NovelToon NovelToon
Jangan Panggil Aku Janda

Jangan Panggil Aku Janda

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Perjodohan / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:195.2k
Nilai: 5
Nama Author: Duajempol

Pikiran Nara masih saja penuh dengan ajakan menikah dari direktur gilanya itu, Nara jadi tidak begitu konsen dalam bekerja.
Kenapa aku bisa sesial ini pergi ke perjodohan malah ketemu sama bos sendiri?!

Masalahnya Nara hanya wanita yang menyamar sebagai sahabatnya.

Akankah perjalanan cinta Nara dengan statusnya sebagai janda berjalan mulus?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duajempol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Balas Dendam Berhasil?!

Jangan membayangkan tempat makan fancy, restoran modern apalagi fine dinning yang akan di pilih Nara untuk membayar akting direkturnya. Kedua insan itu sekarang duduk di sebuah bangku taman yang tidak jauh dari tempat tinggal Nara.

"Makanan yang bisa dilihat ketulusan untuk hati saya.... roti??" Rey mengerutkan alisnya melihat sekantong roti yang dibawa Nara, bahkan ada minuman juga yang disiapkan wanita itu. Betul sekali, semua itu adalah menu dari bakery orang tua Nara.

"Benar, anda tidak suka roti? Padahal saya menyiapkan aneka jenis roti." Nara membuka isi kantong tersebut.

"Saya suka..." Rey menatap Nara dalam dalam.

"Roti."

Nara tersentak karena tadi dia lagi lagi terhanyut oleh permainan kata dan juga wajah lelaki itu.

"Eh.. iya roti! Haha haha selamat makan." Nara tersenyum canggung, beruntung pencahayaan taman tidak terang benderang sehingga rona pipinya tidak akan terlalu kentara.

Gila yah kamu jantungku! Hanya begini saja sudah berdebar, jantung gembel!!!

"Terima kasih kalau begitu, tapi... kita sungguh akan makan malam hanya dengan roti?"

"Aku sering melakukannya, kan roti itu karbo sama dengan nasi juga karbo. Lagi pula ini ada roti dengan isian daging dan juga ada pizza roti, ada sandwich. Silahkan dipilih kesukaan anda pak direktur." Nara memberikan banyak jenis roti pada Rey.

"Direktur, tadi makan siangnya.. terimakasih yah." Nara memulai obrolan di tengah makan mereka.

"Tadi kalian berempat yah.. kalau begitu tambah 4 hari lagi yah makannya."

"Hah??!" Nara menatap Rey tidak percaya, "Masa saya harus membayar yang tadi juga??? Jahat sekali, seorang direktur kan memang kadang mentrakt..."

"Saya bercanda." Rey terkekeh.

"Ini bukan saatnya untuk bercanda seperti itu! Saya kaget tau!" Nara menggigit potongan besar roti pizza di tangannya sebal.

"Tapi... walaupun begitu, saya mau kok makan lebih lama sama nona Naranika." Rey tersenyum tampan.

"Be.. begitu yah!" Nara dengan cepat memalingkan wajahnya.

Aku tidak sanggup menatap matanya lama lama, tenanglah wahai jantungku!!

Nara hanya menunduk dan diam memakan rotinya tanpa suara lagi, degup jantungnya semakin berdebar.

Walaupun aku tau ini hanya akting tapi hatiku tidak bisa tenang, mungkin ada.. kemungkinan ini bukan sebuah akting...

"A,anu.. direktur saya boleh bertanya.." Nara memalingkan wajahnya pada Rey.

Belum sempat Nara melanjutkan kalimatnya, Rey mengusap sudut bibir Nara dan membersihkan sisa remah roti disana.

Nara melebarkan matanya dan menatap Rey sendu.

Direktur, benarkah anda sedang membalas dendam??

..

'Bruk' Nara membuang asal tas kerjanya begitu dia memasuki kamar tidurnya, menghela nafas panjang dan terduduk di lantai. Nara menyandarkan kepalanya diatas kasur, "Hhaaahhhh." Lagi lagi dia menghela nafas.

Pada akhirnya aku tidak bisa mengatakan apa apa, walaupun aku tau itu balas dendam tapi setiap melihat wajah direktur yang tersenyum padaku, aku selalu ingin percaya bahwa itu tulus dan bukan balas dendam.

Nara memejamkan matanya, entah kenapa dia merasa sangat lelah padahal hari ini dia tidak terlalu sibuk di kantor. Apa mungkin mempunyai banyak pikiran membuat tubuh cepat terasa lelah?

Sekarang harus aku akui... sepertinya..

Aku suka pada direktur.

****

"Direktur! Direktur!!!!" Bastian berlari membuka ruang kerja Rey dengan tergesa.

"Ada apa sih bikin kaget saja!" Rey merasa kesal.

"Ini darurat!!! Anda harus cepat membuat keputusan!" Bastian menyerahkan sebuah nampan pada Rey.

"A, apa ini?!!" Rey bersingut mundur karena terkejut.

"Ini menetukan nasib perusahaan cepat putuskan!!!" Bastian semakin tidak karuan.

"Apa maksud semua ini???!" Rey melihat banyaknya roti diatas nampan. Dan belum selesai disana, pintu ruang kerja Rey di ketuk dengan tidak sabaran.

'Dug!!' 'Dug!!' 'Dug!!'

"Direktur!!! Ada roti pizza, ada sandwich, ada roti isi daging dan juga yang manis manis!!!" Nara tiba tiba muncul.

Bersamaan dengan itu juga kakek menyelak.

"Reynold!! Reyy!!! Kakek lebih suka di panggang, tetapi roti goreng juga menjadi andalan menu baru!!"

Bastian, Nara dan kakek berdiri berjejer.

"Tolong putuskan segera direktur, anda mau roti rasa apa??" Bastian menyodorkan nampan itu lagi di depan wajah Rey.

"Silahkan pilih direktur ada roti isi daging atau yang manis???!" Nara menyerahkan sekantong penuh berisi roti juga di depan wajah Rey.

"Pilih yang di panggang saja!! Jangan goreng, panggang saja!!" Kakek juga mendesak.

"Cepat tolong cepat putuskan!"

"Pilih saja, cepat pilih!"

Pilihlah ini pilih ini!!"

Rey berdiri kaku dengan suara bising itu memenuhi tiap sudut dan sela sela bagian kepala hingga otaknya.

Rey membelakkan mata tiba tiba, tersentak dan tersadar, nafasnya terengah dan semua itu ternyata hanya mimpi.... buruk. "Hah hah hah.." Nafas Rey masih saja terengah. "Aku sampai memimpikannya!" Rey menyugar rambutnya yang berantakan.

..

"Direktur tidak makan???" Nara bertanya dengan wajah sepolos anak kecil saat mereka bertemu lagi di malam hari ke tujuh untuk makan malam bersama.

Rey mengernyitkan alisnya melihat roti yang dibawa Nara, roti itu wangi dan baru saja selesai di panggang namun....

Seminggu penuh roti!! Kalau begini terus, lama lama aku yang menjadi roti!

"Hari ini saya membawa menu baru yang sedang kami kembangkan, rori goreng berisi kari. Apa roti di toko kami tidak enak??" Nara bertanya lagi pada Rey.

"Bukan begitu maksud saya.." Rey semakin bingung bagaimana harus menyikapi Nara.

"Tidak apa apa, jujur saja jika tidak enak." Nara memasang wajah murung.

"Tidak  kok!! Enak!" Rey dengan cepat menyambar roti ditangan Nara dan menggigit roti itu.

"Anda tidak perlu merasa terpaksa memakannya." Cicit Nara murung.

"Tidak kok tidak begitu!" Rey terus mengunyah rotinya, "Hari ini juga terimakasih makanannya." Rey mengangkat sedikit roti yang dia pegang.

"Iya selamat makan." Nara hanya berkara datar.

Rey menatap Nara, heran dan bingung karena hari ini wanita itu terlihat murung dan benar benar tidak secerewet biasanya.

Kemana perginya dia yang biasanya? Rasanya dia menjadi sedikit bicara.

"Nona Naranika, cepat anda juga makan sebelum dingin." Rey menyerahkan roti yang masih hangat dengan embun basah dikantong rotinya.

"Iya saya juga makan." Suara Nara terdengar tidak semangat.

Rey terus menatap Nara yang makan dengan tidak semangat.

Selama ini dia kalau makan terlihat bahagia sekali, setelah seminggu ini malah sifatnya berubah...

Kalau begitu apa mungkin.. karena pria itu?!

Rey tiba tiba teringat Hans dan merasa kesal.

Memikirkannya saja membuatku marah! Memang sulit melupakan cinta pertama dan sudah begitu lama, tapi tetap saja aku tidak akan menyerah!!

"Nona Naranika." Rey memanggil Nara dan menyerahkan minuman untuk Nara.

Tapi wanita itu mengambilnya tanpa mau menoleh pada Rey. "Coba lihat saya!" Rey menautkan kedua alisnya melihat Nara yang membuang wajah padanya.

"Anda tidak mau melihat wajah saya??" Rey semakin mengarahkan tubuhnya pada Nara melihat wanita itu malah semakin menundukkan kepalanya.

"Bu.. bukan begitu." Ucap Nara canggung.

"Kalau begitu menoleh kesini, saya mau lihat wajah nona Naranika." Rey tersenyum hangat.

Nara hanya terdiam mendengar ucapan Rey.

Tolong berhentilah direktur!

Melihat reaksi diam Nara membuat Rey semakin gusar. "Apa anda ada masalah belakangan ini??"

"Masalah apa? Tidak ada." Ucap Nara acuh.

"Perasaan anda sepertinya sedang tidak baik yah?"

"Saya? Tidak kok." Nara tetap bertahan dengan sikapnya.

"Kalau ada sesuatu katakan saja, waktu itu anda juga sepertinya mau menanyakan sesuatu kan?"

"Tidak ada apa apa." Nara berkilah khas wanita yang sedang ngambek.

"Jangan begitu, kalau ada..."

Nara mengambil kaleng beer dari kantong plastik yang dia beli di mini market tadi, membukanya dan langsung menenggak dengan cepat.

"Minum pelan pelan, jangan mabuk nanti buat kesalahan lagi." Rey terlihat cemas dengan tingkah Nara.

"Aku tidak akan membuat kesalahan lagi!" Seru Nara.

Kalau buat kesalahan padaku juga tidak apa apa.. -Rey

Setelah puas meminum beer nya, Nara menatap Rey. "Kalau anda terus mendesak baik akan saya katakan,.." Nara menjeda sebentar, "Saya tidak mau lagi bertemu dengan direktur!!"

Rey melebarkan matanya, "Apa maksud anda tiba tiba.."

"Ini tidak tiba tiba!" Potong Nara, "Saya.. sudah memikirkannya seminggu ini." Nara menundukkan kepalanya.

"Apa alasannya?!" Rey terlihat tidak senang.

Kebisuan Nara membuat Rey mengulang pertanyaannya. "Saya tanya apa alasan anda?!"

"Saya tidak nyaman makan dengan direktur." Nara mencari cari alasan.

"Maaf tapi tidak bisa begitu, saya juga mau mendapatkan apa yang harusnya saya dapatkan." Rey bersikukuh juga.

"Yasudah saya kirimkan makanannya."

"Kamu sendiri yang mengirimkan?"

"Bukan, adik saya."

"Tidak mau!"

"Tuh kan.. sudah saya duga, apa roti di toko kami tidak enak?" Nara memasang wajah cemberut.

"Bukan itu!" Rey menjadi gemas.

"Kalau anda ga nyaman ketemu saya mungkin masih ada cara lain."

"Apa? Ciuman lagi??" Tanya Nara lesu.

Rey tersenyum dan bermaksud menggoda Nara, pria itu menunjuk bibirnya. "Anda sudah tau rupanya."

Nara terdiam sebentar lalu menghembuskan nafas keras. "Akan saya lakukan, ayo ciuman!!!"

Rey membelakkan matanya, tentu saja itu bukan perkataan yang dia duga akan keluar dari mulut Nara.

"Anggap saja makan seminggu ini untuk biaya akting dan ciuman untuk biaya bibir! Dengan begitu kita tidak akan ada urusan lagi, mari akhiri hubungan hutang piutang ini." Lanjut Nara.

Nara menatp Rey dalam dan semakin membuat dia sedih.

Setiap melihat direktur, setiap kali direktur berbicara dengan lembut semua semakin membuat aku tidak bisa mengatur hati. Tapi aku juga takut... direktur bisa kapan saja mengatakan kebenaran bahwa anda hanya membalas dendam.

Aku tidak sanggup lagi berlama lama dalam permainan ini!

Rey mengernyitkan alisnya, "Siapa bilang anda bisa...."

"Saya yang memulai, sekarang saya yang akan mengakhiri!" Nara mendekatkan tubuhnya pada Rey membuat pria itu terkejut.

Langkah selanjutnya yang membuat Rey panik karena Nara menarik dasinya memangkas jarak diantara mereka. "Tunggu!" Belum selesai Rey berbicara bibir Nara sudah membungkam bibirnya duluan. Lagi lagi meski awalnya Rey sama terkejutnya dengan tingkah Nara namun dia tetap tidak ingin menolak bibir Nara, dengan lembut Rey menarik tengkuk Nara untuk semakin mengeratkan ciuman mereka.

Tangan Nara pun dengan perlahan memeluk leher Rey, perlahan air matanya sedikit menggenang. Ciuman mereka cukup intens dan lama untuk kali ini, Rey benar benar meresapi tiap sudut bibir Nara yang terasa lembut dengan lidahnya tanpa berniat melepasnya seolah ingin menikmati dan menyesapi bibir Nara sekaligus dalam tiap kecupannya.

Saat Rey melepas ciumannya sejenak dia melihat Nara berlinang air mata.

"Nona Narani..."

Nara membenturkan kepalanya pada bahu Rey pelan,

Ini ciuman perpisahan..Tapi kenapa terasa manis dan semenyakitkan ini? Aku tidak menyangka..

"Kenapa menangis?? Apa ada masalah?" Rey memasang wajah sedihnya sambil mengusap pipi Nara dengan lembut.

Direktur, balas dendam anda berhasil!!

"Siapa yang menangis?" Nara membuang wajahnya dan mengusap matanya, "Mata saya kemasukan sesuatu."

"Coba lihat sebentar." Rey masih memaksa untuk menatap wajah Nara sambil menarik lembut tangan Nara.

"Saya tidak apa apa." Nara berusaha menepis tangan Rey karena air matanya terus saja turun.

"Nona Naranika." Rey terus membujuk, "Nara!" Rey akhirnya memanggil nama itu.

"Benar kan kamu menangis, sebenarnya ada apa? Coba katakan.." Rey akhirnya menatap wajah Nara.

"Saya tidak apa apa." Nara memalingkan wajahnya lagi, "Sudahlah lagi pula kita sudah tidak ada hubungan apa apa." Nara bangkit berdiri

"Aku tidak pernah menganggap ini berakhir yah!" Rey ikut bangkit berdiri menghampiri Nara.

"Saya menganggapnya begitu." Nara memunggunggi Rey.

"Coba katakan alasannya! Kenapa tiba tiba begitu?" Rey terlihat tidak suka, "Apa benar kamu ga mau makan sama aku?" Rey menghilangkan batasan formal diantara mereka.

"Iya benar." Tegas Nara, "Jadi tolong biarkan saya pergi."

"Ekspresimu saja begitu!! Bagaimana aku bisa membiarkan kamu pergi?!" Rey mulai emosi.

'Trrinnngg Trinngggg' ponsel Nara berbunyi di tengah pembicaraan mereka.

"Pertama, angkat dulu telepon kamu." Titah Rey.

Tanpa menjawab Nara langsung mengambil ponselnya.

"Halo."

"Nara!!!! Kenapa dari tadi tidak menjawab telepon sih?!!"

"Natha, aku sedang bersama dire..."

"Apa??!!!!! Papa mama kenapa???!!" Nara mendadak panik dan terkejut.

"Ka.. kamu bicara apa sih? Ba.. bagai..mana bi.. sa." Nara merasa seluruh tubuhnya bergetar ketakutan mendengar ucapan Natha.

Rey langsung merebut ponsel Nara, dengan lugas berbicara.

"Sekarang ada dimana, berada dirumah sakit apa?"

1
Sisca Audriantie
😍😍😍
Dimas Pradipta
thor maaf ini jiplak dari film proposal ya
Puspa Ayundari
hahhahaha astagaa..kok lucu banget kalo dibayangkan
Binti Rofikoh
modus itu buat deketin nara
Binti Rofikoh
bagus tor,
Rina Asih
bagus banget
dementor
tampaknya kita semua korban k-pop ya?? author pun kayaknya korean wave juga.. 🤭🤭🤭🤭
Maria Aufa
seruu!!
endang sari
ok
Fauziz Juliadri
blom baca sih kayak ny kisah nya Sama ya sama komik yg prh aku baca,?
Erni Nofiyanti
nara kamu ko lucu bget yah
Erni Nofiyanti
bastiar bisa oon jga y
Erni Nofiyanti
aku baru tau kalau ada jantung yg sensitif.
Erni Nofiyanti
dasar Nara somplak
Erni Nofiyanti
asli KK lucu bget.
aku baca bab ini pas lagi makan Ampe keselek,gara2 Nara baca UUD.
Erni Nofiyanti
aku mampir KK
KK jgn sampe Nara dan Natha musuhan karna cowo.
hitamanis
kok q jadi kngen film narnia ya😂😂
sinta patricia
flo sdh sy baca..sngat bgus critanya.. setelah flower sy mampir di crita nara in..smua kisah kereen endingnya.sy sukaaaa..👍👍🙏🙏tq
sinta patricia
😀😀modusnya kereeen direktur..
momy ida
kata nya punya harga diri.... tapi tetep y ujung ujung nya nanyain duit"Kamu berani bayar aku berapa"🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!