

 

---

 

Javad, sang raja Awan berjongkok di tepi sungai. Perhatiannya tertuju ke satu titik. Ia menengadah, matanya menatap jauh ke langit jernih di utara. Fares ikut memperhatikan awan putih tipis yang beriringan sambil bersandar di sebuah batu besar.

Awalnya Fares tak peduli pada apa yang dilakukan Javad. Ia lebih banyak mengawasi Naia yang sedang duduk termenung. Berjauhan, tak saling berbicara, ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing. Fares tak ada masalah dengan Javad, tetapi dengan Naia, Fares memang tidak ingin banyak bicara. Kelihatannya Naia juga tidak berminat.

Semua memang salah Fares, ia sadar. Dialah yang mendatangkan Rahzad—bagaimana ia bisa begitu bodoh?—sehingga menewaskan Habik dan tujuh prajurit Awan. Kesalahan fatal. Wajar jika Naia kecewa padanya, sebagaimana Fares pun kecewa pada dirinya sendiri. Atau mungkin ia terlalu berlebihan, menganggap Naia kecewa padanya. Bisa jadi Naia lebih kecewa pada Teeza, yang telah terbukti berkhianat pada mereka semua.

Namun bermuram durja bukan sifat Fares. Orang lain boleh kesal selama berhari-hari, tetapi ia selalu berusaha melupakannya dalam waktu cepat. Jika ia membuat kesalahan, ia yakin akan segera mendapat kesempatan memperbaikinya. Hidup berjalan terus. Perhatiannya kembali pada Javad. Fares coba menebak apa yang sedang dilihat lelaki itu, dan apa yang ditunggunya. Rasanya sudah cukup lama raja Awan itu duduk di sana. Tidak sepenuhnya diam. Javad bersiul beberapa kali. Siulannya tadi terdengar. Sepertinya ia sedang memanggil sesuatu.

Fares berdiri, kemudian berjalan mendekat. “Altrosmu?”

Javad menoleh. “Ya. Faruk. Sudah berhari-hari ia pergi, seharusnya ia datang sekarang.”

"Dia bisa mendengar siulanmu? Dari kejauhan?"

"Burung yang hebat, bukan?”

"Itu alasan kenapa sampai sekarang kita belum juga menyeberangi Gerbang?" Fares menatap ke timur, ke seberang sungai.

Pemandangan yang biasa saja sebenarnya: sungai yang mengalir jernih, dengan tepian yang dipenuhi batu dan pepohonan. Daratan di seberang tampak tidak berbeda dengan negeri yang Fares injak sekarang. Pegunungannya membentang dari utara ke selatan, tampak jelas. Tetapi satu hal penting adalah sungai ini tak dapat diseberangi, dan negeri seberang tersebut tak dapat mereka injak. Ada dinding tak terlihat di sepanjang sungai yang tak mungkin ditembus, dan hanya para pemegang kunci yang tahu bagaimana cara melewatinya. Naia dan Javad.

“Naia yang menentukan kapan kita harus menyeberang,” jawab Javad. “Aku hanya mengikutinya, kali ini."

Fares menggeleng khawatir. “Kemarin Davagni dan kawanannya berhasil membawa kita menyeberangi Akshak. Tetapi Rahzad dan pasukannya terus mencari. Tempat ini memang tersembunyi di balik bukit, tetapi Rahzad akan segera menemukannya.”

"Para prajuritku akan memberitahu jika pasukan Akkadia mendekat. Untuk sementara kita masih bisa tenang, sampai malam ini. Sebentar, itu dia Faruk datang.”

Javad berdiri dan bersiul. Fares memicingkan mata, menatap titik hitam yang bergerak di angkasa menembus awan. Semakin lama titik itu semakin besar hingga menunjukkan wujud aslinya. Faruk mengembangkan sayapnya, mengepak sekali, kemudian meluncur turun dengan kecepatan tinggi. Javad mengangkat tangan kiri hingga sejajar wajahnya.

Tak sampai sedetik, altros itu datang dan bertengger di sana. Peliharaan dan majikan bersitatap, seolah beradu siapa yang paling tajam.

Javad tersenyum sambil membelai kepala elangnya. "Kelihatannya kau lapar. Kau boleh mencari tikus atau ular. Tetapi sebelumnya, ceritakan apa yang kau lihat."

Fares menatap bingung. "Dia bisa bercerita?"

"Bisa." Javad mendekatkan si altros ke wajahnya, lalu menatapnya, sampai beberapa lama. Begitukah cara Javad berkomunikasi dengan Faruk? Melalui matanya?

Ia kemudian mengangguk. "Kerja yang bagus, Faruk. Kau boleh berburu lagi sekarang."

Javad mengangkat tangan kirinya. Faruk mengembangkan sayap. Dengan sekali kepak burung itu mengangkasa. Satu kepakan lagi dan ia meluncur jauh ke padang rumput.

"Jadi?" tanya Fares tak sabar.

"Ada kabar baru, Javad?" Suara lain terdengar dari belakang.

Naia tampaknya sudah berdiri di sana cukup lama. Fares memandangi gadis itu, berusaha membaca suasana hatinya. Namun tak ada ekspresi di wajah Naia.

"Kabar buruk, dan kabar baik," jawab Javad.

"Kabar buruk dulu."

Javad menggeram. “Prajurit Akkadia berhasil menemukan orang-orangku yang tersebar di utara, dan membunuh semuanya ...”

"Aku … ikut menyesal. Berarti ... kita akan kalah dari Rahzad, untuk mendapatkan pemegang kunci yang asli?" tanya Naia.

"Belum. Adikku berhasil selamat dari sergapan musuh. Dia tetap berada paling depan dalam perlombaan ini. Itu kabar baiknya."

"Adikmu? Rifa?" Fares tercengang. "Kau membiarkan adikmu pergi menembus wilayah musuh yang berbahaya sampai ke utara?"

"Aku pun takut, tetapi tak bisa menahannya. Kau tahu Rifa. Selalu memaksakan kehendak, tak peduli ucapanku. Dia ingin seperti ..."

Javad tak melanjutkan ucapannya, tetapi Fares tahu siapa yang dimaksud. Teeza. Rifa ingin menjadi prajurit wanita yang hebat seperti Teeza. Dalam hal berpakaian, Rifa sudah sangat mirip—tak pernah ragu mengenakan pelindung dada yang tebal dan berat. Selain itu Rifa juga punya modal fisik yang kuat, dan hampir sejangkung Teeza. Ia pun terampil menggunakan tombak dan belati. Rifa benar-benar Teeza versi timur, walau masih kalah jauh dalam hal memanah. Ironisnya, Teeza sudah berkhianat sekarang. Fares melirik Naia. Ia tahu kenapa Javad tidak menyebutkan nama Teeza. Raja Awan itu cukup berhati-hati.

"Rifa baik-baik saja?" Naia bertanya.

"Ia mengalami luka parah di kaki. Tetapi ..." Sorot mata Javad bersinar cemerlang. "Ia sudah sembuh total sekarang."

"Begitu cepat?" Naia tampak tertarik.

"Ia bertemu seorang penyembuh. Bocah lima belas tahun dengan bakat luar biasa." Javad tersenyum lebar. "Yang menurut Rifa, hanya mungkin dimiliki para tetua penyihir di Elam."

Naia terperanjat. "Menurutmu bocah ini adalah ..."

"Ahli waris kunci yang asli? Keturunan dari sang pencipta dinding?” Javad menyeringai. “Menurut ayahku—ayahmu juga pasti pernah menyebutkan ini—kemampuan penyembuh adalah salah satu ciri yang mungkin dimiliki oleh sang ahli waris kunci. Jadi mungkin benar, mungkin juga tidak. Kurasa kita harus mendapatkan bocah ini, Naia. Mungkin kita beruntung.”

Fares teringat cerita almarhum ayahnya. Dinding dan Gerbang Sungai Tigris diciptakan sekitar tiga puluh tahun yang lampau untuk melindungi negeri Elam dari kemungkinan serangan pasukan Akkadia. Sebenarnya tak ada orang yang tahu dengan pasti bagaimana caranya dinding itu terbentuk. Yang jelas suatu hari semua orang terkejut ketika menyadari dinding ajaib tiba-tiba telah berdiri di sepanjang Sungai Tigris dan mereka tak bisa menyeberanginya lagi.

Sebagian orang, terutama para pedagang, meminta para penyihir Elam untuk menghancurkan dinding itu, karena mereka tak percaya Akkadia akan benar-benar menyerang. Ternyata para penyihir itu satu per satu menyangkal bahwa merekalah yang telah menciptakan dinding, karenanya mereka juga tak mampu menghancurkannya. Namun mereka mengakui, dinding itu hanya mungkin dibangun oleh seorang penyihir Elam berkemampuan tinggi.

Tahun demi tahun berlalu, dan dinding tak terlihat itu berdiri tegar tak terusik. Baru belakangan diketahui bahwa Raja Kirvash dari Awan—ayah Javad—dan Raja Talbrim dari Ebla—ayah Naia—ternyata memegang kunci untuk menembus gerbang. Itulah saat ketika Naia membawa rakyatnya dari barat nekat menyeberangi wilayah Akkadia dan masuk ke negeri Elam di timur, setahun silam. Tak ada negeri di barat yang berani memberi perlindungan pada mereka, karena mereka takut dimusuhi oleh Akkadia. Itulah sebabnya Naia pergi ke Awan.

Kerajaan-kerajaan Elam lain di luar Awan, yang mulai ketakutan akan diserang oleh Akkadia, kemudian tunduk kepada Awan, begitu tahu bahwa Javad kini memegang kunci Gerbang Sungai Tigris. Namun di kalangan terbatas, Javad dan Naia berkata bahwa ayah mereka dulu hanya menerima kunci dari sang pencipta dinding yang sesungguhnya—seorang penyihir yang sampai kini identitasnya belum diketahui. Informasi terakhir itu sebenarnya rahasia, tetapi beberapa hal ternyata bocor sampai ke telinga Rahzad. Itulah mengapa sangat penting untuk segera menemukan sang ahli waris kunci sebelum Rahzad mendapatkannya lebih dulu.

Naia bertanya pada Javad, “Apa rencanamu?”

"Aku akan menyusul Rifa, sementara kau kembali ke Awan.”

"Aku tak percaya kau berkata begini!" seru Naia. "Kau selalu bilang kita berdua tidak boleh terlalu lama berada di Akkadia, dan harus segera menyeberang ke Elam!"

"Aku harus membawa pulang Rifa dengan selamat, sekaligus membawa pula bocah penyembuh ini. Itu lebih baik, Naia, daripada kau yang berkeliaran lagi di sini."

"Tidak. Ada yang lebih baik." Naia menoleh ke arah Fares. "Fares, kau pergilah ke utara menyusul Rifa. Aku melepaskanmu dari tugas sebagai pengawalku. Kau bisa pergi sekarang."

Fares terpana. “Melepaskanku?”

"Kau tak perlu mengawalku lagi. Aku aman di Elam. Pergilah. Aku akan meminta Davagni membawamu ke utara dengan cepat."

 

 

1
Rin
bingung mau baca yg versi ini duluan atau baca ulang versi bukunya yg aku baca pas sd🫣
Ulun Jhava
Razhard keren😎😎
Ulun Jhava
javad ceroboh
Ulun Jhava
mantap
adi_nata
108 bab yang terasa singkat.

walau ber dasar pada sejarah, ternyata novel ini lebih kental akan nuansa religi.

thanks a lot.
adi_nata
jalan yang pasti berat untuk Fares memperjuangkan cintanya pada Naia.
adi_nata
Teeza sudah dibutakan oleh dendam dan tidak bisa berfikiran jernih.
adi_nata
Rahzad berkata seperti itu bukan karena dia tidak peduli pada Elanna, tapi dia sedang melakukan taktik tarik ulur.
adi_nata
Bargesi pasti sudah mati dan tubuhnya dijadikan cangkang oleh Nergal.
adi_nata
perempuan bertindak dengan perasaan, lelaki bertindak dengan logika.
adi_nata
Apa itu artinya ? Yang bisa mengerti artinya mungkin adalah Sang Terpilih yang sebenarnya.
adi_nata
Mereka dekat dengan sarang Gharoul ?
adi_nata
Rahzad memang sengaja digiring untuk menghancurkan pasukannya sendiri, agar ada alasan kuat untuk menyingkirkannya dari Akkadia.

Rahzad .. sudah masuk ke dalam perangkap perdana menteri Bargesi.
adi_nata
Mungkin memang bukan Ramir, tetapi Teeza lah Sang Terpilih itu.
adi_nata
aku rasa Davagni memang benar sudah bertaubat. makanya Nergal berkata seperti itu.
adi_nata
pada akhirnya, Rahzad hanya dijadikan boneka politik oleh Sargon.
adi_nata
jika Javad gugur, siapa yang nanti akan memimpin kerajaan Awan. apakah ini sudah dipikirkan ?
adi_nata
aku rasa .. keputusan Javad untuk terus maju di saat terjadi perpecahan di kubunya adalah keputusan yang gegabah.

mundur bukan berarti pengecut. apalagi dia berada di wilayah kekuasaan musuh dan jauh dari wilayahnya sendiri.
adi_nata
entah siapa yang benar siapa yang salah.
adi_nata
jika sudah masuk ke ranah politik, terkadang sulit membedakan mana yang baik dan mana yang benar.

seorang yang bersifat welas asih akan selalu ditentang oleh seorang ambisius berharga diri tinggi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!