Aku masih menunggu..
Saat dimana Tuhan mengaitkan jemariku dan jemarimu
Menjadi sebuah genggaman dalam keridhoan
Meski sangat sakit bagiku, aku harus menerima perjodohan yang tak pernah sekalipun terbayangkan dalam pikiranku.
Perjodohan yang di setujui kedua orang tuaku dan orang tuanya, namun tidak dengan kami. Aku dan dia yang tidak saling mencintai.
Perjodohan yang memisahkan antara aku dan cintaku, juga antara dia dan cintanya.
Yang akhirnya membawa kami ke sebuah persekongkolan. Kami berdua sangat berharap, persekongkolan ini akan membuahkan hasil.
Hasil yang akhirnya bisa kembali kepada cinta kami masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri syachid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Penjilat
Meski pintu kamarnya sudah di gedor berulang kali dan hampir di jebol oleh Rio. Indy yang sudah bangun pagi ini dan sedang berdiri di depan jendela kamar menikmati pemandangan sekitar Vila, acuh dengan kegaduhan di depan pintu kamarnya.
Gadis itu terlihat tenang saja meski hari semakin siang yang seharusnya ia bergegas pulang untuk berangkat sekolah.
Oh, tidak. Apa gadis itu mau bolos sekolah hari ini? Semoga saja tidak, karena hal itu hanya akan menambah daftar kesalahannya.
Lagi, dia menyeret Rio untuk membolos bersamanya hari ini. Karena cowok itu sangat mengkhawatirkan gadis gila itu, Rio mendobrak pintu kamar dengan mengerahkan seluruh tenaganya pagi ini.
"Lo ngapain, pake dobrak pintu segala?" tanya gadis itu setelah membalikkan badannya.
"Gue kira, lo …,"
"Apa? Over thinking, lo," cetus Indy dengan ketus.
"Ya, gue kan khawatir. Apalagi, lo kan cewek yang cukup nekad."
"Hmm …," dengus gadis itu tak perduli.
"Lo nggak sekolah?" tanya Rio.
"Lo nggak lihat, jam?" balasnya masih ketus.
"Iya, sih. Udah nggak keburu juga. Ya udah, kita bolos sama-sama. Belom pernah juga, kan, kita bolos. Pasti di maklumin lah, sama guru."
Gadis itu tetap tidak perduli. Dia kembali sibuk menikmati pemandangan hijau yang masih sedikit tertutup kabut meski sinar matahari sudah menyelinap di antara dedaunan.
"Lo betah, di sini?" tanya Rio yang bersandar di pintu.
"Di sini, tenang. Gue nyaman."
Tidak ada lagi balasan untuk kalimat itu. Rio ngeloyor entah kemana meninggalkan gadis itu nyaman dengan aktivitasnya.
#########
Indy terus memaksa Rio yang tak mau lagi menemui kekasihnya, lebih tepatnya mantan pacarnya.
Cowok itu sama sekali tidak berminat dengan ajakan Indy. Padahal gadis itu sudah sejam membujuknya.
Ini seperti sebuah pembalasan dendam. Sebab tadi pagi Indy sudah membuat Rio kalang kabut mengkhawatirkan kondisinya di dalam kamar. Sekarang, Rio balik membuat gadis itu hampir kehilangan semangatnya untuk membujuk cowok itu mau menemui mantan pacarnya.
Secangkir teh manis hangat sengaja di buat untuk menunjang aksi pembujukannya kali ini.
"Minum teh manis dulu, gih. Biar hati nurani, lo, kebuka," perintah yang penuh sindiran itu terlontar dengan entengnya dari mulut Indy.
"Makasih. Kok, cuma satu doang. Buat lo, mana?"
"Gampang, gue mah."
"Apa, lo sengaja cuma bikin satu, biar bisa secangkir berdua, nih," ledek Rio yang akhirnya mendapatkan pelototan mata dari Indy.
Santai Rio duduk menonton TV dan menyeruput teh manis hangat itu. Indy memerhatikannya dengan malas, dia masih menunggu jawaban dari cowok itu.
"Emang, lo mau ngomong apa, sama Lili?" tanya cowok itu tiba-tiba.
"Yang jelas, gue mau berusaha buat hubungan kalian nggak hancur, kayak gini."
"Gue nggak yakin, hubungan gue bisa kembali lagi kayak dulu," ucap Rio dengan menyeruput lagi tehnya.
"Kenapa? Dia jelas sayang sama, lo. Lo juga, sayang sama dia."
"Gue nggak akan jilat muntahan gue sendiri. Meskipun gue kelaparan, paham?"
"Why?" tanya gadis itu lagi.
"Ndy, gue udah terima keputusan Bapak dan gue nggak akan bantah itu. Gue cuma punya Bapak, Ndy. Mama gue udah nggak ada di samping gue. Gue nggak akan mungkin bantah itu, Ndy."
"Tapi …."
"Lo mungkin bisa bantah, orang tua lo. Karena lo nggak tau, gimana rasanya hidup tanpa orang tua yang lengkap. Lo belom ngerasain apa yang gue rasain. Pengen bahagian Bapak dan Mama, yang ternyata gue harus kehilangan salah satunya sebelum gue berhasil buat mereka bahagia."
"Rio," ucap indy lirih.
"Gue, gue nggak bermaksud ngomporin lo buat bantah keputusan Bapak lo demi keegoisan gue."
"Gue paham, lo nggak usah ngerasa bersalah. Gue ikhlas kok, Ndy. Dan gue janji, gue bakal berusaha buat bisa terima lo."
"Tapi, gue …."
"Kalo lo nggak bisa, jangan lo paksa. Biarin semuanya berjalan dengan sendirinya. Lo masih boleh, kok, jalan sama cowok yang lo suka. Gue nggak akan larang-larang lo."
"Rio, maafin gue."
Untuk pertama kalinya Rio mengusap pipi halus Indy untuk menenangkan gadis yang tengah merasa bersalah itu.
#seperti sampah
#my husband is a Gay
mendukung terimakasih
Yey season 2 !!