𝓐𝓼𝓼𝓪𝓵𝓪𝓶𝓾'𝓪𝓵𝓪𝓲𝓴𝓾𝓶 𝓦𝓻. 𝓦𝓫.
Ini adalah karya kedua dari saya. Mohon dukungan dan do'anya selalu!🙏😊
Dan ini adalah kisah fiksi, imajinasi dari author 🤗🙏.
Dan kisah ini hendaknya hanya dibaca untuk ***.
Menjadi kondektur kereta api bagi seorang Dimas adalah hal yang patut untuk ia syukuri. Dari situ ia belajar tanggungjawab, kepercayaan dan kebijaksanaan yang lebih besar didalamnya.
Nama lengkapnya "Dimas Adityama Putra Wijaya" Ia bertugas membantu sebagai juru langsir membantu masinis dan bertugas pula dalam menertibkan setiap perjalanan pada transportasi darat. Transportasi darat ini adalah kereta.
Suatu ketika Dimas dipertemukan dengan wanita yang cukup galak pada kali pertemuan mereka. Namun kegalakan wanita itu seketika langsung berubah, menjadi penuh kasih sayang saat sedang bersama dengan wanita yang nampak seperti Ibu dari wanita galak tersebut.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Dimas akan menaruh hati padanya? Ataukah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kbahagiaannya Dimas itu cuma kamu Zalfa!
Keesokan harinya ...
Sebuah jaz hitam tanda akan profesinya sudah melekat begitu gagah ditubuh Dimas. Menunjukkan bahwa ia sudah siap untuk berangkat menjalankan tanggung jawab dari pekerjaannya. Sebelum benar-benar pergi menjalankan tugasnya, Dimas kembali mengamati Zalfa yang masih terbaring koma.
Dalam hati ia kembali melangitkan do'a kepada Sang Pencipta agar Zalfa bisa segera sadar dan ia bisa menjadikan Zalfa menjadi pasangan hidupnya hingga akhir waktu nanti.
"Zalfa, saya pergi dulu!" menyentuh tangan Zalfa yang masih tersemat cincin keseriusan hubungan mereka berdua.
Seulas senyum semangat dan keyakinan kembali menerpa jiwanya. Menghadirkan energi positif untuk Dimas yang akan memulai kembali pekerjaannya.
Tak selang lama kemudian, Dimas melangkah pergi meninggalkan Zalfa.
Dari dua arah yang berbeda dua wanita sedang mengetahui Dimas yang beranjak keluar dari rumah sakit menggunakan motor. Motor yang sengaja dikirim oleh Pak Wijaya untuk Dimas bisa memantau Zalfa dengan mudah di rumah sakit yang cukup jauh dari stasiun.
Salah satu dari wanita tersebut berusaha menghampiri Dimas dengan sepaket kotak makanan yang sudah ia siapkan. Sedangkan wanita satunya hanya memerhatikan Dimas dari kejauhan walaupun sebenarnya juga menaruh perasaan pada Dimas, tapi ia faham bahwa cinta dan kebahagiaan Dimas bukanlah dia melainkan Zalfa. Karena itu ikhlas dan legowo adalah jalan pilihan wanita ini. Dan wanita ini adalah Rere rekan seprofesi Dimas bekerja.
Sementara itu, dengan sempoyongan wanita yang membawa sepaket kotak makanan masih mengejar Dimas. Namun sayang sungguh sayang Dimas sudah pergi lebih dulu pergi dengan motor maticnya.
Tak kehabisan akal wanita yang membawa sepaket kotak makanan itu malah mengikuti Dimas dengan naik taksi.
Melihat tingkah wanita tersebut Rere menjadi geram. Hal itu membuat Rere berangsur mengikutinya dan berkata, "Aku tidak akan membiarkan kamu mengusik Dimas kembali Sintia! Tidak akan!" kecam Rere sesegera mungkin mengikuti wanita yang membawa sepaket kotak makanan untuk Dimas. Wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Sintia.
~Sesampainya di Stasiun Kota S~
Dimas ke stasiun dengan tergesa-gesa. Ditengah perjalanan ia dihadang seseorang. Seseorang itu dengan beraninya menghalangi langkah Dimas yang sedang memburu waktu.
"Sintia, apa yang kamu lakukan?" Dimas yang merasa jengkel dan kesal dengan sikap seseorang yang cukup ia kenal, lalu dengan tiba-tiba ada di depannya dan mencegah kepergiannya.
"Taraa ..." Sintia menunjukkan sepaket kotak makanan lengkap dengan minuman, salad buah serta yogurt untuk Dimas sarapan.
"Apa mau kamu?" Dimas tak suka dengan cara Sintia memperlakukannya. Dimas teringat sesuatu kemudian secara to the point meneruskan kembali perkataannya,""dan ya, untuk apa kamu datang menemui saya di tempat saya kerja?"
"Dimas ... Dimas kamu jangan salah sangka dulu sama niat aku." Sintia dengan raut wajahnya yang polos.
"Aku itu, bawain kamu semua makanan ini, sebagai ucapan terimakasih aku karena kamu sudah terima permintamaafan dari aku atas nama ..."
Belum selesai Sintia menyebutkan nama Edo Dimas melirik tajam ke arah Sintia. Membuat Sintia tidak lagi meneruskan kalimatnya.
"Aku tau Dim, semenjak Zalfa koma kamu yang selalu nungguin Zalfa kan saat malam hari selesai kamu bertugas?"
Dimas hanya diam tak merespon. Karena bagi Dimas tidak ada untungnya dia mengiyakan pertanyaan dari Sintia. Sintia mantan yang pasti ada maunya dibalik niat baiknya itu. Fikir Dimas dalam hati namun raut wajahnya menunjukkan kesan tersebut.
Sintia tau kalau Dimas tidak memberikan kesan baik padanya, tapi bukan Sintia kalau ia terlalu memikirkan hal tersebut. Sintia pun semakin gencar menerangkan alasannya tanpa memperdulikan ekspresi Dimas. Yang jelas ia yakin di akhir pembicaraannya nanti Dimas pasti akan menerima makanan yang ia bawakan secara khusus untuk Dimas.
"Dan aku tau Dim, kamu belum sempat sarapan pastinya karena kamu menjaga Zalfa sampai larut malam dan apalagi dengan kondisi fisik kamu yang pasti sangat lelah setelah bekerja." Sintia melanjutkan ucapannya namun dengan begitu beraninya ia menyentuh pundak Dimas.
Dengan cepat Dimas menepis sentuhan tersebut,
"Jaga sikap kamu!" Dimas menatap tajam pada Sintia.
Sintia menanggapinya dengan tertawa sambil menggeleng-ngelengkan kepalanya. Menunjukkan kesan seakan-akan apa yang diucapkan Dimas hanya omong kosong belaka.
Mendapati Sintia yang merespon peringatannya hanya dengan tawa yang kesannya mengejek, Dimas akhirnya memilih pergi untuk melakukan apel sebelum keberangkatan kereta dari pada meladeni wanita yang ada maunya seperti Sintia.
Karena asyik tertawa sambil menggeleng-ngelengkan kepala dan merem-merem sendiri tanpa Sintia sadari, ternyata Dimas sudah pergi darinya.
"Dimas kamu lupa bawa makanannya!" teriak Sintia dengan menghentakkan salah satu kakinya karena tak suka dengan apa yang Dimas lakukan padanya.
"Dimas!" masih berusaha memanggil Dimas.
Dalam hitungan 1,2, 3, secepat mungkin Sintia berlari berusaha mengejar Dimas. Namun belum sempat ia berlari tangannya dicekal oleh seseorang dari belakang.
"Mau kemana Mbak Sintia? Mau kemana" ucapnya menyorot tajam netra Sintia.
"Lepas! Lepaskan saya!"
titah Sintia namun yang mencekalnya masih tak mau melepas begitu saja.
"Saya tidak akan membiarkan kamu mendekati Dimas. Karena Dimas hanya milik Zalfa dan begitu juga sebaliknya." kecam seseorang yang sejak awal sudah diam-diam mengikuti Sintia yang mengejar Dimas. Seseorang itu adalah Rere.
"Kamu yaa?" sergah Sintia tak suka dengan kecaman seseorang itu.
"Kenapa? Mau marah? Marah aja dan itu enggak akan merubah kenyataan. Toh Dimas sekarang sangat mencintai Zalfa." Rere mengeluarkan kata-kata yang cukup membuat Sintia kesal dan emosi.
Dengan sangat keras Sintia berusaha melepas cengkeraman seseorang yang sudah beberapa hari ini selalu menjaga Zalfa saat waktu pagi. Tepatnya waktu di mana Dimas menjalankan shift pagi pekerjaannya.
"Apa?" tanya Rere yang tau kalau Sintia mau mencoba melepaskan diri,"saya akan lepaskan kamu,"Rere merasa iba.
"Tapi kamu harus ingat baik-baik kata-kata saya ini." lanjut Rere mengaskan pada Sintia yang masih tidak merasa bersalah sama sekali.
"Zalfa mungkin belum bisa sadar hari ini, tapi selama masih ada saya dan Lukman. Kita berdua enggak akan membiarkan segala sesuatu yang berhubungan dengan Edo berhasil mengusik Dimas dan Zalfa."
"Ingat baik-baik!" Rere kemudian melepaskan Sintia dan berlalu pergi.
Disisi lain karena Dimas tidak mungkin meninggalkan tanggungjawab pekerjaannya, dalam hal menjaga Zalfa ia dibantu oleh teman baiknya yaitu Lukman bahkan Rere juga ikut merawat Zalfa. Walaupun ia tidak bisa memiliki Dimas, tapi ia ingin Dimas kembali bahagia dan kebahagiaan nya adalah bersama Zalfa. Karena itu ia memutuskan akan berusaha turut serta merawat Zalfa sebisa dan sebaik mungkin dengan setulus-tulusnya. Dan itulah Rere meskipun ia mencintai Dimas tetapi ia tidak seperti Sintia.
"Suster biar saja saya yang menjaga Bu Zalfa."
Rere memasuki ruang Zalfa dirawat.
Suster yang menjaga Zalfa pun memundurkan diri dan berangsur pergi dengan sopan.
"Zalfa, cepatlah bangun Fa!"
Rere perlahan menyentuh tangan Zalfa dengan lembut.
"Kamu tau Fa, Dimas begitu merindukan kamu dan aku yakin kamu pun pasti sebenarnya juga demikian."
Rere menjeda perkataannya dan secara cepat menghapus air mata yang mengenang di sudut matanya.
"Zalfa kamu harus tau, meskipun aku mencintai Dimas tapi bukan berarti aku bahagia melihat kamu seperti ini Fa, justru dengan kamu seperti ini itu sungguh membuat aku ikut sakit.
"Kamu harus dengar ini Zalfa!"Rere melanjutkan ucapannya walaupun menahan luka dihatinya,
"kebahagiaannya Dimas itu cuma kamu Zalfa!
Cuma kamu!"
Rere kembali menghapus air mata yang kali ini sudah terlanjur membasahi pipinya.
Seorang laki-laki yang hendak melangkah masuk menghampiri Rere pun mengurungkan sejenak niatnya tersebut.
Rere yang merasa ada seseorang masuk langsung menengok ke sudut pintu dan benar saja memang ada seseorang yang masuk di ruangan itu.
"Sarapan yuk!" ucap Lukman cukup santai dengan membawa makanan untuk dimakan Rere.
"Lukman sejak kapan kamu masuk ke sini?" tanya Rere khawatir kalau Lukman mendengar kata-kata yang ia ucapkan kepada Zalfa."
"Sini Re, ayo kita sarapan dulu!" Lukman menjawab seolah-olah mengalihkan pembicaraan mereka.
"Lukman aku seriuslah!" tegas Rere tak suka dengan Lukman yang mengalihkan pembicaraannya.
Lukman menatap Rere cukup lama kemudian ia bangkit dari sofa yang tersedia di ruangan tersebut. Menghampiri Rere yang masih berdiri dan mengintegrasinya.
Sekarang dengan jarak yang cukup dekat Lukman memerhatikan wajah Rere, secara cepat pula ia meraih tangan Rere dan mendudukkan di sofa yang cukup panjang agar Rere makan bersamanya.
Rere hanya diam sambil manyun mengikuti kemauan Lukman. Karena bertanya seribu kali pun percuma karena Lukman memang begitu orangnya. Dia tak mau membahas apa yang tidak mau ia bahas kecuali saat ia ingin membahasnya baru akan ia bahas.
Pada akhirnya mereka pun sarapan bersama di pagi itu.
~𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!~
btw profilmu juga mengundang bawang @A.bahtiar Lfc 😭🤭🙂🙈