Cinta bisa menembus ruang dan waktu.Mungkin ungkapan itulah yang tepat untuk menggambarkan perasaan Nawang wulan.Gadis cantik yang jatuh cinta pada makhluk dari alam yang berbeda,yang konon merupakan putra dari penguasa samudra.
Akan kah kisah cinta Wulan berakhir bahagia,atau justru penuh luka karna dimensi yang berbeda..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raga Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 30
"Damar bukankah kau tadi bilang harus kembali ke hotel, kau ada meeting kan sore ini? pergilah cepat nanti kau terlambat." Ardian berusaha mengusir Damar dari tempat itu.
"Dan kau Bayu, ayo kita berpatroli. Pengunjung sudah mulai ramai, siapa tahu ada yang membutuhkan bantuan kita." Tanpa menunggu persetujuan dari Bayu, Ardian segera menarik tangan pria itu untuk segera menjauh dari Damar. Tidak baik membiarkan keadaan seperti ini terus berlangsung. Pikir Ardian.
Damar tidak bergeming mendengar ucapan Ardian, pun dengan Bayu, ia tak menyahut perkataan Dian, tapi meski demikian Bayu tetap menurut dan membiarkan dirinya di tarik paksa oleh Dian, namun sebelum pergi, tatapan mautnya kembali ia tujukan untuk Damar, bahkan kali ini matanya berubah menjadi sedikit kemerahan, mengerikan sekali.
Damar menelan ludahnya demi melihat tatapan Bayu yang seolah ingin memakannya hidup hidup. Entah sadar atau tidak bulu kuduknya berdiri.
Ya Tuhan mata mengerikan itu, aku benar pernah melihatnya, tapi kapan dan di mana, aku benar benar tidak ingat.
Damar segera memalingkan mukanya, menghindar agar tidak lagi bersitatap dengan Bayu. Kalau tadi dia begitu jumawa berani balas menatap Bayu, kali ini nyalinya menciut, dan ia lebih memilih menoleh ke arah lain.
Sementara itu, Ardian masih terus menarik tangan Bayu, Dian hanya menoleh sesaat pada Damar dan mengangguk penuh arti seolah mengatakan 'pergilah, akan ku urus pria ini.'
Paham dengan maksud anggukan Dian, Damar pun segera berlalu dari tempat itu, dia memilih arah yang berlawanan dengan Bayu dan Dian.
Sepanjang perjalanannya kembali ke hotel, Damar tak henti hentinya berfikir dan mengingat kapan dia pernah bertemu Bayu, dia benar benar yakin pernah bertemu ataupun melihat Bayu, hanya saja sampai sekarang ia belum berhasil mengingatnya.
"kenapa aku merasa ada yang aneh dengan Bayu, dia selalu muncul tiba tiba. Dan tatapan matanya, kenapa harus se mengerikan itu sih. Aku sampai merinding di buatnya." Damar bergumam sendiri di dalam mobilnya.
"Oh ya satu lagi, kenapa tidak ada satu orang pun yang tahu tentang kehidupan pribadinya ya. Apa dia se tertutup itu ... Akh entahlah !" Damar menggeleng-gelengkan kepalanya, antara kesal dan bingung.
"Kenapa kau bisa jatuh cinta pada pria misterius itu Wulan?" kali ini Damar terdengar seperti meratap sedih.
Di tengah kesedihannya, Damar mendapatkan pesan dari ibunya, orang tua perempuannya itu meminta Damar untuk mengajak Wulan makan malam di rumah mereka, dia juga mengatakan kalau ayah Damar ingin bertemu dengan Wulan.
Damar menepikan mobilnya untuk membalas pesan dari ibunya.
' Maaf Bu, sepertinya tidak bisa, Aku sangat sibuk hari ini, Wulan juga masuk shift siang, jadi tidak bisa kemana mana sampai shift nya berakhir ' Terkirim.
Damar menundukkan kepalanya pada kemudi mobil. Ia merasa kecewa sekaligus bersalah karena telah membohongi ibunya.
"Seandainya Ibu tahu apa yang terjadi. Wulan sudah punya kekasih bu," gumam Damar seolah orang tuanya itu ada di sampingnya.
Damar menghela nafasnya lalu menghembuskannya perlahan, berusaha mengontrol sisi emosionalnya.
"Tapi aku tidak akan menyerah sampai di sini, aku akan terus berusaha mendapatkan hatimu Wulan, tak peduli se mengerikan apapun kekasihmu, aku akan tetap merebut mu darinya." Damar kembali bergumam sambil melajukan kembali mobilnya.
Cinta Damar untuk Wulan memang cukup besar, ia tidak peduli meski orang yang di dicintainya sudah terang terangan menolaknya dan menambatkan hatinya untuk orang lain. Semakin Wulan menolaknya, Damar justru semakin berambisi untuk mendapatkannya.
***
Kembali ke pantai.
Ardian melepaskan tangannya dari tangan Bayu setelah Damar sudah benar benar tidak terlihat. Sementara Bayu yang sedari tadi hanya diam menurut mulai buka suara.
"Kenapa kau menarik paksa aku seperti itu Dian, apa kau takut kalau aku akan menghajar temanmu itu?" cibir Bayu di iringi senyum sinis.
"Aku hanya tidak ingin kalau kalian sampai bertengkar gara gara Wulan, apalagi ini ditempat umum. Huh ... konyol sekali kan kalau sampai itu terjadi?" gantian Dian yang mencibir.
"Lagipula kenapa kau bisa tiba tiba ada disana sih, mengejutkan saja," lanjut Dian lagi.
"Aku berjalan diam diam mendekati kalian, tapi kalian tidak menyadari itu karena kalian terlalu asyik membicarakanku, " sindir Bayu yang seketika langsung membuat Ardian meringis malu.
"Maaf Bayu, aku tidak bermaksud membicarakanmu," Ardian menjawab jujur, karena memang dia sama sekali tidak berniat membicarakan Bayu.
"Aku hanya menjawab pertanyaan Damar. Aku hanya ... Akh sudahlah ! aku tidak ingin membahasnya lagi, aku tidak ingin terlibat drama cinta segitiga kalian! bikin pusing saja!" sungut Ardian merasa jengah sendiri.
"Baguslah, sebaiknya memang kau tidak usah ikut campur, nanti kau celaka." Bayu memasang ekspresi serius sembari menatap tajam pada Dian.
"Maksudmu?" tanya Dian tidak mengerti, terlebih tiba tiba Bayu menatapnya seperti itu. Seolah sedang mengancam.
"Tidak ada." Bayu tersenyum sambil menggeleng.
"Aku hanya bercanda." Mengubah ekspresi mukanya karena melihat wajah Ardian yang tampak terkejut mendengar ucapannya.
"Kau ini, mengagetkan saja ... oh ya, Wulan mana? bukankah kau tadi bersama Wulan?" Ardian berusaha mengalihkan tema ketimbang membicarakan perselisihan Damar dan Bayu yang membuat suasana menjadi tegang.
"Wulan sedang ke toilet,"
"Oh itu dia sudah siap." Bayu tersenyum melihat kekasihnya mendekat kearahnya.
Ardian menoleh mengikuti arah pandangan Bayu.
Wulan memang cantik sekali, wajar kalau Bayu dan Damar sampai tergila gila padanya.
Ardian menatap Wulan yang semakin mendekat, membuat Bayu merasa kesal karena Dian menatapnya tanpa berkedip.
"Hey, jangan melihatnya seperti itu, nanti kau jatuh cinta padanya. Dia itu milikku." Mengibaskan tangannya di depan wajah Dian.
"Ya ampun, kau ini pencemburu sekali Bayu, aku kan hanya melihatnya."
"Lihatlah kekasihmu ini Wulan ... dia cemburu buta padaku," ucap Dian saat Wulan sudah benar benar sampai di depan mereka.
Wulan hanya tersenyum simpul mendengar candaan Dian.
"Apa kabar Dian?" Wulan justru menanyakan kabar Ardian yang membuat Bayu makin kesal.
"Untuk apa kau tanyakan kabarnya Wulan?" sungut Bayu dan langsung menarik Wulan ke sisinya.
"Tidak apa Bayu, aku kan hanya menanyakan kabarnya. Itu biasa sayang." Wulan mengusap lembut pipi Bayu di depan Dian yang membuat pria itu seketika menelan saliva.
Wulan ini, selain cantik juga lembut dan romantis.
"Aku baik baik saja Wulan, tapi lain kali kau tidak perlu bertanya kabarku. Aku takut kekasihmu itu naik pitam. Mengerikan sekali." cibir Ardian.
Wulan dan Bayu hanya tersenyum menanggapi celoteh Ardian.
"Oh ya wulan, ngomong ngomong apa kalian kesini hanya berdua saja, temanmu tidak ikut?" tanya Ardian. Entah kenapa tiba tiba dia menanyakan teman Wulan.
"Teman? maksudmu Maya?" Wulan langsung paham maksud Ardian karena memang hanya Maya teman dekatnya."
"Hehe.." Ardian nyengir.
"Iya, Maya, temanmu yang kocak itu."
"Dia masuk shift siang Dian, jadi tidak bisa ikut, lain kali kalau kami sama sama masuk shift pagi, aku kan mengajaknya kesini," jelas Wulan sambil tersenyum.
"Memangnya ada apa kau menanyakan Maya, jangan jangan ... " ledek Wulan yang membuat Ardian merasa kikuk, sebab dia sendiri juga tidak tahu kenapa tiba tiba teringat Maya.
"Iya, Dian. Jangan jangan kau .... " Bayu ikut ikutan meledek Ardian.
"Hey apa maksud kalian, aku kan hanya bertanya?" sahut Ardian kesal karena menjadi bahan ledekan.
"Ya sudahlah, sebaiknya aku pergi dari sini, daripada aku di ejek terus. lagipula aku juga pasti tidak tahan melihat kemesraan kalian yang terkadang tidak kenal tempat." Ardian terus saja bersungut-sungut, sementara sepasang sejoli di sampingnya justru senang melihat Dian kesal.
"Apa aku harus ikut Dian? kau akan berpatroli kan?" tanya Bayu sebelum Dian pergi.
"Tidak perlu, kau temani Wulan saja. Nanti kalau ada yang butuh pertolongan aku akan memberitahu mu." Ardian mulai melangkah.
"Hm baiklah, aku akan mengajak Wulan jalan jalan."
"Tentu, Bahagiakan lah kekasihmu itu sebelum dia di ambil orang. Haha.." Ardian berlari dari tempat itu sambil tertawa mengejek Bayu.
"Kurang ajar kau ! tidak akan ada yang bisa mengambilnya dariku," jerit Bayu, sekarang gantian dia yang kesal karena di ejek Dian. sedangkan Ardian semakin tertawa lepas melihat kekesalan Bayu. Meskipun mereka tidak terlalu dekat, tapi mereka memang terkadang suka bergurau. Apalagi Ardian memang tipikal orang yang humoris dan ceria.
Wulan yang sedari tadi memperhatikan, tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah konyol Bayu dan Dian.
"Kenapa kau tertawa Wulan?" apa ada yang lucu?" tanya Bayu heran melihat Wulan yang malah tertawa melihatnya kesal.
"Kau ini lucu sekali Bayu, Dian kan hanya bergurau, kenapa kau harus seserius itu menanggapinya."
"Dian tidak bergurau, Wulan. Memang ada seseorang yang sedang berusaha merebutmu dariku."
"Siapa? Damar?" tebak Wulan yang di jawab Bayu dengan anggukan kepala.
"Damar sepertinya sangat menginginkanmu. Dia berusaha keras untuk bisa mendapatkanmu, walaupun kau sudah terang terangan menolaknya."
"Lalu, kenapa ... apa kau takut?" tanya Wulan seolah menantang Bayu.
Bayu tersenyum sinis. "Damar lah yang seharusnya takut padaku, " jawabnya datar tapi seolah penuh tekanan
"Aku sudah bilang tadikan. Tidak ada yang bisa merebutmu dariku. Kau milikku," tegas Bayu seraya menarik tangan wulan lalu menggenggamnya erat.
"Iya, iya, aku milikmu. Sudahlah jangan tegang begitu. Ayo kita jalan, supaya lebih rileks," ajak Wulan, dan tanpa menunggu persetujuan dari Bayu, gadis itu mulai melangkah menyusuri bibir pantai. Bayu pun ikut melangkah dan men sejajari langkah Wulan.
Mereka berbaur bersama pengunjung lain di sekitar pantai.
Setelah beberapa menit berjalan santai. Wulan dan Bayu bertemu dengan Bapak tua yang sedang memungut sampah. Bapak tua itu menjinjing kantong plastik besar sebagai wadah untuk sampah yang telah di pungutnya.
"Wulan yang merasa mengenali pria tua itupun menyapa terlebih dahulu, karena memang Bapak tua itu belum melihat mereka.
"Pak Haris..?" Wulan mengenali pria tua itu sebagai pak Haris, relawan kebersihan yang kebetulan juga merupakan suami dari mbok Mirah. Asisten rumah tangga ditempat bi Fatma.
Pak Haris yang sedang menunduk mengambil sampah pun mendongak. Ia memperhatikan sejenak orang yang telah menegurnya.
"Non Wulaan..?" ucapnya setelah berhasil mengenali Wulan.
"Iya, pak. Ini Wulan. Bapak sedang bersih bersih ya ?" tanya Wulan meskipun sudah tahu jawabannya.
"Eh oya Non." Pak Haris mengangguk.
Sejurus kemudian, pandangannya tertuju pada Bayu. Bapak tua itu terkejut melihat siapa yang ada di samping Wulan.
"Dia ---" pak Haris menggantung kalimatnya. Ia lalu bergeser menatap Wulan, seolah meminta Wulan meneruskan ucapannya.
"Dia Bayu pak. Teman dekatku."
Pak Haris mundur satu langkah. Pandangannya lekat memperhatikan Bayu. Tampak sedikit raut ketegangan di wajahnya.
"Non masih bersamanya?" tanya nya Heran.
Pak Haris memang mengetahui siapa Bayu sebenarnya. Dia bahkan sudah memperingatkan Wulan untuk menjauhi makhluk itu, namun peringatannya tidak di indahkan oleh Wulan.
Bersambung.