NovelToon NovelToon
Teman Tapi Menyebalkan

Teman Tapi Menyebalkan

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:108.6k
Nilai: 5
Nama Author: BILANOUR

Ini adalah kisah tentang Zahira dan Arsha. Mereka adalah teman sejak SD hingga mereka SMA. Anehnya, mereka selalu saja satu kelas.

Arsha, idola sekolah yang selalu bersikap seenaknya sendiri pada Zahira. Namun, dia juga begitu perhatian. Apakah Arsha jatuh cinta secara diam-diam pada Zahira? lalu, apakah perhatian Arsha membuat Zahira pun memiliki perasaan yang sama?

Bagaimana sikap Zahira saat mengetahui masa lalu keluarganya dengan keluarga Arsha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BILANOUR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TTM 29

"Zahira ...."

Bi Inah dan aku yang sedang makan cireng di belakang, saling menatap. Samar-samar kami mendengar ada yang memanggil namaku.

"Itu pasti Nyonya. Cepetan kamu ke depan. Dia nyari kamu itu."

"Masa? coba dengarkan sekali lagi. Jangan sampai aku ke depan tapi gak ada siapa-siapa. Takut, ah, Bi."

"Ealahhh, kalau itu beneran Nyonya, kamu bisa dimarahi nanti. Udah sana."

"Cirengnya jangan dihabiskan tapi yaaa."

"Iya, iya. Cepetan sana pergi."

Aku meletakkan cireng yang begitu enak rasanya, berat hari ini. Uuhhh.

"Kalian sedang apa?"

"Astagfirullah!" Aku memekik. Badan yang belum berdiri dengan sempurna, kembali ke tempat semula, duduk.

"Ibu, bikin kaget saya saja."

"Kamuuu, dari tadi saya panggil. Kenapa gak nyaut?"

"Ma-maaf, Bu." Selain karena kaget, tubuhku gemeteran karena takut. Takut kena marah.

"Evan mana?"

"Udah tidur, Bu. Tadi habis makan sama renang, Evan tidur."

"Makan?"

"Iya, Nya. Zahira bikin bola-bola nasi. Eh, Den Evan lahap banget. Dia anteng main sama Zahira, sampe Zahira sendiri gak makan dan baru makan tadi habis magrib." Bi Inah menjelaskan. Sementara aku hanya menunduk dengan tangan saling meremas.

"Beneran, Ra? Hebat kamu bisa ngasih Evan. Kalau Evan sampe bisa akrab dan mau belajar sama kamu, kamu akan saya naikkan gaji."

"Beneran, Bu?" Rasa takut, gemetar, dan kaget hilang sudah. Bayangan tentang naik gaji dan bisa cepet nabung buat kuliah, melenyapkan segala rasa itu.

"Jaga aja Evan dengan bener, ya!?"

"Iya, Bu. Saya akan jaga Evan setulus hati."

Bu Rani tersenyum. "Ya udah, lanjutkan ngemilnya. Biar badan kamu agak gedean dikit. Itu tulang dada apa wadah sabun batangan?"

Eh?

Aku lekas menutup dada.

"Sepertinya, Nyonya suka sama kamu, Ra. He he he."

"Untunglah. Kalau sampai Bapak yang suka, kan bahaya. Ha ha ha."

Kami pun tertawa.

...🌺🌺🌺...

Pagi ini aku mendapat tugas baru. Mengasuh Evan. Meski ada pengasuhnya, tapi Bu Rani mempercayakan Evan padaku. Dari mulai mandi, makan, bermain, belaka dan sampai tidur lagi. Pengasuh yang sudah ada, hanya membantuku saja mempersiapkan kebutuhan Evan. Kecuali makan. Evan hanya mau aku yang memasak untuknya.

Bangun tidur, mandi, sarapan, terus belajar. Setelah itu jadwal Evan tidur siang. Sore harinya, setelah mandi, kami akan bermain sambil makan sore atau ngemil di malam belakang.

"Evan, coba hitung ada berapa bola warna merahnya? masukkan ke dalam ember yang warnanya sama, ya!"

Evan mengangguk. Dia berlari mengambil bola-bola berukuran kecil yang sudah aku tebar di lantai rumput sintetis. Dengan sangat antusias dan penuh keceriaan, Evan mengambil sambil menghitung bola yang dia masukkan.

"Sepuluh."

"Good boy! Sekarang ambil bila warna kuning lalu hitung dan masukkan ke dalam ember yang warnanya sama juga, ya!"

Tanpa menjawab atau memberi respon, anak itu kembali berlari dan menuruti apa yang aku perintahkan.

"Waaah, asiknya. Om boleh ikut gak, Van?"

Evan cuek.

"Ya udah, main sama ibu gurunya saja kalau begitu." Dia tersenyum. Lalu, menghampiriku.

"Ahhh! sejak kapan halaman belakang ini jadi begitu indah."

"Aku baru lihat Kakak lagi. Habis ke mana?"

"Idihhh, kepooo!"

Rafasya akan lebih menyebalkan dari pada Arsha sepertinya. Duh, Gusti!

"Kenapa? kangen, ya?" tanyanya. Lengannya menyenggol lenganku dengan senyuman menggoda dan mata berkedip satu.

Amit-amit jabang bayi.

"Biasa aja, tuh!"

"Yakin?" godanya.

"Evan, cari bola warna biru, Sayang."

"Iya, Bu Guru," jawab Rafasya sambil menirukan suara anak-anak.

Aku melirik sinis.

"Kan, katanya sayang. Ya udah aku jawab."

"Itu buat Evan."

"Om-nya juga, dong."

"Ogah!" Aku segera menghindar dan menghampiri Evan.

"Udah, yuk. Udah sore. Kita siap-siap buat salat Magrib."

Evan segera melepaskan bola-bola yang ada di tangannya. Pengasuh Evan yang bernama Suryati, segera mengambil dan mengumpulkan bolanya.

"Mau salat Magrib, ya? ikutan boleh?" tanya Rafasya.

"Boleh atuh, masa gak boleh. Orang mau ibadah."

"Berjamaah, ya?" tanyanya lagi saat kami hampir sampai di Musala.

"Boleh. Emang bisa?"

Dia mendelik.

Saat azan berkumandang, kami--aku, Evan dan Rafasya sudah stay di atas sajadah masing-masing. Kami salat setelah iqomah.

Rafasya. Laki-laki genit dan pecicilan itu membuat aku kagum. Selain suaranya yang merdu, bacaan Al-Qur'an-nya pun sangat bagus dan tartil. Tidak kusangka. Dia sungguh tidak bisa ditebak.

"Kenapa liatin aja?"

Eh? gimana dia bisa tau, padahal aku ada di belakangnya.

"Jangan lama-lama, nanti suka. Bahaya kalau udah kaya gitu."

"Ishhh, di Musala aja masih sempet godain orang. Aneh!"

"Kakak, Evan ngantuk."

Evan mengalihkan pembicaraan kami. Untunglah. Kalau tidak, bisa habis aku digodain Rafasya. Bisa salah tingkah nantinya.

"Ayo lepaskan sarung sama pecinya. Kakak temenin kamu bobo."

"Cuci tangan."

"Gak usah. Kan habis wudhu tadi. Masih bersih."

"Iya."

Evan memegang tanganku dan kami pun pergi menuju kamarnya. Selain dia itu penurut, Evan pun bukan tipe anak yang susah untuk tidur. Aku hanya perlu mengajak dia berbicara sebentar, lalu dia akan segera tertidur.

Setelah memastikan dia terlelap, tubuhnya sudah terselimuti dan lampu sudah dimatikan, barulah aku bisa pergi.

"Astagfirullah!"

Aku begitu terkejut sampai berteriak dan menutup mata, saat Rafasya berdiri di depan pintu dengan masker wajahnya yang berwarna hitam.

"Kak Rafa! apa-apa, sih? Untung aku gak punya penyakit jantung." Aku kesal. Tanganku masih sibuk mengusap-usap dada.

Dia tidak bicara. Mungkin karena masker yang ada di wajahnya. Dia hanya memberikan sebuah kantung keresek berwarna putih dengan tulisan yang sepertinya sebuah toko kue.

"Buat aku?"

Dia mengangguk.

Aku segera mengambilnya. "Makasih, Kak." Dia kembali menganggukkan kepala. Aku menaikkan keresek itu sejajar dengan mata. Melihat-lihat entah apa yang sedang aku cari. Kalau penasaran sama isinya, kenapa juga aku gak segera membukanya.

Aku emang suka oon kadang-kadang.

Ah! bukanya nanti saja sama Bi Inah dan yang lain. Lagi pula, aku merasa ada seseorang yang sedang memperhatikan. Palingan juga Rafasya dari atas. Aku menambah kecepatan langkah kaki.

"Wah! bolu. Ini pasti enak. Kejunya sampe liver gitu."

"Ah, kamu ini. Biasa aja dong."

"Bibi ... kapan lagi kita bisa makan bolu enak ini. Makasih, ya, Zahira."

Aku tersenyum. Senang rasanya bisa memberikan kebahagian untuk mereka. Beruntung karena teman kerjaku kali ini baik-baik.

"Tumben, ya, Den Rafa baik banget sama pekerja di sini. Biasanya dia cuek banget bahkan galak."

"Sssttt!" Bi Inah menutup mulutnya dengan telunjuk. Tingkah mereka membuatku penasaran dan semakin ingin tahu lebih jauh.

"Emang kenapa, Bi? aku kok banyak penasaran sama penghuni di rumah ini. Selain Kak Rafa, Evan juga anak yang baik dan penurut. Kenapa gak sekolah? harusnya dia sudah TK sekarang."

"Nanti kamu tahu sendiri, deh. Sekarang mah kerja aja dengan baik dan benar. Syukuri dan nikmati kebaikan dari Bu Rina."

Aduh! aku malah jadi takut. Ada apa sebentar dengan penghuni rumah ini?

...🌺🌺🌺...

Pernah tidak, kita merasa waktu begitu cepat berlalu? Karena apa? Kalau aku merasa waktu sangat cepat berlalu karena bahagia. Karena kita merasa nyaman dengan hidup yang kita jalani saat ini.

Sejak aku kerja, aku sama sekali belum pernah pulang kampung. Hari ini, akhirnya aku akan pulang karena sebentar lagi akan merayakan hari raya idul Fitri.

Sepekan lagi.

Supir pribadi Bu Rani yang mengantar sampai kampung. Bagasi mobil di belakang, penuh dengan makanan dan berbagai bingkisan dari Bu Rani. Sementara yang aku pegang ini adalah bingkisan dari Rafasya. Entah apa isinya. Belum aku buka karena dia berpesan agar membukanya di malam idul Fitri nanti.

Entah kenapa aku yang sangat penasaran pun malah begitu patuh padanya, padahal dia tidak akan tahu kalau pun aku membukanya esok.

"Assalamualaikum, Bu."

Ibu membuka pintu setelah menjawab salamku.

"Ya Allah, Nak." Ibu memeluk erat. "Ibu kangen sekali sama kamu. Sehat?"

"Alhamdulilah, Bu."

"Ya sudah, ayo masuk, Ra, Pak. Sebentar lagi buka puasa, kita buka bareng."

Pak Rahmat--supir pribadi Bu Rani-- masuk dengan membawa beberapa bingkisan. Aku pun ikut membantu.

Ada, bahkan banyak yang berubah di rumah ini. Dinding dan atapnya sudah rapi. Kursi tamu juga sudah berubah agak bagusan. Gorden pun tampaknya baru. Alhamdulilah. Aku sangat senang.

"Wah, masakannya pasti enak ini," ujar Pak Rahmat.

"Enggak, kok, Pak. Alakadarnya saja. Cuma ini yang bisa kami masak."

"Nda apa-apa toh, Bu. Iki pun wis enak. Mantap."

"Aku mandi dulu aja, Bu. Gak enak. Lengket."

"Ya sudah. Jangan lama-lama, tapi. Sebentar lagi buka puasa."

"Iya."

Tidak membuang waktu lagi, aku bergegas mengambil handuk dan membersihkan diri. Setelah badan kering kembali, aku memakai baju yang sengaja aku bawa ke kamar mandi. Gila aja kalau keluar hanya pakai handuk. Enak Pak Rahmat, dong.

Azan Magrib berkumandang. Kami pun segera membatalkan puasa. Menahan haus dan lapar sejak subuh tadi.

Aku kalap bukan karena menahan lapar seharian, tapi karena aku begitu merindukan masakan Ibu. Meski tidak sekomplit di rumah Bu Rani, tapi bagiku masakan Ibu adalah yang terenak.

"Hati-hati makannya, Nak." Ibu tersenyum.

Abaikan saja, yang penting aku puas aja dulu makan masakan Ibu. Stelah itu baru salat Magrib.

Ya Allah, dosa banget aku.

Melihat jam menunjukkan pukul 18.35, aku segera mengambil wudhu dan melaksanakan salat Magrib. Begitu salam, di luar sudah terdengar mulai ramai. Mereka adalah orang-orang yang akan pergi salat tarawih.

"Bu, Bu, Ibu." Aku bergegas keluar. Ibu dan Pak Rahmat menoleh secara bersamaan. "Aku mau ke mesjid, ya. Aku mau tarawih."

"Gak capek?"

"Enggak. Aku permisi dulu, ya. Udah kangen banget pengen tarawih di mesjid."

"Kangen tarawih, apa kangen seseorang?" tanya Ibu menggoda.

"Belum tentu dia pulang, kan?"

"Ada, kok. Udah seminggu yang lalu malah."

"Beneran? Eh." Aku menutup mulutku segera.

"Siapa? pacarnya?" tanya Pak Rahmat. Ibu hanya tertawa kecil.

"Wah, Den Rafa pasti kecewa kalau begitu."

"Rafa? siapa itu?" Kini Ibu berbalik bertanya.

"Adik majikan kami. Dia dekat dan sangat baik sama Zahira."

"Kan belum tentu suka sebagai pacar, Pak," sanggahku. "Udah, ah! Zahira mau ke mesjid dulu. Takut telat. Assalamualaikum."

Aku segera meluncur keluar rumah. Berlari kecil lalu berhenti di pinggir jalan. Menunggu seseorang yang aku kenal untuk berangkat bersama ke mesjid.

"Zahiraaa." Seseorang melambaikan tangan. Itu Renis. Dia temanku meski kami tidak satu sekolah. Kami sering berjalan bersama saat pergi ke sekolah.

"Kamu apa kabar? kapan pulang? Eeeh, pangling banget, loh. Tambah cantik aja tauuu."

"Baru datang tadi sore."

"Oooh, asik, nih, pulang tarawih minta oleh-oleh, ah!"

"Boleh, boleh, nanti mampir, ya."

"Asiiiik." Dia tertawa riang.

Menuju mesjid besar, jalannya menurun. Letaknya ada di sebelah dengan balai desa. Sepanjang perjalanan, kami banyak cerita tentang segala hal, mulai dari keadaan kampung yang sudah semakin ramai. Tentang anak-anak yang tidak seperti kami dulu, saat kami masih kecil, musala selalu ramai tapi sekarang tidak lagi. Hanya beberapa saja.

Ngabuburit jaman sekarang, diisi dengan muda-mudi berboncengan ke sana ke mari. Mirisnya lagi, bahkan anak-anak SD pun berpasangan dan konvoi bareng.

Renis tampak kesal dan juga merindukan masa-masa kecil kami dulu.

"Eh, kamu gimana sama Alif? masih pacaran?"

"Alif?" Aku kaget dengan pertanyaan yang diajukan Renis. Aku bahkan sudah lama putus dan kini berstatus pacarnya Arsha.

"Iya. Alif. Eh, tau gak? dia udah tunangan loh. Katanya sih sama anak bos beras."

"Oh, syukurlah."

"Loh, kok syukur?"

"Aku sudah putus, Ren. Udah lama bahkan sebelum kami lulus sekolah."

"Oh, pantesan aja Alif mau tunangan. Ternyata kalian udah putus?"

"Hmm."

"Eh, kamu masih temenan sama Arsha?"

"Arsha?" Aku menoleh pada Renis. Dia mengangguk yakin.

"Entahlah. Kami sudah lama tidak berkomunikasi. Ponsel aku hilang soalnya. Jadi, yaaa ... gak tau deh kabar dia gimana dan dia sedang apa, aku gak tau."

"Diaz sih, ikut sama bapaknya ke Jakarta. Coba aja, ikut mamahnya di sini."

"Loh, dia mau ikut sama siapa juga, pasti pulang ke sini sama bapaknya juga kan? gimana, sih, kamu, Ren?"

"Kami gak tahu kalau orang tua Arsha udah cerai?"

Uhuk!

Langkahku terhenti. Renis mengikuti. Aku menatap mata Renis dalam-dalam. Berusaha mencari sedikit saja kebohongan dari matanya. Tidak ada.

"Kamu serius? sejak kapan?"

"Astagfirullah, aku kira kamu tau. Kamu kan temen deketnya. Eh, salah. Eh, gimana, ya? kamu temen dia, tapi suka berantem aja. Jadi, nyebutnya apa?"

"Reniiis, seriusan, kapan?"

"Yaaa, pas dia pindah itu."

Ya Allah! Berarti waktu itu? Kenapa Arsha tidak ngasih tau aku? ish! keselnya.

Dorongan ingin segera bertemu dengannya pun semakin kuat. Aku harus mendapatkan nomor teleponnya dengan cara apa pun. Termasuk menemui Ibunya langsung. Harus!

Berita tentang perceraian orang tua Arsha, membuat salatku terkadang tidak khusyuk. Aku selalu memikirkan dia dan ingin segera bertemu dengannya.

Ya Allah, pertemukan aku dengan dia. Aku mohon. Doaku saat tarawih selesai dan kami berdoa.

Jika berangkat ke mesjid kami berjalan menurun, maka sekarang kami berjalan menanjak. Cukup jauh pula, tapi tidak terasa karena kami melakukannya bersama-sama. Orang tua, dewasa, remaja bahkan anak-anak. Mereka saling becanda dan berlarian.

Kadang, perjalanan kami dihiasi dengan indahnya kembang api yang dinyalakan warga. Langit yang hitam pekat, berubah menjadi terang dan indah.

"Ra, Ra." Renis menarik tanganku, mbuat aku yang sedang asik menatap kembang api, menoleh padanya.

"Apa?" Aku sedikit berbisik padanya.

"Ituuu." Renis sejak tadi menatap ke satu arah. Mataku mengikutinya dan ... Ya Allah, itu Arhsa. Beneran itu Arsha, kan? Astagfirullah ... Alhamdulilah ya Allah.

🌺🌺🌺

Yeayyy! part ini adalah part paling panjang, ya, Kesayangan. Part bonus untuk kalian yang selalu setia dengan Zahira.

Mungkin, jika like dan komentar semakin banyak, aku pun akan memberikan yang terbaik dan akan lebih memuaskan kalian juga.

Jadi ... Yuk, like dan komen di sini. Jangan lupa ajak teman kalian buat kenalan sama Zahira dan Arsha, yaaaa.

Love you, kesayangannya akooh.😍😘

1
Dinda
Luar biasa
Ida Ulfiana
ni critanya telat bawa ke rumah sakitnya jd nyawa zahira melayang
Ida Ulfiana
kayaknya zahira punya penyakit ini
Ida Ulfiana
nyesek bngt jd zahira
Ida Ulfiana
aku bingung mereka ni 1 sekolah tp knp rumah abqa d semarang yg. lain juga berasa rumahnya jauuuh bngt sm zahira
Ida Ulfiana
bagus bnget sih ni crita bikin baper aja
Ida Ulfiana
nyesek bngt d part ni
Ida Ulfiana
ye tak kira rafa suka sm zahira ternyta cm anggap adek to,pasti jodoh zahira adalah abqa
Ida Ulfiana
abqa sesuatu bangt memang gak kayak arsya
Ida Ulfiana
ada sesuatu di kluarga bu rani mencurigakan
Ida Ulfiana
gemes bngt sm arsha brasa gak jentel bngt jd cowok
Ida Ulfiana
arsha gak jentel jd cowok masak mau aja d jodohin dan ninggalin zahira
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Muanisah Jariyah
menarik
Ummi Lestari
di tunggu novel barunya thor
Ayu Wulan Dari Aseng
pada hal crt ny baguuuuus banget tp Napa like ny cm dikit ya Thor.
kok Dy buat nyesek sih Thor ending ny😭😭😭 pd hal pengen lht keunyuk an Zahira n abqa setelah punya baby.
tp yada lah Thor semangat ya Thor dengan karya2 baru ny. 👍👍👍
EmakOnces 🍒🍒
sesak aq thor..... 😭😭😭
kok g Happy ending...
EmakOnces 🍒🍒
udh pasrah ya Zahira.... udh banyak y nolak.... akhirnya nemu keluarga y hangat dan mau Nerim
Dahlia Lia
Keysa imut beeudd thor
Dahlia Lia
❤️❤️ SM kata ** nya ringan .. kekinian dah mudah di mengerti 👍👍 buat othor nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!