Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.
Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.
Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.
Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Ancaman atau Sekutu?
Edward berdiri di depan cermin, merapikan pakaian formal yang melekat pada tubuhnya.
Penampilannya malam ini terlihat begitu elegan—terutama setelah rambutnya disisir rapi dengan sedikit sentuhan minyak rambut.
Awalnya, Edward sama sekali tidak berniat tampil se-necis ini. Namun, mengingat posisinya sebagai tamu kehormatan Kerajaan Nivalis yang akan menjadi pasangan dansa Putri Iselyna, plus desakan tanpa henti dari Bernard, ia akhirnya mengalah pasrah.
Ia melangkah pelan mendekati jendela kamar lalu mengintip ke luar.
Kereta-kereta kuda mewah milik para bangsawan tampak terus berdatangan. Sejak siang tadi, deretan tamu undangan memang sudah mulai memenuhi area istana, dan jumlahnya kian membeludak menjelang dibukanya pesta malam.
Edward kembali menghadap cermin. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan untuk meredakan gejolak di dadanya.
Jujur saja, ia merasa teramat sangat gugup. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia akan berada tepat di bawah sorotan utama banyak orang.
Dahulu, setiap kali ada pesta atau acara resmi, Edward selalu memilih duduk menyendiri di pojokan ruang yang sepi. Toh, tak ada seorang pun yang mau diajak bicara atau sudi mendekati pangeran tanpa Mana seperti dirinya.
Namun kali ini... semuanya berubah drastis.
Putri Iselyna yang dingin kini justru menjadi sosok yang sangat akrab dengannya. Belum lagi adik kecilnya, Putri Isolde, yang juga mulai sangat menempel padanya.
Edward bahkan tak sanggup menahan senyum saat teringat kejadian tadi sore. Beberapa kali Putri Kecil itu mengendap-endap menghampirinya, merengek meminta diajak melayang terbang lagi di angkasa, sebelum akhirnya sang kakak datang dan menyeretnya pergi.
Membayangkan Isolde yang meronta-ronta menolak dibawa masuk, lalu seketika bungkam saat ditegur keras oleh Iselyna, membuat tawa kecil lolos dari bibir sang Pangeran.
Ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan mantap.
“Baiklah... ayo kita lakukan.”
Setelah mengambil topeng pesta yang tergeletak di atas tempat tidur, Edward melangkah keluar kamar. Di luar, Bernard sudah berdiri menunggunya dengan setia.
“Bagaimana penampilanku, Bernard?” tanya Edward.
Bernard menyunggingkan senyuman bangga sembari membungkuk kecil.
“Sangat tampan seperti biasanya, Tuan Muda.”
Edward terkekeh pelan. Keduanya pun mulai melangkah bersama menyusuri koridor istana, menuju aula utama tempat Pesta Topeng Akbar akan segera diselenggarakan.
Edward tak sanggup menyembunyikan rasa kagumnya saat memijakkan kaki di aula utama.
Ruangan itu terlihat begitu megah dan berkilauan. Ratusan tamu undangan dari berbagai kalangan elit—para bangsawan, pejabat tinggi, hingga tokoh kenamaan—telah memadati setiap sudut ruangan. Masing-masing tampil anggun dengan pakaian terbaik serta topeng dengan desain yang unik.
Edward menyusuri tangga pualam menuju ke dasar aula, sementara Bernard mengekor setia di belakangnya sebelum akhirnya memisahkan diri menuju tepi ruangan bersama barisan pelayan lainnya.
Jantung sang Pangeran berdegup kencang.
Rasa gugup perlahan merayapi benaknya tatkala beberapa pasang mata di dalam aula mulai melirik ke arahnya. Mau bagaimana lagi? Saat ini ia benar-benar sendirian.
Kedua orang tuanya tengah sibuk berbincang di area singgasana utama bersama para pemimpin negara lainnya. Bernard dan Emma berada jauh di pinggir aula. Dari kejauhan, Edward bahkan bisa melihat Emma mengepalkan tangan memberi gestur semangat—seolah menegaskan bahwa sang Pangeran pasti bisa melaluinya.
Namun, di saat mata Edward sibuk menyapu sekeliling keramaian...
Seorang pemuda berbalut jubah kebesaran mewah tampak melangkah menghampirinya.
Gaya jalannya pongah, memancarkan rasa percaya diri yang kelewat batas. Setiap kali pemuda itu melangkah, bisik-bisik kekaguman langsung menyeruak di sekitarnya, menjadikannya pusat perhatian seketika.
Meski sebagian wajahnya tertutup topeng pesta, Edward langsung mengenali identitasnya—terutama dari ukiran senyuman licik yang terlukis di bibirnya.
“Wah, wah, wah... Lihat siapa yang kita punya di sini,” ejek pemuda itu dengan nada suara meremehkan.
“Pangeran Edward... Kukira kau terlalu takut untuk menginjakkan kaki di acara megah seperti ini.”
“Pangeran Judas...” balas Edward sinis, menatap dingin lawan bicaranya. “Senang juga bisa melihatmu di sini.”
Judas menyeringai lebar sembari menyapu rambut merahnya ke belakang dengan gaya sok tampan.
“Kudengar... malam ini Putri Iselyna akan mengumumkan pasangan dansa resminya. Kau tahu soal itu, kan?” tutur Judas percaya diri.
“Kabarnya, beliau akan memilih sendiri pasangannya tepat saat dansa pembuka dimulai. Jadi, lebih baik kau menyingkir sekarang dan berikan jalan untuk Pangeran ini mendapatkan tempat yang seharusnya!”
Judas lalu melirik Edward dari atas ke bawah, menyunggingkan tawa mengejek.
“Lagipula, sejak kapan seorang pangeran tanpa Mana sepertimu berkeliaran di tengah aula utama? Bukankah tempat favoritmu ada di sebelah sana?” lanjutnya sembari menunjuk ke arah sudut ruangan yang gelap dan sepi.
“Heh...” Edward terkekeh sinis, menatap lurus ke dalam manik mata Judas.
“Aku benar-benar tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulut seorang pemabuk yang baru saja berbuat onar di bar lokal... bahkan hampir melucuti pakaian seorang wanita tak berdaya.”
Edward memiringkan kepalanya sedikit, menyunggingkan senyum mengejek.
“Dan setelah semua skandal menjijikkan itu, kau masih berani menyebut dirimu pangeran yang terhormat? Sebelum mengkritik orang lain, pastikan kau mengaca terlebih dahulu.”
Deg!
Sindiran pedas yang menghantam tepat di titik terlemahnya sukses membuat wajah Judas merah padam oleh murka.
“Dasar manusia terkutuk!” bentak Judas dengan suara tertahan, napasnya memburu kasar.
“Keberadaanmu adalah hal paling tabu di dunia ini! Berani-beraninya kau menghina pangeran suci sepertiku dengan mulut iblismu itu?!”
“Heh, suci?” Edward mengangkat sebelah alisnya, meremehkan. “Apa aku tidak salah dengar? Apa kau mendadak tuli sampai tidak mendengar kata-kataku barusan?”
“Kau... kurang ajar!”
Emosi Judas meledak. Ia mengangkat tangannya yang sudah diselimuti pendaran Mana, siap melayangkan serangan ke wajah Edward—
Grep!
Namun, sebelum tindakan gegabah itu terjadi, sebuah cengkeraman tangan yang kokoh mendadak menghentikan pergelangan tangan Judas di udara.
“Tuan-Tuan... bisakah kalian menahan diri dan menyelesaikan perselisihan ini nanti?”
Sebuah suara tenang nan berwibawa menyela di antara mereka.
“Saat ini kalian sedang berada di area sakral kerajaan Nivalis. Tentu kalian tidak ingin merusak reputasi kalian lebih jauh lagi di depan para tamu agung, bukan?”
Pemuda yang menghentikan Judas memiliki perawakan yang amat memikat.
Tinggi, tampan, dengan kulit cokelat eksotis yang hangat, serta rambut pirang panjang yang diikat gaya ekor kuda yang rapi. Pembawaannya teramat kalem dan tenang, namun memancarkan aura kedisiplinan yang kental serta wibawa seorang pemimpin sejati.
Tatapannya yang tajam memancarkan kilau manik mata berwarna hijau zamrud—sanggup memikat siapa saja yang memandangnya.
Ia adalah Pangeran dari Benua Selatan. Seorang jenius ajaib yang dikenal sebagai salah satu penyihir terkuat di dunia—yang sanggup menembus Penyihir Lingkaran 8 di usianya yang baru menginjak 11 tahun dan menyandang gelar Grandmaster.
Pangeran Azaran Vaelkaris.
Putra mahkota sekaligus putra tertua dari Kerajaan Matahari, Zulthara.
Gigi Judas bergemeretak keras. Dengan gerakan kasar, ia menepis genggaman tangan sang Putra Mahkota Zulthara itu.
“Cih, mengganggu saja,” desisnya sinis, menatap tajam ke arah Azaran sebelum akhirnya berbalik pergi dengan langkah yang masih menyimpan amarah.
Pangeran Azaran tidak bereaksi berlebihan. Ia hanya menanggapi sikap kurang ajar Judas dalam diam, sebelum perlahan mengalihkan atensi sepenuhnya kepada Edward.
Dari balik topengnya, Azaran menatap Edward dengan lekat. Tatapannya begitu intens, seolah tengah membedah setiap inchi keberadaan sang Pangeran di hadapannya. Ia sedang melakukan kalkulasi.
Selama ini, Azaran hanya mendengar rumor simpang siur dari lorong-lorong istana. Kabar tentang seorang pangeran yang dianggap 'cacat' karena tidak memiliki setitik pun Mana dalam tubuhnya.
Tentu saja, ia merasa penasaran. Dan sekarang, setelah berhadapan langsung dengan sosok aslinya, rasa penasaran itu kian memuncak.
Namun, bukan rumor tentang ketiadaan Mana itulah yang sebenarnya membuat Azaran tertarik.
Ada satu fakta yang membuatnya sangat waspada—kabar tentang keberhasilan Edward mengalahkan salah satu Panglima Iblis dalam insiden Wild Dungeon di Aureliania, tepat seminggu yang lalu.
Sebagai Putra Mahkota yang sah sekaligus menjabat sebagai komandan perang utama di kerajaannya, Azaran bukanlah pangeran yang hanya duduk manis di singgasana. Ia sering terlibat dalam rapat kenegaraan tingkat tinggi, termasuk saat berita kemenangan itu sampai melalui surat resmi dari Raja Nolan.
Kehadiran Azaran di pesta ini pun bukan sekadar untuk memikat hati sang Putri Pertama Nivalis saat dansa digelar nanti. Lebih dari itu, ia memiliki agenda terselubung: menghadiri rapat rahasia yang akan digelar tepat setelah The Grand Masquerade berakhir.
Baginya, Edward bukanlah sekadar "Pangeran Tanpa Mana".
Edward adalah sebuah anomali. Dan bagi seorang komandan perang seperti Azaran, anomali adalah ancaman—atau sekutu—yang harus dipahami secara mendalam.
Edward menyadari tatapan mata sang Pangeran dan bergeming dalam sunyi. Entah kenapa ini mengingatkan dirinya saat pertemuan pertama dengan Putri Iselyna. Agak kurang nyaman memang, tapi ia harus menahannya. Terlebih lagi Edward merasakan ada maksud lain dari tatapan mata Azaran.
Mereka berdua saling pandang sampai terompet kerajaan berbunyi menyita mereka berdua, tanda acara akan dimulai.
Semua orang seketika terdiam menunggu. Sampai sebuah suara pengumuman memecah arena dansa.
Jangan lupa ke naskah aku juga ya