Kisah gadis polos bernama Kania dengan seorang laki-laki yang Kania anggap sebagai monster karena memiliki banyak memar di wajah.
Jangan lupa add Facebook Author ya : Helly IV
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Defina Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertengkar
***
Di sinilah Kania berada. Di perusahaan LN Group milik Daniel Sebastian Leonardo.
"Woahhh, besar banget!" kagum Kania dengan mata berbinar-binar saat melihat secara langsung gedung yang menjulang tinggi di depannya itu.
"Mau sekalian saya antar ke dalam Nyonya?" tawar Bodyguard yang sedari tadi berada di samping Kania.
"Nggak perlu Om. Kania bisa masuk sendiri," ucap Kania.
"Yasudah, jika ada apa-apa, langsung hubungi saya ya Nyonya!" ujar Bodyguard memperingati.
"Oke Om," tandas Kania.
Tanpa babibu, Kania berjalan masuk ke dalam sambil membawa box bekal makanan.
Skip.
Di dalam.
Kania sejenak berdiri di tengah Lobby sambil memandangi ke arah sekelilingnya.
"Luas banget! Kalo gini caranya gimana Kania bisa nemuin Kak Daniel?" bingung Kania seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Ditambah banyak orang yang berlalulalang ke sama ke mari, membuat Kania semakin bingung mencari keberadaan Daniel.
"Kak! Kak! Maaf mau tanya, kalau ruang kerja Kak Daniel di mana ya?" tanya Kania pada salah seorang wanita berpakaian formal yang kebetulan tengah melintasinya.
"Kenapa nanya saya! Tanya aja ke resepsionis di sini!" jawabnya dengan nada ketus.
"Ooo gitu ya Kak. Terus resepsionisnya yang mana ya?" tanya Kania seraya tersenyum ramah.
"Kau ini bod0h atau gimana? Apa kau tidak melihat meja yang ada di sana itu meja resepsionis," gerutu si wanita bername tag Aletta sambil menunjuk ke arah belakang Kania.
Dengan cepat Kania mengikuti arah tunjuk Aletta. "Ooo yang itu. Ya udah, makasih ya Kak," ucap Kania seraya kembali tersenyum.
Aletta hanya bersikap judes, bahkan sempat menatap Kania dengan tatapan illfeel. "Dasar kampungan!" cibirnya.
Namun, Kania tak menghiraukan cibiran Aletta dan memilih untuk segera pergi ke meja resepsionis.
"Tunggu dulu." cegah Aletta menghentikan langkah Kania yang hendak bergegas.
"Ada apa ya Kak?" tanya Kania.
"Ngomong-ngomong, kamu siapanya Daniel?" tanya Aletta sambil bersedekap dada.
"Istrinya Kak," jawab Kania tanpa ragu.
"Apa? Istrinya? Istri halu maksudnya!" ejek Aletta seraya tertawa.
"Istri sah Kak," ucap Kania membenarkan.
"Hadeh, masa istri sah b0d0h dan kampungan sih," cibir Aletta.
Lantas Kania yang mendengarnya mulai naik darah.
"Tolong dijaga omongannya ya, Nek. Jangan sampai nih tangan ngelakuin yang enggak-enggak ke rambut Nenek," peringat Kania seraya menatap tajam ke arah Aletta.
"Ck." Aletta sekilas tersenyum smirk. "Kamu pikir saya takut sama kamu?"
Dengan sengaja Aletta pun menepis kasar box bekal makanan yang sedang dipegang oleh Kania hingga isi dari box tersebut tumpah ke atas lantai.
"Ho!" Kania yang menyaksikannya tentu saja terkejut.
"Bekal Kak Daniel," ucap Kania, lalu perlahan ia berjongkok memandangi bekal makanan milik Daniel yang tumpah dengan mata berkaca-kaca.
"Hikss, udah tumpah," lirih Kania seraya memunguti satu persatu lauk pauk buatan Mrs Saras.
"Dasar cengeng, gitu aja nangis!" ledek Aletta sambil bersedekap dada.
Mendengar hal itu, Kania langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia benar-benar tak terima bekal makanan Daniel dihancurkan begitu saja oleh orang asing.
"Dasar nenek lampir bia*dab!" geram Kania, kemudian ia berdiri dan berjalan ke arah Aletta dengan sorotan mata tajam.
"Apa? Mau lawan saya? Lawan aja, saya ga takut sama kamu kok. Saya--ahh..." Aletta langsung meringis kesakitan saat Kania tiba-tiba menjambak rambutnya dengan sangat kuat.
"Rasakan ini Nenek tua! Rasakan ini!" geram Kania.
"Ahh sakit, j*lang!" ringis Aletta. Akhirnya karena tak mau kalah, Aletta pun langsung membalas aksi Kania dengan menjambak balik rambut wanita itu.
"Arghh sakit, Nek! Kenapa rambut Kania ditarik juga sih!" protes Kania.
"Enak banget ya kalo cuma rambut saya doang yang dijambak. Rambut kamu juga harus saya jambak, tau gak!" sahut Aletta di akhiri dengan memperkuat jambakannya di rambut Kania.
"Oya? Kalo gitu Kania juga gak bakal sungkan jambak rambut Nenek sampai botak!" ketus Kania, di mana kali ini ia menarik rambut Aletta dengan kedua tangannya.
"Euhh, dasar ja*ang bermuka kampungan!"
"Dasar Nenek lampir bermuka pyshcopat!"
Kini terjadilah perang jambak rambut antar Kania dan Aletta, hingga mengundang perhatian orang-orang yang ada di lobby.
"Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka malah bertengkar di sini?"
"Bukannya itu Nona Aletta. Tapi dia bertengkar dengan siapa?"
"Apa mereka tidak punya malu bertengkar di perusahaan Mr Daniel?!"
"Siapa wanita kampungan itu? Bisa-bisanya dia masuk ke perusahaan Mr Daniel tanpa ada rasa malu?"
Begitulah komentar dari orang-orang yang menonton pertengkaran Kania dan Aletta yang kini semakin memanas.
"Astaga, Nyonya." Arez yang kebetulan tengah melintasi area lobby, langsung terkejut saat melihat istri Tuannya bertengkar dengan salah satu karyawan perusahaan LN Group.
Tanpa ada pikir panjang, Arez menghampiri Kania dan Aletta. Lalu dengan cepat ia melerai pertengkaran panas itu.
"Berhenti! Berhenti!" pinta Arez seraya berdiri di tengah-tengah Kania dan Aletta.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian malah bertengkar di sini?" tanya Arez, menatap Kania dan Aletta secara bergantian.
"Dia duluan Kak. Dia yang udah numpahin bekal makanan Kak Daniel," jawab Kania seraya menunjuk kasar ke arah Aletta.
"Loh, kenapa kamu nyalahin saya? Justru kamu yang duluan jambak rambut saya, makannya saya jambak balik rambut kamu," sahut Aletta merasa tak terima dituduh seperti itu oleh Kania.
"Sudah, sudah! Tidak ada gunanya berdebat lagi! Aletta, sekarang kamu kembali ke tempat kamu!" seru Arez pada Aletta yang tampak misuh-misuh tidak jelas.
"Iya, iya. Ini juga mau kok," sahut Aletta di akhiri dengan menatap tajam ke arah Kania.
"Apa liat-liat?" ketus Kania sambil berkacak pinggang.
Aletta hanya merespon dengan memutar bola mata malas. Setelah itu, ia bergegas pergi meninggalkan lobby tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Nyonya, apa Nyonya baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" tanya Arez.
Kania menggeleng. "Tidak ada Kak," dusta Kania.
Padahal kenyataannya ada segores cakaran di area tengkuknya. Namun, Kania menyembunyikannya karena tidak ingin membuat Arez khawatir.
"Saya minta maaf jika karyawan di sini bersikap tidak sopan pada Nyonya. Nanti saya akan berikan teguran padanya," putus Arez.
"Ga papa Kak. Tapi makanan Kak Daniel ..." Kania sejenak memandang ke arah makanan yang tumpah.
"Nyonya tidak perlu khawatir, nanti saya akan pesankan makan siang untuk Tuan Daniel," ucap Arez.
Kania tak berbicara lagi. Saat ini ia sedang fokus meratapi dengan sedih masakan Mrs Saras yang tumpah gara-gara Aletta.
"Mau saya antarkan ke ruang kerja Tuan Daniel, Nyonya?" tawar Arez, berharap kesedihan Kania akan menghilang jika sudah bertemu dengan Tuannya itu.
Perlahan Kania menganggukan kepala.
Lalu bersamaan dengan itu, Arez mulai mengantar Kania ke ruang kerja Daniel.
Skip.
Di Ruang kerja Daniel.
Arez membukakan pintu untuk Kania.
"Oya Nyonya, saya lupa memberitau kalau saat ini Tuan Daniel sedang melakukan rapat. Jadi tidak apa-apa kan jika Nyonya menunggu dulu sebentar?" tanya Arez memastikan.
"Memangnya Kak Daniel rapatnya di mana?"
"Tidak jauh dari sini," timpal Arez.
"Kalo gitu anterin Kania ke ruang rapat Kak Daniel, Kak!" pinta Kania.
"Maaf Nyonya, saya tidak bisa mengantar Nyonya ke sana dikarenakan rapat kali ini dihadiri oleh tim HRD," ucap Arez di akhiri dengan menunduk sopan.
"Kania mohon Kak, anterin Kania ke sana ya. Please!" mohon Kania dengan wajah memelas.
Sejenak Arez menghela napas panjang. "Yasudah, saya antarkan. Tapi nanti Nyonya tunggu saja di luar ya, jangan masuk!" peringat Arez, yang langsung direspon anggukan kepala dari Kania.
"Mari Nyonya."
Tanpa babibu, Kania pun mengikuti langkah Arez dari belakang.
***
Di sisi lain.
Di ruang rapat.
Daniel terlihat tengah melakukan rapat dengan beberapa tim HRD-nya dalam tema mencari karyawan baru yang akan mengisi di Divisi Marketing LN Group.
"Saya menyarankan penambahan pekerja untuk Divisi Marketing LN Group sebaiknya 2 orang," ujar Daniel kembali menyuarakan isi pikirannya tentang calon karyawan baru.
"Apa tidak mau ditambah, Mr?" tanya salah seorang pria yang berprofesi sebagai Head Of Marketing di LN Group.
"Tidak. Minggu kemarin saja kita merekrut Staff Accounting sebanyak 5 orang tapi hasilnya malah kurang memuaskan. Jadi untuk sekarang lebih baik 2 orang dulu agar nantinya tidak merugikan perusahaan kita. Jika performa mereka bagus, boleh ditambah." jelas Daniel.
"Saya setuju dengan saran anda, Mr. Lebih baik sekarang--"
Brak!
"Kak Daniel!!!"
Sontak orang-orang yang ada di dalam ruang rapat pun terkejut melihat kehadiran seorang wanita yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.
"Kania!" gumam Daniel terkejut.
"Kak Daniel, sini. Sini, Kak Daniel!" pinta Kania sambil merengek.
"Bukannya itu istri anda, Mr?" tanya salah seorang wanita yang berprofesi sebagai Head Of Accounting.
"Iya, itu istri saya," timpal Daniel seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Tapi kenapa penampilannya sangat berantakan? Apa yang terjadi?"
"Saya tidak tau. Saya izin bicara dulu sebentar dengan Istri saya."
"Silahkan Mr."
Tanpa ada pikir panjang, Daniel pun berjalan menghampiri Kania.
"Sayang, hey, ada apa?" tanya Daniel sembari merangkul bahu Kania dengan erat.
"Tadi di lobby ada yang bersikap jahat sama Kania," cicit Kania sambil mencengkram pelan dasi yang dikenakan oleh Daniel.
"Siapa, hm?"
"Nenek lampir."
Mendengar hal itu, dahi Daniel langsung berkerut. "Siapa nenek lampir yang kamu maksud Sayang?"
"Tuan." Tampak Arez mulai masuk ke dalam ruangan. "Maafkan aku, Tuan. Aku tidak bisa mencegah Nyonya Kania untuk masuk ke sini," ucap Arez sambil menunduk.
"Tidak apa-apa. Oya Arez, tolong bawa istriku ke ruang kerjaku dulu. Nanti kita bicarakan masalah ini setelah rapatnya selesai!" titah Daniel.
"Baik, Tuan," tandas Arez.
"Mari Nyonya!" seru Arez pada Kania.
Kania menggeleng. "Enggak mau. Kania pengennya sama Kakak," rengek Kania sambil memeluk pinggang Daniel dengan erat.
"Sayang, aku harus rapat dulu. Nanti kalau rapatnya udah selasai, baru kita bahas yang tadi ya," ucap Daniel sesekali mengusap lembut punggung Kania.
Sejenak Kania mendongak menatap Daniel dengan tatapan tanda tanya. "Jadi rapat lebih penting daripada Kania?"
"Bukan begitu, Sayang. Maksud aku itu--"
"Udahlah, Kak. Kalau Kakak mau rapat, rapat aja. Ga usah pentingin Kania," potong Kania seraya melepas pelukannya dari pinggang Daniel.
"Sayang, jangan marah. Aku--"
"Kak Arez, ayo anterin Kania pulang!" pinta Kania sembari bergegas keluar dari ruangan.
Melihat hal itu, Daniel pun langsung memijat pelipisnya. "Arez, jangan biarkan Istriku pulang. Bawa saja dia ke ruanganku secepatnya!" titah Daniel pada Arez.
"Baik Tuan," tandas Arez.
Bersambung
ini kania emang gak tau apa apa atau gimana kk. ko lugu ya kebangetan
lo ketemu sama orang jahat gimana coba....