Yang suka silahkan lanjut. Bima Arsaka, ahli bedah top dan terkenal. Tak ada yang menyangka, Bima juga seorang mafia yang kejam dan menakutkan. Bima adalah penerus klan Macan Putih, kelompok terkuat Mafia saat ini. Akankah Bima dapat menyeimbangkan tugas yang bertolak belakang sebagai seorang dokter dan juga Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Ponsel Rama berdering, bahkan nomer Margareth belum sempat Rama simpan di memori ponselnya. "Halo" sapa Rama. "Ram, ini aku Margareth. Sori aku minta nomermu ke Budi. Apa kabar Ram?" tanya Margareth masih basa-basi. "Baik, tumben ada apa nih?" sahut Rama. "Begini Ram, aku punya sebuah project. Kamu tahu jembatan ke arah tengah kota itu?" sambung Margareth. "Iya aku tahu" singkat Rama. "Begini Ram, di kolong jembatan itu ternyata ada sekumpulan anak yang jumlahnya kira-kira lebih dua puluh orang. Mereka semua dalam pengawasan sekelompok preman. Preman-preman itu setiap hari memalak mereka. Uang hasil mengamen dan mengemis selalu disetor ke preman-preman itu" jelas Margareth. "Terus?????" lanjut Rama. "Kapan kau ada waktu? Aku jelasin ntar!!!" sergah Margareth. "Malam ini aku kosong" jelas Rama. "Oke kita ketemu di kafe yang pernah aku nebeng kamu itu ya" seloroh Margareth. Rama menutup telponnya.
Rama mengajak Budi untuk menemui Margareth. Rama tidak mau berselisih paham lagi dengan Anthoni yang naksir berat ke Margareth. Karena belum tau proyek apa yang ditawarkan Margareth, Rama belum mengajak serta Anthoni. "Bud, sudah siap belum? Ayo!!!!" ajak Rama. "Kita sebenarnya mau ke mana sih?" Budi masih penasaran. "Makanya ayo ikut, biar tau kemana" sergah Rama. Rama dan Budi memasuki sebuah kafe, sedangkan Margareth sudah duduk menunggu mereka. Margareth melambaikan tangannya, "Haaiii...... Budi Rama...sebelah sini". Rama dan Budi berjalan ke arah Margareth, "Wah kau Ram...makin berani aja" bisik Budi dari belakang Rama. "Jangan jadi lambe turah, kamu dengerin dulu. Makanya kamu kuajak, biar jadi saksi kalau Anthoni salah paham lagi" sergah Rama. "Wah, kalau gini aku nggak ikut-ikut" tolak Budi mau balik kanan. Krah kemeja Budi ditarik Rama dari belakang, "Mau kemana, jangan macam-macam ya" ancam Rama. "He...he....baiklah juragan. Melawan juga percuma" Budi cengengesan.
Rama duduk tepat di depan meja Margareth, Budi duduk di samping Rama. "Proyek apa yang ingin kau bicarakan. Bisa langsung saja" pinta Rama. "Minum dululah, silahkan pesan dulu" jawab Margareth. Budi memesan minuman untuk dirinya dan Rama. "Mayan lah dapat gratisan" gumam Budi sedikit lirih. Margareth yang mendengar ikutan terkekeh, lucu juga Budi. "Ram, kamu ingat preman-preman yang mengeroyokku sewaktu di kampus?" tanya Margareth dengan mimik serius. Rama mengangguk. Budi hanya melongo, karena pasti masih loading dengan pembicaraan Rama dan Margareth. "Ternyata merekalah yang memalak anak-anak di bawah kolong jembatan itu. Preman-preman itu tahu aku sering datang ke kolong jembatan, memberi anak-anak sedikit bantuan makan, buku maupun sekedar biaya sekolah mereka. Aku tidak mau mereka putus sekolah. Jadi aku membantu mereka semampuku" ucap Margareth. "Kayaknya para preman itu tidak terima atas kehadiranku. Dengan anak-anak belajar dan sekolah, pasti anak-anak itu bertambah pintar. Dan waktu buat mencari uang setoran tentu berkurang karena terpakai sekolah" jelas Margareth panjang lebar.
"Terus hubungannya denganku apa?" tukas Rama. "Ram, aku yakin kemampuan beladirimu pasti lebih baik dari aku. Bahkan aku sudah melihatnya sendiri. Aku ingin kamu membantuku untuk melatih beladiri anak-anak kurang beruntung itu. Dengan mereka punya kemampuan beladiri, pasti mereka bisa melindungi dirinya sendiri" mohon Margareth. "Akan kupikirkan dulu ya" sela Rama. "Yaelah Ram, mau berbuat baik aja make mikir lama. Iyain aja kenapa" ulas Budi. "Ntar kamu juga bantu ya Bud???" tukas Rama. Budi mengangguk. "Oke, aku terima penawaranmu" ujar Rama ke Margareth. Margareth pun tersenyum puas. "Boleh nggak nih aku pesen makanan? Lapar nih" celetuk Budi. "Oke...oke...silahkan aja" Margareth mengiyakan. "Mumpung" ujar Budi sedikit lirih. "Mumpung ada kesempatan gratis maksudmu???" ejek Rama. "Ah, kamu memang sohipku ter the best Ram. Tau aja isi hatiku" Budi terkekeh.
Sabtu malam Minggu, Rama dan Budi meluncur ke tempat yang tekah dishare lok oleh Margareth. Setelah sampai, terlihat sekitar dua puluh orang an yang tinggal di kolong jembatab itu. "Met malam semua, apa kabar?" Matgareth tersenyum ramah. "Baik kakak cantik dan baik hati" seloroh salah satu anak yang di sana. "Begini, sebelumnya kakak pernah cerita kan ke kalian. Kalau mau mengajari kalian belajar bela diri" ujar Maya. "Iya kak" jawab mereka serempak. "Nah kakak ini lah yang akan mengajari kalian" Margareth menarik lengan Rama. Hebohlah suasana di situ. "Wah, yang mau ngajarin kita beladiri ternyata pacarnya kak Margareth ya" celetuk anak yang lain. "Bukan....bukan...pacarnya kakak" tolak Margareth karena merasa tak enak dengan Rama. "Nggak usah didengerin, lagian mereka masih kecil-kecil. Tak perlu diberikan penjelasan" beritahu Rama. Margareth akhirnya melanjutkan lagi memperkenalkan Rama.
"Baiklah untuk hari ini kak Rama ajarkan dasarnya dulu ya" jelas Rama. Semua anak memperhatikan gerakan-gerakan yang diajarkan Rama. Hampir satu jam lebih mereka semua belajar. Nampak muka-muka letih anak-anak itu. Anak-anak yang kurang beruntung, bahkan ada juga yang sengaja ditinggalkan orang tuanya di situ. Ada rasa trenyuh di benak Rama. Margareth yang barusan datang lagi, karena saat Rama melatih anak-anak tadi dia pergi bersama Budi. Margareth membawakan nasi bungkus, minuman dan ada beberapa snack untuk anak-anak itu.
Dengan tawa ceria khas anak-anak mereka memeluk Margareth, mengucapkan terima kasih. Rama yang melihatnya, merasa kagum dengan kepribadian cewek di hadapannya itu. Dia baik sekali, batin Rama. Budi yang melihatnya, menepuk bahu Rama sedikit keras. "Tambah lagi nih sainganku" ucap Budi sedikit dikeraskan. "Apaan sih Bud?" ucap Rama seakan menolak kata hatinya. "Rama, Budi ayo sini. Kita makan bareng mereka" teriak Margareth memanggil Rama dan Budi. Ternyata kebahagiaan itu sederhana sekali bagi mereka, bisa makan dan minum saja anak-anak itu sangat senang. Batin Rama. Budi pun berpikir demikian.
Saat jam menunjuk pukul sepuluh malam Rama dan Budi pamitan. "Kak Rama, nanti ke sini lagi ya" pinta anak-anak itu hampir berbarengan. "Nanti kak Rama usahakan ya" ujar Rama. "Yeeeiiiiiii" teriak mereka senang. Margareth pun mengikuti Rama dan Budi. "Makasih ya Ram, Bud atas waktu kalian" ujarnya. "Sama-sama. Seru juga lho sama mereka" jawab Budi. "Nggak barengan aja?" Rama memberi tawaran. "Makasih, sopirku sudah otewe nih" tolak halus Margareth. Saat berjalan menuju mobil, Rama mendengar ponsel Margareth berdering. "Apa pak, mogok mobilnya. Ya sudah pak, makasih. Aku naik taksi online aja" suara Margareth menjawab panggilan ponsel yang ternyata dari sopirnya. "Sudah ayo, barengan kita aja" teriak Budi ke arah Margareth. Margareth akhirnye nebeng dengan Rama. Seperti biasa Rama mengantar Margareth ke apartemennya. Sesampai di sana ternyata ada Anthoni yang lagi janjian dengan Aleandro.
#bersambung#happy reading
gimana sama nasib Joana pas th kl ayahnya di tangkap 🤔🤔🤔 trus gimana kelanjutannya hubungan Bima dan Rani kn blm jls 🤔🤔🤔