ANDI ALDA MAROLAH merupakan putri tunggal mantan Anggota DPRD. Ia terlahir dari garis keturunan bangsawan suku bugis. Andi Alda berprofesi sebagai ASN PNS. Guru di salah satu SMA di Kota Makassar.
Suatu hari ia dipertemukan dengan seorang pria yang bernama IBNU RAJAB. Keduanya jatuh cinta. Namun, orang tua Alda tidak merestui. Mereka memilih menjodohkan putrinya dengan ANDI PANGERANG ADAM. Seorang pria berusia 45 tahun dan menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata.
Bagaimana akhirnya? Yuk mampir! Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komentar🥰
Salam
AAH❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM MAPPACCI
Pukul lima sore hari. Nana bersiap-siap ke rumah Alda. Wanita itu akan menghadiri acara mappacci Sahabatnya yang sudah dianggap saudari sendiri. Ia tak mau kehilangan momen dari Andi Alda.
Nana memandangi wajahnya di cermin dengan make up tipis dan rambut dicepol tinggi. Ia menggunakan dress panjang berwarna cream. Setelah selesai, ia meraih tas dan keluar menemui orang tuanya.
“Pak, Bu, Nana mau berangkat.”
“Sama siapa, Nak?” Ibunya berjalan keluar dari dapur.
“Sendiri. Ibu mau ikut?” Nana menawarkan.
“Besok saja, Nak,” tukas Ibu Rena.
Nana mengangguk.
“Ibnu … tidak pergi, Na?” Tanya Pak Mawan dengan ragu.
Nana tertegun mendengar pertanyaan Bapaknya. Yah, pria malang yang adalah kekasih Alda. Bagaimana dengan Ibnu? Apakah ia baik-baik saja?
“Bapak, bagaimana, sih! Jelas, Ibnu tidak pergi. Dimana coba harga dirinya!” Timpal Ibu Rena dengan ketus.
Pak Mawan menghela napas berat. Rasa iba menyelimuti hatinya. Bukan hanya ia saja. kedua wanita di depan merasakan hal yang sama dengannya.
“Jujur … Bapak kasihan sama mereka. Bu Hilda bahkan menjual peninggalan orang tuanya demi melamar, Alda,” tuturnya.
Nana menipiskan bibir dan menatap Bapaknya dengan nanar.
“Seharusnya mereka tahu dan berpikir sebelum melangkah lebih jauh,” ucap pria paruh baya itu. “Kita juga tidak bisa menyalahkan orang tua, Alda.”
“Tapi … sebagai orang tua, tidak boleh egois! Toh, yang jalani, kan mereka!” Tukas Bu Rena.
Nana yang mendengar menelan ludah. Ia menarik napas dalam dan menghembuskan dengan pelan. “Nana berangkat, Pak, Bu.”
*****
Ting … ting … ting ….
Dentingan logam yang saling bergesekan mengalihkan perhatian para tamu yang hadir di rumah itu. Langkah kaki pelan, anggun, menuruni satu persatu anak tangga. Bak bidadari turun dari kayangan.
“MashaAllah!”
“Sempurna!”
“Cantik sekali, Tuhan!”
“Deh! Andi Alda Marolah!”
Pakaian adat Bugis berwarna putih tulang dengan taburan manik dan permata berwarna emas mengkilat. Aksesoris yang digunakan terbuat dari logam dan emas seperti bando, pinang goyang, kalung, gelang, betul-betul memancarkan aura kebangsawanan yang sangat kuat.
Kilatan cahaya tak henti-henti tertuju padanya, guna mengabadikan momen tersebut.
Andi Erna yang bertugas menjemput Alda, menggenggam erat tangan anaknya. Ia mengeluarkan senyum bahagia, hingga menampakkan deretan gigi yang rapi nan bersih. MUA yang me-make over Alda membantu memegangi ekor bajunya yang menjutai panjang.
Betapa bangganya MUA tersebut telah dipilih dan dipercayai untuk mengukir karyanya pada wajah cantik Andi Alda Marolah. Bahkan sampai puncaknya besok di gedung megah. Terlebih acara tersebut akan diliput media lokal.
Andi Shadam menatap anaknya dengan haru dan mata berkaca-kaca. Tak terkecuali Nana yang sedari tadi memandangi sahabatnya dengan takjub.
Ah Alda, Sayang …. Betapa cantikmu!
Andi Baso dan Andi Sabita yang turut hadir di tempat itu, tidak henti-hentinya memuji kecantikan calon menantunya.
“Kita tidak salah pilih, Ma,” tutur Andi Baso kepada Andi Sabita.
“Benar! Menantuku kali ini luar biasa!”Sahutnya dengan yakin.
Sedangkan disisi lain, Andi Pangerang Adam duduk bersandar di sofa hotel. Kali ini, ia tak melakukan ritual adat tersebut karna rumahnya terlampau jauh dari tempat calon istrinya berada.
Pria paruh baya itu memerhatikan layar ponsel dengan kiriman video-video dari kerabatnya, tak henti ia mengulum senyuman.
Itu milikku! Pengantinku! Aldaku!
Dia bak remaja dengan hati berbunga-bunga menatap keindahan yang Tuhan ciptakan itu. Meski melalui alat bantu, tapi sungguh, ia tidak menemukan cela kekurangan pada calon istrinya.
Apa mungkin ia berada difase pubertasi kedua? Mengingat usianya yang kini berada di angka 45 tahun.
Andi Adam mengusap wajah.
Betapa cantiknya ia menggunakan pakain pengantin.
Ingin rasanya ia membawa wanita itu segera ke tempat hanya ada dia dan Alda seorang.
Besok kita bertemu, Sayang.
*****
Adat mappacci dimulai. Barzanji dibacakan oleh laki-laki sesepuh dan anggota keluarga yang hadir, sedangkan para wanita mendengar dengan khidmat.
Alda mengangkat kedua telapak tangannya ke atas bantal yang telah dilapisi dengan lipa’ sabbe atau sarung sutra. Di atas sarung sutra tersebut, terdapat daun pisang. Terakhir, ada daun nangka yang telah disatukan seperti bentuk jemari.
Semua punya makna simbolis dalam suku bugis. Mulai dari bantal yang melambangkan harkat dan martabat, sarung sutra tujuh susun melambangkan moral dan ketekunan, daun pisang melambangkan kehidupan yang terus menerus dan turun temurun, daun nangka melambangkan harapan dan cita-cita.
Alda dipayungi dengan kain merah yang diikat pada enam tongkat (lellu) dan dipegang. Benda tersebut menyimbolkan keagungan terlebih Andi Alda merupakan keturuna bangsawan.
Di depan Alda, terdapat lilin yang menyala melambangkan penerangan kehidupan yang akan dijalani mempelai.
Dua orang berpasangan naik untuk memberikan daun inai (pacci) pada telapak tangan Andi Alda marolah. Mereka juga mendoakan Andi Alda dan melemparinya beras berharap kehidupan wanita itu akan makmur dan bahagia kedepan.
Tak terasa air mata Alda turun menyusuri pipinya. Tak menyangka, ia telah berada di posisi ini. Hatinya terenyuh. Lalu besok? Besok ia betul-betul akan melepas masa lajangnya. Bersama orang yang sama sekali tak diharapkan.
Ibnu.
Wanita itu menunduk menggigit bibir dalamnya mencoba menahan isak sekuat tenaga.
Kurang lebih sembilan pasangan termasuk calon mertuanya telah melakukan ritual tersebut dengan iringan barzanji yang dibacakan.
Terakhir …
Kini tiba giliran kedua orang tuanya sebagai penutup. Alda menatap Ayah-Ibu dengan tak berdaya. Orang yang melahirkan dan membesarkan dengan penuh kasih sayang sekaligus orang yang menyetir jalan hidupnya.
Andi Shadam melihat putrinya meneteskan air mata bahagia. Ia memungut inai yang berada di telapak tangan Alda dan setelah itu menyatukan kedua tangan Alda seraya membacakan doa.
“Cium tangan Ayahmu, Nak,” ucap sesepuh yang berada di samping Alda.
Tanpa menunggu lama, wanita itu mencium tangan ayahnya dan memeluknya. Tangis mereka pecah.
“Ayah …,” betapa pilu wanita itu berucap. Ia meremas kuat pakaian Sang Ayah.
Kedua orang tua yang mendengar bagai teriris benda tajam.
“Ayah melakukan semua untuk kebahagiaanmu, Anakku ….”
Andi Shadam tidaklah jahat. Begitu pun istrinya. Bahkan jika nyawa yang harus ia berikan kepada putri semata wayangnya, ia akan berikan. Andi Shadam hanya tak ingin anaknya berada di tangan yang salah.
Setelah itu, Alda beralih pada Ibunya. Hal yang sama ia lakukan. Meremas dengan kuat pakaian Ibunya seolah meminta tolong.
Hanya isak tangis yang terdengar dari kedua wanita itu. “Alda, Nak … Ibu hanya menginginkan yang terbaik untuk, Alda ….”
“Ibu ….”
Percuma! Undangan sudah tersebar, gedung acara, seluruh persiapan telah dimantapkan dan tamu undangan yang hadir. Pernikahan Andi Alda dan Andi Pangerang mustahil dibatalkan.
.
.
.
.
.
Salam
AAH❤️
smg ibnu jg bisa mncintai nana