Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Dilema di Ujung Lidah
Mita masih bergeming dalam posisi berlututnya di atas lantai marmer yang dingin. Di hadapannya, Sam menghela napas berat. Keheningan di koridor luar ruang kerja Baskoro terasa begitu pekat, hanya menyisakan sisa-sisa ketegangan dari perdebatan hebat yang baru saja reda.
"Mita, tatap mas," lirih Sam, suaranya parau.
Perlahan, Mita memberanikan diri mendongak. Di mata Sam, tidak ada lagi kilatan amarah yang meledak-ledak seperti saat menghadapi Baskoro di dalam ruangan tadi. Yang tersisa hanyalah tatapan penuh luka dan kebingungan. Pria yang biasanya tampil berwibawa sebagai calon penerus takhta perusahaan itu kini tampak begitu rapuh di hadapannya.
"Mas... Mas Sam tidak perlu merasa bersalah," bisik Mita akhirnya, memecah kebisuan. Suaranya serak, bergetar menahan tangis yang siap tumpah kembali. "Mita tahu... Mas Sam sudah punya seseorang yang sangat Mas cintai."
Kalimat itu meluncur begitu saja, membuat Sam tersentak. Kedua mata Sam melebar seketika. "Kamu... tahu dari mana?"
Mita tersenyum getir, menyeka air mata di pipinya dengan punggung tangan. "Mita tidak sengaja melihat foto di ponsel Mas Sam beberapa bulan lalu. Dan... Mita juga pernah melihat Mas Sam mengantarnya pulang. Dia sangat cantik, Mas. Jauh berbeda dengan Mita yang hanya menumpang di rumah ini."
Sam terdiam, lidahnya mendadak kelu. Rahasia yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat dari sang ayah yang otoriter, ternyata sudah lama diketahui oleh gadis di depannya. Kenyataan ini justru membuat dada Sam semakin berdenyut nyeri. Dia merasa menjadi pria paling brengsek karena harus mengecewakan dua wanita sekaligus dalam hidupnya.
"Mita, ini bukan soal fisik atau status," kata Sam dengan nada mendesak, meraih kedua telapak tangan Mita yang terasa dingin dan gemetar. "Mas menyayangimu, sangat menyayangimu. Tapi demi Tuhan, perasaan itu murni seperti seorang kakak kepada adik kandungnya sendiri. Mas tidak bisa membohongi diri Mas, dan Mas juga tidak mau menodai pernikahan kita nanti dengan keterpaksaan."
"Lalu kita harus bagaimana, Mas?" Mita menatap Sam dengan pandangan putus asa. "Mas Sam tahu sendiri bagaimana watak Om Baskoro. Keputusannya tidak bisa diganggu gugat. Dan bagi Mita... menolak pernikahan ini sama saja dengan menjadi anak yang tidak tahu diri setelah semua kebaikan keluarga ini."
Bayangan kecelakaan belasan tahun lalu kembali melintas di benak Mita. Nyawa kedua orang tuanya yang melayang demi menyelamatkan Baskoro dan Diana adalah sebuah utang yang tidak akan pernah bisa dia lunasi. Setiap jengkal pakaian yang melekat di tubuhnya, setiap suap nasi yang dia makan, dan seluruh biaya pendidikannya hingga lulus SMA adalah bentuk tebusan dari keluarga ini.
Bagaimana mungkin dia tega menggagalkan satu-satunya keinginan Baskoro untuk membalas budi?
Sam mencengkeram rambutnya frustrasi, melepaskan tangan Mita lalu bangkit berdiri. Dia berjalan mondar-mandir di koridor yang sepi itu. Pikirannya bercabang antara masa depan perusahaan yang dibebankan di pundaknya, kekasihnya yang sedang menanti kepastian, dan Mita yang terikat belenggu rasa bersalah.
"Harus ada jalan keluar, Mit. Mas tidak akan membiarkan kita berdua terjebak dalam lingkaran setan ini," ujar Sam mantap, meskipun di dalam hatinya sendiri dia tidak tahu harus berbuat apa.
Tiba-tiba, pintu ruang kerja kembali terbuka. Baskoro berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Tatapannya beralih dari Sam yang tampak kacau menuju Mita yang masih bersimpuh di lantai.
"Samudra, kembali ke kamarmu dan persiapkan dirimu untuk rapat direksi besok pagi. Jangan biarkan masalah pribadi mengganggu performamu sebagai calon CEO," perintah Baskoro dengan suara baritonnya yang mutlak. "Dan Mita, ikut Om ke dalam. Ada hal penting yang harus kita bicarakan mengenai persiapan pernikahan kalian."
Mita merasakan seluruh pasokan udara di sekitarnya mendadak hilang. Dia melirik Sam yang mengepalkan tinjunya erat-erat, menahan amarah yang kembali tersulut. Namun sebelum Sam sempat memprotes, Mita dengan cepat berdiri dan mengangguk patuh ke arah Baskoro, melangkah melewati Sam menuju ruang kerja yang terasa seperti sangkar emas yang siap mengurung kebebasannya selamanya.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)