NovelToon NovelToon
PENGANTIN TANPA PENGANTIN

PENGANTIN TANPA PENGANTIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor
Popularitas:105.5k
Nilai: 5
Nama Author: Opie

Desa Kalijati merupakan tempat yang nyaman dan tenteram untuk ditinggali. Hanum dan ibunya yang merupakan seorang penata rias tinggal di desa tersebut bersama keluarga Bima dan yang lainnya.

Tapi rasanya desa itu menjadi tidak lagi nyaman saat seorang perempuan bernama Bu Ambar mendatangi desa di tengah malam.

Entah apa kepentingan perempuan itu hingga mengejutkan para penjaga ronda dan membangunkan Marni dari tidur lelapnya.

Belum lagi keganjilan yang terus terjadi sejak perempuan itu mendatangi desa. Kematian Bu Tejo yang mendadak dan mayatnya yang hilang, Hanum yang merias pengantin tanpa pengantin, hingga menyerang ke alam gaib.

Belum sampai disitu, kejadian mistis dan misterius lainnya terus bermunculan.

Ikuti Hanum dan Bima untuk mengetahui segala kejadian mistis dan misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Opie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA PULUH SEMBILAN (PERINGATAN)

“Bude…. Hanum nggak enak ngerepotin terus.”

“Nggak ada yang ngerepotin, bude seneng kamu ada disini” Marini mengusap lembut pipi Hanum “kamu istirahat ya.” Tangan Marini menepuk-nepuk bantal yang tergeletak di atas kasur.

Hanum sudah di boyong oleh keluarga Bima ke rumah mereka, kini Hanum sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur Bima. Ia berusaha untuk memejamkan matanya supaya bisa beristirahat, tapi tak bisa.

Tubuh Hanum berguling kesana-kemari setelah ditinggalkan Marini. Ia gelisah dan masih mengingat wajah yang terekam jelas oleh matanya, perempuan Jawa cantik dan anggun yang pucat.

“Ngapain disini?” Tanya Hanum terperanjat hingga bangun dari tidurnya.

“Sssttt.” Bima membungkam bibir Hanum halus agar ia mengecilkan suaranya.

“Ngapain?” Tanya Hanum kembali sambil berbisik.

“Nemenin kamu.”

Hanum diam, ia memang perlu ditemani. Ia masih gelisah dan belum mau pergi ke alam mimpi. Sementara di ruang tengah, Bima terus mendengar gemerisik sprei dari kamarnya yang gelap. Ia bangkit dari pembaringan dan mendatangi kamarnya, Bima mengintip dibalik tirai dan segera mendatangi Hanum saat melihatnya berguling kesana-kemari. Langkahnya mendekat dan langsung duduk di bibir ranjang yang membuat kekasihnya terkejut.

“Aku nggak bisa tidur Bim.” Kata Hanum memeluk lututnya sendiri.

“Hari ini apa yang kamu liat?" Jawab Bima seolah tahu apa yang ada di pikirannya Hanum.

“Tadi yang aku liat bukan ibu lagi, tapi perempuan lain.”

“Perempuan?”

“Perempuan yang pake baju kebaya gitu. Rambunya disanggul pake kain jarik juga, tapi wajahnya pucat.” Tutur Hanum dengan suara rendah.

“Yaudah kamu istirahat ya… nggak usah dipikirin lagi. Aku bakalan ada disini buat nemenin kamu.” Bima mengusap lembut kepala Hanum.

“Makasih ya Bim.” Hanum mendongak dan tersenyum.

Walau dalam kegelapan, Hanum masih bisa melihat wajah Bima yang bersinar. Wajah yang sangat meyakinkan untuk menjaganya. Begitupun dengan Bima yang bisa melihat senyum Hanum dalam kegelapan. Mereka saling beradu tatap sebelum akhirnya Hanum membaringkan tubuhnya dan Bima menyelimutinya.

Setelah Hanum berbaring dengan nyaman, Bima mengambil kursi belajarnya di sudut kamar, ia tertidur seperti seseorang yang sedang menunggui pasien di rumah sakit. Tentu saja ia tak berani mengambil tempat di samping gadis itu.

Di sisi lain Marni juga gelisah, untuk kedua kalinya ia berpisah dengan Hanum setelah kejadian aneh ini berlangsung. Ia mondar-mandir di dalam rumah Mbah Uti, tangannya mengepal dan berkeringat.

“Tidur Mar. Insha alloh Hanum baik-baik aja” Mbah Uti menepuk pundak Marni yang langsung berhenti “nanti mbah bantu, kenapa Nyai Melati masih datang.” Sambung Mbah Uti.

“Iya mbah.”

Marni segera duduk dan membaringkan tubuhnya diatas kasur yang ditata di ruang tamu sama seperti sebelumnya, Mbah Uti ikut berbaring disana. Selama masa-masa menginap Marni di rumahnya, Mbah Uti sengaja menggelar kasur di ruang tengah agar ia bisa berbaring di sebelah Marni dan masuk ke alam bawah sadarnya.

Keduanya berusaha memejamkan mata meski selalu ada ganjalan yang membuat mereka tak nyaman untuk memejamkan mata. Seperti tidur ayam yang sebentar-sebentar bangun, akhirnya Marni terbangun dan duduk. Ia meregangkan tubuhnya sebelum kembali berbaring.

Setelah beberapa saat, rasa kantuk yang ditunggu Marni tiba. Kini ia bisa terlelap dalam tidurnya, sayangnya itu tak berlangsung lama. Pada saat akhirnya Marni bisa memejamkan mata untuk beristirahat, mimpinya malam membuat ia tak beristirahat.

Mbah Uti yang terbangun karena igauan Marni sedang membaca do’a di samping tubuh Marni yang masih terpejam namun mengigau dengan sangat hebat. Mbah Uti memegang segelas air putih di tangannya dan segera meminumkannya pada Marni yang masih tidur.

Marni terbangun, ia tersedak air yang diberikan oleh Mbah Uti. Marni menepuk-nepuk dadanya untuk meredakan batuk setelah ia tersedak. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya dengan terus mengucap nama alloh.

“Tangi, wudhu terus solat.” Perintah Mbah Uti.

“Iya mbah.”

Marni bangun dan segera menuju ke kamar mandi seperti yang diperintahkan Mbah Uti. Namun betapa terkejutnya Marni saat melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi Mbah Uti, ia terlihat seperti orang yang tidak waras.

Lingkaran hitam terlihat jelas dibawah mata Marni, rambutnya acak-acakan dan ia melihat dasternya yang sedikit koyak di bagian kerah. Ia mundur sedikit karena takut, tapi ia kembali mengingat perintah Mbah Uti untuk wudhu.

Marni mengambil air wudhu setelah sedikit merapikan rambutnya yang acak-acakan, ia juga berulang kali membasuh wajahnya sebelum wudhu. Ia harus benar-benar sadar dan tak terpengaruh oleh keadaan ini, pikirnya.

Sekembalinya Marni dari kamar mandi, Mbah Uti sudah menggelarkannya sajadah di sebelah tempat mereka tidur. Marni langsung mendatanginya dan mengenakan mukena yang sudah disediakan juga.

Mbah Uti duduk bersila di sebelahnya, ia terus merapal do’a-do’a yang terdengar sebagai bisikan karena suaranya yang rendah. Marni melaksanakan solat hajat untuk meminta perlindungan pada penciptanya.

“Sudah yuk tidur lagi.” Kata Mbah Uti yang melihat Marni sedang melipat mukenanya.

“Iya mbah.” Sahut Marni tanpa banyak bertanya.

Setelah melipat mukena dan sajadahnya, Marni kembali berbaring bersama Mbah Uti. Kali ini tak butuh banyak usaha untuk memejamkan mata dan tidur bagi Marni. beberapa menit setelah memejamkan mata, ia segera tenggelam kedalam dunia mimpi tapi tak ada mimpi buruk yang mendatanginya kali ini.

Fajar mulai menyingsing saat Marni dan Mbah Mbah Uti sudah sibuk mempersiapkan dagangan untuk dijual hari ini. Marni terlihat segar karena tidurnya lelap setelah dihantui mimpi buruk sebelumnya.

Pagi harinya, Marni baru berani membuka suara terkait dengan mimpi yang dialaminya pada Mbah Uti, dan Mbah Uti sudah tak terkejut lagi. Ia mengetahui yang dialami Marni tadi malam, namun sama dengan Marni, Mbah Uti menunggu hari berganti untuk menceritakannya pada Marni.

“Tadi malam aku mimpi dicekik mbah.” Kata Marni.

“Iya wes nggak apa-apa sekarang.” Sahut Mbah Uti santai.

Nenek tua itu tahu apa yang terjadi dalam mimpi Marni karena ruhnya ikut ada disana. Terlihat perempuan Jawa itu kembali mendatangi Marni, ia berusaha menakutinya dalam mimpi sampai Mbah Uti datang dan menariknya hingga Marni bisa bangun.

Perempuan itu datang hanya untuk memperingatkan tentang kesepakatannya dengan Marni, karena hari ini Kamis kliwon. Dan setelah Mbah Uti menceritakan percakapannya dengan wanita Jawa itu ternyata memang Marni lupa, itulah kenapa sepertinya perempuan itu datang.

“Ya alloh mbah. Kelalen aku….” Marni menepuk jidatnya sendiri menyesali kesalahannya.

“Nggak usah dipikir, mbah sudah siapkan yang dia minta. Kamu nggak usah khawatir lagi pokoknya.” Tutur Mbah Uti yang sibuk memotong ubi untuk gorengannya.

Marni menatap kosong, menerawang kehidupannya jika saja tak ada Mbah Uti yang menolongnya. Belum lagi dengan Hanum yang diganggu.

“Sudah dibilangin nggak usah dipikir, masih… aja ngelamun.” Tegur Mbah Uti yang menyadari lamunan Marni.

“Iya mbah maaf.” Marini kembali ke pekerjaannya untuk membuat adonan tepung gorengan.

1
Saya Sayekti
maaf Thor aku g kuat bacanya .aku mundu.aku kucur jantung ku udah dingin
Saya Sayekti
udah mulai serem nya.td msh penasaran
Saitama Fans
ngeri ceritanya
Saitama Fans
??????
Siti Arbainah
Itu cara bu Ambar ya biar bu Marni mau nerima twarannya
Nur Hasanah
Luar biasa,aku suka sama ceritanya
Shefia Tamara
bagus
Elvisuke
tamat kah ??
aoleng marang alloh
lama bgt g up
Yeyet Suryati
wah gimana kelanjutannya thorrr GK up nich dah lama bangetss
Yumna Faida
kapan lanjut thor, penisirin aq x. ceritanya bagus. moga sukses dan sehat sll
Nenden Solehah
lanjut lagi thor semangat up nya
Santhy Liem
kapall oleng,komandan....
Santhy Liem
lanjut thorr
Yeyet Suryati
up donk authorr
opie evani aprilia: Hallo. Selamat membaca chapter baru 🌻
total 1 replies
aoleng marang alloh
d tggu up x
opie evani aprilia: Selamat membaca chapter baru 🌻
total 1 replies
Yeyet Suryati
ikh kirain lanjut eh malah pengumuman kpn lanjut ..tamatin AZ biar yg baca GK bete nunggu
opie evani aprilia: Dimohon kesabarannya ya kak. Terimakasih sudah support terus 🤍🤍🤍❤️❤️❤️
total 1 replies
Ai Emy Ningrum
sabar menanti tante Hanum kembali 😌😌😌 aku ga ada pengalaman kyk km thor..mo resign ya resign ajah dulu mah hehehe ..
opie evani aprilia: Iya kak. Maunya gitu. Hehehe
Tapi malah numpuk tugasnya ...
Semoga segera berlalu
Terimakasih sudah support terus ❤️❤️❤️🤍🤍🤍
total 1 replies
Ai Emy Ningrum
betul itu..yg lalu biarlah berlalu ..hidup hrus brrjln terus...
Yeyet Suryati
up donkkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!