NovelToon NovelToon
Wanita Pengganti

Wanita Pengganti

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Balas Dendam / Peningkatan diri-peningkatan identitas/sifat protagonis / Mafia / Identitas Tersembunyi / Persahabatan / Chicklit / Tamat
Popularitas:151.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sisca Nasty

Demi membalaskan dendam sahabatnya, Axela rela merubah penampilannya menjadi wanita culun yang sangat jelek. Menggunakan kaca mata tebal dan tompel di pipinya. Rencana yang ia susun berjalan dengan lancar awalnya. Namum, ketika semua hampir berhasil tiba-tiba identitas aslinya ketahuan. Semua orang tahu kalau dia bukan Alsha yang asli. Melainkan Axela.
Apa selanjutnya yang akan dilakukan Axela? Akankah ia berhasil membalaskan sakit hati Alsha terhadap semua orang yang pernah menyakitinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belum Siap

Axela mendekati Gibson. Ia merebut belatih tersebut secara paksa sebelum meletakkannya di meja. Wanita itu memandang ke arah ruangan yang terdapat banyak lemari dan laci. Tentunya semua serba warna hitam hingga membuat Axela merasa nyaman melihatnya.

Axela berhenti ketika ia bertanya-tanya di dalam hati. Sebenarnya dimana letak kotak P3K yang ia cari. Selain itu, Axela juga sempat terpaku pada lukisan harimau yang letaknya di dekat pintu penghubung ruangan tersebut.

"Di laci paling bawah sudut kiri," ujar Gibson. Axela memandang wajah Gibson dengan alis saling bertaut. Wanita itu masih tidak percaya kalau Gibson bisa tahu apa yang kini ia pikirkan. Namun, Axela juga tidak mau protes secara langsung. "Bukankah kau mencari kotak P3K?" tanya Gibson lagi untuk memastikan kalau tebakannya benar.

Axela berjalan menuju ke lemari yang di tunjuk Gibson. Hal itu membuat Gibson tersenyum. "Wanita aneh! Sebenarnya apa yang ada di dalam pikirannya?" gumam Gibson di dalam hati. "Apa dia sedang mencari sesuatu selain kotak P3K?"

Axela memperhatikan lagi laci-laci yang ada di dekatnya. Wanita itu membuka laci yang tadi di tunjuk Gibson dan mengambil kotak P3K di sana. Ketika Gibson tidak melihat, Axela membuka laci yang ada di dekatnya lagi. Alisnya saling bertaut ketika melihat beberapa senjata api tersusun rapi di sana. Lengkap dengan pelurunya. Sungguh tidak masuk akal memang. Seorang pria yang memiliki begitu banyak koleksi senjata api, bisa tertembak dan kalah di medan perang dengan posisi tidak memegang senjata apapun.

"Ternyata dia juga kriminal," gumam Axela. "Percaya diri sekali dia ketika memanggilku wanita brandal!" umpat Axela yang masih tidak terima di panggil wanita brandal oleh Gibson.

"Apa kau berhasil menemukannya?" teriak Gibson. Axela segera menutup laci itu dan memutar tubuhnya. Ia berjalan mendekati Gibson sambil membawa kotak P3K di tangannya.

Gibson memperhatikan kotak P3K yang ada di tangan Axela sebelum tersenyum. "Apa kau berhasil menemukan benda yang kau cari?" tanya Gibson. Namun, sepertinya Axela tidak tertarik untuk menjawab. Wanita itu hanya diam sambil memasang wajah jutek di depan Gibson.

Setelah meletakkan kotak P3K di meja, Axela duduk di sofa yang sama dengan Gibson. Posisinya sedikit miring. Wanita itu membuka kotak P3K dan mengambil beberapa alat medis yang ia butuhkan. Gibson hanya memperhatikan dalam diam. Pria itu tetap waspada walau kini Axela berniat menolongnya. Toh, bertanya juga tidak pernah mendapat jawaban.

"Apa dia pembunuh bayaran yang di kirim musuhku?" gumam Gibson di dalam hati.

Bukan sekali saja Gibson bertemu dengan musuh yang menyamar menjadi orang baik. Tidak laki-laki ataupun perempuan, pernah menyerang Gibson hingga membuatnya cedera bahkan sampai masuk rumah sakit. Jelas saja saat ini dia bersikap waspada. Walau Axela terlihat tulus menolongnya.

Axela memandang wajah Gibson saat peluru di lengan pria itu dia tarik. Gibson sama sekali tidak kesakitan. Axela cepat-cepat menutup darah yang mengalir agar segera berhenti.

"Apa ini bukan pertama kalinya kau tertembak?" tanya Axela tanpa memandang.

"Ya. Aku memiliki banyak musuh," jawab Gibson.

"Kenapa?" tanya Axela yang sepertinya mulai tertarik denga topik pembahasan mereka kali ini.

"Aku sendiri tidak tahu. Sepertinya mereka iri dengan keberhasilanku," jawab Gibson dengan santai. Pria itu memandang ke depan dan memandang wajah setenang mungkin walau kini tangan dan kakinya mengeluarkan sakit yang begitu luar biasa.

"Apa kau orang yang berhasil? Jika dilihat-lihat kau tidak seperti pria sukses," sahut Axela masih tanpa mau memandang wajah Gibson.

Gibson tertawa mendengar pertanyaan Axela. Pria itu tidak tertarik untuk menjawabnya. Ia memandang luka di lengannya yang kini di perban Axela sebelum bertanya balik.

"Siapa anda, Nona? Nama anda siapa?" Sebenarnya Gibson sudah sangat-sangat penasaran dengan identitas Axela. Pertemuan mereka yang pertama mungkin bukan hal yang penting. Tetapi sekarang, Gibson sangat ingin tahu tentang Axela.

"Tidak penting," jawab Axela cepat.

"Sangat penting bagi saya," jawab Gibson cepat. "Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam rumah ini!"

"Untuk apa anda bawa saya kemari jika memang bukan sembarang orang yang boleh masuk ke rumah ini?" jawab Axela tidak mau kalah.

"Nona, kenapa sulit sekali menyebut nama anda? Sebenarnya anda ini siapa?"

Axela meletakkan gunting di mangkuk stainless hingga terdengar suara dentingan. Wanita itu menatap Gibson dengan wajah tidak suka.

"Saya tidak suka di paksa! Apa lagi dengan seorang pria!" ketus Axela.

"Ya, baiklah. Maaf!" ujar Gibson sebelum memalingkan wajahnya. Ia membiarkan Axela fokus pada luka tembak yang kini ia miliki agar cepat selesai.

Setelah beberapa menit fokus mencabut peluru yang sempat menancap, akhirnya Axela berhasil menyelesaikan tugasnya. Wanita itu beranjak dari sofa tanpa tertarik untuk membereskan kapas penuh darah yang ada di sana.

"Saya harus pergi!" ujar Axela.

"Ya, terima kasih," ucap Gibson. Pria itu mengeluarkan kartu nama dan memberikannya kepada Axela. "Jika anda butuh bantuan, anda bisa hubungi saya."

"Saya tidak akan pernah meminta bantuan anda!" ketus Axela. Wanita itu memutar tubuhnya dan berjalan ke arah pintu. Ia tidak mau terlalu lama berada di rumah itu. Apa lagi hanya berduaan bersama Gibson.

Baru beberapa meter Axela melangkah, ia mendengar suara benda terjatuh ke lantai. Wanita itu memutar tubuhnya. Betapa kagetnya Axela ketika melihat Gibson tergeletak di lantai.

"Tuan!"

...***...

Jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. Sudah waktunya bagi Axela untuk pulang ke rumah keluarga Andra. Jika tidak, orang yang ada di rumah itu akan curiga. Belum lagi ia harus merias wajahnya agar mirip dengan Alsha.

Namun, meninggalkan Gibson di rumah sakit seperti ini rasanya tidak mungkin. Memang Axela tidak memiliki hutang budi apapun terhadap Gibson. Tetapi rasanya sudah nanggung kalau meninggalkan pria itu sekarang, karena sejak awal ia sudah berniat untuk menolongnya.

Sudah hampir setengah jam Gibson ada di dalam IGD. Dokter dan tim medis yang lainnya tidak kunjung keluar untuk memberi kabar. Axela sebenarnya khawatir. Tetapi, apa yang bisa ia lakukan selain menunggu?

Axela melangkah mondar mandir dengan wajah bingung. Sebenarnya dia bukan sedang mengkhawatirkan keadaan Gibson. Tetapi, bingung memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil. Meninggalkan Gibson sendirian di rumah sakit dan pulang ke rumah keluarga Andra atau bertahan di rumah sakit dan menghilang dari rumah keluarga Andra selama satu hari.

Langkah Axela terhenti ketika dia melihat Due muncul di depannya. Pria itu berjalan mendekat dengan wajah marah. Axela bisa tahu dari rahang pria itu yang mengeras dan wajahnya yang memerah. Belum lagi kedua tangannya terkepal kuat seperti ingin memukul orang.

"Due?"

"Anda menolongnya, Bos!" ketus Due tidak suka.

"Aku tidak sengaja," jawab Axela. "Ini aneh, kenapa sekarang aku yang takut kepada Due? Bukankah aku atasannya dan dia bekerja di bawah perintahku?" umpat Axela di dalam hati.

"Anda membunuh anggota saya demi menolong dia!" ketus Due dengan wajah menahan emosi.

Axela menatap Due dengan alis saling bertaut. "Kau yang mengirim orang-orang itu untuk mencelakainya?"

"Saya tidak mengirim orang-orang itu untuk mencelakainya, Bos. Mereka dibayar seseorang untuk membunuh Gibson! Saya pikir ini semua memang pantas untuknya. Tetapi, mereka semua kalah ketika anda turun tangan. Sebenarnya apa yang anda pikirkan? Kenapa anda tidak membiarkan pria brengsek itu mati!"

"Due, aku-"

"Anda membelanya, Bos?"

1
Miyar Spa
Bagus alur ceritanya
Di Elva
lah seharusnya jangan semudah itu, dr cara bicara Bi Ina di tlp dengan seseorang aja, si Alsha awalnya udah curiga, eh tiba" gk jd curiga.. karakternya agak ling-lung sih ini 😑
Di Elva
mungkinkah ada pihak lain yg lebih berbahaya selain mereka yg sering terlihat di samping Alsha?
Nelly riza Salsabilla
Biasa
Riyanti
Cinta segi tiga
Santi Rahma
Luar biasa
Santi Rahma
selalu keren krya2 nya
Santi Rahma
jdi cerita nys kembar tpi beda orang tua.jdi pengganti sahabat yg meninggl
Desmar Niati
cerita nya bagus banget , baru pertama membaca karya ini dan ceritanya tidak bertele²
Arie Sanjaya
tamaattt??? cerita soal adik gibson gmn thorrrrr......
Ayu Dwi S
pdahal alsa mati itu kan d bunuh deon ygy kalo gk salah baca
Rinta Afifah
naaah lho bingung gk tuh
ʰᶦᵃᵗ 📴🦚
kamu menolak alsha karena kamu mencintai axela
Kiki Sulandari
Due menolak Alsha karena dirinya mencintai Axela..
Surprise
🍒Cinta Meydia🦅
ea ea ea... jgt jgt jgt... jeder ga tuh jeder ga tuh jeder ga tuh
ʰᶦᵃᵗ 📴🦚
untungnya yang kena kakinya bukan kepala nya
Kiki Sulandari
Semangaaaat🌹🌹🌹🌹🌹
Kiki Sulandari
Alsha mengenal Due....
Kapan ?
Dimana?
Atri Sumarti II
lanjut Thor
Sarah Mulyan
next thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!