NovelToon NovelToon
Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:958.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Komalasari

Kisah ini merupakan spin off dari novel berjudul : Pesona Tuan De Luca. Disarankan untuk membacanya juga, ya.

Love is blind. 𝚀uote yang cocok untuk menggambarkan hidup Adriano D’Angelo, bos mafia Tigre Nero yang memiliki jaringan terbesar di Benua Eropa. Dia jatuh cinta pada wanita bersuami, yaitu Florecita Mia.

Cinta yang begitu besar tak membuat Adriano mendendam, meskipun Mia telah menembaknya. Dia juga dibuang ke samudera oleh suami wanita itu. Adriano memilih menghilang dan menutup masa lalu.

Namun, takdir mempertemukan kembali dirinya dengan Mia yang telah menjanda. Wanita yang dulu pernah mencelakai, kali ini meminta bantuan Adriano untuk mengungkap pelaku dari pembunuh sang suami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lacrime D'addio

Angin berembus menerbangkan Mia dan segala kenangannya ke kota Venice. Kota dengan suasana yang sangat romantis, dan menghadirkan sejuta cerita indah di dalamnya. Di sanalah, Mia menemukan arti cinta sejati, setelah sekian lama membatasi diri dari hal itu. Entah bagaimana, karena Mia bisa kembali ke sana dan menapaki jalanan kecil dengan aroma keharuan yang teramat besar.

Senyuman lembut berbalut kepedihan, muncul di sudut bibir Mia tatkala dia melihat seseorang dengan mantel hitam berdiri di tepian kanal. Tubuh tegap itu teramat Mia kenal, meskipun hanya dia lihat dari belakang.

Mia, mengumpulkan segenap keberaniannya untuk melangkah maju. Dia menghampiri pria yang tengah asyik menatap ke depan. Pada bentangan kanal dengan gondola yang terus hilir-mudik tanpa henti. “Theo …,” sapanya pelan dengan suara bergetar. Berbalut rasa tak percaya.

Pria dengan mantel hitam tadi segera menoleh, lalu tersenyum. “Cara Mia? Kau di sini?” balas pria yang tiada lain adalah Matteo de Luca. Pria yang teramat Mia rindukan.

Namun, bukannya menjawab, Mia malah menangis seraya langsung menghambur ke dalam pelukan pria itu. “Hey, kenapa kau menangis?” tanya Matteo sambil menahan tubuh Mia. Matteo membalas pelukan wanita itu. Dia mengelus rambut panjang Mia. Pria itu terdiam sejenak, seakan tengah meresapi pertemuannya dengan wanita yang sangat dirina cintai. “Apakah aku telah membuatmu bersedih, Cara Mia?” bisik Matteo seraya mengurai pelukannya dari Mia.

“Bagaimana mungkin kau tidak membuatku bersedih? Kau pergi meninggalkanku dan Miabella dengan begitu cepat. Aku terus menangisimu setiap hari, setiap malam. Namun, kau tak juga kembali. Kenapa kau melakukan itu padaku dan putri kita?" Mia memukuli dada Matteo pelan, untuk melampiaskan kesedihan dan rasa marah pada takdir yang harus dirinya dapatkan.

“Hey, tenangkan dirimu." Matteo memegangi kedua pergelangan tangan Mia dengan lembut. Sementara wanita berambut cokelat itu masih terisak. “Ini aku, Cara Mia. Sekarang, aku ada di hadapanmu,” ucap Matteo mencoba menenangkan wanita yang masih menangis tersedu-sedu.

“Maaf, karena aku tak bisa menuntaskan tugas sebagai suami dan ayah bagi kalian berdua. Sebenarnya, aku ingin sekali melihat wajah Miabella saat dia sudah dewasa. Aku juga ingin duduk berdua denganmu di beranda rumah, untuk menikmati senja dengan rambut kita yang sudah memutih. Namun, apa dayaku, Cara Mia. Aku tak sanggup melawan kekuasaan Tuhan. Seberapa kerasnya aku menahan rasa sakit, ketika jantungku terkoyak. Tetap saja tenaga yang kumiliki tak sanggup mempertahankan nyawa ini dari ragaku. Akan tetapi, aku tak akan menyesalinya sama sekali,” ucap Matteo lirih.

“Ada banyak kesalahan yang telah kuperbuat. Entah berapa nyawa lenyap oleh kedua tangan ini. Aku masih beruntung, karena hanya beberapa butir peluru yang melukaiku,” lanjut Matteo. Dia lalu membalikan badan. Matteo kembali menatap kanal dengan airnya yang berguncang pelan.

“Lihatlah. Seperti gondola-gondola itu. Setiap saat hilir-mudik silih berganti. Seperti itu pula kehidupan kita di dunia. Ada yang pergi dan tak lama tergantikan oleh seseorang yang baru. Itu sudah menjadi hukum alam. Kau, aku, atau siapa pun tak akan dapat mengubahnya dengan sekehendak hati. Terimalah semuanya dengan lapang dada. Lanjutkan hidupmu." Matteo mengembuskan napas dalam-dalam.

"Jangan bersikap egois, Sayangku. Kau masih memiliki tugas berat dan panjang. Sudah menjadi kewajibanmu untuk mendidik Miabella dengan baik," ucap Matteo lagi. Sementara, Mia hanya mendengarkan sambil terus terisak.

"Meskipun aku telah tiada dan tak bisa menemani kalian lagi. Namun, kenangan indah kita bertiga akan selalu tercatat sampai akhir dunia. Jadilah ibu yang baik. Jangan biarkan Miabella kehilangan sosok ayahnya. Bagaimanapun juga, dia adalah putri dari Matteo de Luca."

"Aku tak ingin jika kelak Miabella menjadi seseorang yang menyedihkan. Putriku harus menjadi wanita yang kuat dan tangguh. Penuh keberanian dan bisa menjaga diri dengan baik. Oleh karena itu, tunjukkan padanya bahwa kau mampu untuk menjadi panutan. Perlihatkan pada putri kita bahwa Florecita Mia adalah wanita hebat, yang mampu melawan segala kepedihan dan cobaan hidup yang menerpanya. Biarkan Miabella tahu bahwa dia memiliki seorang ibu yang sangat luar biasa, yang tak hanya mengandalkan kecantikan fisik semata."

"Kau bisa melakukannya, Cara Mia. Kau mampu untuk menjadi lebih dari dirimu yang sekarang. Jalani hidupmu dengan bahagia. Toong, jangan memberikan beban padaku karena telah meninggalkanmu dan putri kita,” pinta Mattei panjang lebar. Sedangkan, Mia hanya tertunduk tanpa menghentikan tangisnya.

Sesaat kemudian, Matteo kembali menghadap kepada Mia. Diraihnya tangan berjemari lentik, dengan balutan kulit kuning langsat yang telah sekian lama tak dia sentuh. Matteo, mengecup dalam-dalam punggung tangan itu penuh perasaan. “Aku pergi membawa cinta kita berdua. Aku sama sekali tak akan memaksamu untuk tetap bertahan dalam selimut cintaku, yang tak dapat lagi membuatmu merasa nyaman dan hangat," ujar Matteo.

"Aku sudah tidak bisa menjadi pelindungmu lagi, Cara Mia. Karena itulah, cari pelindung yang baru untukmu. Kau masih muda dan berhak untuk kembali jatuh cinta. Aku tak akan menghalangimu untuk itu."

"Tidak, Cara Mia. Jangan sampai rasa cinta yang terlalu besar padaku, justru menjadi sebuah beban yang akan menghambat langkahmu. Aku tak akan menyukainya. Aku merelakan kau untuk meniti tangga kehidupan bersama siapa pun yang mampu untuk menjadi pelindung bagimu juga Miabella."

"Ingatlah pesanku ini. Aku mencintaimu. Ya, itu memang benar. Kau adalah pemilik senyuman terindah. Jangan pernah melupakan hal itu." Perlahan, Matteo melepaskan genggaman tangannya dari Mia

“Kau mau ke mana, Theo?” Mia merentangkan tangannya. Dia mencoba menggapai tubuh Matteo yang bergerak menjauh. Namun, pria itu tak menjawab. Dia tersenyum lembut sambil terus berjalan mundur. “Theo!” panggil Mia.

Mia ingin mengejar Matteo. Namun, kaki wanita itu seakan terpaku dengan kuat di tempatnya berdiri. “Theo! Kembali!” seru Mia lantang. Akan tetapi, Matteo tak memedulikannya sama sekali. Pria itu kini berdiri di atas gondola dengan mantel hitamnya.

Senyuman dari wajah tampan tadi perlahan memudar, ketika dia bergerak semakin jauh dan terus menjauh sampai tak terlihat lagi dari pandangan Mia. Lemas, tubuh Mia ambruk dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya terkepal di atas jalanan dengan tetesan air mata yang terus mengalir tanpa henti.

Mia baru tersadar, ketika meraskan tepukan lembut di pundak. Dia tersentak kaget. Seketika, dirinya membuka mata.

Adriano telah duduk di tepian tempat tidur. Pria itu memperhatikannya dengan raut penuh tanda tanya. “Apa kau bermimpi buruk? Kenapa kau tidur di sini, Mia?” tanya pria bermata biru tersebut keheranan.

Mia segera bangkit dan duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Dilihatnya Miabella yang sudah tertidur lelap, sambil memeluk boneka kesayangannya. Mia kemudian mengalihkan pandangan kepada Adriano yang masih menatap lekat. “Tadi, aku menemani Miabella di sini,” jawab Mia agak gelagapan. “Kapan kau datang?” tanyanya kemudian.

“Aku baru tiba dan langsung kemari. Dua hari tak bertemu putrimu, aku merasa begitu kehilangan dan sangat merindukannya. Aku hanya ingin melihat keadaan Miabella. Ternyata kau tidur di sini,” tutur Adriano seraya berdiri.

“Ayo,” ajak Adriano sambil mengulurkan tangan kepada Mia. “Biarkan Miabella tidur sendiri. Lagi pula, aku sudah memasang kamera pengawas di kamar ini. Jadi, kau tidak perlu khawatir. Dia akan baik-baik saja,” ucap pria itu lagi.

Mia tak segera menyambut uluran tangan Adriano. Wanita itu terdiam sejenak dan berpikir. Dia mengingat-ingat pertemuannya dengan Matteo meskipun hanya berupa mimpi. Namun, dalam mimpi itu Matteo berpesan banyak hal kepadanya.

Ragu, Mia meletakan tangannya di atas telapak tangan Adriano. Dia lalu turun dari tempat tidur. Mia, mengikuti Adriano menuju pintu.

Sebelum benar-benar keluar, Mia sempat menoleh ke arah Miabella yang sudah terlelap. Setelah itu, Adriano kemudian mematikan lampu kamar itu, dan menyisakan lampu tidur saja. Dia menutup pintu rapat-rapat.

Dua orang penjaga yang berdiri tidak jauh dari pintu, segera mengangguk hormat ketika Adriano dan Mia melewati mereka. Ya, Miabella di sana mendapat perlakuan yang sangat istimewa bak seorang tuan putri.

“Mimpi seperti apa yang membuatmu sampai menangis, Mia?” tanya Adriano tanpa melepaskan genggaman tangannya dari wanita itu. Dia terus menuntun wanita yang sudah sekian lama menjadi pujaan hatinya tersebut.

Sedangkan, Mia hanya terdiam. Sepertinya dia enggan untuk membahas hal itu dengan Adriano. “Bagaimana perjalananmu?” Mia justru mengalihkan topik pembicaraan.

“Besok saja kuceritakan, karena sekarang sudah malam. Aku juga sangat lelah,” jawab Adriano. Pria bermata biru itu membuka pintu kamar. Dia baru melepaskan genggaman tangan Mia, saat keduanya sudah berada di dalam ruangan mewah seperti kamar raja dan ratu.

“Apa kau ingin kubuatkan sesuatu?” tawar Mia yang membuat Adriano seketika menghentikan langkahnya. Dia yang tadinya akan masuk ke walk in closet, menatap Mia untuk sesaat.

“Tidak usah. Kau bukan pelayan di sini. Jadi, jangan merepotkan dirimu dengan pekerjaan dapur atau urusan rumah tangga lainnya,” jawab Adriano.

“Apa kau ingin mandi? Akan kusiapkan air hangat untukmu," tawar Mia lagi.

"Tidak usah," tolak Adriano menggeleng.

"Aku bosan karena tidak ada yang kulakukan di sini. Lagi pula, aku tidak merasa keberatan jika harus ke dapur. Saat masih di Casa de Luca, aku ....” Mia terdiam. Dia tak melanjutkan kata-katanya. Terlebih, karena Adriano sudah berlalu ke kamar ganti. Mia sadar, tak seharusnya dia mengungkit tentang kebiasaannya selama berada di kediaman Matteo tersebut.

Adriano melepas kemeja hitam yang dia kenakan, di depan cermin hampir setinggi dirinya. Kembali ditatap tubuh tegap dengan tiga luka parut di perut. Dia meraba bekas luka itu perlahan. Namun, sesaat kemudian pria tampan tersebut segera mengambil kaos hitam polos. Setelah itu, Adriano kembali ke ruang utama kamarnya. Dia melihat Mia masih duduk termenung di tepian tempat tidur.

Adriano menghampiri wanita cantik itu. Beberapa hari tinggal di dalam mansionnya, dia selalu menekankan agar Mia tak melewatkan jadwal makan. Pria itu berdiri di hadapan sang istri, setelah sebelumnya membuka laci di dekat tempat tidur. Dia mengambil sesuatu dari dalam laci tadi. Adriano kemudian duduk di sebelah Mia.

“Jika kau merasa bosan, kau bisa membaca buku ini sambil menemani Miabella bermain. Sesekali, berkelilinglah di halaman. Kau bisa berenang atau melakukan apapun yang dapat membuatmu merasa terhibur," ucapnya.

Mia tak menjawab. Dia hanya menatap Adriano untuk sesaat. Pandangannya kemudian beralih pada tiga buah buku, yang dulu Adriano berikan sebagai hadiah.

"Sebaiknya, kau lanjutkan tidurmu," ucap Adriano lagi. Dia sudah bersiap untuk istirahat.

Mia menurut apa kata pria itu. Dia berjalan pada sisi lain tempat tidur. Berat rasanya bagi Mia untuk kembali memejamkan mata. Bayangan mimpinya yang bertemu dengan Matteo kembali hadir. Mia merasa begitu takut, meskipun ada setitik kebahagiaan karena dapat berjumpa kembali dengan mendiang suaminya tersebut.

Adriano juga rupanya masih terjaga, meski sudah dalam posisi berbaring. Pria itu menoleh kepada Mia yang tengah menatap langit-langit kamar. "Tenang saja. Semuanya akan segera teratasi," ucap Adriano membuat Mia menoleh padanya. Adriano kemudian mengubah posisi jadi menghadap kepada Mia. "Tidurlah," ucapnya seraya mengelus pipi wanita itu dengan punggung tangan.

Mia mengangguk pelan, kemudian berbalik. Dia membelakangi Adriano yang juga membelakanginya.

1
Dea Abdullah
harudang /Facepalm/
Dea Abdullah
nyesek smpe sini knp two hrs mati
Dea Abdullah
uku padamu author suka bnget/Kiss/
mery harwati
Aq jadi ketagihan setelah perjalanan dari Eidenburgh, kemudian ke Casa de Luca, lalu ke Monaco & sekarang aq akan coba berlayar ke Rusia dengan Carlo, tapi aq akan mampir sebentar di Arsenio 😍💪
mery harwati: Siap paduka🫅 titahmu akan kami laksanakan 🫡🤩😉
total 2 replies
mery harwati
Anak Adriano bener² cerewet seperti Daniela, tante tertuanya 😃
mery harwati
Ada typo kah di episod ini? Soal umur Adriana, ada yang menyatakan tujuh belas tahun, kemudian di paragrap bawah menyatakan lima belas tahun? 🙄
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁ: 𝙰𝚊𝚖𝚒𝚗, 𝙺𝚊𝚔. 𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑
total 3 replies
mery harwati
Aq malah penasaran sama bapaknya Karl Mikhailov alias Carlo, karena jaman Adriano yang dibunuh olehnya adalah Alex kemudian Sergei Redimir, mereka berdua kakak adik & berasal dari Rusia, ooohhh baca ajalah ceritanya & nikmati roller costernya disini 😃😘
mery harwati
Ow Coco, jangan ganggu mereka berdua, diam kau Coco sang mantan casanova 😃
mery harwati
Jangan bilang ada hubungannya dengan Sergei Redimir di masa lalu itu Karl Mikolaiv 🫣🙄
mery harwati
Adriana sepertinya mewarisi sifat dari Valeri bibi angkatnya 😃
mery harwati
Ow Damiano, kau benar² membuat air mataku menetes karena kematianmu, tidak²...bukan kau yang membuat aq sedih Damiano, tapi authorlah yang membuat alur cerita novel ini menjadi roller coaster bagi readersnya😘 selamat thor kau berhasil memporakporandakan imajinasi readers dengan karyamu ini ❤️🥰💪
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁ: 𝙼𝚘𝚑𝚘𝚗 𝚍𝚘𝚊 𝚗𝚢𝚊, 𝙺𝚊𝚔
total 3 replies
yuiwnye
adriano sdg mempersiapkan Carlo jd pendamping miabella
mery harwati
Oh Tuhan, jangan bilang Roberto de Lucca punya anak lain selain Matteo? Seperti kisah Valentino & Carlo, yang ternyata kembar, apakah Damiano tak tau rahasia Roberto saat masih muda? 🫣🙄
Elmida Alano: betul
total 1 replies
mery harwati
Mereka berdua akan bertarung & akan kah mereka berhenti bertarung karena wanita yang mereka sayangi tak mau mereka saling bunuh ? Penasaran akhir dari pertarungan Juan Pablo & Adriano🙄
Elmida Alano: ya tapi tidak sampai mati
total 1 replies
mery harwati
Apa rasa bersalah Juan Pablo setelah membunub Matteo & keluar dari Killer X yang menyebabkan Juan menyimpan lukisan Mia? Tapi belum sempat Juan masuk ke kehidupan Mia, keduluan sama Adriano? Ow semakin rumit klo ada rasa cinta didalam intrik² mafia 🫣
mery harwati
Adriano, bagaimana kabarmu bila tau Juan Pablo adalah anak dari Elang Rimba? Bahkan Juan sudah memerawani Giana adik tirimu? Akankah kau tetep membunuh Juan Pablo demi Mia karena kematian Matteo? Atw kah membiarkan Juan Pablo tetep hidup & jadi adik ipar mu Adriano? Ow pilihan yang sangat sulit 🙄👏
mery harwati: Siap 🫡 sehat selalu Thor & lancar rejeki juga 🤲❤️
total 2 replies
mery harwati
Otak encer Adriano akhirnya digunakan pada Juan Pablo & membunuh Lionel sang pembunuh Matteo tanpa harus mengorbankan nyawa dirinya sendiri atw orang² yang dekat dengan Adriano, setelah kejadian Menara Hitam yang mengakibatkan nyawa Coco hampir melayang 👏 tapi kabarnya bila Adriano tau bahwa Juan Pablo menyimpan rasa pada Giana adik tirinya Adriano 🙄
mery harwati
🤣🤣 memang harus ada wanita lain sebagai pembanding Francy, agar Francy tak merasa dirinya selalu dibutuhkan oleh Coco, akhirnya setelah kehadiran Monicqe barulah berasa kesalahan Francy yang mengabaikan Coco selama 5 tahun, 💪 Francy bila kau ingin Coco jadi milikmu seutuhnya & selamanya, berjuanglah dari awal lagi Francy 💪
mery harwati
Aq kok ngerasa, anak perempuan kecil yang ngasih bekal makanannya pada Adriano itu adalah Mia disaat dia abis ditinggal mati ibu kandungnya, alias sebelum pindah ke Venice & ketemu dengan ibu tirinya, klo memang bener seperti itu kisahnya, brati sebenernya Adriano yang lebih dulu ketemu Mia saat usia mereka masih kanak & remaja
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁ: 𝚂𝚒𝚒𝚙, 𝙺𝚊𝚔. 𝙻𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝
total 1 replies
yuiwnye
Juan 🧐🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!