Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.
Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.
" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"
"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Nadya masih terpaku menatap pantulan Rexsaka di cermin. Hingga tanpa diduga, hingga detik berikutnya Rexsaka mengalihkan pandang. Di atas beningnya pantulan kaca lift, tatapan mereka bertabrakan, netra hitam pekat yang dingin pria itu mengunci penuh netra cokelat hangat milik Nadya. Ada gelombang getaran aneh yang mendadak melumpuhkan napas gadis itu, seolah waktu dipaksa berhenti tepat saat sorot mata tegap Rexsaka menghujam lurus ke dalam jiwanya.
Ting!
Suara denting lift bergema lembut, memecahkan sihir manis yang baru saja tercipta di udara.
"Nona, kita sudah sampai," ujar Rexsaka datar, sekuat tenaga menarik kembali emosi di matanya dan melangkah cepat membukakan jalan.
Nadya melangkah lebih dulu menyusuri koridor. Kehadirannya menarik perhatian sejumlah karyawan yang berpapasan, beberapa di antaranya membungkuk hormat dan menyapa ramah sang putri pemilik perusahaan. Namun, bukan hanya Nadya yang menjadi pusat perhatian. Pria tegap di belakangnya pun tak luput dari sorotan, bahkan beberapa pegawai wanita terang-terangan menatap Rexsaka tanpa berkedip, terpesona oleh karisma dinginnya.
Nadya berusaha keras bersikap acuh tak acuh. Ia menolak mempermalukan dirinya sendiri dengan menunjukkan riak cemburu di hadapan publik. Dengan jemari yang mengepal erat menahan jengkel, ia terus mengayunkan langkah penuh percaya diri hingga akhirnya tiba di depan pintu ruang kerja sang Papa.
Begitu mendorong pintu kayu berukir yang besar itu, Nadya melihat sang Papa tengah sibuk menandatangani tumpukan berkas di meja kerjanya. Alex, sang asisten pribadi, tampak berdiri siaga di sampingnya, pantas saja meja sekretaris di depan pintu tadi tampak kosong melompong.
Andy sempat mengalihkan pandangannya ke arah pintu dengan raut gusar, terganggu oleh ulah seseorang yang masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Namun, ekspresi kesalnya luntur seketika, berganti dengan senyum hangat saat mendapati putri kesayangannyalah sang pelaku.
Tanpa tedeng aling-aling, Nadya melangkah lebar mendekati meja kerja sang Papa. "Nad tak butuh bodyguard, Pa! Kenapa Papa malah menyuruh Kak Rex jadi pengawal Nadya?"
Andy mengembuskan napas panjang. Ia memberi isyarat pelan pada Alex untuk meninggalkan ruangan. Begitu sang asisten melangkah keluar dan pintu tertutup rapat, pandangan Andy teralih pada Rexsaka yang masih setia berdiri kaku tak jauh dari sofa.
Andy terpaku sejenak. Tadi pagi, sahabat baiknya, Bagus menghubunginya dan menyampaikan bahwa ia menyetujui permintaannya kemarin untuk menugaskan Rexsaka sebagai pengawal pribadi Nadya. Andy sempat mengira kabar ini akan membawa kebahagiaan luar biasa bagi sang putri. Namun, di luar dugaan, Nadya justru menolaknya mentah-mentah.
"Ya sudah, kalau begitu Papa suruh orang lain sa..."
"Nadya tidak mau bodyguard, Pa..." sergah Nadya, suaranya naik satu oktav dengan nada frustrasi yang tak lagi bisa disembunyikan. "Nadya sama sekali tidak butuh hal itu!"
Nadya melipat kedua tangan di dada, memalingkan wajah enggan menatap sang Papa sebagai bentuk pemberontakan. Ia tak butuh bodyguard. Bagi Nadya, memiliki seseorang yang terus-menerus mengekor dalam ruang pribadinya adalah sebuah kegilaan.Nadya hanya ingin ruang gerak dan privasinya tak terusik oleh presensi asing. Namun, apakah Rexsaka pantas disebut 'orang asing'? Untuk saat ini, Nadya memaksa hatinya untuk menganggap pria itu demikian.
"Nad, dengarkan Papa," ujar Andy dengan suara berat yang menuntut kepatuhan. "Ini demi kebaikanmu. Papa tidak mau kejadian lalu terulang lagi padamu, dan keputusan Papa kali ini tidak bisa dibantah."
Andy menarik napas dalam, lalu menyambung ucapan itu dengan nada menghakimi, "Lagipula, Papa butuh orang yang bisa memantaumu, memastikan kamu tidak mempermalukan nama keluarga kita lagi."
Tubuh Nadya membeku seketika. Lidahnya mendadak kelu sewaktu menyadari satu kenyataan pahit, selama ini sang Papa hanya berakting pura-pura tak tahu mengenai video dirinya yang viral kemarin.
"Pa... Papa tahu?" bisik Nadya terbata, menatap sang Papa dengan binar mata tak percaya.
"Apa yang tidak Papa ketahui tentangmu, Nad?" balas Andy datar, nada suaranya begitu tenang namun sarat akan intimidasi yang menghimpit.
Nadya menelan ludah kaku, tenggorokannya mendadak terasa kering. Dengan suara yang hampir tenggelam oleh rasa takut dan bersalah, ia bertanya pelan, "Apa... Papa marah pada nad, menghukum nad?"
"Papa sebenarnya ingin marah. Tapi ada seseorang yang meminta agar Papa tidak menghukummu." ujar Andy, mengalihkan pandangannya pada Rexsaka yang berdiri kaku namun menatapnya dengan raut menghujam.
"Lalu, apa Papa juga yang membersihkan semua jejak video itu dari internet?" tanyanya curiga.
Andy memilih membisu. Sorot matanya yang redup menatap Nadya sejenak sebelum terlempar kembali pada sosok pengawal tegap di dekat sofa. "Itu bukan hal penting yang harus diperdebatkan. Yang jelas, segalanya sudah beres."
"Cih" Dengusan sinis memotong keheningan.
Rexsaka mendedahkan senyum miring sarat celaan di bibirnya. Tindakan lancang itu membuat Andy bersikap defensif, sementara Nadya menatap Rexsaka penuh kebingungan atas arti di balik tawa hampa tersebut.
"Dengar, Nad. Mulai detik ini, ikuti keputusan Papa," tekan Andy tak ingin diganggu gugat. "Saka akan berjaga di sisimu, dan pastikan kamu menuruti kata-katanya demi keselamatanmu."
"Tapi, Pa..."
"Nadya, jangan membantah. Turuti kata-kata Papa, atau kamu mau Papa kirim kuliah ke Belanda dan wajib tinggal di asrama? Pulanglah, Papa ada meeting sebentar lagi."
Asrama, Nadya tahu betul ancaman terselubung di balik kata itu. Papanya merujuk pada salah satu universitas milik Moko Group di Negara Kincir Angin tersebut, sebuah tempat dengan sistem yang begitu kaku dan disiplin tanpa kompromi. Di sana tak ada ruang untuk kebebasan apalagi hiburan, seluruh hidup terkekang oleh rentetan aturan ketat. Dan Nadya sama sekali tak sudi diasingkan ke sana.
Mau tak mau, dengan wajah bersungut-sungut dan napas memburu sebal, Nadya berbalik dan menghentakkan kakinya lebar menuju luar ruangan. Rexsaka bergerak menyusul di belakangnya. Namun, tepat di ambang pintu, langkah pria tegap itu terhenti.Pria itu menyampingkan wajahnya, melayangkan tatapan dingin membekukan pada pimpinan Moko Group tersebut.
Kalimat tajam itu menyisakan dentum pintu yang terkatup rapat, meninggalkan Andy seorang diri di dalam keheningan. Pria paruh baya itu menatap pintu dengan rahang mengeras dan sorot mata redup, terpaku kaku tanpa sanggup membalas sepatah kata pun.
Sementara itu di luar ruangan, tepatnya di depan lift, Nadya berbalik dan mendongak, menatap Rexsaka dengan kedua tangan berkacak pinggang. Jarak di antara mereka terkikis begitu tipis. Namun, Rexsaka sama sekali tak bergeming, ia justru balas menatap Nadya dengan sorot mata menantang yang tenang.
"Apa sebenarnya tujuan Kak Rex? Tidak mungkin Kakak tiba-tiba sukarela jadi bodyguard-ku tanpa ada maksud terselubung!" desak Nadya dengan tatapan menuntut.
"Saya tidak memiliki maksud apa pun, Nona," balas Rexsaka tenang, tanpa mengikis sedikit pun gurat kaku di wajahnya.
"Cukup!" potong Nadya geram saat pintu lift terbuka. Sambil menghentakkan kaki masuk ke dalam, ia mengarahkan telunjuknya tepat ke dada Rexsaka. "Hentikan formalitas kaku itu! Jangan panggil aku 'Nona' dan stop pakai kata 'Saya' di depanku kalau Kakak masih mau betah bekerja denganku!"
Rasa curiga membakar benak Nadya. Seorang mantan perwira militer dengan reputasi mentereng, seorang kapten, mana mungkin sudi menjadi pengawal harian tanpa agenda tersembunyi?
"Baiklah," jawab Rexsaka singkat. Tanpa banyak berdebat, ia melangkah masuk, menekan tombol arah lobi, lantas berdiri tegap di belakang gadis itu seperti semula.