Bimo mengayuh sepedanya di tengah sinar jahat mentari. Entah melamunkan apa dia saat itu, ia tidak sadar sudah sampai di perempatan lampu merah dan tidak sempat mengerem sepedanya. Nahas, dia sangat terlambat. Ia menghantam seorang gadis yang berhenti di depannya.
Dimensi dalam diri mereka berhenti. Namun, lampu dengan cepat berubah hijau. Sejak kejadian itu, Bimo dihantui rasa penasaran karena perempuan itu sangat familiar baginya.
Hari ini, Adeth berangkat terlalu pagi. Kelas dan sekolahnya masih sepi. Tidak lama kemudian, muncul seorang lelaki dari balik pintu kelasnya untuk meminta bantuan. Adeth terkejut melihat lelaki itu.
Hai, terima kasih sudah mampir! Jangan lupa tekan tombol suka dan vote, ya, agar saya semangat untuk berkarya setiap harinya. Bagikan juga ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka, karena dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!
Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Doris Gaverna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
028. Episode 28
Adeth mencium punggung tangan mamanya. Suara pagar yang dibuka berderit panjang. Gadis itu lalu menatap langit. Awan hitam tampak menggantung memenuhi angkasa. Suara guntur bergema menyisakan kilatan cahaya terang di atas sana.
Adeth menelan ludah. Sambil terus berjalan, dirinya berharap agar hujan tidak turun, setidaknya jika dia belum pulang sekolah dan sampai rumah.
Gadis itu memasuki lorong gedung sekolah yang mulai dipadati siswa-siswi. Dari balkon lantai tiga, ia dapat melihat segala aktivitas di lantai satu. Mulai dari guru yang memakirkan sepeda motornya, siswa-siswi yang memasuki kelas, atau ibu kantin yang baru datang. Semuanya normal, tidak ada yang ganjil. Adeth lalu membuang pandangan kembali lurus ke depan.
Seperti yang akan ia duga, kelasnya dipenuhi oleh siswa yang kesemuanya abnormal. Teriakan tidak jelas dan tawa yang menggelegar bercampur aduk membuat Adeth ternganga di ambang pintu. Gadis itu hanya menggelengkan kepala lalu duduk di kursinya.
“Yo,” sapa Reyza yang tengah mengulum permen loli. “Pagi-pagi sudah kusut, tuh, muka. Benerin, gih. Nggak enak dipandang.”
“Iya,” jawab Adeth lalu tersenyum kepada Reyza.
“Nah, gitu, dong,” Reyza ikut tersenyum. Perhatian Reyza teralihkan oleh suasana kelabu di luar ruangan. “Kelihatannya mau hujan, ya?”
Adeth ikut melihat ke luar kelas sambil memasang mimik memelas. “Semoga saja tidak.”
Bel masuk berbunyi. Segera, seluruh kelas porak poranda seperti ditiup angin topan. Anak-anak mendudukkan diri di bangku mereka masing-masing. Tidak lama kemudian, pengajar pun masuk. Namun, pagi ini bukan Bu Rahayu yang mengajar, melainkan Pak Sugi, wali kelas kelas sebelah.
“Morning, students,” sapa guru itu ramah.
“Morning, Sir!”
“Hari ini saya yang mengajar karena wali kelas kalian, Bu Rahayu, ada urusan di luar kota sampai satu pekan ke depan.”
Ada jeda satu detik sebelum teriakan heboh memecah keheningan kelas.
“WOA! AKHIRNYA!”
“Terimakasih, Tuhan.”
“This is the real freedom. Cheers.”
“Semuanya, mohon untuk tenang!” seru Pak Sugi sambil menepukkan tangannya beberapa kali yang berhasil membuat anak-anak lebih terkendali.
“Wali kelas kalian tidak ada bukan berarti kalian bebas begitu saja, karena …,” perkataan Pak Sugi menggantung di udara. Kemudian, beliau tampak mengaduk-aduk tasnya yang membuat seisi kelas melirik penasaran. “Karena ada segudang tugas yang harus dikerjakan.”
Pak Sugi mengempaskan tumpukan kertas yang sangat tebal. Anak-anak menghela napas dengan pasrah.
“TIDAK!”
“Tenang dulu, anak-anak. Meskipun saya bilang ada segudang tugas yang harus dikerjakan, saya masih akan memberi kelonggaran.”
“Kelonggaran seperti apa, Pak?” tanya salah seorang murid yang mengacungkan tangan.
“Hari ini, saya masih ada kepentingan, jadi tidak bisa mengajar kalian. Harap tenang dan kerjakan saja tugasnya selama jam pelajaran. Pokoknya yang saya tahu, tugas harus selesai hari ini. Jangan bilang siapa-siapa, ya.”
Seluruh kelas bersorak-sorai.
“Kalau begitu, saya tinggal, ya. Selamat pagi.”
“Pagi, Pak!”
Pak Sugi berjalan menuju perpustakaan. Sesekali, beliau melihat sekeliling seolah-olah memastikan bahwa tidak ada yang melihat beliau berada di sana. Pak Sugi berjalan tergesa-gesa menuju pintu di balik lemari. Di sana, sebuah matras olahraga dan bantal tertata rapi lengkap dengan berbagai macam makanan ringan. Pak Sugi segera mendudukkan diri dan mengambil makanan-makanan tersebut.
“Ah ... nikmatnya hidup.”
___________________________________
Musim begini ngomongin sekolah jadi pengen ke sekolah lagi, ya? Apa pengalaman sekolah paling absurdmu?
Hai, terima kasih sudah mampir! Bagikan ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka. Karena, dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!
Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara
waahhhh
ternyata..
ada saingan mu, Deth....
adrenalin naik..
sePi (sesak pipis) thor..
😄🤣🤣
bocah Kambil itu apa ya artinya??
salken
jd inget tempo dulu pas ikut pramuka,