Nadia, gadis cantik yang malang karena harus terjebak Pernikahan Tanpa Cinta dengan seorang lelaki bernama Devan.
Devan terpaksa menikahi Nadia untuk menebus kesalahannya yang telah menabrak orangtua Nadia sehingga menyebabkan mereka meninggal.
Akankah Nadia bertahan dengan Pernikahannya? karena akan ada orang ketiga yang hadir dalam pernikahan mereka berdua.
Baca Kisah selengkapnya dalam 'Pernikahan Tanpa Cinta'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini Antika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 ( Membuka hati untuk Emily )
Hati Nadia kini terus bertanya-tanya tentang bercak darah yang menempel pada sprei milik Emily.
Kenapa aku melihat Emily seperti keadaanku dulu yang telah melewati malam pertama dengan Kak Revan. Sekarang Devan juga menjadi perhatian kepada Emily, apa mereka telah melewati malam pertama makanya Emily sakit dan Devan menjadi perhatian terhadap Emily? tadi juga di rumah Emily terlihat berantakan dan terdapat botol wine di ruang tamu, tapi itu semua bukan urusanku, kenapa aku terus saja memikirkannya, batin Nadia kini bertanya-tanya.
"Sayang, kenapa daritadi kamu diam terus? apa kamu memikirkan sesuatu?" tanya Revan.
"Nadia tidak kenapa-napa Kak," jawab Nadia.
"Sayang, kamu adalah belahan jiwaku, jadi apa yang kamu pikirkan dan rasakan aku juga merasakannya. Apa kamu masih kepikiran dengan Devan yang saat ini menjadi perhatian terhadap Emily?" tanya Revan.
"Maaf Kak, Nadia tidak bermaksud seperti itu, Nadia hanya penasaran saja dengan yang Devan lakukan bersama Emily," jawab Nadia.
"Sayang, mereka bukan Anak kecil lagi, dan ini adalah negara bebas, dan di sini melakukan hubungan Suami istri adalah hal yang wajar," jelas Revan.
Degg
Hati Nadia terasa sakit mendengarnya.
Kamu seharusnya tidak terkejut dengan perkataan Kak Revan Nadia, karena kamu sendiri mempunyai pemikiran yang sama, dan kamu seharusnya sadar, jika Devan melakukan semua itu dengan perempuan lain karena dia tidak mendapatkannya darimu, batin Nadia kini berkecamuk.
"Jadi, maksud Kak Revan, Emily dan Devan telah melakukan malam pertama?" tanya Nadia.
"Sebagai orang dewasa kamu pasti mengerti, tidak akan mudah bagi dua orang yang berlainan jenis berada dalam satu ruangan yang sama untuk tidak melakukan semua itu, apalagi Devan lelaki normal, dan dia tidak mendapatkannya dari kamu sayang. Tadi kamu lihat sendiri kan bercak darah pada sprei Emily, dan Kakak yakin jika Devan adalah yang pertama untuk Emily, makanya Devan merasa bersalah sehingga dia menjadi perhatian terhadap Emily," jelas Revan.
"Iya Kak, sepertinya memang begitu," ujar Nadia dengan menahan sesak dalam dadanya.
Aku tau Nadia kalau kamu sudah mulai jatuh cinta pada Devan, dan aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Mungkin aku sudah egois, tapi ini yang terbaik untuk kalian, ucap Revan dalam hati.
......................
Setelah kepergian Nadia dan Revan, Devan kembali masuk ke dalam kamar untuk menemani Emily.
"Dev, apa Nadia dan Revan sudah pulang?" tanya Emily.
"Sudah Em," jawab Devan kemudian duduk di samping Emily.
"Kenapa kamu memilih untuk tetap tinggal di sini? apa Nadia mengizinkanmu?" tanya Emily.
"Aku tidak perlu meminta ijin kepadanya, karena bagi Nadia aku hanyalah Suami di atas kertas, makanya dia tidak pernah melakukan kewajibannya sebagai seorang istri," ujar Devan.
"Apa kamu hanya menjadikan aku sebagai pelampiasan hasratmu saja Dev?" tanya Emily.
"Tidak sayang, setelah semua yang kita lewati, rasa itu mulai tumbuh di sini. Kamu bisa merasakan detak jantungku yang berpacu cepat kan? itu tandanya aku sudah jatuh cinta padamu," ujar Devan dengan menempelkan telapak tangan Emily di dadanya.
"Dev, tapi aku tidak mau di sebut pelakor," ujar Emily yang kini menangis dalam pelukan Devan.
"Tidak akan ada yang berani berkata seperti itu kepadamu sayang, karena mulai sekarang kamu adalah Wanitaku, dan setelah bercerai dari Nadia kita akan menikah," ujar Devan dengan mengelus lembut punggung Emily.
"Terimakasih Dev, akhirnya ada seorang lelaki yang tulus mencintaiku," ujar Emily dengan mencium bibir Devan.
"Kamu jangan menggodaku sayang, karena kamu bisa membangunkan sesuatu yang tertidur di bawah sini," ujar Devan dengan menunjuk aset berharganya.
"Kenapa kamu mesum sekali," ucap Emily dengan mencubit pinggang Devan.
"Karena kamu adalah candu untukku, semua yang ada dalam dirimu membuatku tergila-gila," ucap Devan.
"Udah deh gak usah gombal," ujar Emily dengan kembali membaringkan tubuhnya, dan Devan ikut berbaring juga dengan memeluknya.
"Aku mencintaimu Emily," ucap Devan.
"Aku juga mencintaimu Devan," ucap Emily.
"Sebaiknya sekarang kita tidur, kalau kita berdua terus seperti ini, yang ada kamu akan habis aku makan," ujar Devan dengan terkekeh kemudian berusaha memejamkan matanya.
Mulai sekarang aku akan membuka hatiku untuk Emily dan berusaha melupakan bayang-bayang Nadia, batin Devan.
......................
Devan memutuskan untuk tinggal di apartemen Emily selama dia berada di Amsterdam supaya dia sepenuhnya bisa melupakan Nadia, dan ternyata semua itu berhasil, apalagi saat ini masa kontrak kerja Emily di Rumah Sakit sudah habis sehingga Devan dan Emily mempunyai banyak waktu untuk saling mengenal.
Setiap hari Devan dan Emily selalu datang ke Kantor Revan untuk membantu semua pekerjaan Revan supaya cepat selesai dan mereka bisa kembali ke Indonesia, karena kebetulan Emily juga akan kembali pulang ke tanah air.
"Dev, aku lihat hubungan kalian semakin hari semakin dekat, apa kalian sudah merencanakan akan menikah?" tanya Revan.
"Tentu saja aku akan menikahi Emily setelah aku menceraikan Nadia," jawab Devan dengan terus menciumi Emily yang kini berada di sampingnya.
"Kalian membuatku ingin segera pulang saja," celetuk Revan.
"Oh iya, bagaimana keadaan Kakak ipar? apa kehamilannya baik-baik saja?" tanya Emily.
"Alhamdulillah Nadia sehat Em, meskipun terkadang masih mual muntah pada pagi hari," jawab Revan.
"Semoga Nadia dan bayinya baik-baik saja," ucap Devan.
"Apa kamu masih mencintainya Dev?" tanya Revan.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu? sekarang aku sudah mempunyai Emily yang bisa membahagiakanku, kenapa aku harus mencintai perempuan lain," jawab Devan.
"Dia bukan oranglain Dev, karena pada kenyataannya dia masih istrimu," ujar Revan.
"Meskipun dia istriku, tapi dia itu kekasihmu, dan saat ini dia sedang mengandung darah dagingmu," balas Devan.
"Sudahlah Rev, kamu tidak perlu mengkhawatirkan Devan, karena saat ini dia sudah menjadi milikku seutuhnya, dan aku tidak akan memberikan dia kesempatan untuk kembali mengingat Nadia walaupun hanya sekejap saja," ujar Emily mencoba meredakan kekhawatiran Revan.
"Thanks Em, kamu sudah menjadi pawang Devan, aku yakin Devan tulus mencintaimu, bukan hanya pelarian semata," ujar Revan.
"Tentu saja, apalagi Emily bisa memberikan sesuatu yang tidak pernah Nadia berikan untukku," celetuk Devan, sehingga Emily menutup mulut Devan.
"Sayang, kenapa mulutku kamu tutup," ujar Devan mencoba melepaskan tangan Emily yang masih membekap mulutnya.
"Dev, bisa gak mulut kamu gak ember, aku malu kan sama Revan," ujar Emily dengan pipi yang memerah.
"Kenapa kamu harus malu sayang, Revan dan Nadia saja sering melakukannya sampai Nadia hamil, jadi kita juga harus seperti mereka," cerocos Devan sehingga membuat Revan menertawakannya.
"Oke kalau kalian mau balapan membuat Anak, karena aku dan Nadia pasti akan menang," ujar Revan dengan terkekeh.
"Sayang, sebaiknya sekarang kita pulang supaya tidak kalah dengan Revan dan Nadia," ujar Devan, sehingga Emily menggelengkan kepalanya mendengar obrolan Revan dan Devan.