gadis yatim piatu yang harus berjuang hidup sendiri tanpa memiliki sanak saudara. ia melanjutkan kuliahnya dari bea siswa dan bekerja di sebuah tempat karaoke keluarga milik sahabnya.
namun semuanya berubah saat seorang pria yang mabuk memperkosanya. sehingga ia hamil.
bagaimana kelanjutan kisahnya.
nafisa. gadis cantik berusia 20 tahun. seorang mahasiswi di fakultas ekonomi. yg bekerja sebagai waiter di salah satu tempat karoke.
aldiansah Pratama
seorang mahasiswi dan pengusaha. berusia 21 tahun.
Julian Saputra.
pria mapan berusia 28 tahun.
seorang pengusaha muda yg sukses.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilik Bunda Abib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 30.
walaupun ngos-ngosan nulis novel ini.
tapi Alhamdulillah udah masuk episode 30 ya reader. terimakasih atas dukungan nya.
😍🙏🏼
*********
kebahagiaan tidak ada henti-hentinya di rasakan pasangan pengantin baru tersebut. Saat matanya terbuka, ia melihat wajah suaminya yang sangat tampan. Ia mencium bibir yang terlihat seksi itu dengan sangat lembut. Namun tidak ada tanda-tanda bahwa suaminya akan bangun. Amera melakukannya hingga berulang-ulang kali. Perlahan-lahan mata Julian mulai terbuka.
“Sudah pagi sayang.”
“Biar saja,” Julian kembali memicingkan matanya dan memeluk tubuh langsing Amera.
“Sayang, jangan tidur lagi.”
Julian meminta agar sarapan paginya di antarkan ke kamar. Suara bel tersebut membuat Julian menghentakkan ciumannya di bibir mungil tersebut. Julian mulai menyuapkan nasi tersebut ke mulut Amera.
“Sayang, sore nanti kita akan pulang ke rumah mami dan besok kita akan menginap di apertemen mu dan lusa kita sudah akan berangkat ke Amsterdam.” Senyum penuh kebahagiaan terukir di wajah cantik Amera. Ia memeluk Julian dan tak henti-hentinya mencium bibir tersebut
“Sayang hentikan. Apa kamu mau aku memangsa mu kembali.”
Amera tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Aku masih lemas sayang.
*********
Julian memarkirkan mobilnya di halaman rumah mewah milik keluarganya. Wanita yang berusia 55 tahun tersebut langsung menyambut kedatangan anak dan menantunya tersebut. Santi memeluk tubuh Amera. Ia sangat senang melihat kedatangan minantu serta anaknya.
Mereka mengobrol di ruang tamu. Sedangkan Julian masuk ke dalam kamarnya. Ia sudah berencana akan memberi tau tentang Nafisa, setelah kepulangan dari bulan madu satu minggu lagi. Santi sudah menyiapkan menu makanan malam yang teramat lezat.
*********
Nafisa berada di kursi kasirnya. Ia tidak ingin melihat televisi yang menyala. Ia tidak ingin melihat munculnya gosip-gosip tentang pernikahan Amera dan Julian. Teman-teman satu profesi dengannya tidak ada henti-hentinya menceritakan Julian. Memuji pasangan serasi dan sebagainya.
Nafisa hanya menikmati sakit di dadanya yang ia merasa sedang di remas-remas sakitnya. Ia memandang perutnya yang tampak sudah mulai membuncit. Ia mengusap perut tersebut yang terkadang terasa kram.
Nafisa tersenyum sinis saat mendengar kata-kata teman-temannya. Yang mana pernikahan tersebut menelan biaya miliyaran rupiah. Ia melihat Julian begitu bahagia dengan nominal yang dikeluarkannya. Namun ia tidak pernah mengeluarkan uang sepeser pun untuk anak yang saat ini berada di perut Nafisa. Nafisa mengusap perut tersebut tampa terasa air matanya menetes. Sangat munafik rasanya bila ia mengatakan ia tidak membutuhkan perhatian dari suaminya, di saat seperti ini, kondisinya yang lemah dan pinggangnya yang selalu terasa sangat pegal. Ia menjalani semuanya sendiri.
***********
Julian melakukan bulan madu ke amsterdam. Ia memili negara kincir angin tersebut untuk menikmati bulan madunya. Amera membawa salah seorang kameraman dan juga wartawan untuk menginput semua kegiatannya selama honeymoon.
Kameraman sudah mulai merekam saat berada di atas pesawat zet pribadi milik Julian. Amera yang tertidur di dalam pesawat dengan memeluk Julian dan kejahilan Julian saat membangun Amera. Mereka sedang di dalam hotel, apa yang mereka makan. Tempat yang mereka kunjungi, oleh-oleh yang mereka beli, berapa nominal yang mereka keluarkan. Semua kegiatan mereka selama satu minggu di amsterdam di siarkan di televisi. Seakan Julian menunjukkan betapa ia bahagia saat bisa menikah dengan Amera.
Wajah bahagia terlihat jelas dari wajah santi. Ia begitu merasa sangat puas dan membayangkan seperti apa perasaan Nafisa saat melihat kemesraan Julian dan Amera.
*******
Nafisa sudah tidak pernah menonton tv, membuka internet, menonton youtube dan membuka jejaring sosial miliknya. Ia seakan sibuk dengan kuliahnya serta pekerjaannya. Ia sudah harus kontrol kandungannya besok.
Nafisa mengusap perutnya. Ia ingin sekali untuk kontrol ke bidan agar biayanya jauh lebih murah. Namun karena mengingat kondisinya di bulan lalu, Nafisa harus memilih kembali ke dokter candra.
Nafisa mulai menghitung uang yang ada di dompetnya. Sewa rumah yang harus dibayarnya di bulan ini 500 rb. Cek kandungan ia harus menyediakan 500 rb. Bajunya sudah tidak muat lagi. Ia ingin membeli baju. Namun kalau ia membeli baju maka uang untuk kebutuhan bulanannya tidak cukup. Ia kembali narik nafasnya dengan kuat. Ia harus bersabar untuk membeli baju di bulan depan.
***********
Nafisa ke rumah sakit dengan menaikkan busway. Setelah mendaftar, Nafisa duduk di kursi menunggu. Ia memperhatikan pasien di sana. Mereka di dampingi dengan suami serta orang tua sedangkan Nafisa duduk sendiri di kursi tunggu. Nafisa mengusap perutnya. Seolah ia sedang berkata, bahwa ia tidak sendirian.
Suara perawat memanggil nonya Nafisa.
Nafisa langsung berdiri dan mendekati ruangan tersebut dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Dokter Candra menyambutnya dengan sangat sopan. “Gimana kabarnya Nafisa?”
“Sehat dok.”
“Timbangannya naik sedikit.”
“Nafisa sudah banyak makan dokter.” Jawab Nafisa.
“Naik sedikit juga gak apa-apa,” jawab dokter Chandra.
Dokter Chandra mulai memeriksa Nafisa. Ia memutar mutarkan alat tersebut di atas perut Nafisa menunjukkan bayinya. Nafisa tampak bahagia dengan apa yang dilihat jelas dari wajahnya. Dokter candra memberikan foto hasil usg yang sudah 4 dimensi tersebut. Namun sebelum keluar dari ruangan, Nafisa meminta agar dokter candra memberikannya obat yang biasa saja. Dokter candra tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Aku yakin kamu wanita yang kuat.” Kata dokter Candra.
“Terimakasih dok.”
Dokter candra sangat penasaran dengan nama suami Nafisa. Ia mengecek biodata pasien. Ia berfikir bahwa Nafisa mungkin hamil tanpa suami. Namun rasa penasaran yang tinggi membuat ia memeriksa biodata pasien. Matanya terbuka lebar saat melihat bahwa nama suami Nafisa adalah Julianda saputra. Saat melihat gosip yang mengabarkan pernikahan mewah Julian, dan bulan madu yang ke amsterdam. Memamerkan uang yang dihabiskan Julian. Membuat dokter candra emosi.
Saat melihat Nafisa datang untuk cek kandungan, dokter candra memperhatikan gadis muda tersebut, datang seorang dari dengan memakai baju yang tampak sangat sempit. Membuat dokter candra tidak tega melihatnya.
Nafisa duduk menunggu apoteker meracik vitaminnya. Tak lama namanya di panggil.
Apoteker tersebut menjelaskan dosis obat yang di minum Nafisa dan kemudian Nafisa membayar tagihannya.
“Berapa mbak?” Tanyanya.
Kasir tersebut mengatakan Nafisa tidak perlu membayar. Dokter candra memberi free untuk Nafisa.
Nafisa sangat senang. Saat ia mendengar bahwa dia tidak dipungut biaya.
“Apa saya boleh jumpa dokter candra. Saya ingin minta terimakasih.” Kata Nafisa dengan gembira.
“Tentu saja. Silahkan saja masuk ke ruang beliau.”
Nafisa masuk ke ruang dokter candra. Dokter candra melihat ke arah Nafisa.
“Ada apa Nafisa?” Tanya dokter candra.
“Dok, maaf apa saya memang tidak membayar di kasir?” Tanya Nafisa.
“Ooo iya saya free kan.”
“Dokter, terimakasi ya.”
“Iya Nafisa.”
*********