Rumania negara eropa timur yang di selimuti banyak legenda dan mitos menarik. Mitos yang paling terkenal di semenanjung balkan adalah tentang mahluk penghisap darah legendaris Strigoi, Vampir dan Dracula.
Lumina bergetar hebat melihat temannya merintih kesakitan saat mahluk bermata hitam dengan tatapan tajam menghisap darah di lehernya dengan rakus.
• Sir Louis Alexander Abraham :
"Akan kupastikan kau akan mendesah hebat di bawah kungkungan ku."
• Lumina Cathleen :
"Demi tuhan aku tak kan pernah sudi menjadi budak iblis sepertimu."
Cerita pertamaku, pliss kritik dan sarannya yahh 🙏
Jika berkenan, kasi rating sebagai penyemangat ku 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Rumania kuno pada abad sebelum monarki masih menganut Ritual Darah. Para raja terdahulu yang memegang teguh kepercayaan nya akan iblis, memandang kesetaraan akan dua hal yang berlawanan.
Dua hal yang berlawanan tepatnya antara agama dan seksualitas. Para penduduk menghujat Ritual darah agama pagan sebagai kepercayaan yang tak senonoh yang selalu mengeksploitasi sisi seksualitas.
Wujud dari Sir Louise sendiri adalah perwujudan dari Strigoi yang di ciptakan langsung Ritual darah kala itu. Ia tercipta dari sebuah janin yang di tumbalkan oleh sang Lilith. Janin yang telah di Mantrai sejak ia tumbuh hingga di lahirkan sebagai Iblis dalam wujud rupa manusia.
Strigoi mempunyai sihir luar biasa, ia dapat membaca minda dan masuk ke alam mimpi manusia. Cara untuk membunuh Strigoi adalah dengan menikamnya tepat di jantung nya menggunakan jarum pengait perak saat wujud yang sesungguh nya telah terbentuk.
Sama hal nya dengan Louis, Lucille sendiri adalah perwujudan Striga yang bersembunyi dalam wujud perempuan.
Berbeda dengan William yang mempunyai latar belakang dari bangsawan Rumania Raja terdahulu. Ia adalah Dracula pangeran Vlad Tepes II yang di penjarakan akibat menentang esensi dari ayah nya Raja Wallachia. Ia vampir penghisap darah yang memiliki darah murni dari ayahnya raja terdahulu.
Para penduduk kala itu mayoritas menganut agama Khakure Khirisitan atau semacam katolik sesat. Agama yang di anut atau dilakukan secara sembunyi oleh beberapa kelompok. Tak sedikit dari mereka yang kala itu meninggalkan ritual tersebut dan berpindah ke jalan yang benar.
Marak nya pembantaian serta beredarnya desas desus akan iblis menyebab kan mereka meninggal kan ritual tersebut. Hingga saat ini Ritual darah yang di lakukan raja terdahulu telah tenggelam termakan peradaban.
...----------------🍂----------------...
Waktu yang menunjukkan pukul petang pertanda kabut akan tiba dengan cepat. Para pelayan kala itu segera menyelsaikan pekerjaan mereka masing-masing.
Setelah hilangnya Barbara pagi tadi, suasana istana sedikit mencekam untuk mereka. Seolah bukan hal penting, Nancy melarang mereka menanyakan langsung akan hal itu kepada tuannya. Bahkan Nancy mewanti wanti membicarakan hal itu berkepanjangan.
Lumina yang merasa dongkol akan kejadian ini segera menandaskan pekerjaan nya dan pergi ke tempat tuannya. Tepat di koridor, ia melihat Lucille yang baru saja keluar dari kamar tuannya. Tak ingin berfikiran buruk ia segera bergegas saat wanita itu menghilang dari sudut bangunan.
Lumina mengetuk pintu berbahan jati dengan sedikit keras. Louis yang baru saja dari kamar mandi sedikit memincingkan mata, ia mengambil jubah tidur untuk membalut tubuh nya yang hanya mengenakan lilitan handuk di pinggang.
Begitu di buka, ia sedikit terkesiap akan kehadiran gadis dambaan nya.
"Ada apa?" ucap nya dengan tenang seolah bisa menebak maksud dari gadis di hadapannya.
"Aku ingin bicara" jawab Lumina sedikit salah tingkah mendapati Louis yang hanya mengenakan jubah tidur asal.
"Katakan..."
"Tidak bisakah kita bicara ditempat yang sedikit tertutup? kurasa bukan hal yang tepat jika mengatakan hal ini di luar ruangan" pintanya dengan was-was.
"Masuk."
"Jika tidak keberatan aku ingin mengatakannya di ruang kerjamu."
Louis mendengus di sertai senyum licik, "Terserah, padamu. Bagiku semua tempat terasa sama."
Louis berlalu dan membuka pintu tepat di sebelah kamarnya. Ia sedikit bergeser memberi celah untuk gadis itu masuk dan tak lupa mengunci serta pintunya.
Lumina yang di landa gugup sedikit salah tingkah saat Louis menekan handle kunci. Pria itu duduk di kursi kebesarannya.
"Kemari ..."
Lumina mendekat dengan jantung yang berpacu kuat, telapak tangannya terasa dingin menahan perasaan gugup yang ada. Ia berdiri tepat di hadapan pria itu, kepalanya menunduk tak berani menatap tuannya.
Louis menggapai tangan yang terasa dingin, di genggam dan di usap pelan kulit tersebut.
"Katakan, apa yang ingin kau bicarakan."
Lumina mendesah berat mengangkat pandangannya, ditatap nya mata yang tengah melihatnya dengan sendu serta senyum yang memikat.
"Pelayan mu hilang lagi, pasti kau mengetahui nya" lontarnya dengan tatapan penuh selidik.
"Lalu..."
"Kau yang membunuh nya."
"Dari mana kau tau jika gadis itu telah mati?"
"Louis, kau sungguh membunuhnya?" tanya nya dengan nada sedikit bergetar menahan tangis.
"Jika iya, apa yang akan kau lakukan?" Louis menatap lekat gadis di depannya yang menahan tangis.
Lumina seketika melerai sentuhan itu, ia mundur beberapa langkah memberi jarak dengan tuannya. Tangisnya yang tak terbendung seketika pecah, air matanya berlinang jatuh merembes.
"Katakan ...! sebenarnya mahluk seperti apa dirimu, kenapa kau tega membunuh gadis belia yang bahkan tak merugikanmu sama sekali" ucap nya dengan rasa sesak.
Louis mendekat dan menjangkau tubuh gadis nya.
"Berhenti ...! jangan mendekat."
Louis tak menghiraukan perkataannya, ia tetap mendekat dan merengkuh tubuh hadisnya. Di peluk dengan erat dan di hirup kuat aroma tubuh yang membuatnya gila.
Lumina sedikit berontak dalam rengkuhan Louis, rasa sesak akan perbuatan pria tersebut masih membuncah di relung hatinya. Sedikit tenang Louis membawa gadis itu di sofa dan mendudukkan di atas pangkuannya.
Di usap lembut wajah yang terasa lembab linang air mata.
"Katakan, dimana salahku Lumina? pernahkah kau berfikir jika aku tak mengharapkan keadaan ini?"
"Apa maksudmu ...?" Lumina sedikit terdiam mendengar penuturan Louis.
Louis tersenyum lembut, "Butuh waktu yang tak sedikit untuk menjelaskannya" ucap nya di sertai seringai licik yang tercetak.
Lumina mengernyit berfikir akan maksud dari ucapan itu. Ia merasa tidak nyaman saat baru menyadari jika dirinya tengah duduk di atas pangkuan tuannya. Jubah tidur yang di pakai asal sedikit bergeser dan memperlihat kan otot liat yang tercetak jelas.
Louis dengan sengaja menghimpit tubuh gadisnya lebih erat, di tariknya tali pengait gaun di belakang punggung. Lumina tersentak saat menyadari pergerakan tangan itu, dengan segera ia menghentikan tangan itu.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku menginginkannya" Ucap nya dengan nafas berat yang mengintimidasi.
...-----------------🍂-----------------...
To be continued ....