Ali bin Abbas adalah seorang Pangeran dari sebuah Kerajaan di Benua Arab. Dengan bimbingan Sang Guru dia bertekad untuk mempersatukan semua Kerajaan yang ada di daratan Benua Gurun tersebut.
Seiring berjalannya waktu, terlepas dari usianya yang masih sangat muda, dia sudah menapaki puncak tertinggi kependekaran.
Akan tetapi dalam waktu yang singkat itu pula ternyata sudah banyak bermunculan aliran-aliran Sesat yang didalangi para pendekar tingkat tinggi.
Bersama Sembilan Muridnya mencoba mengumpulkan Lima Kitab tanpa tanding yang di percaya mampu membuat pemiliknya akan menjadi Penguasa nomer Satu di Dunia.
Akankah perjalanannya mampu mengubah perdamaian seperti yang diinginkannya? Ikuti terus ceritanya hanya di novel Pendekar Bintang Sembilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el kurdi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Asrama Pendekar Bintang 9
"Aku tidak tahu apa yang membuat dirimu sangat tidak menyukai ku, tapi sangatlah tidak pantas seorang pemuda menjadi pelayan seorang gadis " Ali mencoba menutupi kemarahan nya, walaupun nada bicara nya begitu terlihat dia sedang marah besar. "Maaf jika sudah mengganggu waktu mu" tambah nya.
Bukan hanya Ali, semua muridnya sangat geram melihat kecongkakan gadis itu. mereka sudah tidak bisa menahan diri, tapi Ali memberikan isyarat agar mereka tidak melakukan apapun.
"Sudah ku duga kau hanya bisa menggertak, pria seperti mu bahkan tidak pantas menjadi pangeran" ucap Syifa sambil balik badan hendak meninggalkan tempat itu.
"Baiklah, aku akan melayani mu, mungkin ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagimu. " ucap Ali, Ali berniat untuk membuka mata gadis itu.
Syifa membalikkan badan nya kembali, entah apa yang mendorong hati dan pikiran nya, tapi yang pasti dia ingin mempermalukan Ali di depan para gadis cantik itu. "Apa kau yakin? Aku tidak pernah sungkan terhadap lawan lawanku " ucap Syifa sangat bahagia, dia yakin Ali sama seperti para pemuda yang sering menggoda nya, namun caranya saja yang berbeda, selama ini dia selalu bisa mengatasi para pemuda itu, bahkan dia sangat yakin bisa mengatasi pangeran di hadapan nya ini.
"Aku harap kau tidak akan menghabiskan semua perbendaharaan senjata yang kau miliki" ucap Ali memancing kemarahan nya.
Dugaan Ali benar, gadis itu merasa di remehkan. "Bersiaplah" ucap gadis itu sambil melempar pisau nya dengan kekuatan yang cukup cepat.
Ali terlihat sedang menagkisnya, padahal sebenarnya Ali menangkap pisau pisau tersebut dan lekas melemparkan nya ke pohon besar di sebelah kanan dan kirinya.
Gadis itu sangat terkejut, dia mundur beberapa langkah. 'Bagaimana dia bisa menjadi lebih kuat dalam sekejap saja?' batinnya, "kau jangan bangga dulu, itu hanya percobaan, akan ku tunjukkan kekuatan ku yang sesungguhnya" ucap Syifa yang sudah di butakan oleh amarah nya sendiri.
"bagaimana mungkin kau meremehkan lawanmu, bukankah itu sangat membahayakan nyawamu sendiri? " Ali menanggapi perkataan lawannya, Ali berjalan mendekat, tangannya mengunci di belakang, seolah ingin meremehkan lawannya.
"Heeem... Kau terlalu bangga dengan kemampuan barumu itu, baiklah rasakan ini" teriak Syifa, dia sangat yakin serangan nya kali ini tidak akan meleset.
jarak keduanya yang tidak terlalu jauh membuat nya begitu yakin, apalagi serangan nya kali ini dia menggunakan senjata yang telah di aliri tenaga dalam yang cukup besar, bahkan pendekar tingkat bintang 6 sekalipun akan tewas dengan serangan ini.
Ali memang sudah mengantisipasi serangan seperti ini, dia sudah bisa menebak seberapa besar kemampuan gadis yang menjadi lawannya tersebut, Ali langsung menangkis semua pisau lawannya dengan sebuah perisai tebal dari Es.
Ada sepuluh pisau menancap di perisai nya, Ali lalu mengeluarkan sebuah jurus tapak hampa untuk menghancurkan perisai nya sendiri, karena dia begitu cepat melakukan nya, hingga seolah dia dengan sangat mudah menghancurkan benda dingin tersebut beserta pisau pisau yang telah menancap itu.
Syifa tersedak ludahnya sendiri, dia tidak bisa menahan keterkejutan nya, tapi dia tidak mungkin mundur lagi, dia pikir Ali yang akan berganti menyerang nya, tapi sebelum itu terjadi dia akan melakukan serangan pamungkas nya, "terimalah ini " teriak Syifa lagi.
sebuah pisau beracun melesat sangat cepat, bahkan dua kali lebih cepat dari serangan sebelum nya.
"Tapak api" seketika dari tangan kanan Ali mengeluarkan semburan api berwarna biru yang sangat panas hingga pisau yang tadi nya melesat sangat cepat, tertahan pergerakan nya, dan dengan sangat mudah pisau itu meleleh.
"Apa? tidak mungkin. Ba... bagaimana bisa... " ucap Syifa tidak percaya dengan kenyataan yang ada.
kekuatan yang selama ini dia banggakan, bahkan menurut gurunya dia adalah yang paling genius di daratan Benua Arab, dia semakin yakin dengan kemampuan nya ketika dengan sangat mudah memenangkan pertandingan di babak penyisihan pertama, tapi ternyata semua itu hanya omong kosong.
Pemuda yang dia anggap sangat lemah dan sangat di benci nya dengan sangat mudah mengalahkan nya, bahkan hanya dengan tangan kosong.
Tidak hanya sampai disitu saja, Ali dengan kekuatan baru nya itu juga bisa mengambil kembali pisau pisau yang tertancap di pohon besar samping kanan dan kirinya.
Pisau Pisau itu melayang, dengan perintah kedua telunjuk nya semua pisau itu mengarah pada Syifa, gadis itu begitu terkejut, dia merasa akan berakhir disini sekarang, tapi ternyata Ali hanya menjatuhkan pisau pisau itu di sekeliling nya.
"Baiklah, kau boleh istirahat dulu disana, jika kau mau menepati janjimu kau boleh bergabung setelah ini, tapi jika kau tidak ingin menepati nya, maka kau boleh meninggalkan tempat ini, dan lupakan kejadian ini" Ali membalikkan badan nya, dia ingin melatih kelima murid nya.
Syifa masih mematung di tempat nya, Ali memberikan isyarat kepada murid murid nya agar menghibur dan meneguhkan hati gadis itu.
Syifa sangat terharu dengan sambutan dari para gadis itu, tanpa sadar Syifa meneteskan air matanya. "Kenapa kalian masih menganggap ku, setelah apa yang aku lakukan kepada guru kalian." ucap Syifa sambil terisak.
"Kau hanya belum mengenalnya, jika kau sudah mengenalnya maka kau akan mendapati dirinya sebagai panutan yang baik." ucap Ruqayyah sambil memeluk Syifa. "Aku dulu juga pernah melakukan apa yang kamu lakukan" imbuhnya.
Syifa berjalan menghampiri Ali "Baiklah aku bersedia menjadi muridmu, tapi jika aku boleh tahu, apa maksudmu mengambil kami sebagai muridmu? " tanya Syifa. masih penasaran.
Ali bangkit dari duduk nya "Aku sebenarnya sudah lulus ujian, aku sudah mendapatkan Lencana pengajar dari perguruan ini, tapi guru besar masih menginginkan aku untuk menjadi pemenang di perlombaan ini, beliau berencana ingin membuka asrama wanita setelah itu, maka dari itu sejak dimulai nya perlombaan ini, aku mengambil beberapa murid untuk membuka asrama baru setelah perlombaan ini selesai. " Ali menjelaskan tujuannya kepada para murid nya.
"apa kakak ingin mengambil kami semua untuk jadi muridmu? " kini giliran Shafia yang bertanya.
"Aku hanya membutuhkan Sembilan dari mereka semua, karena aku akan menamai asrama itu Pendekar Bintang 9" jawab Ali dengan tatapan menerawang.
"kita sudah berenam, berarti masih kurang tiga lagi?" tanya Laila.
"kalian tidak perlu memikirkan itu, tugas kalian adalah berlatih dengan sangat giat, biarkan itu menjadi urusanku. " jawab Ali.
Mereka berlatih dengan kemampuan nya masing masing, Ali memberikan memberikan jurus jurus baru kepada mereka, untuk Aisyah, Ali mengajarkan jurus tapak Angin, itu adalah jurus tingkat ke tiga dari ilmu tapak suci, Aisyah memang sudah menguasai dengan sempurna di tingkat satu dan dua, dan untuk Shafia mengajarkan teknik panah melengkung, teknik yang sangat sulit, namun Shafia bisa melakukan nya, walaupun tidak sampai pada tingkat penguasaan yang sempurna.
Untuk Ruqayyah dia mengajarkan jurus pedang Api, itu adalah jurus kedua dari ilmu pedang penghancur semesta. Untuk Laila si pendekar kidal, Ali mengajarkan jurus pedang membelah Angin, Laila memang sudah berlatih jurus ini kemarin malam, manun belum menguasai dengan sempurna, jadi Ali ingin dia menyempurnakannya, Laila juga sempat mempelajari jurus yang Ali ajarkan pada Ruqayyah.
Untuk Khanza dia di ajarkan bagaimana caranya membuat perisai penghancur senjata, sama seperti yang dilakukan Ali saat bertarung dengan Syifa.
Ali juga mengajarkan Syifa jurus pengalihan serangan, dengan jurus itu Syifa bisa mengetahui seberapa kuat lawannya, sehingga dia bisa melakukan serangan yang sesungguhnya dengan tepat, Ali juga mengajarkan teknik senjata rahasia baru, yaitu jarum untuk melumpuhkan lawannya, Syifa sangat antusias berlatih.
setelah selesai berlatih, Ali memberikan obat untuk mereka, agar badan nya tetap dalam kondisi prima besok saat bertanding.
~***1161kata.
buat teman teman yang setia membaca novel ini saya ucapkan banyak terima kasih, saya mohon maaf karena belum bisa kasih jadwal update, sebenarnya saya sudah selesai mengetik chapter ini sebelum shalat taraweh, tapi belum sempat saya kirim HP nya sudah mati duluan, jadi terpaksa harus menulis dari pertengahan lagi, dan baru bisa update sekarang.... mohon kesabarannya ya... 😍😍😍***