Dia Aisyah, seorang santriwati di pesantren tempatku mengajar. Gadis anggun nan jelita, yang mampu membuatku terpana pada saat jumpa pertama. Bukan karena kecantikan wajahnya yang membuatku kagum, tapi ketaatan pada-Nya lah yang mampu membuatku ingin selalu dekat dengannya.
Cerita ini hanya fiksi ya, hanya merupakan pemikiran dari author. Jangan lupa like, comment, and vote ya. Author akan sangat berterima kasih untuk hal itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erisna Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Lagu Zaujati
Dengan perasaan panik, aku mencari keberadaan Aisyah. Menyusuri jalan menuju asrama putri, sesuai apa yang Salma katakan tadi.
Aisyah tidak enak badan? Apa mungkin dia sakit? Tapi sakit apa? Padahal sebelumnya kulihat dia baik-baik saja.
Aku pun segera memutar kembali adegan-adegan sebelumnya, sebelum dia berpaling saat kutatap. Ah iya, aku ingat sekarang. Apa mungkin ....
Aku pun segera berlari, menuju asramanya. Sampai di sana, kulihat dia baru saja duduk di teras. Kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia ... menangis.
Mendengar semua ucapan dalam isaknya, sekarang aku paham kenapa dia seperti ini. Dia, cemburu. Ya, cemburu pada Silvi. Padahal aku tidak terlalu menanggapinya tadi. Bagaimana kalau tadi aku berlebihan padanya? Bisa-bisa batal pernikahan kami.
Tapi, ucapan Aisyah ada benarnya juga. Seharusnya memang aku menjaga jarak darinya, langsung menghindarinya tadi. Tapi apa daya, dia sudah mencegatku lebih dulu. Bahkan aku merasa susah sekali tadi, saat mau mengejar Aisyah.
Ah, dasar Si Centil Silvi. Setiap ketemu dengannya, pasti mendapat masalah. Tidak sekarang maupun dulu, menyebalkan!
"Ustadz, kenapa kamu sekejam ini? Aku ... sakit. Aku benar-benar merasa sakit hati, melihat kau bercengkrama dengan wanita itu. Aku sakit, Ustadz ... aku sakit." Lirih Aisyah, disela-sela isak tangisnya.
Mendengarnya kesakitan seperti ini, rasanya aku sudah tak tahan lagi untuk bersembunyi. Aku pun segera menjawab perkataannya.
"Aku juga merasakannya, Aisyah. Aku juga merasakan sakit itu, kalau kau terus seperti ini."
Kulihat dia segera berdiri, kemudian mencari-cari asal suaraku. Aku pun tetap diam berdiri di sini, di balik pagar pembatas asrama.
Ternyata kalau seperti ini, Aisyah lucu juga ya. Dia begitu terkejut saat melihatku.
"U-ustadz Yusuf?" tanyanya gugup.
Netra kami bertemu, dia pun segera menunduk. Ah, padahal aku ingin sekali melihat tatapannya yang lugu itu. Sabar Yusuf, dia hanya menjalankan sesuai apa yang kau dan ayahnya ajarkan. Hatiku ikut berbicara.
Benar juga. Dia 'kan anak yang shalihah, mana mungkin melanggar larangan yang sudah dibuat.
"Se-sejak kapan Ustadz berdiri disitu?"
"Sejak, seseorang mengatakan kalau aku tega mengkhianatinya. Padahal nyatanya aku tidak seperti itu," jawabku santai.
Dia sepertinya terkejut, matanya sedikit membelalak. Tapi tak berani menatapku, hanya sedikit menunduk lebih dalam lagi. Lalu, terlihat rona itu di wajahnya. Manis sekali. Sepertinya dia malu.
"Aisyah ... kamu kenapa?" tanyaku kemudian, ingin memastikan kalau dia baik-baik saja.
"Saya, tidak apa-apa, Ustadz," jawabnya.
"Kamu ... cemburu?" To the point aku bertanya padanya, satu hal yang mungkin tak patut untuk kutanyakan.
Dia mendongak, pandangan kami bertemu lagi. Ada keterkejutan disana, kemudian dia mulai menggerakkan bibirnya.
"Ti-tidak. Sa-saya hanya kurang enak badan," jawabnya gugup, sambil memalingkan wajah.
Manis sekali dia. Tak terasa, bibirku mulai tersenyum, memandangi si pipi merah delima itu.
"Tidak apa-apa kalau kau cemburu. Karena itu berarti, kau benar-benar mencintaiku," ucapku.
Mendengar perkataanku, dia mendongak lagi. Menatapku penuh tanya.
"Tapi, jangan sampai berlarut seperti ini. Itu, membuatku merasakan sakit yang sama. Sebaiknya, kamu tanyakan dulu padaku, jangan membuat kesimpulan sendiri. Tidak baik kalau terus bersu'udzon seperti ini." Lanjutku kemudian.
Dia pun terlihat mengulum senyum, kemudian mengangguk.
"Maafkan saya, Ustadz," ujarnya.
"Tidak apa-apa. Lain kali jangan seperti ini lagi, ya," pintaku.
"Baik, Ustadz. Tapi, Ustadz belum menjelaskan, siapa wanita itu." Lirihnya, sambil mengedarkan pandangan entah kemana.
"Oh, dia ya? Dia itu Ning Silvi, putri Almarhum Kyai Ilham, guru waktu pertama kali aku mondok dulu. Dia memang seperti itu, sedikit kecentilan. Padahal aku tidak pernah menggubrisnya, baik dulu maupun sekarang. Tidak seperti wanita di depanku ini, kalem dan selalu menyejukkan hati," jawabku jujur.
Ah, lihat. Pipinya memerah lagi 'kan.
Dia pun mengulum senyum lagi. Kemudian kami saling terdiam, merasakan debaran yang sama. Kemudian saling melirik, lalu berpaling lagi. Bisa bayangin 'kan, seperti apa kami sekarang? Jangan tertawa.
"Oh iya, Ustadz tidak ikut marawisan?" tanyanya, memecah kesunyian.
"Ikut-lah."
"Kok, masih disini?"
"Lagi nungguin calon istri," jawabku, dia pun tersenyum.
"Ayo!" Ajakku.
"Kemana?" tanyanya.
"Mau lihat calon suamimu manggung tidak?"
Dia tersenyum lagi, "Oh, iya ya. Ayo!"
Kami pun segera melangkah menuju aula pesantren. Aku berjalan mendahuluinya, takut kalau ada yang melihat dan berprasangka buruk. Saat sudah sampai di aula, aku pun segera bergabung bersama yang lainnya. Sedangkan dia pergi entah kemana, mungkin menemui Salma dan temannya yang lain.
"Kang, dari mana saja? Kami dari tadi mencarimu kemana-mana, tapi tidak ada," tanya Farhan, saat aku baru bergabung dengannya.
"Tadi ada sedikit urusan, maaf ya," jawabku.
"Ya sudah, Kang, cepat naik ke atas panggung sana, Kang Adnan sama Kang Syarif sudah nungguin dari tadi. Ini tinggal lagu Zaujati, Kang Yusuf yang jadi vocal." Ujarnya, aku pun segera naik ke atas panggung, kemudian duduk di samping Kang Adnan dan juga Syarif.
Pada saat posisiku sudah benar, perpaduan berbagai alat musik dalam marawis pun terdengar. Begitu merdu dan juga indah alunannya. Aku pun segera menyanyikan lagu itu.
.
Uhibbuki mitsla maa anti, Uhibbuki kaifa maa Kunti
Aku mencintaimu apapun dirimu, Aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu
Wa mahmaa kaana mahmaa shooro, Antii habiibatii anti
Apapun yang terjadi dan kapanpun, Engkaulah cintaku
Zaujatii, Antii habiibatii anti
Duhai istriku, Engkaulah kekasihku
Halaalii anti laa akhsyaa 'azuulan himmuhuu maqti.
Laqod adzinaz zamaanu lanaa biwushlin ghoiri munbatti
Engkau istriku yang halal, aku tidak peduli celaan orang.
Kita satu tujuan untuk selamanya
Saqoitil hubba fii qolbii bihusnil fi'li wassamti
yaghiibus sa'du in ghibti wa yashful 'aisyu in ji'ti
Engkau sirami cinta dalam hatiku dengan indahnya perangaimu.
Kebahagiaanku lenyap ketika kamu menghilang lenyap. Hidupku menjadikan terang ketika kamu disana
Nahaarii kaadihun hattaa idzaa maa 'udtu lilbaiti
Laqiituki fanjalaa 'annii dhonaaya idzaa maa tabassamti
Hari-hariku berat sampai aku kembali ke rumah menjumpaimu.
Maka lenyaplah keletihan ketika kamu senyum
Tadhiiqu biyal hayaatu idzaa bihaa yauman tabarromti.
Fa as'aa jaahidan hattaa uhaqqiqo maa tamannaiti
Jika suatu saat hidupmu menjadi sedih, maka aku akan berusaha keras.
Sampai benar-benar mendapatkan apa yang engkau inginkan
Hanaa'ii anti faltahna'ii bidif-il hubbi maa 'isyti.
Faruuhanaa qodi'talafaa kamitslil ardhi wannabti
Engkau kebahagiaanku, tanamkanlah kebahaiaan selamanya.
Jiwa-jiwa kita telah bersatu bagaikan tanah tumbuhan
Fa yaa amalii wa yaa sakanii wa yaa unsii wa mulhimati.
Yathiibul 'aisyu mahmaa dhooqotil ayyamu in thibti
Duhai harapanku, duhai ketenanganku, duhai kedamaianku, duhai ilhamku.
Indahnya hidup ini walaupun hari-hariku berat asalkan engkau bahagia
Ahmed Bukhatir - Zaujati
.
Kulirik wajah Aisyah yang berseri, mendengar laguku yang memang tertuju padanya. Aisyahku ... kunantikan kau menjadi zaujati yang sesungguhnya. Menjadi bidadariku, penawar lelah letihku, pengobat rindu dan kesedihanku.
Aisyah, Ana ... Uhibbuki. Fillah.
***
Bersambung
Ada solusi terindah thor selain poligami.