NovelToon NovelToon
Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas

Status: tamat
Genre:Romantis / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Naik Kelas / Tamat
Popularitas:199.7k
Nilai: 5
Nama Author: Reny Etrora

Reyna gadis yang sederhana tidak pandai bergaya dan tak banyak teman. Dia hidup bersama ayahnya yang sangat dicintainya. Kegiatan sehari-harinya menjual nasi uduk dan macam-macam gorengan untuk membantu ayahnya agar tidak terlalu lelah bekerja sendian mencari nafkah. Namun sebuah kejadian tragis menimpah ayahnya. Kecelakaan itu tak dapat dihindarkan. Ayah Reyna sekarat dan pria rentah itu sangat mengkhawatirkan putri sulungnya itu. Ia tidak bisa pergi tenang meninggalkan putrinya sendirian. Ayah Reyna meminta Pram bertanggung jawab telah menabraknya dengan menikahi putrinya. Ancaman dari ayah Reyna membuat Pram terpaksa menikahi gadis yang tidak ia cintai.

Pernikahanpun terjadi namun hanya pernikahan di atas kertas. Kedua tidak saling mencintai. Pertengkaran selalu mewarnai pernikahan mereka. Pram selalu bermain dengan banyak wanita. Sedangkan Reyna selalu merasa kesepian. Perlahan cinta itu hadir diantara keduanya. Namun pengkhiatan datang menjadi malapetaka. Bisakah mereka mempertahankan rumah tangga yang baru saja memutik? Apakah Reyna akan menemukan kebahagian dalam pernikahannya? Apakah Pram mau menerima Reyna sebagai istrinya? Dapatkah keduanya menciptakan cinta kembali dalam pernikahan mereka? Yuk ikutin kisah Reyna & Pram menyusuri lautan Pernikahan Di Atas Kertas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Etrora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah Apa Itu?

Pram memarkirkan mobilnya tepat di area parkir kepolisian. Ia segera masuk dan meminta pada polisi penjaga untuk bertemu Diana yang beberapa jam lalu berhasil ditangkap.

"Pram" Diana melebur ke dalam pelukan Pram memeluk pria pujaannya itu dengan erat. Terlihat jelas ketakutan di wajahnya.

"Diana lepasin saya" Pram menyentuh kedua sisi baju Diana agar sedikit menjauh darinya. "Duduklah"

"Pram aku mohon bebasin aku dari sini. Aku takut banget Pram. Aku tidak mau tinggal disini"

Pram menutup mulutnya sesaat memikirkan matang apa yang harus ia putuskan tentang nasib Diana. Biar bagaimanapun Diana mantan sekretarisnya yang dulu selalu setia dan membantu pekerjaannya. Dan walaupun sekarang tidak memiliki perasaan lagi tapi Pram merasa tidak perlu setega ini pada Diana. Apalagi saat ini Diana sedang mengandung. Pasti tidak mudah baginya hamil tanpa seorang suami.

"Pram kamu tahukan aku lagi hamil. Aku gak mungkin ngelahirin di dalam penjara. Aku...."

"Bukankah kamu harusnya meminta maaf. Itu yang harus kamu katakan lebih dulukan?" sambar Pram memotong.

Diana langsung terdiam sambil menganggukkan kepala. Setelah beberapa saat dan dengan beberapa persyaratan, Pram akhirnya setuju membebaskan Diana dari jeratan hukum.

"Saya harap kamu pegang janji kamu. Jika kamu sampai menganggu Reyna lagi maka saya pastikan kamu akan membesarkan anak kamu di penjara. Setelah ini jangan pernah muncul di hadapan saya lagi"

"Baiklah. Hmm Pram aku punya sesuatu untuk kamu" Diana mengeluarkan amplop coklat dari tas nya kemudian memberikan benda itu pada Pram. "Jangan dibuka sekarang. Nanti saja setelah aku pergi. Aku tidak bermaksud ikut campur. Tapi hanya ini yang bisa aku berikan sama kamu sebagai ucapan terima kasih. Biar bagaimanapun kamu harus tahu ini. Hmm terima kasih telah membebaskanku dan terima kasih juga untuk uang yang sudah kamu transfer. Terima kasih banyak, Pram. Aku harap kamu selalu bahagia"

Pram masuk ke dalam mobilnya. Ia sangat penasaran dengan isi amplop yang Diana berikan. Selang detik berikutnya wajah Pram berubah drastis. Matanya melotot dengan rahang pipi mengeras. Isi amplop itu membuat hatinya panas. Ada beberapa foto yang mengambarkan Reyna dan Tama sedang berciuman. Ada juga foto yang menampilkan Reyna dan Tama tampak berpelukan erat.

Pram melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Walaupun dadanya saat ini terasa teramat sesak dan isi kepalanya meletup-letup layaknya air yang mendidik, Pram merasa ia tetap harus menanyakan langsung hal ini pada Reyna. Namun begitu Pram sampai di depan gerbang rumahnya, ia melihat Reyna memasuki sebuah mobil berwarna putih. Mobil itu tidak asing namun Pram masih sedikit ragu dengan kecurigaannya. Ia pun mengikuti mobil putih yang membawak Reyna.

Hampir satu jam lamanya Pram memantau mobil di depannya. Ia sempat kehilangan jejak sebelum akhirnya menemukan mobil yang Reyna tumpangi tadi. Dan mobil itu sedang terparkir di area perbukitan.

"Tama ngapain sih harus jauh-jauh kesini?" tanya Reyna sambil melihat sekelilingnya. Ia merasa ada yang mengikutinya.

"Agar tidak ada yang menganggu kita"

Tama memainkan jari-jari kerasnya di tengkuk panjang wanita di hadapannya. Seketika Reyna memejamkan matanya sesaat menyesapi sentuhan lembut itu.

"Tama aku rasa kita harus berhenti seperti ini. Aku tidak bisa. Aku sangat takut"

"Susssttt aku akan selalu ada untuk kamu di samping kamu. Jadi kamu tidak perlu takut apapun" Tama meraih pinggang Reyna menarik tubuh ramping itu agar menempel di dada bidangnya.

Pram melebarkan langkahnya. Ia tidak sabar ingin cepat sampai ke puncak bukit. Untungnya jalan perbukitan cukup datar tidak terjal dan aman untuk didaki.

"Kenapa harus aku? Bukankah banyak wanita lain yang lebih baik yang bisa kamu dapati dengan mudah" sejak dulu setelah Tama menyatakan perasaannya, Reyna selalu penasaran dengan alasan Tama mencintainya. Tama memiliki wajah yang tampan, mapan, tubuh atletis. Ia bisa memacari wanita mana saja yang diinginkan.

"Aku tidak tahu" jawab Tama apa adanya sambil mengecup lembut bibir Reyna. "Jawabanku tetap sama jika kamu menanyakan hal yang sama. Saat pertama bertemu kamu, aku merasa itu bukanlah pertemuan yang biasa. Dan setelah itu aku selalu mengingat wajah kamu. Aku terus menahannya setelah tahu kamu sudah menikah. Tapi sekarang aku tidak bisa menahannya lagi. Aku sangat mencintai kamu, Reyna"

Tama kembali menempelkan bibirnya di bibir candu kesukaannya. Dengan hati menggebu dalam perasaan bimbang. Reyna menyambut takkala sensual setiap kecupan Tama di bibirnya. Gigitan kecil disertai sedikit tekanan menciptakan suara khas dari sentuhan itu. Tubuh keduanya sesekali memutar mengimbangi gerakan yang terjadi tanpa mereka sadari.

Puk puk puk

Bunyi tepuk tangan menyudahi cumbuan penuh hasrat itu. Seketika mata Reyna membelalak melihat Pram ada di hadapannya. Begitu juga dengan Tama yang kebingunan darimana Pram tahu tempat ini.

"Biadap" Pram mendaratkan pukulan keras di pipi Tama. Ia menghajar Tama membabi buta. Tama yang diserang mendadak tidak dapat melakukan perlawanan banyak. Sekujur tubuhnya terus di hajar tanpa henti membuat hidung dan mulutnya mengeluarkan darah segar.

"Pram aku mohon hentikan. Pram" teriak Reyna histeris menyaksikan pemandangan mengerikan di depan matanya.

"Berhenti bicara atau aku akan memukulku" ucap Pram tegas dengan sorot mata tajam pada wanita yang sudah mengkhiati cintanya.

"Pram jangan pukul Reyna. Pukul aku saja" sahut Tama yang sudah tidak berdaya.

"Menjijikkan" umpat Pram bergetar.

Pram melirik sebuah kayu berukuran tidak terlalu besar yang berada tidak jauh darinya. Ia beranjak sebentar lalu kembali dengan kayu di dalam genggamannya.

"Kamu tahukan apa akibatnya jika kamu menyentuh milik orang lain. Matilah" Pram mengankat kayu itu ingin memukul kepala Tama namun...

"Pram jangan. Aku mohon jangan lakukan ini. Aku mohon Pram" teriak Reyna semakin histeris seraya membiarkan tubuhnya menjadi tameng Tama. Netranya menangis melihat kekejaman Pram yang tidak terkendali.

Tama benar-benar sudah tidak berdaya tidak ada tenaga untuk melawan. Dan jika Pram menghajarnya lagi maka Tama akan mati. Reyna tidak ingin itu terjadi. Ia tidak bisa membiarkan Pram masuk penjara karena masalah ini. Ia tidak mau nama baik Pram rusak karena ini. Pram pun melepaskan kayu yang digenggamnya lalu menarik keras tangan Reyna agar ikut bersamanya. Di dalam mobil Pram tidak bicara apapun. Tatapannya tajam fokus ke depan. Mobil itu berjalan sangat kencang.

Pram menarik paksa agar Reyna cepat keluar dari mobil. Mau tidak mau Reyna harus mengimbangi langkah Pram jika tidak mau terseret di lantai.

"Pram sakit" ringis Reyna merasakan perih di pergelangan tangannya.

Pram langsung mendorong Reyna di sofa begitu sampai di ruang tengah.

"Apa kamu tidur dengannya hah?" Pram mencekam kedua sudut bibir Reyna dan bicara dengan suara tinggi.

Reyna menggeleng tegas. Ia tidak bisa bicara kerena tekanan kuat di kedua sisi bibirnya.

"Bohong" suara Pram menggelegar layaknya guntur yang menghantam bumi.

"Kamu suka disentuh olehnya? Jawab" mata Pram mendelik menatap wajah Reyna yang ketakutan. Ia lalu melepaskan jemarinya dari wajah itu.

"Pram maafin aku" Reyna menggapai kaki Pram lalu memeluknya. Tidak ada yang bisa Reyna katakan saat ini selain permintaan maaf.

Pram menengadahkan kepalanya. Memejamkan mata membuang nafas berat. Dadanya sangat sesak. Hatinya sakit.

"Kenapa kamu setega ini? Kamu sangat kejam" mata Pram seketika panas. Ia tidak dapat menahan airmatanya lebih lama lagi. Seluruh bagian wajahnya bergetar hebat.

"Aku minta maaf. Aku minta maaf" Reyna terus mengatakan hal yang sama. Tangisnya semakin deras.

"Jawab ini dengan jujur. Apa kamu sudah tidur dengannya?"

"Gak Pram. Aku tidak pernah tidur dengannya" jawab Reyna yakin. "Aku mohon maafin aku. Jangan tinggalin aku" mohon Reyna mengatakan hal yang sangat ia takuti.

"Kamu membuatku muak. Menjijikkan" Pram menarik kakinya kemudian berlalu pergi meninggalkan rumah.

...----------------...

Pram kembali meneguk minuman alkohol. Entah sudah berapa gelas ia minum. Suara dentuman musik remix menghantam telinga. Pram memandang sinis para muda mudi yang sedang berjoget bebas tepat di tengah club. Sudah lama sekali ia tidak kesini. Dan sekarang ia kembali dengan perasaan yang sama. Sakit yang sangat sulit diobati. Hati yang hancur dan sulit diperbaiki kembali.

"Hai baby" sapa seorang gadis seksi. Gadis itu meraba menggoda dada bidang Pram. Memberi belaian lembut di rambut hitam tebal Pram.

Gadis seksi berpakaian terbuka itu lalu menangkup dagu Pram dan mendekatkan wajahnya kesana.

"Menyingkirlah dari sini" usir Pram melotot lebar pada gadis muda yang berusaha menggodanya.

Pram berjalan sempoyongan menuju mobilnya. Kepalanya sedikit pusing efek dari minuman alkohol yang diminumnya. Ia bersandar lelah di jok mobilnya. Hati dan pikirannya sama kacaunya.

Disisi lain, Reyna menunggu dengan rasa khawatir. Berulang kali menelpon Pram namun tidak diangkat. Jarum jam telah berjalan di angka 22.00 tapi tidak ada tanda-tanda Pram pulang. Reyna mondar mandir di depan rumah menunggu Pram. Sosok suami yang diharapkan tak kunjung datang. Ia pun menempelkan kepalanya di tiang besar yang ada di sisi teras rumah. Waktu terus berjalan hingga Reyna pun tertidur disana.

Belum lama Reyna memejamkan mata, sosok yang dinanti itu datang. Pram berhenti sejenak memandang Reyna dengan tatapan kosong. Ia lalu masuk tanpa membangunkan Reyna.

"Bu Reyna...bangun bu"

Pundak Reyna bergedik. Matanya berkedip cepat.

"Oh pak Sandi. Ada apa pak?"

"Disini dingin bu. Sebaiknya bu Reyna masuk ke dalam"

Reyna mengarahkan matanya ke mobil Pram yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.

"Pram sudah pulang" ucap Reyna melongoh.

"Iya bu. Pak Pram sudah pulang dari tadi"

Reyna membuka pintu kamar perlahan. Melangkah tertatih menghampiri Pram yang sedang tidur. Airmatanya kembali menetes melihat wajah lusuh suaminya. Ia mengerti sebesar apa kecewa yang Pram rasakan. Semua ini pasti sangat menyakiti hatinya.

"Maafin aku. Aku benar-benar minta maaf. Aku sangat menyesal, Pram. Aku minta maaf" Reyna menarik selimut menutupi tubuh Pram sampai ke dada. Mengecup lembut kening suaminya dan berlalu.

Pram membuka matanya begitu Reyna pergi. Mengepal buku tangan kanannya lalu memukul pelan keningnya. Pikirannya mengawan sambil memandangi langit-langit kamar. Rumah berukuran besar layaknya istana itu tampak senyap seakan tak berpenghuni.

"Selamat pagi. Sayang aku sudah masakin makanan kesukaan kamu. Kamu makan dulu ya" sapa Reyna manis.

Pram hanya berlalu dengan diamnya. Mengabaikan Reyna yang sedang menata makanan di atas meja.

"Sayang tunggu"

"Berhenti memanggil saya seperti itu. Tidak ada yang bisa dipertahankan dari pernikahan ini. Aku akan segera mengurus perceraian kita" ucap Pram tegas seraya menyingkirkan kasar tangan Reyna dari lengannya.

"Hmm kamu buru-buru ya. Ya sudah kalau gitu kamu bawak saja ini buat sarapan di kantor" ucap Reyna menyodorkan kotak bekal pada Pram.

Namun Pram langsung menepis kotak bekal itu hingga isi di dalamnya berserakan di lantai. Kemudian Pram pergi bersama wajah dinginnya. Reyna tetap shock walaupun ia sudah tahu Pram akan bersikap seperti ini. Ia lalu menggaruk pelipisnya. Wajahnya kebingunan linglung seperti orang kehilangan arah. Matanya tidak bisa mengeluarkan airmata meskipun sebenarnya ia ingin menangis. Menumpahkan penyesalannnya dengan airmata.

"Orang-orang bilang dengan airmata bisa menghilangkan beban yang sedang dirasakan. Aku ingin sekali menangis tapi tidak bisa" _Reyna_.

Sepanjang hari Reyna terus membersihkan setiap sudut rumah. Tidak ada yang terlewatkan sedikitpun. Setelah semuanya beres, Reyna belum merasa lelah. Ia kemudian pergi ke halaman belakang untuk membersihkan daun dan juga ranting pohon yang berjatuhan disana. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hari sudah malam namun Reyna belum puas bersih-bersih. Hingga ia pun tidak menyadari Pram sudah pulang sejak tadi.

Pram pergi ke ruang dapur untuk mengambil minum. Tiba-tiba Reyna muncul dengan raut linglungnya. Mengambil piring yang sudah bersih lalu mencucinya lagi.

"Apa yang kamu lakukan hah?" teriak Pram marah.

"Hmm piringnya kotor. Aku harus membersihkannya. Aku tidak mau kamu marah lagi"

"Piringnya sudah bersih. Kamu sudah gila" kecam Pram semakin marah. "Berhenti melakukan hal bodoh. Ini membuatku semakin muak"

Saat Pram akan pergi tiba-tiba saja Reyna merasa keram di perutnya.

"Ahh Pram perutku sakit"

Pram tidak peduli. Dia melangkah kembali mengabaikan Reyna yang mengeluh kesakitan.

Hati Reyna semakin hancur melihat Pram pergi begitu saja. Pria yang masih berstatus suaminya itu sudah tidak perduli padanya.

"Ahh perutku sakit banget" Reyna meringis karena sakit di perutnya semakin menjadi. Ia merebahkan tubuhnya di kasur lamanya. Sejak Pram tahu semuanya, terpaksa Reyna harus kembali ke kamar lamanya. Pram sangat marah padanya atau mungkin membencinya. Pram tidak mengizinkan Reyna menginjak kamarnya lagi.

Di kamarnya yang berukuran sedikit lebih kecil dari kamar Pram, Reyna semakin menggeliat hebat. Ia menekan perutnya kuat. Rasa sakit itu belum pergi dari perutnya justru semakin parah. Dan setelah beberapa jam melalui masa yang sulit juga menyakitkan, kini perut Reyna mulai membaik.

Pagi menjelang. Hari ini Reyna bangun kesiangan karena semalam ia tidur cukup larut. Ia segera beranjak untuk membersihkan diri ke kamar mandi namun begitu ia bangun dari tempat tidurnya, Reyna melihat ada noda darah disana. Ia memandang bingung. Darah apa itu? Reyna pun mengecek seluruh bagian tubuhnya dan tidak ada yang terluka.

1
Shifa Burhan
di novel ini kita bisa lihat pola pikir egois wanita terhadap pasangannya dan betapa jablaynya wanita terhadap lelaki lain

reyna x pram kalian lihat hanya jeleknya pram saja apapun pu yang dilakukan pram semua salah dan kalian kebaperan dengan pria lain dan kalian elu2 tama

reyna x tama disini berbalik lagi tama yang jadi jahat dan pram yang kalian elu2 kan

dari novel ini disini terlihat sekali karakter kalian yang selalu memandang lebih lelaki lain dari pada pasangan kalian sendiri, kalian selalu kebaperan dan memuja2 pria lain daripada pasangan kalian

ingat thor novelmu bisa memperlihat karaktermu
Ita Sinta
hade baru mulai baca udah mau mewek😒
Yati Yati
tolak ja Reyna jgn mau enk ja ma tama ja
Ely Tria
bagus ceritanya tp sehrsnya kl sdh menikah tidak boleh dgn laki2 lain.
Alfi Fatmayani
padahal tama dulunya juga gangguin reyna terus padahl sdh tau reyna wanita yg sdh menikah.
kok skrng marah reyna diganggu?
Alfi Fatmayani
kok kayak bahsanya seperti terjemahan?
kenapa sih Reyn plin plan gitu...kok jd kayak.perempuan murahan kesana iya, kesini iya
Alfi Fatmayani
kok sepertinya Reyna gampang banget ya.. jd seperti maaf...cewek gampangan...cium sana cium sini
trus labil banget. jd ga respek
Yuli Ana
lanjut kak
Siti Khoyimah
maf aq gx suka sama karakter reyna gx punya prinsip .awalnya suka ada humorisnya semkin keblngkng haduh .maf
Siti Khoyimah
maf aq gx suka sama karakter reyna gx punya prinsip .awalnya suka ada humorisnya semkin keblngkng haduh .maf
@Kristin
Apa yng membuat anda se yakin itu pak?
@Kristin
Emang harus ya menikah🤦
TongTji Tea
"selamatkan' lebih tepat daripada selametin
R.E: ok. terima kasih banyak kak koreksinya🙏🤗
total 1 replies
wins
Reyna gatel juga nih dah punya suami masih juga mancing mancing
Lastuti Mokodompit
Makin seru thor, makin penasaran deeh.... Lanjutkan
Tri Wahyuni
sekarang Pram dn Reyna dh berbahagia dgn klga nta dn juga shera semoga shera dot afik yg banyak .dn Tama menemukan wanita cantik Alexa .semoga 2 klga itu berbahagia
Tri Wahyuni
wah ganggu aja tuh Shera emang kamar nya g d kunci ..klo lagi berdua d kamar kmu harus ngunci lah jadi g ke ganggu lagi hahahaaa .
Sri Rahayu
cerita nya sangat bagus aku suka banget
Mira Bae
wah Tama ketemu cewek baru. Suka bgt sama ceritanya juga alur keseluruhannya. Dari yang tidak cinta sampai yang benar-benar saling mencintai. Pram dan Reyna balikan dan bahagia selamanya. Dan Pram juga sudah tidak trauma lagi. Suka cerita yg gak banyak bab gini. Semoga cerita berikutnya cepat up ya. Terima kasih author, ceritanya Ditunggu next karya karya thor🙏👍❤
Alia Azahra: ayo kak lanjutin terus ceritanya ❤️👍
total 1 replies
R.E
Finally, sampai juga kita di penghujung cerita. Terima kasih untuk semuanya yang sudah mampir baca, koment, like, kasih hadiah dan juga vote. Untuk yang terakhir, mau donk baca pendapat kalian tentang cerita ini😍 Sampai juga lagi di next novel dengan judul "Don't Kiss Me".

Terima kasih tak terhingga untuk kalian semua🙏🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!